Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Tragedi Maut


__ADS_3

"Ibu dan Bapak sama saja, tidak bisa tegas sama Dara. Mentang-mentang dia bukan anak kandung Ibu dan Bapak. Pantas, saat Dara memaksa ingin kerja ke Cikarang, Bapak dan Ibu tidak bisa mencegahnya!" tuding Wisnu pada Bu Endah dan Pak Malik.


"Wisnu..., jangan bicara sembarangan seperti itu. Kami menyayangi adikmu sama seperti kami menyayangimu. Tidak dibeda-bedakan. Jangan menuding kami tidak peduli dengan Dara adikmu, hanya karena kami gagal melarangnya untuk tidak kerja ke Cikarang. Itu keinginan dan tekad Dara, jadi kami saat itu tidak bisa melarangnya." Sangkal Pak Malik menggebu-gebu.


"Sabar A... jangan bicara yang bukan-bukan. Hanya Allah saja yang tahu cinta kami tulus atau tidaknya pada adikmu. Yang jelas kami menyayangi adikmu sama seperti kami menyayangimu!" tegas Bu Endah meyakinkan Wisnu yang menudingnya seolah-olah tidak peduli dengan Dara, karena bukan orang tua kandung.


Bu Endah nampak meneteskan air mata, perlahan dia mendekati Dara lalu merangkulnya.


"Ibu nyaah ka Eneng, tong dilebetkeun kana hate cariosan si Aa. Aa nuju ambek, janten cariosanna kamana-mana!" (Ibu sayang ke Eneng, jangan dimasukkan kedalam hati omongan si Aa. Aa lagi marah, jadi omongannya ngelantur!)," bujuk Bu Endah diiringi isak tangis.


Dara membalas pelukan Bu Endah, pelukan hangat seorang wanita yang dirasakannya sama persis seperti pelukan seorang Ibu. Ibu Endah yang merupakan Uwa kandung Dara, Kakak perempuan dari Ayahnya Dara.


Namun sejak kecil sebelum terjadi tragedi naas yang menimpa kedua orang tuanya, Ibu Endah sudah menyayangi Dara sama seperti menyayangi Wisnu anak kandungnya. Terlebih ketika kedua orang tua Dara meninggal dalam tragedi kecelakaan 14 tahun yang lalu, Bu Endah dan Pak Malik semakin menumpahkan kasih sayangnya pada Dara, tanpa membeda-bedakan.


Flashback 14 tahun yang lalu


"Bapak sareng Ibu angkat heula nya geulis!" (Bapak dan Ibu pergi dulu ya cantik") pamit Pak Bagja sambil melambaikan tangannya pada gadis kecil berumur 6 tahun itu.


"Cuppp..., tong bangor nya! Ameng sareng A Wisnu." (Cuppp..., jangan nakal ya! Main sama A Wisnu!). Pesan Bu Sukma sambil mencium kening gadis kecil bernama Dara itu sebelum beranjak pergi. Dara melambaikan tangannya di depan pintu sambil berkaca-kaca.


"Ibu, Bapak, tong lami nya!" (Ibu, Bapak, jangan lama ya!") . Teriak Dara sambil melambaikan tangannya dan menangis sedih. Mobil Rusa yang ditumpangi keduanyapun berlalu dari halaman rumah. Dara masih melambai sedih.


Kalau bukan karena undangan pernikahan Komandan di kesatuannya yang menikahkan anaknya, mungkin saat ini Dara masih punya orang tua kandung.


Tragedi kecelakaan maut itu, terjadi saat mobil yang ditumpangi Ibu dan Bapaknya Dara berusaha menghindari truk tronton yang remnya blong dari arah berlawanan mencoba menyalip ke lajur kanan. Kecelakaan tidak bisa dielakkan, stir dibanting ke kiri dan naasnya membentur keras pembatas jalan, lalu mobil meluncur ke dalam sungai Cisadane yang saat itu airnya sangat deras.


Untung tidak dapat diraih, naas tidak bisa dielakkan. Tragedi kecelakaan maut yang menimpa orang tua Dara saat itu sungguh memilukan. Merenggut dua korban sekaligus dan meninggal di tempat. Sejak saat itu Dara selalu menunggu kedua orang tuanya di depan pintu rumah sambil memandang jauh kedepan sana dengan mata berkaca-kaca.


Wisnulah orang pertama yang selalu menghibur dan meraih Dara, digendongnya Dara bahkan sampai tertidur pulas digendongannya. Dengan begitu, kesedihan Dara sedikit terobati.

__ADS_1


Yang sangat miris ketika Dara selalu bertanya kepada Wisnu tentang kedua orang tuanya, "kapan ya A Ibu dan Bapak pulang, kenapa belum datang-datang?" tanyanya sambil berurai air mata. Padahal Dara kecil tahu kedatangan kedua jenasah Ibu dan Bapaknya, malah Dara mengantarkannya ke peristirahatan terakhir keduanya.


Wisnu meraih tangan Dara dan membawanya masuk ke dalam rumah, Dara menangis pilu saat ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya.


Sejak saat itulah Dara tinggal bersama Uwanya, yaitu Kakak perempuan Bapaknya Dara. Mereka menyayangi Dara seperti anak kandung, terlebih Dara merupakan keponakan kandung Bu Endah.


Flashback end


Kenangan pahit saat tragedi kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Dara, kini terkenang kembali. Saat Dara kedatangan tamu menggunakan mobil ambulans, dan digotongnya kedua jenasah dari mobil tersebut. Masih terekam jelas diingatannya.


Dara masih memeluk erat Bu Endah disertai isak tangis. Bukan saja kenangan pahit tragedi kecelakaan 14 tahun yang lalu saja yang jadi kesedihannya, kini bertambah lagi sikap Wisnu yang marah karena merasa dibangkang oleh Dara, menjadi kesedihan yang bertubi-tubi.


Dara tidak pernah dimarahi Wisnu sejak kecil, Wisnu justru selalu membuatnya berhenti dari nangis.


"Minggir... dengar ya De, sampai kapanpun Aa tidak terima kamu nikah sama cowok berengsek ini. Kalau kamu nikah, jangan harap Aa mau hadir atau mendoakan kebahagiaan untukmu!" ucap Wisnu bengis sambil berlalu dari kamarnya.


Dara terhenyak, isak tangisnya kini terdengar pilu. "Aa..., A Wisnu....!" teriakan Dara tidak digubris, Wisnu berlalu dari rumah itu.


"Neng..., atos tong sedih wae. Ayeuna urus heula rerencangan Eneng, lanongan heula nu nyerina, kompres ku cai haneut nganggo anduk!" (Neng..., sudah jangan sedih terus. Sekarang urus dulu teman Eneng, obatin dulu yang sakitnya, kompres pakai air hangat sama handuk!"), perintah Bu Endah menyadarkan Dara dari rasa sedih berkelanjutan.


Dara tersentak dan menyadari bahwa kini Azlan butuh penanganannya karena luka yang diakibatkan Kakaknya.


"Ayo... Dara bantu. Sebaiknya kita ke kontrakan saja," Dara membantu Azlan berdiri dan duduk di ranjang.


"Neng, tah kompresna!" (Neng, ini kompresnya!")," Bu Endah dengan sigap menyiapkan kompres buat Azlan, bagaimanapun juga Azlan adalah tamunya. Demi kemanusiaan, Bu Endah mengenyampingkan rasa kesal pada Azlan, kesal karena cara mendapatkan Dara dengan cara licik.


"Nuhun Bu!" (Makasih Bu)," ucap Dara.


Dara dengan telaten membersihkan luka di muka Azlan, sesekali Azlan meringis menahan sakit. Tapi dia tahan, sebab rasa sakit ini tidak setimpal dengan kekecewaan keluarga Dara atas sikapnya yang ingin mendapatkan Dara dengan cara licik.

__ADS_1


Bu Endah dan Pak Malik meninggalkan Dara di kamar, sementara Dara masih mengobati luka di muka Azlan yang lebam.


"Dek... maafkan Abang, gara-gara Abang terjadi keributan ini!" Dara diam sembari masih mengompres Azlan.


"Percuma Abang minta maaf, semua sudah terjadi!" sahut Dara sedih.


"Kenapa Abang tidak turuti saran Dara? kalau saja Abang ikut saran Dara, maka keributan ini tidak akan terjadi," cetus Dara kesal.


"Dari awal Abang tidak setuju dengan saran Adek, terlebih A Wisnu mendesak Abang untuk jujur dengan semua yang terjadi, karena A Wisnu merasa janggal dengan niat Adek yang ingin menikah secepat ini. A Wisnu terus menekan Abang, dan Abang memang tidak ingin menutup-nutupi," jelas Azlan sambil meringis.


"Abang ini kenapa bodoh...? sudah Dara katakan, ikuti saran Dara tapi tidak didengar," gerutu Dara.


"Abang rela dibilang bodoh daripada Abang melakukan kebodohan lagi, Abang rela mati atau babak belur seumpama semua itu bisa mengembalikan nama baik Adek di hadapan orang-orang yang saat itu menyaksikan kebodohan Abang menjebak Adek," ungkap Azlan penuh sesal.


"Bisa saja Abang tutupi, tapi dasar hati Abang akan selamanya merasa bersalah sama Adek. Jadi mungkin ini jalan terbaik untuk Abang, untuk menebus dosa-dosa Abang pada Adek dan keluarga Adek," sambung Azlan masih diliputi rasa sesal yang dalam.


Dara menghela nafas dalam, dia diam tidak sanggup berkata apa-apa lagi.


"Mengenai pernikahan kita bagaimana? apakah Adek berubah pikiran setelah keributan ini?" Azlan bertanya penuh hati-hati.


"Nanti Dara bicarakan sama Ibu!" sahut Dara.


Azlan dan Dara keluar kamar. Dara mencari Bu Endah ke dapur.


"Bu..., aya nu bade Dara carioskeun ka Ibu sareng Bapak," (Bu..., ada yang ingin Dara bicarakan pada Ibu dan Bapak)," ucap Dara.


Bu Endah sedikit terkejut, lalu dia menghampiri Dara dan menuntun Dara ke ruang tamu.


"Hayu di ruang tamu, urang nyarios sareng Bapak, naon kahoyong Eneng," (Ayo di ruang tamu, kita bicara dengan Bapak, apa kemauan Eneng,").

__ADS_1


Bu Endah membawa Dara ke ruang tamu, di ruang tamu sudah ada Azlan dan Pak Malik.


"Bu, Pak! Supados ngartos kasadayana, langkung sae ku basa Indonesia nyariosna," (Bu, Pak! Supaya bisa dimengerti oleh semua, lebih baik pakai bahasa Indonesia bicaranya!") ucap Dara memperingatkan. Bu Endah dan Pak Malik. mengangguk paham.


__ADS_2