Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Kembali Hangat


__ADS_3

Saat Azlan menyudahi aktivitas mandinya, Dara masih belum kelihatan. Azlan mendengus kecewa, namun dia tetap bersabar dan berusaha mengembalikan kehangatan Dara seperti semula. Ini sudah dua minggu sejak Dara marah, Azlan didiamkan oleh Dara. Dan Azlan akan berusaha dua minggu cukup sudah harus diakhiri perang dingin ini, dirinya harus berjuang keras membuat Dara kembali hangat. Namun, jangankan menyahut, nongol dari kamar saja Dara enggan.


Azlan segera berbaju, berias depan cermin dan menyisir rambutnya yang hitam dan sedikit panjang, Azlan sudah rapi. Celana jeans dipadukan dengan jaket Hoodie warna hijau miliknya, semakin terlihat manis saja.


"Srot, srottt....!" bunyi parfum cap kampak disemprot kebeberapa bagian tubuhnya, seketika harum maskulin dari parfum yang tidak mahal itu, menguar di udara sampai tercium hidung Dara.


Dara sungguh menyukai harum maskulin ini, terbayang saat dirinya memeluk tubuh Azlan dengan harum maskulin seperti ini. Rindu seketika menyerang jiwanya. Ingin segera memeluknya dan bermanja seperti apa yang dikatakan Nela, namun ego terlampau menguasai.


Tiba-tiba Azlan datang menghampiri dan merengkuh bahu Dara.


"Adek... ayo sarapan dulu! Abang belikan Es Boba kesukaan Adek sama nasi bungkus dari warung Mpo Sari, isinya Semur Jengkol sama Ikan Tongkol kesukaan Adek!" bujuknya lembut. Dara masih tidak bergeming.


"Dek..., mari akhiri perang dingin ini. Abang tidak bisa selamanya seperti ini. Abang butuh senyum Adek yang bisa membuat Abang semangat setiap saat. Maafkan Abang karena selama ini Abang tidak peka terhadap perasaan Adek!" ucapnya penuh pengharapan dan sesal. Dara masih diam, namun Azlan masih berusaha membujuk Dara. Diusap-usapnya rambut wanitanya itu penuh sayang.Azlan menyerah kemudian dia melangkah keluar kamar.


"Abang sarapan duluan ya!" ucapnya.


Setelah sarapan selesai, Azlan sengaja menghampiri Dara bermaksud pamit dan mengingatkan kembali sarapan.


"Adek... jangan lupa sarapannya, Abang pergi dulu," pamitnya dengan nada lesu. Dara menoleh saat kaki Azlan baru satu langkah.


Tiba-tiba dada Dara bergemuruh antara rasa sedih dan rindu, sedih akan ditinggalkan Azlan pergi.


Rindu namun begitu malu mengakuinya.


Dara melihat Azlan sedang memakai kaos kaki, lalu menggendong tas ransel di punggungnya. Dara masih menatap penuh rindu ke arah Azlan, dadanya kini makin bergejolak. Hatinya berkata-kata, "datanglah kembali Abang, bujuk Dara lalu peluk Dara, plisss!" harapnya dalam hati sambil menatap punggung Azlan.

__ADS_1


Azlan menjinjing sepatunya, sementara tangan kirinya memegang handel pintu yang siap ia ungkit. Saat tangannya siap mengungkit handel pintu, tiba-tiba Dara berlari dan memeluk Azlan dari belakang.


Dara memeluk sangat erat sehingga Azlan tidak bisa bergerak.


"Abang jangan pergi....!" mohonnya diiringi isak tangis. Azlan masih diam seakan masih tak percaya Dara sedang memohon kepadanya. Azlan perlahan mengurai pelukan Dara dan berbalik menghadap Dara. Direngkuhnya pundak wanitanya lalu ditatap lekat mata satu yang kini bercucuran air mata. Dara tidak berani menatap mata Azlan ia merasa malu telah memeluk Azlan dan meminta Azlan untuk jangan pergi.


Azlan lekat menatap wajah Dara yang menunduk, rasa rindunya yang sudah ditahan-tahan, kini seakan bakal tersalurkan.


Dilepaskannya sepatu dari jinjingan tangan kanannya, lalu dia merengkuh pundak Dara dan memeluknya erat tidak ingin dilepas lagi.


Begitu lama merasakan pelukan dan sentuhan hangat wanitanya, dua minggu berjauhan secara fisik kini seakan terbayarkan. Azlan perlahan melepaskan pelukannya, lalu merengkuh bahu Dara, ditatapnya kembali wajah sendu itu. Air mata yang masih menggenang, kini mulai jatuh satu persatu. Azlan menyusut air mata itu dengan telapak tangannya, bersamaan dengan itu bibir Dara seakan bergerak ingin berkata.


"Abang... maaf....!" ucapnya pelan dan bergetar.


Azlan terharu mendengar ucapan Dara, disentuhnya wajah cantik yang kini sendu diliputi kesedihan, disusutnya kembali air mata yang kembali menetes dipipi yang kini timbul jerawat di dagunya.


Azlan semakin memperdalam pelukannya, rasa rindu kini makin menggebu. Perlahan Azlan mengurai kembali pelukan erat keduanya. Lalu dengan cepat Azlan meraup wajah Dara, mendekatkan wajahnya dengan wajah Dara. Lalu ciuman mesra dan hangat itu tak bisa terelakkan. Semakin dalam semakin panas, keduanya saling membalas.


"Sayang... Abang pegal harus berdiri, kita di kamar saja melanjutkan kerinduan kita!" ajaknya sambil menarik tangan Dara ke kamar. Dara nampak malu-malu tapi mau.


Azlan membaringkan tubuh Dara perlahan, ditatapnya tubuh itu dari atas sampai bawah, sementara hasratnya kini seakan menjalar ke sekujur tubuhnya. Apalagi Dara seakan sengaja menggodanya, rok di atas lututnya tersingkap sampai paha mulusnya terpampang.


Dada Dara nampak turun naik seakan menahan hasrat yang sama, bergemuruh dan debaran jantungnya kencang.


Azlan tiba-tiba seolah kesetanan, dia membuka satu persatu baju yang melekat di tubuhnya hanya menyisakan pakaian dalamnya. Tidak pakai lama, Azlan mencium bibir Dara dengan ganas.

__ADS_1


"Abang kangen... sudah dua minggu menahannya. Apakah Adek juga sama?" tanyanya sendu. Dara mengangguk manja, semakin Azlan tidak kuat dengan hasratnya.


Setelah keduanya sama-sama polos, akhirnya penantian dua minggu Azlan terbayar sudah. Keduanya menikmati pergumulan penuh cinta itu dengan penuh suka cita dan bahagia. Terutama Azlan, terus menerus menghujani wanitanya dengan ciuman tanda terimakasih yang amat dalam.


Keduanya terkulai lemas saat mengakhiri aktivitas nikmatnya. Keduanya saling menatap penuh bahagia.


"Ayo kita bersihkan diri, Abang harus ke Mangga Dua mencari barang!" Azlan berdiri setelah menggunakan **********.


"Kenapa tidak lebih lama lagi kita begini, Dara masih rindu Bang!" jerit Dara dalam hati.


Dara bangkit, dan kini dia bersiap ke kamar mandi membersihkan diri. Sementara waktu makin bergulir, jam 9 pagi sudah. Seandainya Azlan tidak berencana akan ke Mangga Dua, maka Azlan tidak akan menyia-nyiakan waktu berduanya bersama Dara.


Dara telah cantik dengan celana jinsnya, kini gayanya nampak kasual. Azlan makin gemas dibuatnya.


"Ayo... kalau sudah siap mari mendekat!" tarik Azlan dengan cepat meraih tubuh Dara dan mendaratkan ciuman di bibir tipis wanitanya. Seakan belum puas saat tadi di kamar,


Azlan melepaskan pagutannya karena ingat akan ke Mangga Dua.


"Keburu siang, kita lanjut nanti malam dengan adegan yang lebih panas!" ucapnya membuat Dara tersipu malu.


Azlan dan Dara menaiki motor maticnya lalu meninggalkan halaman kontrakan, memburu jalanan Cikarang dengan tujuan Mangga Dua. Azlan tersenyum bahagia sambil menatap Dara dari spion. Dara tidak menyadarinya, dia lantas memeluk Azlan dan menyandarkan dadanya dipunggung Azlan.


Azlan tersentak bahagia sebab ada sesuatu yang hangat menyentuh punggungnya.


Tidak sia-sia kesabaran dan kelembutan Azlan meraih kehangatan kembali dari wanitanya. Apalagi kini wanitanya makin manja dan pintar menyenangkan Azlan.

__ADS_1


"I love u more baby....!" bisiknya sambil fokus ke jalanan yang mulai ramai.


__ADS_2