
Siang itu cuaca terasa panas. Jam di dinding menunjukkan pukul 13.30 siang. Dara bergeliat meregangkan ototnya. Dengan sedikit malas, Dara bangkit dan mendudukkan tubuhnya di kasur, untuk mengembalikan kesadarannya dari bangun tidur. "Ya ampun, ternyata sudah siang!" gumannya masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Dilihatnya ke samping, Azlan yang tadi memeluknya sudah tidak ada. Dipungutnya satu persatu baju yang tadi tercecer, lalu dipakai kembali.
Dara kaget saat menyadari keadaan kasur yang sudah tidak berbentuk. Posisinya sudah tidak lurus lagi, kini sedikit miring persis ke arah tenggara. Sejenak Dara mengingat pergumulan panas tadi antara Azlan dan dirinya. Begitu dahsyat dan sama-sama menyerang. Dara tersenyum malu.
Mungkin bawaan bahagia melihat Meta yang kena damprat istri sah Pak Erik, sehingga mood bercinta begitu baik dan menggebu-gebu.
"Bang Azlan memang hebat, tiada duanya!" batinnya nakal memuji Azlan.
Dara masih tersenyum bahagia dan malu-malu sehingga Azlan yang menghampirinya, menyadari kalau Dara sedang tersenyum sendiri.
"Adekkk..., tidak kesambet kan? Bangun tidur senyum-senyum sendiri, ngelindur tidak ya?" kejutnya membuat Dara tersadar dari fantasi indahnya.
"Ihh... apaan kesambet! Bukan kesambet tapi keinget....!" sahutnya polos.
"Keinget apa?" Azlan sedikit kurang paham.
"Ih... Abang mah telmi...! Keinget tsunami tadi. Abang paham kan?" Sejenak Azlan terhenyak dengan ucapan Dara.
"Ihh dosa ngatain suami telmi, dulu bilang Abang PA, sekarang telmi, terus besok-besok apa lagi?" Azlan sedikit merajuk.
"Gitu aja marah!" ledeknya sembari membereskan kasur yang seperti kapal pecah.
"Adek, cepat bersihkan diri, sholat trs makan!" peringat Azlan. Dara tidak menyahut, dia masih sibuk merapikan kamar.
"Selesai....!" ujarnya.
Dara segera ke kamar mandi membersihkan diri, terlebih dirinya memang gerah. 15 menit kemudian, Dara menyudahi aktivitas mandinya.
"Abang... ayo kita makan, Dara lapar banget nih!" ajaknya. Azlan menghampiri setelah tadi duduk di depan kontrakan.
"Abang mau diambilkan apa?"
"Abang sudah makan Dek, tadi lapar banget. Jadi makan duluan," ucapnya memberitahu.
__ADS_1
"Oh..., ya sudah!"
Akhirnya Dara makan sendiri ditemani Azlan di sampingnya.
"Abang tadi beli kerupuk?" tanya Dara seraya meraih kantong kerupuk yang tadi dia ambil dari dapur.
"Iya....!"
Azlan memperhatikan Dara makan, melihatnya makan seperti nikmat banget. Padahal itu menu sederhana yang dimasak Dara sendiri. Cah Kangkung, Ikan kembung saus tomat dicampur orek telor didadar, dan sambel ulek terasi kemasan, sama lalap Timun. Setiap makan Dara harus ada sambal dan lalapan, lalapan bisa apa saja yang penting sayur yang bisa dimakan mentah, buah-buahan segar saja bisa jadi lalapan buat Dara. Itu keunikan Dara.
"Rumah yang tadi kita jumpai, rumah siapa?" tanya Dara disela sisa-sisa terakhir makannya.
"Oh... itu? Rumah kita!"
"Maksudnya....?"
"Iya, itu akan jadi rumah kita sebentar lagi!" ucap Azlan.
"Tapi, tadi ada penghuninya?"
"Iya, itu orang yang menyewa rumah kita!"
"Tapi, nanti kita tempatinya setelah 6 bulan kemudian, dan setelah kita renovasi kembali. Sebab Pak Hendra habis kontraknya 6 bulan lagi." Dara manggut-manggut.
"Tapi Abang minta maaf, Abang tidak bisa memberikan rumah baru buat Adek, hanya rumah bekas dikontrak orang," ucap Azlan nampak sedih.
"Masih cicilan?" respon Dara. Azlan mengangguk.
"Tapi kan tidak boleh?"
"Iya, terpaksa!" ucap Azlan melemah.
"Berapa tahun lagi cicilannya?" tanya Dara.
"Masih dua tahun....!" desahnya berat.
__ADS_1
"Memangnya tidak bisa dilunasin gitu sisanya?"
"Tidak bisa, aturannya begitu!" jawab Azlan pasrah.
"Tidak apa-apa kan, Adek bukan menempati rumah baru?" tanya Azlan meyakinkan.
"Tidak apa-apa. Itu tidak masalah. Di rumah kontrakan sempit saja jalan!" jawab Dara lurus. Azlan menyunggingkan senyum lega.
Dara menyudahi makannya dan segera ke dapur menyimpan piring bekas. Seraya menenteng segelas air, dia kembali duduk di samping Azlan yang kini sedang menatap acara di televisi.
"Enak banget ya kalau siang-siang panas gini minum Es Boba atau Es Teller, segarrrr....!" ujar Dara sembari memejamkan matanya seakan-akan sedang menikmati minuman impiannya. Azlan merasa bersalah, pasalnya tadi dia sempat berbohong bahwa Es Boba yang dia cari sudah habis, dan tidak menemukan yang jualan lagi.
"Nanti habis Ashar Abang carikan ke pasar Cikarang, Adek mau ikut tidak?"
"Ah kejauhan, demi Es Boba sampai jauh ke Cikarang," cebiknya. Azlan semakin merasa bersalah, diraihnya pinggang Dara seraya mencium pipi perempuan itu yang makin lama makin pintar memberi servis untuknya, membuat perasaan Azlan semakin dilanda sayang yang overload.
Dara senyum-senyum bahagia sambil menatap layar Hapenya. Azlan mencuri lihat apa yang sedang Dara lihat di Hapenya. Cuma ngetik-ngetik pesan, tapi entah dengan siapa.
Azlan masih memeluk erat pinggang Dara, disandarkannya kepalanya di bahu wanitanya itu. Aroma sampo dan wangi tubuh Dara masih tercium, dan Azlan merasa nyaman menyesapnya. Walau Dara tidak pernah memakai parfum mahal, hanya parfum remaja merek Pucelle yang kadang-kadang dia pakai, namun wanginya lembut menenangkan. Azlan makin gemas mencium-cium pipi dan leher Dara hanya untuk menikmati harum lembut wanitanya yang sangat dia cintai.
"Geli ihh..., Dara lagi WA an sama Nela. Abang ganggu banget!"
"WA apaan sih, kayaknya bahagia banget?" ucap Azlan penasaran.
"Menceritakan sedikit adegan sinetron tadi di kawasan Ibis!" sahut Dara lurus. Azlan tersentak, bukan apa-apa, dia merasa Dara sudah berlebihan dengan menceritakan kepada Nela sambil tertawa-tawa bahagia. Azlan hanya takut Dara kebablasan, menjadikan derita orang sebagai kesenangan dan sekarang digibahin bersama sohibnya. Perlahan Azlan melepaskan pelukannya kemudian menatap Dara lekat.
"Sayang... bisa tidak senangnya sudahan dulu, tidak baik lho penderitaan orang lain jadi bahan ketawaan dan kebahagiaan kita?" Dara mengernyitkan dahinya heran.
"Maksud Abang?"
"Maksud Abang, kejadian Meta dilabrak sama Bu Rani jangan terus Adek pikirkan sampai Adek bahagia banget mengingatnya, tidak baik lho!" peringat Azlan.
"Apa sih... jadi Abang merasa kasihan sama Meta yang dilabrak istri sahnya Pak Erik, dan sebaiknya dibiarkan saja Meta sama Pak Erik berduaan? Jadi Abang menyesal karena Dara telah menghubungi Bu Rani dan Bu Rani menangkap basah kebersamaan mereka?" Serang Dara tidak terima.
"Bukan begitu maksudnya Dek, maksud Abang begini, yang sudah berlalu sudahlah berlalu, tapi alangkah baiknya Adek tidak keterusan berbahagia dengan kejadian tadi, Abang hanya khawatir dengan keselamatan Adek," tepis Azlan.
__ADS_1
"Bilang saja Abang kasihan sama Meta. Kalau begitu, kenapa tidak balikan saja sama dia, toh dia masih pengen rebut Abang dari Dara."
"Bukan maksud Abang gitu Dek, Abang mengkhawatirkan keselamatan Adek. Kita tidak selalu bersama, untuk punya waktu banyak hanya pada saat shift kerja kita yang kebetulan sama, selain itu kita jarang banget ketemu. Abang tidak bisa lindungi Adek dan bela Adek saat dapat masalah. Abang sungguh khawatir, dan rasa khawatir itu sungguh menyiksa Abang!" terang Azlan berharap Dara mengerti.