
Sofia mondar mandir seraya memegangi area perutnya, panggilan alam yang dia rasakan sejak tadi, kini seakan tidak tertahan. "Aduhhh... bagaimana ini... siapa pula di kamar mandi, lama nian?" ringisnya sambil menekan-nekan perutnya.
"Ya ampun... BAB atau BAK sih ini orang, mending kalau muda dan ganteng kaya Lee Min Ho, akan aku jadikan suami deh....!" gerutunya memberangut.
"Aduhhh... awww... nggak kuat nih....!" ringisnya lagi sambil memegang perutnya dengan posisi yang sedikit membungkuk.
"Kriet...!" pintu terbuka lalu....
"Gubrak....!" Sofia terpental dengan posisi tubuh terbaring miring.
"Aduhhh... ya ampun....!" ringisnya seketika. Bagaimana tidak, Sofia yang tadi tengah menahan rasa sakit karena ingin BAK, rupanya posisinya berada ditengah-tengah pintu dan menghalangi pintu, sehingga apabila ada orang yang keluar pasti menabraknya.
Seketika Sofia menatap pada orang yang baru menabraknya, bukan tatapan kecewa namun tatapan terpesona. "Ya ampunnn... pangeran tampan lewat nih!" ujarnya penuh rasa takjub tanpa disadari.
"Wah... ini sih lebih keren dari Oppa Lee Min Ho. Kulit putih semu kuning langsat, badan kekar dan atletis, usia jauh lebih muda dari Oppa Lee, hidung bangir, bibir tipis tapi bervolume, woww... mau deh aku jadi ratunya," lamunnya sambil menghayalkan cowok tampan di depannya yang melihat aneh ke arah Sofia.
"Makanya jangan menghalangi pintu dong, nanti susah jodohnya," ucapnya sambil berlalu tanpa berniat membantu Sofia berdiri.
"Kakak... eh... Aa... eh... Akang.... aduhh... apaan sih manggilnya yang pantas untuk cowok keren khas daerah sini?" Sofia bicara sendiri sambil menatap kepergian cowok tampan nan cool itu.
"Ihh... tega banget sih... membiarkan cewek cantik terbengkalai di lantai, tidak ada empatinya. Aku do'ain dompetmu tertinggal deh biar balik lagi ke kamar mandi ini!" umpatnya menggerutu. Lalu dengan cepat Sofia berdiri dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alamnya.
"Lega....!" serunya seraya memegangi perutnya. Saat Sofia hendak melangkahkan kakinya keluar, sekilas Sofia melihat sebuah benda seperti dompet. Benar saja, benda itu adalah dompet berwarna krem entah milik siapa.
__ADS_1
.
Sofia segera keluar dari kamar mandi sambil meraih dompet krem itu. Lalu perlahan dibukanya dompet itu dengan maksud ingin mengetahui siapa pemiliknya.
"Oh... rupanya ini dompet saya. Kamu mau mencurinya ya....?" tuding cowok cool itu menatap Sofia tidak suka lalu merebut dompetnya. "Enak saja... emangnya saya miskin banget apa sampai mencuri dompet Kakak....!" sangkalnya memelototkan matanya.
"Kakak... eh Aa....!" tanpa mampu direm, mulut Sofia tiba-tiba memanggil cowok cool itu yang hampir menjauh. Seketika cowok itu menoleh ke arah Sofia. "Kenapa Aa tidak membantu Sofi, ups....?" ujar Sofia yang langsung menutup mulut karena merasa kurang ajar di depan cowok cool ini. Cowok itu hanya menatap tajam pada Sofia tanpa menghampirinya.
"Huhh... dasar cowok sombong, sok kegantengan....!" rutuknya kesal. "*Tapi tampan juga ya, dan* *keren melebihi Oppa Lee Min Ho sih*," batinnya seraya senyum-senyum sendiri.
Saat makan malam keluarga termasuk kedua mempelai, Sofia melihat cowok tampan nan cool tadi bersliweran disana. Kadang kala Sofia berusaha mencuri pandang, namun cowok itu begitu cuek dan terlihat kurang ceria. Ingin rasanya Sofia mengenal lebih jauh cowok tampan itu. Baru kali ini dia merasa penasaran dengan seorang cowok.
"Yuk... cowok yang berbatik marun itu siapanya keluarga Ayuk, dia sejak tadi bersliweran disini?" tanya Sofia penasaran. "Yang mana?" tanya Dara sambil celingak celinguk mencari sosok yang Sofia tanyakan. "Itu....!" tunjuknya tepat saat cowok itu menatap ke arah Dara.
"Ohh... itu. Dia Kakak Dara, tepatnya Kakak sepupu Dara. Dia sangat sayang lho sama Dara, makanya saat pernikahan Dara ini dia masih tidak rela Dara menikah," terang Dara sambil melambai ke arah Wisnu. "Panggil kesini ya, biar Dara kenalin sama kamu," ucap Dara sembari melambaikan tangannya mengajak Wisnu mendekat.
__ADS_1
"Ayukk... jangan....!" pekik Sofia kecil sambil mencekal Dara. Dara tidak paham maksud Sofia, lantas dia meraih tangan Wisnu supaya lebih mendekat.
"Aa... kenalkan ini adik ipar Dara, namanya Sofia. Dia adik kedua Bang Azlan. Dia calon Bidan lho," seru Dara sembari mengarahkan tangannya ke arah Sofia dan memperkenalkan Sofia pada Wisnu. Sofia senyum malu-malu tidak sanggup rasanya menatap cowok yang tadi sempat menabraknya di depan pintu kamar mandi. Rupanya cowok di depannya adalah Kakak sepupu Dara. Dan rasanya ketampanannya semakin berlipat ganda saat berdekatan begini.
"Ayo dong... kalian kenalan... atau saling tukar nomer WA juga boleh. Besok kan kami kembali ke kota masing-masing, jadi kalian tidak akan ketemu lagi. Kecuali jodoh," tekan Dara menatap kedua manusia yang kini baru dia perkenalkan. Tanpa direncanakan, Dara begitu saja memperkenalkan Sofia kepada Wisnu. Dara merasa Sofia cocok dengan Kakak sepupunya itu.
Sementara itu, Wisnu semakin kesal saat mendengar bahwa Sofia adalah adik ipar Dara, itu artinya dia adalah adik kandung Azlan. Acara jamuan makan malam antara kedua belah pihak keluargapun berakhir, menyisakan rasa lelah dan ngantuk yang mendera. Azlan dan Dara segera memasuki kamar pengantin. Tidak ada yang mereka lakukan selain tidur dan mengistirahatkan badan yang sangat pegal. Sementara Wisnu, sejak Dara memperkenalkan dirinya dengan Sofia, kini sudah pergi entah kemana.
Besoknya sesuai yang direncanakan. Azlan dan Dara harus kembali ke Cikarang, sementara keluarga Azlanpun demikian. Harus kembali ke kampung halamannya. Setelah berpamitan Dara dan Azlan serta keluarga Azlan melanjutkan perjalanan menuju tujuannya masing-masing. Walau berat hati Bu Endah dan Pak Malik akhirnya melepaskan kepergian Dara.
Sementara Sofia, saat mobil yang ditumpanginya semakin menjauh dari halaman rumah Dara, seakan merasakan ada jejak yang masih tertinggal yang rasanya ingin dia bawa bersamanya.
"Selamat tinggal Aa... semoga kita dipertemukan lagi....!" doa Sofia disela-sela rasa ngantuknya.
__ADS_1