Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Menagih Kembali Ajakan Kencan


__ADS_3

Malam menjelang, Riki yang tadi diundang Dara untuk datang ke rumah kontrakan Dara akhirnya datang menepati janji. Riki rupanya tidak sendiri, dia berdua bersama Reno. Pemuda yang sama tampannya itu, menyembunyikan ketampanannya dibalik topi dan hoody.


"Assalamu'alaikum....!" suara tenor itu terdengar setelah memarkirkan motornya dengan benar. Azlan yang baru kelar sholat Isya bersama Dara, terperanjat dan sejenak saling pandang. Dara menggedikkan bahunya tanda tidak tahu.


Azlan membuka kain sarungnya lalu menuju pintu dan perlahan membukanya. Azlan sejenak terpana, melihat siapa gerangan tamunya malam ini. Yang sedikit membuatnya terhenyak adalah kehadiran Reno. Namun dengan tenang Azlan bisa menguasai situasi, walau dalam hati sebenarnya ingin sekali meraih kerah hoody yang Reno pakai.



"Ada apa kalian kemari? Duduklah....!" Meskipun dalam keadaan hati yang sedikit panas, Azlan masih berbelas kasihan mempersilahkan tamu dan rivalnya duduk walaupun cuma di pembatas kontrakan. Riki dan Reno duduk mengikuti kata Azlan.


"Maaf nih sebelumnya, Gua langsung saja nanya inti masalah. Kalian ada apa datang kemari, dan mau apa? Sorry Gua nanya begini, sebab Gua heran saja tidak biasanya kalian kemari," tanya Azlan.


"Gua datang kemari atas undangan Dara. Ya... sebetulnya sekalian ingin meluruskan perihal foto yang Elu dapat entah dari mana dan dari siapa. Kebetulan Gua dapat cerita dari bini Lu. Dan yang perlu Elu tahu bahwa kejadian yang sebenarnya tidak begitu, maksdunya...."


"Sudahlah, Gua hanya butuh penjelasan dari bini Gua, dan Gua percaya semua yang dia bilang." Azlan memotong pembicaraan Riki dengan cepat.


"Gua juga kemari ingin meminta maaf sama Elu dan bini Lu, Lan. Atas kejadian yang lalu pada kalian berdua, Gua menyesal. Untuk itu, kedatangan Gua kali ini ingin meminta maaf. Terlepas Elu memaafkan atau tidak, yang penting Gua sudah beritikad baik meminta maaf dan menyudahi permusuhan kita. Yaa... jujur saja Gualah yang memulai permusuhan itu. Jadi Gua harap, Elu dengan besar hati mau memaafkan kesalahan Gua di masa lalu," jelas Reno panjang lebar dengan wajah penuh penyesalan. Dengan raut muka yang tulus dan jujur dari hati.


Azlan mengangkat wajahnya, lalu menatap kedua orang yang berada dihadapannya.


"Gua, manusia biasa. Jadi... karena Elu datang dengan niat baik dan tulus. Maka dari itu Gua tidak bisa menolak permintaan maaf dari Elu. Gua maafin, asal tidak mengulang lagi," pungkas Azlan dengan tegas.


Riki dan Reno saling pandang, mereka terlihat lega lalu berdiri.


"Kami berdua senang mendengarnya Bang. Gua mewakili Abang Gua, Reno, mengucapkan banyak terimakasih. Dari awal, Gua tidak suka Abang Gua bermusuhan atau memusuhi siapapun. Dan sekarang kita normal kembali tanpa rasa permusuhan. Gua senang sekali Bang." Riki berkata dengan wajah gembira.


Reno dan Riki bangkit, lalu berpamitan. Pembicaraan mereka diakhiri dengan jabat tangan. Azlan tersenyum walaupun belum lepas. Azlan menatap kepergian kedua orang itu dengan hati yang sedikit lega.


__ADS_1


Azlan kembali masuk ke dalam kontrakan, dia yakin Dara telah menguping semua obrolan mereka bertiga tadi di teras. Tapi mengapa Dara tidak keluar menampakkan dirinya. Belum sampai Azlan melangkahkan kakinya ke kamar, Dara sudah muncul dan memeluk Azlan dari belakang.



"Abang... Makasih banyak ya, Dara terharu rupanya Abang percaya sama apa yang Dara ucapkan tempo hari." Dara semakin mengeratkan pelukannya. Perlahan Azlan memutar tubuh Dara supaya menghadapnya. Azlan berpikiran lain, bukan masalah tentang foto Dara dan Reno lagi. Ada yang lebih penting bagi Azlan



Menagih kencan yang tadi siang Dara tuliskan di punggung Azlan. Dara menatap wajah Azlan, dia tersenyum bahagia bisa menatap wajah manis itu lagi. Azlan memang berubah, lebih bersih dan tambah manis. Terlebih perlakuannya yang agresif seperti tadi siang membuat Dara melayang-layang terbayang.



Dara perlahan mendaratkan ciuman singkat di bibir Azlan, lalu melepasnya dengan malu-malu.


"Kenapa sekilas, enakan lama." Goda Azlan seraya menjawil dagu tirus Dara.


"Dara... susah makan karena jauh dari Abang," jawab Dara sekenanya.


"Baiklah karena Abang kini sudah dekat dengan Adek, maka akan Abang buat Adek gemukan," ucap Alzan seraya menyeringai.



Dara terhenyak kaget, dengan cepat dia menjauhkan tubuhnya dari pelukan Azlan. Dara sudah paham apa yang Azlan maksudkan."



"Abang hanya menagih ajakan Adek yang tadi siang ditulis di punggung Abang." Seketika jantung Dara berdegup kencang. Rasanya rasa itu masih belum hilang, rasa yang hampir melayang-layang.


__ADS_1


Azlan membawa Dara ke kamar setelah dia menyalakan TV. "Kenapa TVnya dinyalakan?" Dara heran.


"Supaya kamu bebas bersuara...." Dara tersipu malu, padahal selama ini dia pandai menahan suara-suara itu. Jadi rasanya tidak pengaruh meskipun TV dinyalakan.


"Akan Abang buat kamu gemuk, mau tidak?" tanya Azlan menggoda.


"Maksud Abang?"


"Pura-pura tidak paham padahal mau!" ejek Azlan seraya mulai memberikan serangan kecil yang membuat Dara menggelinjang tidak karuan.


"Abang... rasanya ada yang kita lupa. Dara... belum minum pil KB," ujar Dara seakan baru tersadar.


"Pil KB....?" Dara mengangguk.


"Jadi, selama Abang di Korea, Adek minum pil KB juga?"


"Apa...?. Ya tidak dong... masa Dara minum pil KB sementara Abang jauh disana," Dara menjengit.


"Ayolah... jangan pikirkan pil KB. Abang sudah tidak tahan." Ajakan Azlan tidak Dara bantah. Dan pertautan panas yang tadi sore dibuat Azlan dan Dara kini terulang lagi. Keduanya sama-sama terkulai lemas.



Tiba-tiba, tepat jam 9 malam. saat mereka telah menyudahi pertautannya, telepon WA Azlan bunyi dan tertera nama Mamak disana.



"Wa'alaikumussalam.... Mak....! sahut Azlan seraya mencium kening Dara yang masih bergelayut manja.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2