
Pagi tiba, Mamak sedang bersiap untuk kembali ke kampung. Sementara Sofia membantu menyiapkan bawaan Mamak.
"Kau disinilah dulu, sidang kan masih dua minggu lagi. Temani dulu ayukmu, dia butuh teman. Kau bisa praktekan hasil kuliah kebidananmu pada ayukmu, jika dia memerlukan bantuanmu." Mamak memberi nasihat sebelum meninggalkan rumah anak menantunya.
"Iyo Mak, Sofi juga masih ingin disini. Lagian skripsi Sofi sudah beres tinggal nunggu sidang." Sofia merasa senang saat dirinya masih diijinkan tinggal di rumah Kakaknya.
Kali ini Mamak diantar Azlan ke PO bus Cikarang. Setelah Mamak selesai menyiapkan semua barang-barang Mamak dibantu Sofia, Mamak bersiap untuk pergi.
"Neng... Mamak pamit dulu ya, baik-baik disini jangan lagi ada berantem sama Azlan. Jaga juga cucu Mamak," ucap Mamak seraya mengusap lembut perut Dara yang belum membesar.
"Iya, Mak. Mamak juga hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan," ucap Dara sambil menyalami tangan Mamak.
"Mamak pamit ya!" ucap Mamak sebelum kakinya benar-benar menginjak pedal motor. Dara menatap sedih kepergian Mamak, namun terpaksa Mamak harus pergi. Karena Mamak banyak urusan di kampung.
Sofia dan Dara menatap kepergian Mamak yang dibawa melaju oleh motor Azlan.
__ADS_1
Saat Azlan pergi, tanpa disangka Dara dan Sofia. Wisnu datang dengan jeep khas tentaranya.
Wisnu membawa buah-buahan yang banyak buat Dara, juga membawa Seblak dan Pempek serta Baso. Dara dan Sofia terkaget-kaget dibuatnya. Merasa aneh seorang Wisnu yang notebene tentara bisa berbelanja berbagai jenis makanan kesukaan Dara.
"Tidak salah nih, Aa belanja sebanyak ini?" Kening Dara berkerut dalam. Sofia juga sama reaksinya.
"Memangnya kenapa, apakah yang hanya pintar belanja itu kalian kaum cewek saja? Aa juga jago belanja. Tinggal bilang saja sama pedagangnya minta anu yang begini begini, langsung dikasihnya sesuai permintaan. Bayar, pergi," beber Wisnu enteng.
"Pantesan, belanjanya tinggal tunjuk, dipilihan, lalu bayar."
"Belanja buah kan tidak seribet mencari pasangan," ujar Wisnu. Dara dan Sofia melongo saling berpandangan.
"Ayuk....!" pekik Sofia seraya memukul kecil lengan Dara. Dara ketawa-ketawa seraya menatap penuh menggoda ke arah Wisnu.
Wisnu membuang muka, entah malu atau benar-benar tidak suka dengan godaan Dara.
"Sedang hamil jangan banyak candain Aa, entar anaknya malah mirip Aa," cetus Wisnu manyun. Sofia makin terpesona melihat ketampanan Wisnu saat sedang manyun begitu. Hatinya meracau, "andai A Wisnu jadi milikku, akan aku jadikan dia raja dihatiku."
__ADS_1
"Ya iya dong mirip Aa, sebab Aa kan Omnya calon bayi Dara."
"Ya sudahlah... sebaiknya kita makan bawaan Aa. Aa mau makan basonya ya, kalian tinggal pilih mana terserah. Mau hom pim pa atau suten juga terserah kalian berdua," ujar Wisnu berubah cuek dan rame.
Dengan cepat Sofia melesat ke dapur membawakan mangkok buat makan oleh-oleh yang baru dibawa Wisnu. Suasana makan pun tak lepas dari obrolan yang membuat mereka bertiga tertawa bahagia.
Saat mereka asyik makan, Azlan datang, Azlan tidak heran lagi siapa yang datang menggunakan jeep hijau ala tentara.
Azlan masuk mengagetkan mereka bertiga yang tengah asyik menyantap makanannya masing-masing di mangkok.
"Assalamu'alaikum....!" ucap Azlan. Semua mendadak senyap lalu menatap ke arah suara.
"Eh... Abang... baru pulang. Kami sedang menyantap oleh-oleh bawa A Wisnu nih. Abang mau nggak?"
"Tidak usah....!" ujar Azlan lalu meletakkan bawaannya.
Azlan membawa 3 cup minuman yang dia sodorkan di hadapan mereka bertiga.
__ADS_1
"Asiik... ini pasti boba punya Dara," serobot Dara girang. Setelah asik menikmati makanan pemberian Wisnu dan minuman yang dibelikan Azlan. Mereka berempat berbaur. Kini mereka sedang menikmati rujak buatan Sofia yang enaknya "lumayan", seru Wisnu seraya menghabiskan rujak buah-buahan buatan Sofia.