Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Pengakuan Azlan


__ADS_3

Wisnu menarik tangan Azlan dan membawanya ke dalam kamarnya. Kamar berukuran sedang itu didominasi warna putih.


"Duduk....!" perintah Wisnu. Azlan patuh, dia duduk di dipan ranjang dengan hati diliputi heran.


"Aa... tolong, sebaiknya besok saja bertanyanya. Ini sudah malam, biarkan Bang Azlan pulang dan beristirahat dulu," cegah Dara menyusul ke kamar Wisnu.


"Aa minta tolong, jangan halangi Aa. Lagipula ini masih jam 8, masih wajar untuk mengobrol," alasan Wisnu.


"Kenapa juga Aa bawa Bang Azlan ke kamar. Di ruang tamu juga bisa!" Dara protes.


"Aa hanya ingin lebih leluasa ngobrolnya. Kalau di ruang tamu takut terdengar tetangga!


"Sudahlah tinggalkan kami berdua," perintah Wisnu berubah garang.


Wisnu menutup pintu kamar, baginya mengajak Azlan berbicara di dalam kamar akan lebih terjaga privasinya ketimbang di ruang tamu. Pikirnya.


Dara, Ibu dan Pak Malik menunggu resah di ruang tamu. Terlebih Dara, tiba-tiba perasaannya was-was. Dara takut Azlan bicara jujur tentang awal hubungannya, yang justru akan membuat runyam dan mendapatkan kemurkaan Wisnu. Itu yang dipikirkan Dara.


15 menit, tidak ada hal berarti yang ditakutkan Dara. Dara sedikit lega dan berusaha tenang.


"Buggg....!" suara hantaman keras tiba-tiba terdengar dari arah kamar Wisnu. Seketika Dara dan sepasang suami istri yang sedang menunggu di ruang tamu tersentak kaget, dan berhamburan menghampiri kamar Wisnu.


Dara sudah tidak enak hati. Pasti sesuatu hal telah terjadi pada Azlan. Dara membuka pintu kamar Wisnu dengan kasar.


"Brug...!" pintu terbuka dan Dara terbelalak dibuatnya. Pemandangan yang mengerikan terlihat di depan matanya. Azlan terbujur dengan luka memar di sudut bibirnya.


"Aa...apa-apaan, apa yang Aa lakukan?" pekik Dara marah seraya menghampiri Azlan yang badannya ambruk.


"Awas...jangan kamu belain De, jadi ini alasan kamu pengen nikah sama cowok brengsek ini. Gara-gara kamu dijebak dan akhirnya terpaksa menikah dengan dia. Ini penghinaan, dasar brengsek!" ucap Wisnu kencang dan menggebu-gebu. Amarahnya sudah di ubun-ubun, wajah tampannya merah menyala menyimpan kemarahan yang besar.


"Brugg...!" dan lagi, pukulan telak mengenai perut Azlan. Azlan sontak terhuyung, tubuhnya yang tadi dibantu berdiri oleh Dara kini spontan terhuyung kembali. Begitu cepat pukulan Wisnu sehingga Azlan tidak bisa menghindar.


"Stopppp... Aa... jangan pukul lagi Bang Azlan. Tolong hentikan!" jerit Dara memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Wisnu...hentikan! Jangan gunakan kekerasan!" cegah Pak Malik.


Bu Endah yang melihat keadaan Azlan yang menyedihkan merasa tidak tega, beliau meringis dan sedih tidak menyangka akan ada kejadian kekerasan seperti ini di rumahnya.


"A... sudah A..., jangan pakai kekerasan. Selesaikan dengan kepala dingin!" bujuk Bu Endah lembut kepada Wisnu.


"Kalian jangan mencegah Wisnu. Wisnu akan membuat cowok bajingan ini membayar semua penghinaannya pada Dara dengan perbuatan yang setimpal," sungut Wisnu marah.


"Brugg....awwww....!" pekik Dara terhuyung dan nampak kesakitan. Bahunya terkena pukulan Wisnu, saat dia mencoba menghalangi tindakan Wisnu yang ingin meninju muka Azlan.


Sontak semua yang melihat terkejut dan menjerit.


"Wisnu, hentikan! Ini menyakiti Adik kamu!" cegah Pak Malik seraya menghampiri Dara dan Azlan!


Wisnu terhenyak kaget, rupanya tinjunya mengenai adiknya Dara.


Wisnu menghampiri Dara dan meraih gadis itu, lalu dipeluknya penuh sesal. Dara yang bahunya masih sakit, sekuat tenaga melepaskan pelukan Kakaknya dengan kasar.


Dengan uraian air mata, Dara menatap tajam Wisnu penuh kemarahan.


Wisnu menatap Dara nanar, ada rasa sesal terukir di wajah tampannya.


"Aa bertindak seperti ini, karena Aa tidak terima kamu dilecehkan sama dia. Cara dia untuk mendapatkan kamu salah. Dia menjatuhkan harga diri kamu, sadar tidak kamu Dek? Tidak perlu kamu bela. Bahkan Aa tidak akan pernah mengijinkan kamu dinikahinya!" tandas Wisnu.


"Dara tahu A cara dia memang salah, awalnya Dara juga marah dan benci. Tapi lama kelamaan Dara mencoba paham apa tujuannya. Dia ingin melindungi Dara dari pergaulan bebas," ucap Dara memberi alasan.


"Pergaulan bebas? Itu cuma kedok dia untuk mendapatkan kesucian kamu, tolong jangan dibutakan kebaikan yang cuma kedok belaka. Buka hati kamu dan pikiranmu. Dengarkan Aa, dia tidak baik buat kamu. Tinggalkan dia!" tegas Wisnu masih meninggi.


"Jangan kamu bela lagi dia atau ragu untuk meninggalkannya, dia itu berengsek. Dia telah melakukan pelecehan terhadapmu De. Harusnya seorang perempuan itu dihargai, tapi tindakannya sangat merugikanmu. Merendahkan harkat dan martabat perempuan!" tegas Wisnu lagi.


"Dara tidak akan tinggalkan Bang Azlan, dia tidak pernah melakukan pelecehan dalam arti sebenarnya. Dara tidak pernah dilecehkan. Bahkan dalam sebulan terakhir ini Bang Azlan sangat menjaga Dara. Dia tulus mencintai Dara walau cara dia salah," sangkal Dara dengan nada penuh pembelaan pada Azlan.


"Kamu telah dibutakan mata dan pikiran kamu De, sehingga kamu bisa bicara seperti itu dan membelanya. Tidak merasa dilecehkan, tapi nyatanya cara dia licik menjebak kamu supaya terlihat oleh orang-orang bahwa kamu adalah perempuan hina. Sadarkah itu De, kayaknya kamu sudah dicuci otak sama dia, sampai-sampai kamu membelanya!" tuding Wisnu geram.

__ADS_1


"Dara tidak dicuci otak sama dia, Dara masih pakai kesadaran Dara. Jangan terlalu memojokkan A, semua manusia pernah khilaf. Dan cara khilaf seseorang itu berbeda-beda. Dara tahu cara dia salah, tapi Dara mencoba paham apa tujuannya. Lagipula selama ini dia menjaga Dara," sanggah Dara lagi dengan linangan air mata.


"Menjaga kamu? Kalian sudah tinggal satu atap, tidak mungkin tidak terjadi hal-hal yang tidak senonoh selama bersama. Ngaku, kalian sudah pernah melakukannya kan?" todong Wisnu semakin marah.


"Tidak, kami belum pernah lakukan itu. Percaya sama Dara," sangkal Dara.


"Baiklah jika kalian belum pernah melakukan hubungan itu, kamu tinggalkan dia. Tidak ada pihak yang dirugikan kan?"


"Tidak... Dara tidak mau tinggalkan Bang Azlan, karena Dara sudah mencintainya," tegas Dara membuat Azlan yang masih terhuyung menahan sakit dilanda bahagia. Hatinya lega mendengar pernyataan Dara barusan. Dia bertekad akan terus berjuang, meski kini nyawanya tengah terancam.


"Mencintainya...? Aa tidak akan pernah mengijinkannya. Aa tidak sudi punya ipar seperti dia, laki-laki pemaksa. Tidak pantas dia mendapatkan kamu!" tegas Wisnu lagi, seraya hendak meraih kemeja Azlan. Namun Dara menghalanginya.


"Dara tidak perlu ijin dari Aa.... !" tegas Dara.


Bu Endah dan Pak Malik saling berpandangan. Mereka tampak panik namun seakan tidak berkutik akan tindakan kekerasan anaknya Wisnu.


Sejak tadi yang dilakukan Pak Malik hanya terlihat risau dan bingung. Ingin melerai tindakan anaknya, namun anaknya keras seperti batu. Yang ada, adegan kekerasan ini malah jadi tontonan.


"Jangan sentuh lagi Bang Azlan, mulai sekarang Dara akan melindunginya dari tindakan kekerasan Aa, sebaiknya Aa pukul Dara saja karena Dara telah membangkang pada Aa," ucap Dara.


"Aa tidak akan pernah menyetujui pernikahan kamu dengan dia!" tegas Wisnu keras.


"Dan Dara tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Aa atau siapapun disini. Karena Aa hanya sekedar Kakak sepupu. Ingat A, Dara hanya anak yatim piatu yang kebetulan dirawat dengan baik oleh keluarga ini, keluarga Aa!" tegas Dara dengan linangan air mata yang semakin meluncur bebas di pipi mulusnya.


Azlan yang mendengar dengan jelas perkataan Dara barusan terhenyak tak percaya, jadi Dara selama ini adalah yatim piatu dan Wisnu yang selalu menjaganya adalah hanya kakak sepupu Dara. Azlan merasa iba dengan keadaan Dara. Rupanya Daranya ini seorang gadis yatim piatu. Tekadnya ingin membahagiakan Dara semakin kuat, terlebih mendengar perkataan Dara barusan bahwa dia adalah yatim piatu.


Wisnu tercengang dengan pernyataan Dara. Walau pada kenyataannya dia memang cuma Kakak sepupu tapi rasa dalam hatinya telah menganggap Dara adalah adik kandungnya. Sejak kecil bersama, selalu melindunginya dari apapun yang menyakitinya. Termasuk ketika kedua orang tuanya Dara meninggal dunia 14 tahun yang lalu karena kecelakaan, Wisnu begitu tulus mencurahkan kasih sayangnya pada Dara.


Gadis kecil yang selalu dia gendong saat dia nangis ketika ingat Ayah dan Ibunya. Kini ternyata bukan gadis kecilnya lagi karena berani membantah dan bicara keras padanya. Sikap manja dan lembutnya seakan sirna. Wisnu sedih, mendapat kenyataan bahwa gadis kecilnya kini benar-benar akan semakin jauh darinya. Perlahan bulir-bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Wisnu sangat sedih hanya karena mendengar Dara menyebutnya "sekedar Kakak sepupu". Padahal hatinya menganggap dia adik kandung, terlebih Wisnu memang tidak punya saudara kandung lagi, jadi saat Dara kehilangan kapal dan Nahkodanya, dia dan keluarganya datang menjadi sandaran kapalnya yang karam.


Beruntung, Wisnu dan keluarganya yakni Ibunya Wisnu sebagai Kakak kandung Ayah Dara, dan Bapaknya merangkul dan memberikan kasih sayang yang sama terhadap Dara. Terlebih sejak kecil Dara memang sudah dekat dengan Ayah dan Ibunya Wisnu. Bahkan Dara tidak lagi menyebutnya Uwa kepada kedua orang tua Wisnu. Sebutah Bapak Ibu telah melekat sejak Dara usia 6 tahun, supaya Dara tidak merasa kehilangan banget akan kasih sayang kedua orang tuanya.


Adik kandung, walau memang tidak dilahirkan dari rahim yang sama, namun tanggung jawab Wisnu melebihi sekedar seorang kakak sepupu. Dia sayang dan sangat melindungi Dara. Makanya dari itu, Wisnu merasa sakit hati saat Dara mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Kamu tega De, membangkang Aa demi dia. Aa sakit hati dengan sikap kamu. Walaupun Aa ini cuma sepupu kamu, tapi kamu sudah Aa anggap adik kandung. Apakah kasih sayang kami kurang buat kamu?" Wisnu bercucuran air mata, seorang Wisnu yang sejatinya seorang aparat yang harusnya kuat, kini di depan Dara tidak bisa menahan air matanya. Sesakit itukah Wisnu dibantah oleh seorang Dara, seorang adik sepupu?


__ADS_2