
Hari itu juga, sorenya Dara sudah dibolehkan pulang. Baby Zla, begitu Azlan dan Dara memanggil bayi cantiknya, diboyong ke rumah menaiki GrabCar yang sudah dipesan Azlan. Dara nampak sangat bahagia, rintihan dan tangisan saat tadi terasa mulas yang tiada tara, tergantikan dengan bunyi tangisan bayi yang nyaring. Kini Dara menangis, namun tangisan bahagia.
GrabCar berhenti tepat di depan rumah bernomer lima. Suasana rumah nampak sepi, siapa lagi yang akan bertamu di saat sang penghuni rumah sedang tidak berada di rumah.
"Terimakasih, Pak!" Azlan memberikan ongkos GrabCar setelah mengeluarkan tas besar dari dalamnya. Dara perlahan dipapahnya menuju depan pintu.
Azlan membukakan pintu lalu membawa Dara ke dalam. Baby Zla yang dibuntel kain pernel nampak terlelap namun gerakan bibirnya mengemut seakan sedang \*\*\*\*\*\*\*. Baby Zla kayaknya lapar, Dara langsung memahami kemauan baby Zla. Baru beberapa jam saja Dara menjadi ibu, namun naluri keibuannya begitu peka dan besar.
Dara meletakkan baby Zla dengan hati-hati di kasur yang sudah dipersiapkan untuk baby Zla. Ruangan berukuran sedang yang didominasi warna hijau sage itu, kini sudah memiliki penghuni yang mungil dan cantik.
Dara ikut berbaring sambil menyusui baby Zla yang lapar. Dan benar saja, saat bibir baby Zla menyentuh \*\*\*\*\*\* susu, langsung dikenyotnya. Dara merasakan siapanya begitu kuat, betapa laparnya baby kecilnya ini.
"Terimakasih sayang... telah hadir menyempurnakan kehidupan Mama, Mama janji akan selalu menyayangk Zla sampai kapanpun." Dara berderai air mata.
Azlan yang datang dari arah dapur sambil menenteng segelas air teh manis hangat membuat Dara, nampak kaget. Dia takut Dara kenapa-kenapa, lalu dengan sigap menghampiri Dara dan meletakkan gelas berisi teh manis hangat itu di meja kecil.
"Sayang... kenapa?" Azlan menyusut air mata di wajah mulus Dara dengan tisu. Dara menangis haru seraya mengecup kening baby Zla.
"Dara bahagia akhirnya bisa memeluk baby Zla. Dan ini tangisan bahagia," ucapnya tak henti menangis.
"Abang juga bahagia... Abang bahagia memiliki kalian berdua. Abang sangat berterimakasih sama Adek, karena telah mengandung baby Zla." Azlan ikutan terharu, lama kelamaan air matanya deras membasahi pipi. Dipeluknya tubuh Dara yang sedang menyusui baby Zla, diselingi ciuman-ciuman lembut di keningnya Dara sabagai ungkapan terimakasih Azlan.
"Ya Allah semoga keluarga kecil kami ini selalu dilimpahkan kebahagiaan, dan semoga kami berdua bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kami kelak, aamiin....!" Azlan berdoa di sore itu diiringi hujan yang tiba-tiba sangat lebat.
__ADS_1
"Sayang... makan dulu ya, baby Zla pasti nanti pengen \*\*\*\*\* lagi. Kamu harus banyak makan juga, kebetulan Abang tadi sudah masak sop ayam dengan ikan cumi, pasti akan menambah tenaga dan selera makan Adek!" bujuk Azlan seraya meletakkan sepiring nasi yang kumplit sama lauknya yang disebutkan barusan.
Dara bangkit lalu duduk di atas ranjang baby Zla. Sementara itu, udara semakin terasa dingin terlebih hari ini hujan lebat.
"Abang... Dara takut, hujannya lebat," seru Dara sambil menyuap nasi yang tadi dibawa Azlan. "Abang baringlah dulu dekat baby Zla, Dara takut tiba-tiba ada petir dan baby Zla kaget. Azlan patuh dan beranjak mendekati baby Zla. Dara melanjutkan makannya.
"Duhhh sayang... Masya Allah cantiknya anak Ayah....!" celoteh Azlan sambil mencium pipi baby Zla. Panggilan Azlan yang kemarin sebelum kelahiran baby Zla, tiba-tiba berubah dari Papa menjadi Ayah. Dara menyadari itu dan tersenyum tipis.
"Panggilannya kok berubah jadi Ayah, kenapa?" sela Dara. Dara merasa kepo, pasti jawabannya karena kita bukan orang kaya.
"Abang hanya pantas dipanggil Ayah, sebab Abang terlahir sebagai anak dusun. Kita sesuaikan saja dengan dari mana kita berasal." Dara mengangkat bahunya tanda menyerahkan pilihan yang Azlan mau.
"Kalau Dara maunya sih dipanggil Mama,"
"Wah... tidak asik dong, masa Abang dipanggil Ayah, kok Adek Mama?" protes Azlan.
"Ihhh... nggak pantas lho, Dek. Masa Ayah Mama, Papa Bunda, jatuhnya kan lucu."
"Terserah Dara dong, suka-suka Dara," tepisnya mempertahankan pendapatnya. Akhirnya Azlan mengalah dan lebih baik mengalihkan fokusnya ke baby Zla.
Saat Azlan menatap dalam wajah baby Zla, sekelebat bayangan masa lalu ketika dia mencurangi Dara dengan menjebaknya, kini terbayang-bayang di pelupuk mata. Rasa berdosa seketika menghantam dada. Dara yang dulu ogah-ogahan menolak Azlan, kini karena ulahnya telah memberikan Azlan anugrah terindah, yaitu baby Zla.
"Maafkan Abang, Dek! Gara-gara Abang, Adek cuma hidup sederhana bersama Abang," sesal Azlan dalam hati sambil berkaca-kaca.
Cantik, kulit bersih kuning langsat, dengan bulu mata yang lentik, hidung bangir, serta kulit eksotik khas Asia Tenggara. Wajahnya perpaduan dirinya dan Dara. Azlan menyembunyikan wajahnya yang berkaca-kaca. "Semoga baby Zla selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa."
__ADS_1
Hujan di luar masih lebat disertai angin. Dara khawatir, sebab Bu Sukma kini dalam perjalanan menuju kediamannya.
"Assalamu'alaikum, Bu! Karena hujan masih lebat, ibu jangan beranjak dulu dari terminal ya. Tunggu hujannya reda baru naik gojek!" peringat Dara di telpon lalu menutup kembali telpon itu.
"Ibu sudah sampai di mana?"
" Ibu masih di terminal Cikarang, karena hujan masih lebat, Dara suruh Ibu menunggu sampai hujan reda."
"Ibu sendiri?" Dara mengangguk seraya mendekati kembali baby Zla dan berbaring di samping bayi mungil itu.
"Sayangnya... Mamak tidak bisa datang!" ucap Dara kecewa.
"Mamak kan lagi sakit, mungkin lain kali saja saat baby Zla aqeqahan."
"Lantas, siapa yang dari Prabumulih akan datang kesini?"
"Tadinya Sofia sama Azman mau kesini, namun Azman kasihan sama Mamak, kalau cuma ngandalin Bapak seorang Azman khawatir," jawab Azlan.
Hari berganti redup, malam kini telah tiba dan hujanpun telah reda. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba di depan terdengar suara orang yang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum!" salamnya dengan lantang. Dara dan Azlan saling pandang dan clingukan. Namun Dara langsung berdiri menuju pintu, dan suara salam itu diyakininya adalah suara ibunya.
"Ibu...!" pekiknya gembira sambil merangkul Bu Sukma. Bu Sukma merengkuh bahu Dara penuh kerinduan. Keduanya menangis haru saking bahagia.
"Dimana cucu Ibu?" Bu Sukma nampak tidak sabar, Dara menuntun lengan Ibunya menuju kamar baby Zla. Disana Azlan masih menunggu dengan setia.
"Ibu....!" pekik Azlan setelah menyadari bahwa yang datang adalah Ibu Sukma, mertuanya. Azlan menghampiri Bu Sukma lalu mencium tangannya takzim.
Setelah itu Bu Sukma langsung menghampiri ranjang baby Zla seakan sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Aduhai... cantiknya cucu Nene," serunya sembari menatap lekat wajah baby Zla.
"Cantik banget cucuku, seperti Dara saat kecil." Bu Sukma berguman dalam hatinya penuh rasa hari dan bahagia.