
Sementara itu di Rumah Sakit, tepatnya di ruang rawat Azlan. Azlan panik setelah menerima pesan WA terakhir dari Dara.
"Abang, di kontrakan kita barusan terjadi kemalingan. Apa Abang tidak khawatir sama kami?" Begitu isi dari WA itu.
"Mak... rumah kontrakan Azlan kemalingan! Dara barusan memberitahu, haduh gimana ini?" beritanya khawatir.
"Hahhh... kemalingan, kemalingan cak mano (bagaimana)?" Mamak tidak kalah panik.
"Lan, belum tahu Mak." Sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Cubo telpon Neng Dara, aduhh cak mano dengan Sofia? Apo yang terjadi dengan duo budak itu?" Mamak begitu gugup.
"Cubo telpon Neng Dara, ayo Lan! Kau diam bae, jangan Kau besaki ego. Kalau ado apo-apo samo adek dan bini Kau, nangis darah Kau!" Mamak nampak marah melihat Azlan ragu-ragu untuk menelpon Dara.
"Sabar sedikit Mak, Lan lagi Cubo telpon Sofia. Lagian tangan kiri Azlan terasa sakit," sahut Azlan sambil meringis membuat Mamak geram.
"Kau ini... geram Aku. Tingkah cak budak-budak (kaya anak-anak), ngakunyo cinto, tapi ego besak. Lambat nian, cumo telpon bae!" rutuk Mamak marah.
"Sabar Mak...!"
Tidak berapa lama sambungan telpon berdering, Azlan mencoba nelpon Sofia bukan ke Dara yang memberi kabar kemalingan.
"Assalamu'alaikum, Kak! Ado apo?" (Sofia)
"Benar tidak di kontrakan ado kemalingan, barusan bini Abang kasih tahu. Kalian baik-baik sajo kan?" (Azlan khawatir)
"Kemalingan apo?" (Sofia)
"Ayuk Kau barusan WA Kakak, katonyo di kontrakan ado kemalingan. Apo Kau tidak berado di kontrakan, Dek?" (Azlan makin panik)
"Hahahaha...., kamalingan yo Kak?" (Sofia)
"Ngapo Kau ketawo? Tidak lucu." (Azlan)
"Iyo nian (benar) ado kemalingan, tapi malingnyo Kucing garong yang maling Pempek samo Ikan Pesmol buatan Yuk Dara di wajan. Hahahahah...!" Terang Sofia diiringi tawa.
" Nian kau Sofi? "
"Nianlah... memangnyo Kakak pikir kemalingan apo?"
"Et dah... Kakak pikir kemalingan barang atau apo, Kakak sampai khawatir memikirkannyo. Cak mano Ayukmu tidak apo-apo?"
"Apo-apolah Kak, gara-gara Si Kucing Garong maling Pempek dan Ikan Pesmol buatan Yuk Dara, kito tidak ado lauk nasi buat makan, jadi kito rencanonyo mau makan diluar nih mau cari baso. Sedihlah Yuk Dara." Terang Sofia.
" Kakak, khawatir yo samo Yuk Dara? Ngapo idak langsung telpon bae ke HP Yuk Dara. Kalian masih marahan yo?" (Sofia)
"Oh... ya sudahlah Dek, Kakak tutup dulu telponnyo yo, hati-hati nanti di jalan!" Peringat Azlan mengakhiri telponnya, tanpa ingin terpancing pertanyaan Sofia yang menyangkut Dara, terlanjur malu dia.
__ADS_1
"Cak mano Lan, apo kemalingan itu nian?"
"Nian Mak, kemalingan Pempek samo Ikan Pesmol buatan Dara oleh si Kucing Garong."
"Ya Allah... Mak pikir kemalingan apo. Syukurlah cumo kemalingan makanan," ucap Mamak bersyukur sambil mengelus dada.
"Tapi, cak mano biso kemalingan?"
"Tahulah Mak, Lan lupo bertanyo samo Sofi."
"Ya sudah, kalau *mak itu* (begitu) Mamak sholat Maghrib dulu biar tenang," ucap Mamak meninggalkan Azlan yang kini dilanda perasaan senang. Senang karena, dengan mengirim pesan WA seperti itu, artinya Dara ingin mencuri perhatiannya.
"Rupanya Adek mulai merindu Abang, Abang tahu dari cara Adek yang mencari perhatian Abang. Tunggu Abang pulang, Dek," gumannya antara senang dan terharu.
...----------------...
Besoknya Dara yang telah siap akan pergi bekerja, sejenak membuka HPnya, lalu membuka WA. Pesan WA yang dinantikan dari Azlan sama sekali tidak ada. Dara menjadi tidak bersemangat, kini dia menjadi layu dan murung.
"Dara pergi dulu ya Sof!" pamit Dara.
"Sebentar Yuk, Sofi antar saja pakai motor," tawar Sofi menunjuk motor Azlan yang tadi malam diantar Rivai ke kontrakan.
"Tidak usahlah Sof, Dara jalan saja. Lagipula jaraknya dekat. Sekalian mau nyegat teman Dara, siapa tahu ketemu," tolak Dara lemas.
"Yuk, kelihatannya Ayuk lemes lho. Apa sebaiknya Ayuk jangan kerja dulu."
Tiba di Pabrik, Dara langsung masuk ke ruang produksi. Ketemu Santi, Operator mesin 10 di shift A. Sejenak berbasa-basi dengan Santi.
"Halo cantik!" Tegur seseorang yang sudah Dara hafal suaranya. Tiba-tiba rasa lemas itu seketika sirna, moodnya Dara kembali bangkit setelah mendengar suara seksi Bang Jabar, Teknisi idolanya yang selalu wangi, ganteng dan rapi. Pasti Kak Fina yang jadi bininya Bang Jabar betapa lengketnya sama Bang Jabar, tampan begini. Dara berkhayal sejenak.
"Husss... ngapain sih Neng, lagi menghayal jadi bini Abang yang kedua ya?" seru Jabar menyadarkan Dara.
"Ihhh... Enggak kok," sahut Dara malu.
"Ah... pasti kangen sama Abang ya, lama kita tidak satu shift. Abang sangat rindu sama kamu!" ungkapnya gombal. Namun bagi Dara ucapan Jabar ini antara dua kemungkinan, gombal sama jujur beda tipis. Sebab Jabar terbukti sangat perhatian sama Dara, tahu juga minuman kesukaan Dara.
"Neng, Abang kamu masuk Rumkit ya? Sorry Abang belum bisa jenguk. Kapan Abang tercinta kamu sudah bisa pulang?"
"Katanya hari ini sih Bang?"
"Dengar kabar dikeroyok sama si Anu....!"
Dara cuma mengangguk lalu menunduk entah apa yang dirasakannya.
"Sabar ya Neng, pasti si Reno eh si Anu tidak bakalan berani nongol lagi disini. Dia punya malu, dan tanpa minta resign dia sudah resign duluan."
__ADS_1
Jabar sedikit keceplosan menyebut nama Reno, lalu langsung menutup mulutnya.
"Ya sudah deh, Abang pulang dulu. Sampai ketemu dua minggu kedepan cantik, rindunya kita bakal terobati, muahhh....!" pamit Jabar saat waktu benar-benar menunjukkan tepat pukul 7 pagi.
"Ihhh... dasar genit!" jerit Dara sambil mengacungkan tinju membalas ciuman tangan Jabar di udara.
"Dara...!" panggil Nela yang tiba-tiba menghampiri Dara.
"Nela...!" balas Dara senang.
"Gimana, laki Lu sudah baikan?" tanya Nela.
"Sudah mendingan Nel, hari ini katanya sudah boleh pulang. Eh... Nel, Gua makasih banyak ya sama Elu karena sudah bantuin Bang Azlan."
"Udah... tidak perlu terimakasih. Santuy saja." Balas Nela kembali hangat seperti Nela yang selama ini Dara kenal.
"Tadi kenapa tuh Bang Jabar sun jauh Elu? Curiga Gua?"
"Apaan sih Nel, negatif thinking saja. Bang Jabar kan sudah biasa bercanda begitu. Gua saja biasa saja, santuylah," tepis Dara mematahkan kecurigaan Nela.
"Ya sudah deh Dar, asal Elu nanggapinnya tidak pakai hati, soalnya sikap Bang Jabar ke Elu beda."
"Siapa yang pakai hati, yang ada pakai jantung." Pembicaraan Nela dan Dara terhenti karena harus sudah memulai bekerja.
Dara bahagia banget, sebab Nela sudah kembali hangat seperti semula. Sejak bertegur sapa dengan Jabar dan Nela, sejenak Dara melupakan kesedihannya memikirkan Azlan yang kini dingin padanya.
...----------------...
Saat bubaran kerja, kebetulan banget di depan pabrik ada yang jual Es Boba keliling. Dara berhenti dulu dan membeli 3 Es Boba. Es Boba memang minuman favoritnya saat ini.
"Kok belinya tiga Dar, buat siapa saja?" tegur Nela.
" Buat Mamak, Sofia, dan Gua."
"Mamak mertua dan ipar Elu datang kesini?"
"Iya.... "
"Kenapa belinya cuma 3, bukan 4? Buat laki Lu enggak?"
"Enggak...." Jawab Dara lempeng.
"Is... is... tega Lu yah sama laki yang baru keluar dari Rumkit, nggak ingat dan nggak perhatian."
"Bukan gitu Nela, laki Gua tidak doyan Es Boba!" Sentak Dara.
"Heheheh... iya deh Abang Azlan tidak doyan Es Boba, sebab yang dia doyan hanya orangnyalah."
"Ihh... apaan sih Nela... menjurus saja," tepis Dara tidak senang.
"Dara... salamkan saja pada Abang Lu cepat sembuh, sama salam juga pada Mamak dan adik ipar Elu ya," ujar Nela sebelum mereka berpisah menuju jalan tempat kontrakannya masing-masing.
__ADS_1