Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Permintaan Aneh Dara


__ADS_3

Menuju 3 bulan kehamilannya, belum ada perubahan pada perut Dara, masih rata. Namun Dara kini mengalami morning sickness dan bau terhadap nasi. Otomatis makan nasinya susah. Bidan menyarankan untuk karbohidrat bisa diganti dengan kentang atau umbi-umbian supaya masih ada tenaga.


Dengan sigap, Azlan kini selalu menyiapkan kentang, dan singkong untuk dikonsumsi Dara. Berat badan Dara bukannya naik, malah turun. Dari sebelum hamil 48 kg, kini turun 3 kg. Azlan sedih melihatnya, betapa beratnya perjuangan ibu hamil. Melihat Dara sudah makan sedikit saja, Azlan sudah senang.


"Dek... makan dulu ya!" bujuk Azlan yang melihat Dara belum menyentuh makanannya sama sekali, padahal menunya sudah ganti dengan kentang goreng. Saran Dokter saat sebulan yang lalu, kentangnya boleh digoreng selain direbus.


Dara tidak menyahut, dia terbaring lemas tidak berdaya seraya merasakan sensasi mual dan ingin meludah terus. Kadang disudut matanya sudah menggenang butiran kristal yang siap jatuh, betapa sedihnya melihat Dara seperti ini, hamil. tapi seperti orang yang menderita.


"Ayok Dek makan barang sesuap asal perut ada yang masuk, kalau Adek tidak makan maka Adek bakalan dirawat. Tubuh Adek sudah kurus dan kurang cairan, Abang takut terjadi apa-apa sama kehamilan Adek," bujuk Azlan lagi khawatir.


Akhirnya perlahan-lahan Dara mau makan kentang walau cuma beberapa potong korek api. Dan untungnya minumannya ada yang kasih Azlan saran, yaitu air kelapa muda, dan Dara menyukainya. Sepertinya rasa mualnya sedikit berkurang setelah minum air kelapa.


Pagi ini Azlan sudah siap berangkat kerja, namun melihat Dara yang lagi-lagi memperlihatkan kondisi yang lemah setelah mengalami morning sickness, Azlan jadi ragu bekerja.


"Ya Allah kalau bukan kerja di pabrik orang, mungkin bisa sesukanya meminta ijin demi menemani istri yang sedang mengalami kondisi lemah ini," batin Azlan.


Dara melihat Azlan dengan lemas. Dia sebetulnya tidak ingin melihat Azlan terlihat khawatir. Tapi memang keadaannya seperti ini, apa yang harus Dara sembunyikan?



Dara perlahan bangkit, untuk menghilangkan rasa kekhawatiran Azlan, dia memaksakan diri untuk makan kentang goreng yang sudah Azlan siapkan.


"Abang... lihatlah Dara mau makan kentang goreng ini, jadi Abang tidak usah khawatir kalau ninggalin Dara. Dara tidak akan pergi kemana-mana lagi kayak dulu. Jadi Abang jangan khawatir ya!" Dara perlahan melahap satu persatu kentang goreng, dia benar-benar memperlihatkan pada Azlan bahwa dirinya kuat selama ditinggal Azlan bekerja.


Hampir setengah porsi kentang goreng itu pindah ke perut Dara walaupun harus Dara paksa. Namun dengan tekad yang bulat, akhirnya Dara bisa memakannya dan membuat Azlan sedikit lega.



"Abang, pergilah... Dara sudah kuat kok!" ucap Dara setengah mengusir seraya menyeruput air kelapa muda yang tadi telah Azlan siapkan dengan membelahnya sendiri.



Azlan menatap Dara lekat mencari kesungguhan disana. Azlan nampak masih khawatir, namun kewajiban dia sebagai karyawan pabrik sudah memanggil-manggil.

__ADS_1



"Adek tidak apa-apa Abang tinggal?" yakin Azlan sembari menatap wajah sendu Dara.


"Iya, tidak apa-apa. Abang pergilah bekerja. Dara tidak apa-apa kok, sungguh!" ucap Dara meyakinkan. Azlanpun merasa yakin dan akhirnya walaupun berat hati Azlan berangkat kerja juga.


"Abang pamit ya, nanti kalau ada apa-apa, Adek tinggal hubungi Abang. Nanti jam istirahat Abang pulang dulu ke rumah." Azlan berpesan, sebelum berangkat menjalankan motor matic nya.



Dara menatap Azlan sendu, padahal dalam hatinya begitu sedih ditinggal Azlan pergi.



Sore hari, Dara memapah tubuhnya ke tembok untuk berjalan ke kamar mandi. Badan Dara terasa lemas. Tadi Azlan berpesan untuk makan kentang atau cemilan lainnya untuk sekedar menahan lapar. Rasa mual kini menyerang lagi. Lagi-lagi Dara harus memuntahkannya sampai badan Dara terasa benar-benar lemas.



Dara segera membasuh mulutnya yang terasa pahit, lalu berjalan pelan dan kembali ke ruang tengah untuk membaringkan kembali tubuh ringkihnya.


Saat Azlan pulang, Azlan mendapati Dara sedang bersimpuh dengan mukenanya. Kondisinya yang lemah tidak menyurutkan dia untuk menyembah Yang Maka Kuasa. Bahkan Dara dengan dipaksakan membaca Al-Quran walaupun beberapa ayat.



"Sayang... Abang bawa Es teler dan buah Kasemek kesukaan Adek. Tadi Abang nyari Kasemek dan ketemu di warung Mpok Siti. Mendengar itu sontak mata Dara berbinar dan segera menyambut Es Teler dan buan Kasemek bawa Azlan.



Setelah dikupaskan, Dara segera melahap buah Kasemek yang sudah beberapa bulan ini dia rindukan. "Segar banget....!" lontarnya memuji rasa Kasemek yang memang manisnya menyegarkan.



"Terimakasih Abang buah Kasemek sama Es Telernya." Dara berterimakasih sambil menatap haru ke wajah Azlan.

__ADS_1


"Kasihan sekali Bang Azlan, karena aku lagi hamil, perhatian dan fokusnya jadi terbagi-bagi. Maafkan Dara, Abang," doa Dara dalam hatinya.


Satu bulan berlalu, masa sulit Dara di trimester pertama telah dilalui. Walaupun begitu berat, namun Dara mampu melaluinya dengan peluh dan rasa ikhlas. Kehadiran dan cinta Azlan yang begitu besar, membuat Dara kuat dalam menghadapi kehamilannya ini.



Sore nanti sepulang Azlan dari bekerja, Dara akan memeriksakan kehamilannya ke Dokter Radit. Dokter yang pertama kali memeriksakan kehamilannya. Dara dan Azlan sengaja mendatangi Dokter Radit ke tempat dia buka praktek.



"Wah... bayinya sehat. Selamat ya Mbak Dara, kurang lebih lima bulan lagi bayi kalian akan melihat dunia. Semoga lancar lahirannya nanti," ujar Dokter Radit diimbuhi senyum.


Azlan dan Dara senang bukan kepalang mendengar berita baik dari Dokter Radit baru saja.


Dara dan Azlan memasuki pekarangan rumah. Azlan segera memasukkan kembali motor maticnya ke dalam rumah. Tiba-tiba Dara berseru. dengan alasan ngidam.



"Abang... rasanya Dara malam ini ingin bertemu Bang Jabar deh... ingin tahu bagaimana ceritanya dia selama tidak ada Dara," celetuk Dara tiba-tiba. Azlan terhenyak mendengar permintaan Dara yang menurut Azlan aneh itu.



"Lho kok ngidamnya Bang Jabar? Kenapa tidak Abang saja yang diidamkan, bukan Bang Jabar!" Azlan protes, namun Dara berubah manyun.



"Dara maunya Bang Jabar, Dara kangen melihat ulahnya yang suka jail. Tolong Abang, Dara ingin bertemu. Sebentar... saja!" Dara memohon dihadapan Azlan. Azlan seperti tidak tega melihat Dara memohon dan memelas seperti itu, namun Azlan bingung harus dituruti atau tidak.



Benarkah Dara sedang mengalami ngidam, tapi kenapa ngidamnya mesti Bang Jabar? Membuat Azlan dilanda bingung dan merasa disisihkan. Padahal yang ada di dalam perut Dara adalah sahamnya, bukan saham Jabar.


__ADS_1


Dengan perasaan yang ragu, akhirnya Azlan memberanikan diri menghubungi Jabar dan memintanya untuk datang ke rumah. Dara senang mendengarnya.


"Ada-ada saja Dek permintaan ngidamnya?" Azlan geleng-geleng kepala tidak. habis pikir dengan ngidamnya Dara.


__ADS_2