Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Perhatian Azlan


__ADS_3

POV Azlan


Sebentar lagi jam 7.00 malam, aku bersiap-siap memberi laporan pada teknisi yang masuk shift malam. Arbi, Teknisi mesin 8, mesin yang sama-sama kita handel datang menghampiri. "Gimana Lan, mesin Ok?" Tanya Arbi seraya melihat laporan terakhirku. "Ok banget Bi!" laporku. "Sippp!" Seru Arbi sambil tersenyum. Setelah serah terima laporan, dan waktu menunjukan tepat pukul 7 malam, aku pamit pulang pada Arbi. "Gua pulang Bi, jaga tuh mesin baik-baik!" Peringatku seraya bergegas meninggalkan mesin dan Arbi.


Para karyawan pabrik berhamburan keluar setelah menggesek punch card atau sejenis kartu absensi berbentuk mirip ATM. Suara riuh bersahutan, secara bersamaan karyawan pabrik lainpun berhamburan keluar pabrik, mempersiapkan diri untuk pulang. Aku dan teman-teman yang menggunakan roda dua bergegas ke parkiran, menyiapkan kuda besi kami, termasuk Rian dan Rivai.


"Lan, Lu ambil gaji sekarang gak?" Tanya Rian. "Gaklah, paling Gua hari Minggu!" Jawabku. Ambil gaji enak tinggal gesek pake ATM, tapi ATMnya lumayan jauh. Perlu waktu 30 menit untuk kesana. Kalau gaji udah masuk, aku paling malas pulang kerja langsung pergi ATM ambil duit kaya yang lain. Lebih baik nunggu di hari Minggu, biar sambil jalan-jalan. Pikirku.


"Alah mentang-mentang udah punya bini, gak sabaran pengen cepat balik!" Ejek Rivai. "Hari Minggu ngajak bini ke ATM ambil duit, eh tahunya Neng Dara gak mau!" sungut Rian telak, lebih kena ejekannya. Si Rian ini, benar-benar sok tahu keadaan rumah tangga orang, padahal bisa jadi tebakannya benar sih. Karena setahu mereka sikap Dara ke Aku memang dingin dan jutek. "Udah Lu, sok tahu amat!" semprot Azlan.


"Siapa yang udah punya bini....?" Tiba-tiba Mira muncul. QC yang kebetulan suka sama Azlan ini keheranan. Aku kaget juga tiba-tiba dia muncul dan bertanya keheranan, rupanya dia mencuri dengar ledekan Rivai dan Rian tadi. Sebetulnya aku gak peduli kalaupun dia tahu aku udah nikah.


Aku berharap Rivai atau Rian gak peduli dengan pertanyaan Mira. Tapi tiba-tiba Rivai nyeletuk.


"Itu tuh si Azlan, nikahnya juga dadakan dan.....!" Dengan cepat aku bekap mulut lemes Rivai, sebelum ceritanya meleber kemana-mana. Aku takut juga jika pernikahan aku yang diawali dengan drama penggerebegan itu dibongkar Rivai. "Gila lu, nafas Gua mau hilang, kalau modar Gua hantuin Lu!" Serapah Rivai kesal.

__ADS_1


"Benar Kak Azlan udah nikah?" Mira meyakinkan, raut wajahnya diliputi kecewa. Aku mengangguk. Mira yang melihat itu, terlihat lesu dan pergi tanpa permisi. "Elu ya Vai, kalau ngomong suka asal ceplos." Sentil aku kesal. "Takut ya kalau Gua bilang pernikahan Elu diawali drama penggerebegan?" Sembur Rivai lagi. "Awas ya, kalau kalian bongkar semua, Gua gak bakalan hadir di pernikahan Elu dan Elu!" Ancamku sambil mengayunkan tinju. "Tibang gak hadir dipernikahan Gua, gak bakalan rugi Cok!" timpal Rivai lagi gak mau kalah.


"Gua cabut, malas berdebat sama kalian!" Aku pergi tanpa menoleh lagi pada kedua temanku yang kadang gak solid itu. Sebelum sampai kontrakan aku mampir ke warung Mpo Siti, membeli lauk nasi. Sayur sop sama pepes tahu. Kebetulan makanan sederhana itu kesukaan Dara banget.


Aku masuk ke kontrakan setelah mengucapakan salam, tapi tidak ada jawaban. Aku melihat Dara udah tiduran, tidak biasanya.


POV End


"Dek, tumben udah tiduran? Udah Isya belum?" Tanya Azlan heran. Tak ada jawaban. Sekilas Azlan melihat ada obat disamping Dara dan surat ijin istirahat selama 3 hari dari dokter. Azlan terkejut, obat apa ini? Jangan-jangan Dara sakit. Azlan. memberanikan diri meraba dahi Dara, dan ternyata sangat panas. Ya ampun, Dara ternyata sakit. "Dek, Adek ternyata sakit, Adek demam." Azlan khawatir. Haduhhh gimana ini, kira-kira Dara sakit apa? Pikiran Azlan kalang kabut kemana-mana, tadi pagi dia melihat Dara tidak apa-apa, tapi kini terbaring dengan dahi yang panas. Perlahan Dara bergerak, dia merubah posisi tidurnya dari menyamping manjadi tengadah.


"Dek makan dulu!" sodor Azlan sambil menyuapkan sesendok nasi. Dara menepis sendok yang Azlan sodorkan.


"Makan ya Dek, biar cepat sembuh!" Azlan masih sabar membujuk. "Dara gak mau disuapin Abang, sana pergi. Dara sakit juga karena Abang!" tuduh Dara sambil meringis menahan sakit. Azlan menghela nafas dalam. Hatinya gundah, benarkah Dara sakit karena dirinya? Azlan memang benar merasa bersalah atas kejadian penggerebegan itu.


Tapi mau gimana lagi, ini sudah terlanjur. Sekarang yang dia harus lakukan adalah membujuk Dara dan mencurahkan perhatian pada Dara, walau gadis itu tak peduli dengan semua perhatiannya. Apalagi sekarang Dara lagi sakit, dia tidak mau kenapa-napa dengan Dara.

__ADS_1


Dengan pantang menyerah Azlan terus membujuk Dara untuk makan dan minum obat, akhirnya Dara mau makan tapi tidak mau disuapin Azlan. Setelah makan, Dara minum obat lalu perlahan baring lagi. Mungkin pengaruh obat, lamat-lamat Dara tertidur. Azlan bersyukur Dara mau makan dan minum obat, dan akhirnya tidur. "Semoga lekas sembuh Dek!" Bisiknya.


Pagi menjelang, Azlan menyiapkan semua keperluan Dara. Tadinya Azlan berniat tidak masuk kerja, namun Dara menolaknya. Dara mengancam kalau Azlan menunggunya, maka dia gak akan mau makan dan minum obat. Azlan mengalah, meski hatinya berat. Sebagai gantinya, Azlan sudah menyiapkan keperluan Dara, masak nasi tim dan sayur Sop. Biar nanti saat Dara mau makan, Dara tinggal ambil walau mungkin harus sedikit bersusah payah. Pikir Azlan. Tadi Azlan berniat membantu Dara ke ******, namun dengan ketus Dara menolaknya. Azlan tidak bisa memaksa, akhirnya dia cuma bisa mengawasi. Kalau tiba-tiba Dara jatuh atau oleng, Azlan akan sigap membantu.


Masih saja sebelum Azlan pergi kerja terdengar tudingan buatnya bahwa Dara sakit karena Azlan. Azlan merasa sangat bersalah, diapun menyadari mungkin benar ini semua salahnya. Tapi apakah Azlan akan menyerah, sementara ini semua sudah terjadi?, sedangkan untuk mendapatkan Dara begitu sulitnya, sampai yang terpikir hanya rencana licik untuk menjebak Dara. Azlan menghela nafas dalam.


Palung hatinya yang terdalam berbisik bahwa dia tidak boleh menyerah untuk memenangkan hati Dara. Dan Azlan bertekad untuk tidak menyerah, Azlan hanya butuh stok sabar yang tak terbatas.


Azlan pamit pada Dara untuk pergi kerja, walaupun tanpa balas. Sebetulnya Azlan risau meninggalkan Dara yang sedang sakit, namun karena Dara menolak untuk ditemani, terpaksa Azlan pergi, biarlah nanti saat istirahat Azlan pulang dulu melihat Dara sambil bawa makanan dan buah-buahan. Lagipula ini Sabtu, siapa tahu sorenya Dara mendingan. Harapnya.


Pukul 12 lewat 10 Azlan pulang, Azlan membuka pintu sambil mengucap salam, dilihatnya Dara sedang melaksanakan sholat zuhur dengan posisi duduk. Ada rasa damai melihatnya, semoga dengan begitu Dara cepat sembuh, guman Azlan. Tanpa pikir panjang, Azlan menyiapkan hidangan makan siang yang dia beli tadi untuk Dara, nasi campur sayur sop dan Pindang ikan Bandeng. Lalu mengupas dan memotong buah-buahan. Setelah itu Azlan bersiap pergi kembali ke pabrik, makan siang dan sholat Zuhur sebaiknya di pabrik saja. Dia tidak mau membuat mood Dara jelek lagi dengan kehadirannya siang ini.


Sebelum Azlan pergi, rupanya Dara sudah menyudahi ibadahnya, sekilas dia melihat Azlan. Sambil melipat mukenanya, nampak raut muka Dara masih menahan sakit. "Adek, makan siangnya udah Abang siapkan sama buah-buahan, nanti setelah makan jangan lupa obatnya diminum!" Azlan. memberi aba-aba. Sementara Dara cuma bisa menunduk menatap makanan yang dihidangkan Azlan tadi. "Abang balik pabrik lagi ya!", pamit Azlan tanpa menunggu jawaban Dara.


Dara menatap nanar kepergian Azlan, ada rasa sesal kenapa tadi dia cuek tanpa menyapa atau menyahut Azlan. Ya egonya masih menguasai, apalagi saat ini Dara sakit, Dara mengkambing hitamkan Azlan sebagai penyebab dia sakit. Dara menghela nafas dalam, kemudian dia menatap lama makanan yang disiapkan Azlan untuknya. Betapa Azlan perhatiannya saat dia sakit, dia tahu banget makanan kesukaan Dara, sayur sop, pindang bandeng fesmol dan buah-buahan. Namun Dara masih tidak bergeming untuk berbaikan sama Azlan, padahal dasar hatinya berkata bahwa Azlan begitu baik dan sangat perhatian. Kadang Dara merasa bersalah telah mendiamkan Azlan.

__ADS_1


Setelah puas memandang makanan yang disiapkan Azlan, Dara meraih mangkuk yang sudah diisi nasi tim, kemudian menuang sayur sop dan memotong Ikan pindang Bandeng yang memang kesukaannya. Dengan terpaksa perlahan dia makan dalam diam, karena Dara ingin cepat sembuh. Sambil mengunyah hati Dara berbisik, "makasih Bang untuk perhatiannya".


__ADS_2