
Kepulangan Dara dan Azlan dari Bidan, disambut bahagia oleh Mamak dan Sofia. Sofia langsung memapah Dara yang kelihatannya tidak bersemangat. Sofia menduga Dara tidak bersemangat karena mengalami mual dan pusing. Sofia tahu, bisa jadi rasa pusing itu disebabkan oleh tekanan darah rendah, atau sebaliknya.
"Ayuk.... bagaimana hasilnya?" Sofia antusias.
"Ayukmu hamil, usia kandungannya baru dua minggu," jawab Azlan.
"Alhamdulillah... hamil muda mantu Mamak. Ya Allah... terimakasih Neng sudah memberi Mamak cucu pertama. Mamak senang rasanya," ujar Mamak bahagia seraya menyambut tangan Dara. Dara tersenyum meski senyum dipaksa.
"Bawalah bini Kau ke kamar Lan, bawakan makanan ke dalam dan setelah itu minum obatnya," titah Mamak perhatian.
"Apa saja Kak obatnya, sini Sofi lihat?" pinta Sofia. Azlan memberikan obat itu ke tangan Sofia. Ada tiga jenis obat, salah satunya obat penambah darah, pereda mual dan penguat kehamilan.
"Ini semua boleh diminum namun pakai jeda. Tapi diminumnya saat gejala mual dan sakit kepalanya terasa, Kak," saran Sofia. Sofia tahu karena dia calon Bidan.
Dara masuk kamar diikuti Azlan. Azlan tahu apa yang Dara rasakan. Dara kecewa karena belum mau hamil. Azlan bingung harus membujuk apa pada Dara. Azlan melihat Dara saat ini sedang begitu sensitif, apalagi menerima kenyataan bahwa Dara kini hamil tapi Dara belum siap.
"Dek makan dulu ya... Abang ambilkan nasinya." Dara tidak menyahut, dia diam lalu meneteskan air mata. Dara berpikir kenapa harus hamil dulu saat dia belum siap.
Azlan datang dengan membawa sepiring nasi dan lauknya, serta segelas air putih.
"Bangun dulu ya!" Azlan berusaha membantu Dara bangun lalu didudukkannya di ranjang.
"Makanlah, Abang suapin," tawar Azlan. Dara masih belum menyahut, dia memijit pelipisnya yang sakit.
"Abang minta maaf jika kehamilan Adek ini membuat Adek sedih," ucap Azlan. "Tapi, kita harus mensyukurinya Dek. Tidak boleh sedih apalagi menyesali. Jika kita tidak bersyukur, maka kita mengingkari nikmat dari Yang Maha Kuasa," bujuk Azlan.
"Abang tidak tahu apa yang Dara rasakan, Abang enak saja bicara. Bukan Dara tidak bersyukur, tapi Abang tahu sendiri kalau Dara belum siap hamil. Kenapa saat Dara mau minum pil KB waktu itu, Abang melarangnya. Padahal Dara belum mau hamil," ucap Dara kesal.
__ADS_1
"Tapi sekarang sudah terlanjur, Dek. Mau diapain lagi?" Dara tidak menyahut, dalam pikirannya hanya ada perasaan sedih. Kecewa juga dengan Azlan.
"Makanlah dulu, Dek. Abang kasihan sama Adek dan janin yang Adek kandung," bujuk Azlan seraya menyodor-nyodor piring berisi nasi dan lauk itu.
"Dara tidak mau," tolaknya lalu naik ke kasur dan membaringkan tubuhnya.
"Jangan gitu loh Dek, kita dosa lho kalau membiarkan diri kita dalam kelaparan sedangkan di depan mata kita ada makanan," bujuk Azlan lagi.
"Abang mau tanya sebetulnya apa yang membuat kamu belum mau hamil?" tanya Azlan penasaran.
"Belum siap karena masih muda atau karena ada yang lain?" desak. Azlan masih menunggu jawaban Dara. Namun Dara masih saja belum menjawab.
"Atau... Adek memang tidak ingin hamil dari Abang, karena Adek benci perlakuan Abang dahulu?" Pertanyaan Azlan masih belum dijawab Dara.
Sementara Dara menangis dalam diam, semua pertanyaan Azlan malah membuat Dara semakin tertekan dan sedih.
"Atau, kamu memang tidak ingin hamil dari Abang?" tuding Azlan. "Bisa jadi alasan kamu menunda hamil, karena sesungguhnya kamu memang tidak ingin hamil dan punya anak dari Abang," seketika pertanyaan Azlan yang ini membuat Dara semakin tertekan dan sedih. Azlan sudah menudingnya yang tidak-tidak. Semakin deraslah air mata Dara dibuatnya.
"Dara tidak mau, Abang keluarlah. Dara tidak mau dekat Abang. Abang hanya menyakiti Dara dengan semua pertanyaan Abang yang menyudutkan," tukas Dara sembari terisak.
"Baiklah kalau Adek tidak mau makan, Abang hanya mengingatkan saja. Sekarang tinggal Adek yang menentukan selamat atau tidak janin yang ada dalam kandungan Adek, jika Adek masih tidak mau makan." Azlan berdiri lalu keluar dari kamar. Hatinya sedih dan kecewa dengan Dara yang menolak makan.
"Saat keluar kamar, Mamak dan Sofia masih berada di ruang tengah.
" Lan... ada apa, Neng Dara tidak mau makan?" Mamak bertanya seolah tahu yang terjadi di dalam kamar sana.
"Dara tidak mau makan Mak, Azlan mau ambilkan teh jahe hangat," jawab Azlan. Mamak dan Sofia saling pandang penasaran.
Azlan kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa secangkir teh jahe hangat yang telah diseduhnya. Azlan kini melihat Dara sudah bersandar di kepala ranjang. Azlan merasa sedih dan kecewa melihat Dara masih saja belum makan.
__ADS_1
"Dek... coba minum dulu teh jahe hangat ini. Ini bisa membuat mual dan pusingnya hilang," Azlan menyodorkan cangkir teh jahe hangat itu. Namun Dara menepisnya, otomatis cangkir itu terlepas dan tumpah mengenai kasur. Azlan terperanjat.
"Ya ampun, Dek....!" Azlan memungut cangkir yang terhempas di atas kasur itu lalu mengeringkan tumpahan air teh jahe dengan kain.
"Abang sekali lagi minta maaf jika kehamilan ini tidak Adek harapkan, Abang tahu kesalahan Abang dimasa lalu sehingga Adek begini. Abang jadi merasa iri dengan Reno, saat Reno memaksa ingin minta mengantar pulang, Adek mau dan kalian bisa sangat dekat. Sekarang Adek hamil dengan Abang, Adek bilang tidak siap seakan Adek tidak mau hamil anak Abang," ucap Azlan panjang membuat Dara seketika emosi dan tidak terima dengan tuduhan Azlan. Dara menghempas cangkir yang masih berada di atas kasur sehingga membentur tembok dan suaranya terdengar sampai keluar kamar.
"Prang....!"
"Semua tidak benar, Dara bukan tidak ingin hamil dari Abang. Dan bukan Dara lebih senang diantar Bang Reno dan berdekatan dengannya daripada hamil dari Abang. Abang salah paham. Abang keterlaluan menuduh Dara seperti itu....!" teriak Dara sengit seraya bercucuran air mata.
Azlan terhenyak seketika, tidak dia duga ucapannya menyakiti hati Dara sehingga bercucuran air mata. Sofia dan Mamak yang berada di luar kamar menghampiri kamar Dara dengan perasaan was-was.
Mamak masuk diikuti Sofia, dengan raut panik Mamak menyerobot menghampiri Dara dan merangkulnya. Dara menangis di pelukan Mamak. Dia benar-benar merasa terpojok oleh ucapan Azlan. Mamak memberi kode supaya Azlan keluar dulu. Azlanpun patuh sembari berpikir keras akan kemarahan Dara.
Mamak, memeluk Dara dengan penuh kasih sayang dan membiarkan Dara menumpahkan tangisnya sampai berhenti. Akhirnya tangis Dara berhenti, lalu Mamak perlahan-lahan mulai bertanya tentang apa yang dirasakan Dara.
"Tumpahkan semua unek-unek Neng Dara pada Mamak dan Sofia disini, Mamak tidak ingin saat kami balik kampung kalian masih ada masalah. Mamak ingin anak mantu Mamak baik-baik saja. Ayo bicarakan apa yang menjadi kesedihan dan kekecewaan Neng Dara. Mamak siap mendengarkan," ucap Mamak sangat hati-hati dan keibuan sehingga membuat Dara sedikit tenang.
Sementara itu Azlan termenung, dia merasa bersalah telah menyudutkan Dara. Azlan takut sikap emosi dan histeris Dara tadi mempengaruhi kehamilannya.
"Maafkan Abang, Dek... Abang salah, Abang terlalu menyudutkan kamu," bisik Azlan menyesal.
__ADS_1