Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sambutan Keluarga Azlan


__ADS_3

Tiba disebuah pelataran yang halamannya luas, GrabCar berhenti. Lelah yang mendera dan perjalanan pesawat yang menegangkan membuat Dara tertidur pulas. Azlan menepuk lembut bahu Dara membangunkannya.



Dara mengucek matanya pelan. Perlahan matanya terbuka, mengedarkan ke sekeliling dari dalam kaca mobil. Nampak sebuah pelataran dengan halaman yang luas.



"Ayo, Dek, sudah sampai, kita turun!" ajak Azlan menyadarkan keheranan Dara. Dara mengikuti Azlan dengan perasaan campur baur, langkahnya kini seakan dibalut ragu.


Azlan mengeluarkan semua barang bawaan dari GrabCar dibantu sopir. Setelah dibayar, GrabCarpun pergi dan menjauh.


Jam hampir menunjukkan angka 12, rupanya sudah sangat larut. Mungkin orang-orang sudah larut dalam mimpi indahnya.


Sesaat Dara tertegun, bingung dengan apa yang harus dilakukan setelah bertatap muka nanti dengan keluarga Azlan, baikkah atau burukkah sikap keluarga Azlan? Atau justru Dara yang akan bersikap baik atau buruk pada keluarga Azlan? Pikirannya dipenuhi dua kemungkinan yang bercabang.


"Ayo Dek...," ajak Azlan sambil menuntun lengan Dara, Dara tidak menolak. Namun langkahnya ragu.


"Ayo, jangan ragu-ragu!" bujuknya.


"Duhhh.... gimana nih..., jadi ragu... " hati Dara berkata-kata. Dengan langkah ragu Dara mengikuti Azlan.


"Kak Azlan.....!" teriak seseorang menghampiri, seraya berlari dari tangga. Suara tangga yang terbuat dari papan kayu tersebut menimbulkan bunyi yang gaduh.


"Dug, dug, dug,"


Bersamaan dengan itu gadis yang hampir seumuran dengan Dara tiba-tiba merangkul Azlan dengan erat, menandakan betapa rindunya dia.


"Kak..., udah kami tungguin dari tadi. Kangen banget kami Kak, " celotehnya sambil memegang tangan Azlan manja. Dara berpikir mungkin ini adik perempuannya Azlan yang ada di foto itu.


Dara berdiri terpaku, bingung apa yang mau dilakukan. Matanya mengedar ke sekitar, di hadapannya berdiri rumah panggung yang berlantai dua. Rumah limas khas suku di Palembang, namun sudah mendapat sentuhan perubahan dan renovasi.



Rumah panggung yang bawahnya seharusnya kolong, dialih fungsikan menjadi sebuah toko. Terlihat dari rolling door yang menjadi pintu toko tersebut. Rata-rata hampir semua rumah disebelah kanan dan kiri berupa rumah limas. Ada yang masih lestari bentuknya, dan tidak sedikit yang merubahnya, termasuk rumah kelurga Azlan.

__ADS_1



Dara masih terpaku dan mengedarkan pandangannya ke sekitar, seakan ingin mengenali suasana tempat baru yang dia jumpai. Sebenarnya rasa canggung begitu menyesaki dirinya, sehingga Dara merasa ragu.



"Yuk Dara ya...?" tanya gadis itu mengalihkan perhatian yang tadi pada Azlan kini pada Dara. Gadis itu tanpa segan memanggil Dara dengan sebutan "Ayuk", sebutan bagi seorang kakak perempuan di daerah Sumatera Selatan.


Dara tersenyum tipis sambil menerima uluran tangan gadis yang hampir seusianya itu.


"Eh, ayo masuk. Mamak dan Bapak sudah menunggu di dalam!" ajaknya menuntun tangan Dara. Dara tersenyum ragu mengikuti gadis itu, melewati tangga kayu yang gaduh.


"Ayo Yuk, jangan segan. Rumah kami memang begini, sederhana, harus naik-naik tangga pula," ujarnya merendah. Gadis ini sambutannya begitu baik dan hangat pada Dara, sehingga sedikit demi sedikit mencairkan kecanggungan pada diri Dara.


"Ayo Kak....!" teriak gadis itu menyemangati Azlan yang tertatih-tatih membawa koper dan sebuah tas.


Tiba di sebuah ruangan yang agak besar, diperkirakan ruangan keluarga. Di sana sudah ada beberapa orang yang sepertinya ingin ikut menyambut kedatangan Azlan dan Dara.


Dara merasa berat kakinya untuk melangkah, rasa canggung langsung menyeruak di dada. Rasanya ingin pingsan saja, tidak ingin melihat mereka yang seolah menatapnya.


"Mak..., ini Yuk Dara dan Kak Azlan sudah datang," seru gadis itu memberitahu. Semua memandang ke arahnya, lalu tiba-tiba wanita paruh baya yang diperkirakan seumuran Ibunya Dara menghampiri lalu merangkul Dara. Dara mematung gugup, rangkulan itu kini disertai isak. Dara menarik nafas dalam ada sesak di dada saat wanita paruh baya itu terucap kata "maaf".



"Maaf..., kami minta maaf!" Kata-kata lirih itu terputus seiring isak yang mengiringi. Ada rasa haru yang menghantam di dada. Perlahan Dara membalas rangkulan wanita paruh baya itu memberi sedikit kehangatan dibalik kecanggungannya.



Tanpa sadar Dara mengusap-usap punggung wanita paruh baya itu, Dara seakan merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini dia rindukan hadir dalam diri wanita dipelukannya itu.


Rasanya, Dara tidak sanggup membiarkan wanita itu lebih banyak mengeluarkan air matanya, alangkah jahatnya Dara jika semua itu dia lakukan.


"Maaf, kami mohon maaf!" ucapnya lagi dalam dan penuh penyesalan. Dara tidak tega melihat wanita itu memohon maaf sambil menangis.


"Dara tidak apa-apa Mak," ucapan itu terlontar begitu saja walau terdengar pelan namun terasa tulus.

__ADS_1


Perlahan wanita itu melepaskan rangkulannya dan menatap wajah Dara seraya dirabanya penuh kasih sayang. Ditatapnya dalam dengan tatapan penuh rasa bersalah.



"Ayo duduk Nak, kamu pasti sangat lelah," ucapnya sambil menarik Dara menuju kursi kayu yang dilapisi busa. Dara mengikuti wanita paruh baya itu. Sebelum duduk, dengan cepat Dara menyalami laki- laki paruh baya yang diperkirakan adalah Bapaknya Azlan. Dara mencium punggung tangan lelaki itu penuh takzim. Lalu menyalami adik laki-laki Azlan yang bernama Azman.



Sementara Azlan, bersimpuh di kaki Mamaknya penuh kerinduan sekaligus penyesalan yang begitu dalam. Suasana begitu haru disertai isak tangis yang mengiringi.


Perlahan suasana sedikit mencair, ketegangan yang tadi tercipta kini berubah menghangat.


"Maafkan kami Neng..., keadaan rumah kami seperti ini, maklum di dusun," ucapnya merendah. Dara mendongak lalu tersenyum.


"Tidak Mak, Dara tidak apa-apa," ucapnya masih malu-malu.


"Yuk Dara cantik banget, tidak salah Kak Azlan memilihnya sebagai pacar," celetuk gadis yang bernama Sofia itu tanpa ragu. Dara sedikit geli saat kata "pacar" dengan jelas diperdengarkan.


Rupanya Sofia tidak tahu hal yang sebenarnya tentang hubungan Dara dan Azlan, dia hanya mengetahui bahwa Dara pacarnya Azlan.


"Kayanya Neng Dara lapar dan lelah, sebelum istirahat sebaiknya kalian makan dulu. Mamak sudah menyiapkan makanan di meja makan," selanya penuh pengertian.


"Iya, silahkan Neng Dara makan dulu. Azlan, ajak Neng Dara makan dulu!" timpal bapaknya Azlan menyetujui ucapan istrinya. Seketika suasana mulai menghangat.


Dara tidak menolak, dia mengikuti kemana Azlan menuntunnya. Di meja makan sudah tersaji banyak makanan khas Sumatera Selatan. Ada pindang patin dan yang lainnya.


Azlan seperti biasa memberi perhatian pada Dara, dia dengan sigap menyiapkan nasi dan lauk untuk Dara. Dan mereka makan dalam diam.


Selesai makan, Dara diajak Sofia ke kamarnya. Rupanya Dara telah dipersiapkan tempat tidur bersama Sofia.


"Neng Dara tidurnya bisa berbagi dengan Sofia, maaf kamarnya sempit," ujar Mamaknya Azlan.


"Makasih Mak, ini lebih dari cukup buat Dara," ucap Dara berterimakasih. Sebelum Dara beranjak tidur, dia ke kamar mandi membersihkan diri dari sisa perjalanan tadi.


Azlan terhenyak mendapati kenyataan, bahwa untuk malam ini dia tidak bisa berbagi kasur dengan Dara.

__ADS_1


"Ayok Kak Azlan, kita tidur di kamar aku," tarik Azman adik laki-lakinya Azlan, membawa Azlan kedalam kamarnya.


__ADS_2