
Azlan mencoba menghubungi Jabar sesuai permintaan Dara. Saat diangkat rupanya Jabar sedang masuk malam. Azlan bingung memberitahu Dara, takutnya Dara merajuk.
Akhirnya Azlan jujur walaupun harus bikin Dara merajuk. "Dek, Bang Jabarnya tidak bisa datang, sebab dia sedang kerja malam," berita Azlan. Azlan berharap Dara tidak akan merajuk.
"Nggak bisa?" Dara mencoba meyakinkan.
"Iya, Bang Jabar sedang masuk malam. Jadi dia nggak bisa datang ke rumah kita." Dara langsung terlihat sedih. Azlan jadi merasa bingung melihat Dara sedih begitu.
"Ya sudah, Adek nggak usah sedih gitu dong. Sebaiknya kita masuk ke dalam, lagipula ini hari mau hujan. Langit sudah sangat hitam pekat, angin sudah mulai terasa hembusannya. Ayo, ini bahaya untuk kesehatan Adek," ajak Azlan memaksa. Dara masih nampak kesal dan kecewa.
Azlan memapah Dara menuju kamar, lalu Dara duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Tumben banget malam ini angin kencang. Sebentar ya, Abang periksa dulu jendela dan pintu. " Azlan beranjak lalu memerika pintu dan jendela.
"Untung hari ini cuaca sedang tidak baik, semoga besok Dara sudah lupa tentang ngidamnya," harap Azlan gembira.
Tiba-tiba hembusan angin yang tadi kencang, kini berubah menjadi hujan yang lebat yang susul menyusul.
Azlan segera membawa Dara ke dalam kamar dan mengajaknya beristirahat walaupun wajah Dara masih nampak kesal. Tiba di kamar, Azlan langsung membaringkan tubuh Dara lalu memberinya selimut. Dan kini Azlan sedang berusaha membujuk Dara yang merajuk.
Sementara itu di kota lain tepatnya di kota kecil kecamatan Lembang, Wisnu yang kini sudah berusia 30 tahun sedang dilanda bingung. Bingung dengan sebuah permintaan komandannya. Diluar pembicaraan kedinasan pak Akbar pernah meminta Wisnu untuk menikah dengan anaknya. Anak gadis yang sekarang masih kuliah semester akhir.
Wisnu menjadi sangat bingung dengan permintaan aneh Pak Akbar, yang tiba-tiba menginginkannya menjadi menantu. Diluar kedinasan Pak Akbar rupanya sengaja sering memberi perintah supaya Wisnu yang selalu antar jemput anaknya. Tidak lain hanyalah ingin supaya Wisnu dan anaknya Pak Akbar menjadi lebih dekat dan akrab.
__ADS_1
Disisi lain, Wisnu tiba-tiba memberikan jawaban yang sangat tidak disangka-sangka.
"Siap Pak, namun saya sudah memiliki kekasih yang sebentar lagi akan segera saya nikahi," Wisnu memberi alasan yang ternyata benar-benar bisa diterima Pak Akbar.
Alasan Wisnu inilah yang sekarang menjadi akar permasalahan. Sementara Wisnu, sejak Dara menikah, dia benar-benar menutup diri dan belum satu kalipun membawa perempuan.
"Lantas perempuan mana yang akan ajak aku nikah, padahal aku sudah berkata bohong pada Pak Akbar bahwa aku akan segera menikah?" Wisnu kini dilanda bingung. Di kamar berukuran sedang itu dia sedang memikirkan bagaimana caranya dia menemukan perempuan untuk bisa dinikahinya.
"Sofia....?" Tiba-tiba Wisnu ingat satu nama yaitu Sofia. Sofia adik iparnya Dara dan adik kandungnya Azlan suami Dara yang telah merebut Dara dari hidupnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Wisnu kepikiran untuk menghubungi kembali Sofia, setelah sekian lama tidak berhubungan sama sekali baik telponan maupun via medsos. Namun kini Wisnu merasa perlu melakukan hubungan lagi dengan gadis itu, demi satu hajatnya. Entah Wisnu serius atau tidak.
"Assalamu'alaikum! Sofia, ini saya Wisnu. Kamu masih kenal dengan saya? Apakabar lama tidak berkabar?" pesan WA Wisnu terkirim, yang berharap segera dibalas oleh si Empunya nomer yang terkirim. Wisnu harap-harap cemas menunggu balasan WA dari Sofia.