Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Suasana Hangat Saat Hujan


__ADS_3

Wisnu dan Sofia menyudahi makannya di Rumah Makan khas Sunda itu. Mereka keluar dengan jalan beriringan menuju Jeep yang terparkir di depan halaman Rumah Makan itu. Wisnu kembali melajukan Jeepnya membelah keramaian kota Jakarta yang semakin siang semakin ramai.



Hening, suasana di dalam Jeep yang berjalan sedang ini. Baik Wisnu maupun Sofia tidak ada yang bersuara kecuali suara seru mesin Jeep dan mesin-mesin kendaraan lain di sekitar jalanan. Sofia menarik nafasnya dalam-dalam, suasana seperti ini benar-benar membuatnya keki dan tidak enak. Sedangkan Wisnu si cowok kaku dan dingin itu fokus menyetir tanpa sepatah katapun. Kadang tangannya memutar setir dan kadang memencet klakson.



Dari ujung matanya Sofia melihat wajah serius Wisnu yang sedang fokus menyetir. Hidung mancungnya teronggok sempurna di antara pipi kanan dan kirinya. Kulit kuning langsat bersih khas cowok yang kencang terbentuk disana. Benar-benar sempurna Tuhan menciptakan Wisnu. Kadang Sofia berpikir, masa iya Wisnu yang tampan rupawan di sebelahnya ini belum pernah memiliki kekasih? Dia heran dengan hal yang satu ini, hingga Sofia merasa ingin bertanya namun tidak ada keberanian.



Kebekuan diantara keduanya mencair seiring Wisnu yang tiba-tiba menyalakan DVD di mobilnya. Sebuah lagu yang cukup menyentuh hati Sofia diperdengarkan pas reffnya. 


Sebuah lagu dari Adera yang berjudul lebih indah itu, begitu menyentuh hati. Sofia meresapi setiap kata-katanya yang secara tidak sadar lirik lagu itu dia aminkan. Bisa jadi ini pertanda baik buat hubungan keduanya di masa depan, sehingga tidak sengaja lagu itu diperdengarkan.


"Sofia, kamu sudah memiliki pacar?" Tiba-tiba Wisnu bertanya disaat Sofia tengah menikmati indahnya lirik lagu Adera dari DVD yang disetel Wisnu. Sofia diam sejenak dan merasa heran kenapa Wisnu menanyakan hal itu.



"Sofia tidak punya pacar, A," sahut Sofia jujur.


"Dokter Herman, itu bukan pacar kamu?"


"Bukan, A. Dia hanya partner kerja di RS." Wisnu manggut-manggut dan fokus kembali pada kemudinya.


"Saya akan lamar kamu bulan depan, maka siap-siaplah!" ujar Wisnu tiba-tiba.


"Hah... apa? Serius, A?" Sofia benar-benar terkesima akan pernyataan Wisnu yang mendadak itu, rasa tidak percaya menggelayuti dadanya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya?"


"Sofia... kaget A, Sofia benar-benar belum yakin akan maksud Aa."


"Kalau kamu ingin yakin, tunggu saja kedatangan saya bersama ibu dan bapak ke rumah kamu bulan depan," yakin Wisnu sungguh-sungguh. Sofia benar-benar belum percaya, ini bagaikan mimpi baginya.


"Kalau boleh tahu, kenapa Aa tiba-tiba ingin ngajak Sofia menikah. Ini rasanya mendadak bagi Sofi?" Sofia memberanikan diri bertanya, setelah tadi menimbang-nimbang dalam lamunannya. Wisnu diam tak berkata, seakan sedang mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk memberikan jawaban pada Sofia.



"Saya sudah cukup umur dan sudah pantas menikah, kan? Kalau kamu siap saya ajak nikah, maka saya akan benar-benar datang melamar kamu bulan depan. Tapi, jika kamu memang tidak siap. Maka, niat saya akan saya urungkan sekarang juga," tegas Wisnu membuat Sofia terbelalak dan tak mampu berkata-kata. Hanya \*\*\*\*\*\*\* nafas yang dalam yang mampu Sofia lakukan.

__ADS_1



Sebetulnya bukan itu jawaban yang Sofia inginkan, apakah Wisnu mengajak Sofia menikah karena mencintainya atau karena alasan lain? Sofia sungguh-sungguh bingung memikirkannya.



"Apakah Aa mencintai Sofia?" celetuk Sofia yang sontak membuat Wisnu ngerem mendadak.


Wisnu menatap Sofia tajam, namun tatapannya kembali ke depan melihat jalanan yang sedikit padat dengan cuaca mendung.


Tiba-tiba saat keheningan tercipta, hujanpun turun tidak terelakkan. Wisnu dan Sofia terperanjat. Wisnu khawatir, hujan yang tiba-tiba lebat seperti ini ditakutkan terjadi marabahaya. Entah itu tiang listrik yang roboh, atau pohon tua yang terkena tiupan angin.



"Hujan.... lebat lagi....!" ujar Wisnu khawatir. "Kita mampir dulu ke tempat teman saya jaga ya. Saya takut kalaupun melanjutkan perjalanan, daerah Bekasi sampai Cikarang sekarang sedang rawan banjir dan tiang listrik yang roboh akibat pendangkalan tanah," ujar Wisnu memberi alasan. Sofia manut-manut saja, lagipula dia tidak bisa ngapa-ngapain selain manut. Sekarang mau dibawa kemanapun Sofia tidak tahu, yang jelas dia berdoa semoga selamat.



Beberapa menit kemudian Jeep yang dikemudikan Wisnu sampai di komplek perumahan yang cukup lumayan elit. Sofia celingukan mencari plang nama, memastikan dimana kini mereka berada. Dan Sofia menemukan sebuah alamat dari sebuah toko laundry, Cililitan, Jaktim.




"Wah... Elu, Wis?" Pria berbadan atletis dan berambut cepak itu sepertinya mau pergi. Terlihat dari sepeda motornya yang baru dipanaskan.


"Gua ikut berteduh Pras, hujan sangat lebat dan Gua takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


"Masuklah... tapi Gua mau pergi dulu ke komplek sebelah. Ada undangan khitanan anaknya ketua RT," ujar Prasetya mempersilakan Jeep Wisnu masuk ke dalam gerbang.


Prasetya cowok yang sama profesinya dengan Wisnu, memasang jas hujan dan bersiap akan pergi.



"Masuklah... Tapi Gua tinggal dulu untuk beberapa jam, sebab Gua ada undangan di komplek sebelah. Kalau Elu mau minum atau mau ke kamar mandi, silahkan suka-suka Elu." Prasetya mempersilahkan seraya menatap sekilas ke arah Sofia. Sofia membalas tatapan Pras dengan anggukan kepala.



"Siapa nih... tumben bawa cewek?" Tanya Prasetya ke arahku.


"Calon bini Gua.... " jawab Wisnu santai.

__ADS_1


"Ohhh... Ya sudah, Gua tinggal sebentar," ujar Pras seraya menaiki motornya dan berlalu keluar gerbang. Wisnu segera menutup gerbang semenit setelah Pras pergi.


"Ini... rumah siapa, A?" Sofia bertanya secara tiba-tiba.


"Ini rumah dinas Wadan, kalau setiap hari Minggu memang selalu memerintahkan anak buah untuk menjaganya," jelas Wisnu seraya membawa Sofia ke teras depan rumah dan menaunginya dengan jaket karena hujan.


"Duduklah... saya mau ke dalam dulu membawa teh hangat buat kamu," titah Wisnu sembari menyuruh Sofia duduk di sofa teras itu. Keadaan teras dan rumah itu nampak begitu asri dan bikin betah, terlebih kini suasana sedang hujan sangat mendukung untuk sekedar senderan di sofa.



Sofia bersandar di sofa seraya merasakan tubuhnya yang terasa dingin karena hembusan angin yang diakibatkan hujan. Tangannya saling bertaut menahan rasa dingin.



Tiba-tiba Wisnu datang membawa Dua buah gelas berisikan teh hangat. Wisnu melihat Sofia begitu kedinginan, walaupun Sofia mengenakan atasan panjang dan rok panjang.


.


"Sofia... nih... air teh hangatnya. Kamu nampaknya kedinginan. Cepatlah minum teh hangatnya," titah Wisnu seraya menyodorkan satu gelas teh hangat ke tangan Sofia. Sofia menyambut gelas yang Wisnu sodorkan lalu meminumnya. Seketika rasa hangat menggelayuti tenggorokan dan tubuhnya.


Hujan masih belum reda, suasanapun kian mencekam dengan angin yang menyertai. Hembusannya semakin terasa menembus kulit. Sofia nampak kedinginan. Wisnu yang melihat keadaan itu, seakan tidak tega.



"*Nampaknya Sofia kedinginan, aku akan* *berusaha menghangatkannya*," kata hati Wisnu sembari mendekati Sofia. Sofia sedikit heran saat Wisnu mendekat dan meraih bahunya.



"Kamu kedinginan, bersandarlah dibahu saya," ujarnya seraya meraih bahu Sofia dan memeluknya. Sofia tergugu dan tubuhnya mengikuti tarikan tangan Wisnu, dan kini bahu Sofia bersandar sempurna dibahu Wisnu.



Sofia hendak menarik tubuhnya agar tidak menempel langsung dengan bahu Wisnu, namun Wisnu malah semakin erat memeluknya.


"Diamlah, jangan banyak bergerak, kamu kedinginan," titah Wisnu, sontak Sofiapun diam.


Hujan kali ini semakin membuat suasana syahdu, entah bagaimana awalnya. Wisnu yang tadi hanya menyandarkan bahu Sofia di bahunya, kini memeluk Sofia dengan wajah yang saling berhadapan. Ada getaran rasa yang berbeda saat dada keduanya bersentuhan. Dan Wisnu semakin mempererat pelukan itu. Wajah Wisnu dan Sofia bertemu, mereka saling menatap begitu dalam.



Tiba-tiba tanpa direncanakan sebelumnya, wajah keduanya semakin mendekat hanya beberapa inci, dan sentuhan bibir deng bibir itu akhirnya tidak bisa terhindarkan. Keduanya terhanyut dalam buaian angin hujan yang berhembus, sehingga memperdalam keduanya dalam ciuman yang semakin bergelora. Saat ini Wisnu memperlakukan Sofia layaknya kekasih, dan keduanya larut dalam kobaran asmara yang menyala dalam dada, yang begitu cepat menyala. Bagimana kisah selanjutnya.... nantikan....

__ADS_1


__ADS_2