
Kesedihan Dara makin berlarut-larut. Sudah satu minggu lamanya sikap Dara masih dingin dan tidak tersentuh. Bicara dengan Azlan hanya seperlunya saja. Azlan masih bersabar, sebab memang dengan cara itulah dia bisa bertahan dengan sikap Dara.
Namun lama kelamaan Azlan seakan jengah, jengah karena kasihan dengan keadaan Dara. Setiap hari Dara layu dan tidak bersemangat.
Azlan mencoba mengajak Dara jalan-jalan, kebetulan malam nanti ada pasar malam dekat komplek perumahan sebelah pabrik. Niat ingin mengajak hiburan buat Dara, namun Dara menolaknya.
"Ayolah Dek, kita jalan-jalan. Ada pasar malam lho disana. Adek bisa belanja apa saja di sana dan mencoba beberapa wahana bermain," bujuk Azlan.
Dara masih tak bergeming. Dia malah melihat drama korea kesukaannya.
"Ayolah... sekali-sekali, mungpung ada disekitar sini pasar malamnya," bujuk Azlan lagi.
"Dara tidak mau, silahkan Abang pergi saja sendiri kalau mau!" ucap Dara enteng.
"Tolonglah Dek, jangan terlalu dipikirkan. A Wisnu belum membalas pesan Adek siapa tahu dia ingin menenangkan diri dulu. Kasih waktu buat A Wisnu untuk berpikir. Mungkin sekarang dia masih marah, tapi percaya sama Abang suatu saat nanti A Wisnu akan kembali seperti A Wisnu yang Adek kenal!" bujuk Azlan lagi tak berputus asa.
"Kenapa sih Abang tidak mengerti perasaan Dara, betapa kehilangannya Dara akan sosok Kakak? Coba Abang di posisi Dara, pasti Abang akan sama seperti Dara." Sentaknya marah.
"Ini semua juga gara-gara Abang yang tidak mau ikuti saran Dara. Kalau saja Abang ikuti, mungkin saja hubungan Dara sama A Wisnu masih baik-baik." Tandasnya lagi menyalahkan.
"Iya Abang akui Abang yang salah. Sudah Abang katakan semua kekacauan ini akibat ulah Abang, tapi Abang sudah memohon maaf sama Adek dan menerima kalau Abang memang salah." Tekan Azlan.
"Tolong Dek, jangan begini. Abang minta maaf, sekali lagi minta maaf untuk semua kesalahan dan kekacauan akibat Abang," ucap Azlan serius.
Dara menepis tangan Azlan yang berusaha menyentuhnya.
"Pergi....!" tolak Dara kuat.
Azlan menghela nafas kasar mendapat penolakan Dara barusan.
"Kalau saja bukan karena ulah Abang yang hina itu, maka sampai sekarang hubungan persaudaraan Dara dan A Wisnu masih terjalin baik!" tandas Dara.
"Dengar Dek, alasan Abang jujur tentang awal hubungan kita, karena Abang tidak mau bohong yang kedua kali, serta Abang tidak mau dianggap bahwa untuk mendapatkan Adek cukup dengan sebuah kebohongan. Itulah makanya Abang jujur!" jelas Azlan.
"Tapi apa akibatnya?" Dara balik bertanya seraya melotot. Kini Dara semakin kesal.
"Harusnya saat Abang dipukuli A Wisnu waktu itu, Adek tidak usah datang menyelamatkan Abang. Kan sudah Abang bilang, Abang rela mati jika memang semua itu bisa membalikkan keadaan. Tapi kenapa Adek cegah juga?"
"Dara hanya kasihan sama Abang dan Dara tidak ingin ada kekerasan yang lebih parah di rumah Ibu!?" tandas Dara keras.
Azlan menghela nafasnya dalam, benar kata Mamaknya di kampung. Menghadapi Dara harus dengan kesabaran dan tekad yang tak tergoyahkan. Disini kesabarannya sedang diuji.
Azlan pergi dari hadapan Dara untuk meredam kemarahan Dara. Kalaupun dilawan, maka dia sendiri yang akan kalah.
Azlan termenung memikirkan ini semua, seandainya waktu bisa diputar, mungkin dia tidak akan melakukan penjebakkan itu. Penyesalan selalu datang terlambat. Dan sekarang apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
*
Azlan mencari nomer kontak Wisnu yang masih tersimpan di HPnya saat seminggu yang lalu dia menyuruh Dara untuk menghubunginya.
Masih ada dan Azlan bermaksud menghubunginya. Namun urung, Azlan akhirnya hanya mengirimkan pesan WA.
"Tolong hubungi Dara, sekarang dia sedang tidak baik-baik saja! Dia selalu memikirkan A Wisnu. Tolong A, hubungi Dara!" mohon Azlan di pesan WAnya. Lama menunggu balasan WA dari Kakaknya Dara, 10 menit kemudian baru ada balasan.
"Saya akan hubungi Dara, jika kamu berjanji akan meninggalkan dia! Tinggalkan Dara, apakah kamu sanggup?" balasan yang ditunggu-tunggu itu seakan menohok. Mana mungkin Azlan meninggalkan Dara, sementara perjuangan dia sudah sampai disini. Dilema, sungguh dilema.
Azlan tidak lagi membalas pesan WA dari Kakaknya Dara. Sampai kapanpun dia tidak akan sanggup melepaskan Dara begitu saja. Biarlah dia akan cari cara lain untuk mengembalikan keceriaan Dara kembali, tapi dengan apa Azlan masih terus memikirkannya.
Setelah pertengkaran itu, Azlan dan Dara masih tidur terpisah, dan kini tepat tiga minggu pernikahan sah itu terjadi.
Tiba-tiba ada paket datang. Rupanya buku nikah mereka telah dikirimkan. Azlan bersyukur. Dia menghampiri Dara yang sejak tadi betah di kasur.
"Adek, ada paket. Buku nikah kita sudah datang," beritaku sambil menghampiri Dara dan memberikan buku nikah itu di hadapannya.
Dara masih diam tak bergeming.
"Adek, tolong buku nikahnya disimpan di lemari ya, Abang ada janji ketemu kawan!" Dara masih belum menyahut.
Namun, belum sampai Azlan menghidupkan mesin motornya. HPnya berbunyi sebuah panggilan dari teman lamanya saat di Korea.
"Assalamu'alaikum Bro, gimana ketemuannya jadi tidak? Posisi dimana sekarang?" sapa Azlan.
"Yoi Bro, kalau begitu dikensel juga tidak masalah. Malah disini juga sebentar lagi kayaknya akan turun hujan. Padahal Gua sudah ganteng nih Bro, wakwakwak...." ucap Azlan mengakhiri percakapannya lewat telpon diiringi tertawa renyah.
Dara yang tidak sengaja nguping pembicaraan Azlan di telepon, jiwa keponya keluar. Dia mengintip dari balik lemari, penasaran dengan apa yang dikatakan cowok yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.
Seketika wangi parfum cap kampak harum semerbak memenuhi ruangan 4x4 meter itu. Dara melihat Azlan sudah berpakaian rapi, bercelana jins dan jaket kulit coklat. Rapi dan resik itu kesannya. Dan benarkah ganteng seperti yang barusan dia bilang di telpon? Iya benar, Dara melihatnya begitu sempurna, tampan dan rapi. Memang selalu begitu penampilan Azlan, wangi, rapi dan ketampanan hitam manisnya semakin keluar.
Ohhh.... hati Dara seakan loncat-loncat, ada apakah ini?
Sesaat setelah Azlan membatalkan janjiannya dengan temannya, hujanpun turun perlahan, awalnya kecil namun lama-lama lebat. Padahal waktu masih terlalu pagi.
Azlan segera menepikan kembali motor maticnya yang tadi mau dipakai janjian, dengan Rio temannya yang batal. Hujanpun makin besar. Sebetulnya hujan sudah gerimis sejak Subuh tadi, namun saat dia keluar pulang dari pabrik jam 7 pagi tadi, hujan sudah mereda. Kebetulan tadi pagi bertemu Dara yang pulang kerja juga, saat diajak pulang bareng Dara menolaknya. Dan kini hujan kembali menyapa disaat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Azlan masuk ke dalam kamar, niatnya mau bikin laporan khusus bagi sang gadis yang kini sudah resmi menjadi istri sahnya. Azlan tiba-tiba terpikir ide gila untuk membuat suasana jadi romantis, apalagi saat hujan begini tiba-tiba hasrat kelelakiannya menggebu-gebu.
"Sayang... Abang tidak jadi pergi, hujan lebat!" lapornya. Dara menoleh sesaat. Aduhh saat menoleh itu Azlan rasanya ingin memeluk dan mencium bibir ranum yang hampir genap 3 minggu ini dibuat terkatup dan cemberut.
"Ya Allah, apakah salah jika saat ini aku memaksanya meminta hak?" guman Azlan dalam hati. Entah kenapa hasrat ingin bercinta dengan Dara malah meronta-ronta disaat Dara masih sedang mode marah dan tidak ingin disentuh.
"Sayang... hujan begini enaknya bikin minuman hangat. Abang bikinkan ya?" rayu Azlan melancarkan misi pertama. Dara tidak menyahut, tapi hatinya tiba-tiba senang.
__ADS_1
Masih merasa belum berhasil menjerat Dara, Azlan masuk ke kamar dan menarik Dara keluar mengajak minum bersama. Padahal Azlan pengennya di dalam kamar, tapi biar kesannya tidak memaksa Azlan membuat skenario slow motion dulu ceritanya.
"Ini Abang buatkan teh jahe hangat buat Adek, diluar hujan jadi enaknya minum yang hangat-hangat," ucap Azlan sembari sengaja menatap wajah Dara yang tiba-tiba bersemu merah. Dara yang tadi dingin, rupanya trik jitu untuk meluluhkannya cuma dirayu dengan kata-kata manis, manja dan romantis.
"Ayolah Dek, kita ngobrol lagi kaya dulu. Adek walau jutek tapi tetap hangat. Sekarang kita sudah punya buku nikah, dan selamanya buku nikah ini akan terus berada diantara kita. Ada foto kita yang selalu berdampingan baik dalam buku nikah maupun dalam dunia nyata.
Azlan menyodorkan gelas minumnya Dara, perlahan Dara meminumnya seteguk.
"Dek, kalau hari ini Abang ada permintaan, boleh tidak?"
Dara menyimpan gelas yang tadi disodorkan Azlan.
Dengan perlahan Azlan mendekati Dara dan merangkulnya, Azlan melihat gerak gerik Dara yang tidak berontak.
"Ayo kita ke dalam," ajak Azlan menarik lengan Dara. Dara tiba-tiba jantungnya berdegup kencang aliran darahnya cepat dan suhu tubuhnya tiba-tiba panas.
"Dek, terus terang saat ini Abang ingin meminta hak, tolonglah Dek. Abang sudah tidak kuat menahannya. Dari kemarin Abang sudah menahannya. Dan sekarang Abang minta baik-baik sama Adek. Kalau Adek masih belum siap alangkah tersiksanya Abang," ucap Azlan sendu. Tatapan matanya sudah sayu dan sendu.
"Tapi..., Dara takut sakit...!" Azlan terkejut-kejut plus bahagia mendapat jawaban Dara barusan, setelah sekian lama akhirnya Daranya bersuara.
"Pasti sakit sayang, Adek kan masih perawan. Abang juga pasti akan berjuang sangat keras sebab Abangpun masih perjaka!" ungkap Azlan mengalir begitu saja tanpa malu.
Suasana makin mendukung, diluar hujan semakin deras. Perlahan Azlan melancarkan aksinya satu persatu. Azlan meraih pinggang Dara lalu mencium perlahan bibir manis Dara. Kayaknya Dara terbuai, sebab dia hanya diam saja.
Akhirnya terlucut sudah semua kain yang melekat di keduanya dengan perjuangan yang cukup keras. Mulus, terpampang jelas tubuh polos perawan. milik sang Dara.
Lengkingan keras itu keluar dari mulut Dara sambil mengaduh "sakit, sakit" dengan posisi tangan menahan dada sang bujang yang entah berapa menit lagi bakal jadi mantan perjaka. Tangan sang gadis masih menahannya merasakan sensasi sakit yang luar biasa. Sementara sang perjaka masih mencari-cari celahnya.
"Ya ampun susahnya, mentang-mentang pengalaman pertama!" gumannya.
Tangan Azlan mulai pegal, ingin istirahat dulu namun rasanya tanggung.
Saat Azlan membaca Taawudz, bersamaan dengan itu akhirnya celah sempit itu bisa ditembusnya dengan susah payah. Dan Azlan melihat sang gadis memejamkan mata menahan rasa sakit disertai lengkingan. Namun Azlan tidak mau melepaskannya. Inilah kesempatan emasnya beribadah bersama sang gadis mengarungi surga dunia yang sudah diimpi-impikannya dua bulan terakhir ini.
Sang gadis masih mengaduh sambil berbisik ingin segera dilepaskan. Namun sang mantan perjaka egois, masih ingin membenamkan cinta yang sebenarnya. Diciumnya penuh kelembutan sang mantan perawan yang kini dibawah kendalinya.
Tiba-tiba menetes satu persatu air mata dari pelupuk mata sang mantan perjaka, hatinya berkata-kata.
"Seperti ini rasanya merengkuh gadis pujaan, dengan susah payah dan perjuangan lahir batin tingkat tinggi, akhirnya bisa aku rengkuh. Terimakasih Tuhan akhirnya Kau beri segala yang ada dalam dirinya."
Walau sesekali meringis, namun sang mantan perawan lama kelamaan menerima dengan pasrah dan menikmati sentuhan-sentuhan lembut sang mantan perjaka yang akhirnya timbul rasa cinta disebalik marahnya.
Bobol juga deh gawangnya dengan tendangan kaki malaikat melesakkan gol yang menancap kuat.
Mohon maaf Author tidak pandai mendeskripsikan inci demi inci adegan dewasa, soalnya benar-benar tidak puitis dalam hal ini.
__ADS_1
Ngomong-ngomong buat readers... kira-kira saat membaca karya sy yg sederhana ini, tokoh atau peran Azlan Dara kalian berimajinasi wajah artis siapa?Bagi yang terbayang siapa saat membaca novel sy, tolong tulis di komen ya. Lee Min Ho sama Park Shin He kah, atau siapa. Bayangan kalian siapa dan tulis di komen ya! Trmksh!