
"Jadi... Abang mau kesana juga? Kenapa sih Abang tidak turuti apa saran Dara?" ucap Dara penuh kekhawatiran.
"Sudahlah Dek jangan khawatir, Abang hanya ingin membuat perhitungan dengan Reno supaya dia kapok," ucap Azlan. "Dara mohon sekali lagi, Abang jangan temui dia," ucap Dara penuh permohonan seraya memeluk Azlan dari belakang. Azlan tidak menggubris, dia mengurai pelukan Dara.
Kafe Indah
Azlan tiba di Kafe Indah jam 8 tepat. Sebelumnya dia telah ijin telat masuk kerja pada kepala Teknisi. Namun Kafe Indah nampak masih sepi. Dan Azlan sudah menaruh kecurigaan dengan niat Reno, dia sengaja meminta Dara datang ke Kafe Indah sepagi ini dan Kafe Indah dalam keadaan masih sepi. Setahunya Kafe Indah buka jam 10 siang. "Sialan....!" umpatnya.
"Azlan....!" teriak seseorang. Azlan langsung menoleh ke arah datangnya suara. "*Bajingan itu* *nongol juga*," batinnya.
"Akhirnya... Gua bisa melihat tampang Lu yang merasa khawatir dengan seorang perempuan yang amat dicintainya. Gua bukan ingin ketemu Elu, tapi Gua mau ketemu bini Lu yang bikin penasaran itu," tuturnya mencemooh membuat Azlan naik darah.
"Kurang ajar, kalau Dara nekad menjumpai Elu disini, Gua yakin Elu akan melakukan suatu hal yang tidak benar, dasar bajingan," umpat Azlan naik pitam.
"Cuih... Gua yakin Dara akan jumpai Gua seumpama surat itu tidak Elu temukan," ucapnya yakin. "Jangan yakin dulu, Dara tidak Segampangan yang Elu pikir!"
"Kalau Elu gentel kita duel sekarang, jangan libatkan yang lain. Demi harga diri Dara yang selalu Elu anggap perempuan gampangan, Gua tantang Elu duel sekarang juga," tantang Azlan dengan jiwa berkobar. "Alahhh... nantang Gua dengan kondisi tangan Elu yang pernah Gua pelintir, ke laut saja Lu....!" ledek Reno merendahkan. Reno tidak tahu saja bahwa tangan Azlan sudah benar-benar sembuh dan normal lagi untuk digunakan.
Kemudian Reno mendekat, dan Azlan tidak lengah, dia sudah pasang kuda-kuda. Kali ini ilmu beladiri Karatenya akan dia pergunakan disini saat duel dengan Reno. Gitu-gitu juga Azlan sudah memegang sabuk hitam, masa iya dia dikalahkan sama Reno.
Tanpa menunggu lama Reno mulai menyerang Azlan, mengayunkan tinjunya menuju muka Azlan, namun sekali ayunan saja tangan Azlan sudah menangkap ayunan tinju Reno secepat kilat.
__ADS_1
"Hyukkk....!" Azlan menangkap tinju itu lalu dipelintir ke belakang dan menghempas tubuh Reno sekali hempas ke tanah. "Awww....!" jeritnya menahan sakit. Azlan tidak peduli Reno kesakitan dia masih berdiri dengan posisi kuda-kudanya. Azlan waspada kiri dan kanan, siapa tahu dia akan diserang sama seperti saat di lapangan Cibarusah tempo hari.
"Ayo, maju lagi... masa jagoan sekali sikat langsung KO!" ejek Azlan. Perlahan Reno bangkit dan berusaha meraih Azlan, dan mengarahkan tinjunya ke perut Azlan. Lagi-lagi tinju itu hanya memukul angin. Azlan berhasil menghindar dengan sekali langkah mengubah posisi kuda-kudanya tanpa melakukan penyerangan balik. Dan tinju itu sudah bisa ditebak hanya kena angin. Reno nampak kesal.
Azlan menatap kasihan, Reno berani duel dengannya hanya menyodorkan kemampuan tinju gaya bebas tanpa kuda-kuda atau seni bela diri lainnya. Tempo hari menang saja karena main keroyokan, dan Azlan dalam kondisi diserbu dari mana-mana.
Bisa saja Azlan memberikan pelajaran lebih dari ini membuat Reno luka atau babak belur, namun dia punya kode etik yang tidak membenarkan melawan musuh dalam keadaan tidak siap dan tidak sebanding.
"Pergilah... Gua beri ampunan asal Elu berjanji tidak akan menggangu lagi Dara," ucap Azlan. Reno menatap Azlan lemah, kali ini dia memperlihatkan kekalahannya. Perlahan dia pergi diliputi wajah yang suram dan meringis. Azlan sedikit terharu juga, Reno kali ini gentel dan tidak menghadirkan para orang bayaran untuk mengeroyoknya.
Azlan menghidupkan mesin motornya lalu memberi kode mengacungkan jempolnya ke udara. Motor berbaur di jalanan Cibarusah diikuti motor lain dengan tujuan yang sama.
Tiba di kontrakan, Azlan tidak mendapati Dara. Dia hanya melihat pintu dan jendela ditutup rapat. Azlan mengetuk pintu seraya mengucap salam. Lalu dengan cepat suara kunci pintu dibuka terdengar lalu pintupun terbuka.
__ADS_1
Azlan segera menerobos muka pintu. "Adek tidak kenapa-kenapa?" tanya Azlan khawatir. "Abang....!" serunya sambil memeluk Azlan dan menangis tersedu. "Abang tidak kenapa-napa, Abang masih sehat walafiat. Lihatlah....!" serunya sambil pamer badan.
"Dara khawatir sama Abang, Dara takut Abang kenapa-napa," ucap Dara seraya memeluk Azlan lagi. Azlan merasa terharu bahwa Dara begitu mengkhawatirkannya. "Abang baik-baik saja, sekarang Abang mau siap-siap berangkat kerja. Adek tidak apa-apa kan Abang tinggal?"
Dara melepaskan rangkulannya lalu menatap Azlan lekat, dia bersyukur Azlan tidak mengalami luka apa-apa. "Ya sudah, sudah puas kan menatap Abang nya? Sekarang ijinkan Abang pergi bekerja. Adek baik-baik di rumah. Sekiranya sepi, jangan berani buka pintu lebar-lebar. Tutup saja dan kunci," peringat Azlan lembut dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Abang pergi ya....!" pamitnya seraya mencium kening Dara. "Hati-hati Abang....!" Dara melambaikan tangan mengantar kepergian Azlan. Hatinya kini lega tidak terjadi apa-apa dengan Azlan. Namun Dara sedikit penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Azlan dan Reno.
"Ting....!" tiba-tiba suara notif WA Dara bunyi membuyarkan lamunan Dara.
"Dara... mungkin kali ini aku kalah dari suamimu. Namun aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu." Begitu isi pesan WA dari nomer yang Dara tidak kenal. Namun Dara sudah bisa menebak pesan WA ini dari siapa. "Bang Reno....!" Dara langsung memblokir nomer itu dan menghempas Hpnya ke lantai.
Hyundy
Azlan tiba di pabrik tepat pukul 8.45 menit. Dia langsung menuju ruangan Teknisi dan memberikan laporan pada Kepala Teknisi.
"Lan... sudah beres urusannya?" Bang Tedy Kepala Teknisi menyapa Azlan. "Sudah Bang, terimakasih ya Bang....!" ucapnya seraya meraih kertas report untuk mambuat laporan. "Oh ya Lan, tadi Gua dapat pesan dari HRD. Elu disuruhnya menghadap HRD," berita Bang Tedy yang sontak membuat Azlan heran.
"Ada apa ya....?" Azlan merasa heran. "Gua tidak tahu, tapi Elu menghadaplah segera." Sejenak Azlan termenung merasa heran tiba-tiba dia dipanggil Pak Soni bagian HRD. Padahal dia baru kali ini ijin telat masuk kerja tapi sudah dipanggil HRD.
__ADS_1
"Haduhh... ada apa ini....?" gumannya risau.
Kira-kira kenapa Azlan dipanggil HRD?