
Wisnu menghampiri Sofia yang duduk ngadem di bawah kursi bambu yang tepat di bawah pohon Mangga yang mulai tinggi dan rimbun. Nampak buahnya sudah nongol beberapa biji dan masih muda.
Semilir angin berhembus dan menerpa langsung ke wajah Sofia yang semakin ayu. Mampu mengusir sejenak udara panas w kota Cikarang ini.
Walaupun berkerudung, terpaan angin yang berhembus melalui daun pohon Mangga mampu mengibas-ngibas kerudung segi empat Sofia.
Wisnu duduk di sebelah Sofia, yang sontak membuat Sofia terkejut. Sofia menoleh dengan raut muka masih terkejut. Namun lama-kelamaan berubah menjadi semu malu dan pipinya memerah jambu.
Seketika jantung Sofia dah dig dig, serba salah, dan salah tingkah.
"A Wisnu... ada apa menghampiri Sofi?" Akhirnya Sofia berhasil mengawali obrolan, walaupun rasa malu lebih menguasai dirinya.
"Bagaimana kabarnya pekerjaan?" Tiba-tiba Wisnu melemparkan pertanyaan yang tidak diduga-duga Sofia, dan jujur saja justru pertanyaan Wisnu ini mampu menutupi perasaan serba salahnya Sofia.
"Alhamdulillah, lancar A!" jawab Sofia pendek.
"Mengenai niat saya yang tempo hari itu di WA, apakah kamu masih mempertimbangkannya?" Wisnu tiba-tiba mempertanyakan pesan WA yang sudah berlalu beberapa bulan yang lalu. Sofia terperanjat mendengar pertanyaan Wisnu itu. Padahal kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu.
"Yang mana A, Sofia lupa lagi?" jawab Sofia sengaja pura-pura lupa. Padahal hatinya sudah sangat berdebar. Wisnu nampak sedikit kecewa roman mukanya, dia memalingkan muka ke arah lain lalu menarik nafasnya dalam.
"Lamaran saya?" Wisnu melemparkan pertanyaan yang lagi-lagi membuat Sofia terkejut.
"A Wisnu pasti bercanda....!" tuding Sofia meragukan niat Wisnu.
"Tidak.... !"
Untuk beberapa saat antar Wisnu dan Sofia tidak terlibat pembicaraan.
__ADS_1
"Saya serius... maka pikirkanlah, sebelum saya berubah pikiran," tekan Wisnu seraya beranjak. Sofia melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan Wisnu barusan.
Dilihatnya Wisnu masuk ke dalam rumah dan bercengkrama bersama Bu Endah dan Dara. Sejenak Sofia termenung memikirkan pembicaraan Wisnu tadi. Benarkah apa yang Wisnu katakan? Dari cara Wisnu menyampaikan niatnya saja tidak ada sikap yang romantis. Wisnu terlihat kaku dan tidak romantis. Bagaimana bisa Sofia percaya bahwa Wisnu mempunyai maksud serius ingin melamarnya?
"Benarkah Wisnu serius ingin melamar aku?" Obrolan tadi siang masih saja menjadi kepikiran buat Sofia. Sofia menjadi bingung. Bingung memutuskan, juga bingung dengan sikap Wisnu yang kaku dan sama sekali tidak menunjukkan keseriusan.
Satu jam kemudian, Wisnu pamit pulang. Sofia mengantarkan sampai depan. Ditatapnya lelaki tampan itu, di usianya yg sudah 31 tahun masih betah melajang. Namun ketampanannya tidak berkurang, dia nampak lebih dewasa dan berkharisma. Sofia berdecak kagum, menatap dan tiba-tiba tangannya ikut melambai mengantar kepergian Wisnu. Wisnu semakin jauh dan rasa dalam hati Sofia makin berkecamuk.
Jam 7 malam Azlan pulang, disambut suasana riuh baby Zla. Baby Zla terbangun dan menangis. Sepertinya popoknya basah dan minta diganti. Dara dengan sigap mengganti popoknya lalu menyusui baby Zla. Setelah itu tangis baby Zla berhenti. Memang sudah haus makanya baby Zla terbangun.
"Anak Ayah bobo lagi... cupp," Azlan mengecup pipi baby Zla yang mulai tembem. Lalu menyusul mencium pipi Dara sambil berbisik nakal.
"Dek... kapan Abang bisa melepas kangen lagi?"
"Jangan gatal ya, belum saatnya! Nunggu 40 hari atau bahkan 60 hari, tergantung masa nifasnya selesai," peringat Dara sambil mendilakkan mata kesal.
"Wahhh... lama nian!"
"Iyo nian, Abang. Sudah sana Abang jangan maksa. Lebih baik Abang bersih-bersih dan sholat Isya. Kasihan baby Zla mencium bau mesin PCB." Dara berhasil mengusir Azlan, lalu membaringkan kembali baby Zla. Azlan berlalu dengan muka yang ditekuk.
"Ayuk... baby Zla ngapain?" tiba-tiba Sofia datang dan menanyakan baby Zla.
"Kenapa Sof, kamu pasti kangen baby Zla ya?"
"Iya, Yuk. Sofi pengen gendong. Tapi selalu saja tidak ada kesempatan, habisnya baby Zla tidur terus," gerutu Sofia menampakkan wajah kesalnya.
"Sabar dong onty, ada waktunya nanti Onty Sofia bisa gendong baby Zla," bujuk Dara.
__ADS_1
"Kapan dong Onty bisa punya kayak beginian, cepat dong menikah supaya baby Zla ada temannya?" Dara tiba-tiba memberikan pertanyaan yang membuat Sofia bingung untuk menjawab.
"Ayuk ini ada-ada saja, calonpun belum ada, bagaimana bisa menikah?" Sofia tersipu malu.
"Kalau dengan A Wisnu, memangnya kamu tidak tertarik ya?" Sofia tiba-tiba termening, kakak iparnya bertanya tapi seakan mendukung Sofia ada hubungan dengan Wisnu.
"Emmm... anu Yuk, sebenarnya Sofi....!"
"Sayang... makanlah dulu, ini Abang sudah bawakan makanannya. Sayur asam kesukaan Adek, goreng pindang bandeng sama sambel tomat buatan ibu, wihhh mantap," ujar Azlan sembari menenteng sebuah piring berisi nasi dan lauknya, yang berhasil memotong ucapan Sofi tadi.
"Dek, kamu makanlah juga, ajak Ibu. Kebetulan ibu sudah selesai sholat Isya," titah Azlan, Sofia hanya menjawab pelan lalu meninggalkan kamar mungil baby Zla yang kini sering dijadikan ruang makan darurat Dara, karena saking tidak mau meninggalkan baby Zla.
" Ok, Kak." Sofia berlalu, namun bukan ke ruang makan melainkan ke kamar. Sebelum masuk kamar Sofia berpapasan dengan Bu Endah dan berbasa-basi sejenak, rupanya Bu Endah mengajak Sofia makan, namun Sofia menolak karena belum mau.
"Sofi, belum lapar lagi Bu, nanti deh sebentar lagi." Sofia memberi alasan lalu masuk ke kamar. Di dalam kamar, Sofia langsung merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba lelah. Ucapan Wisnu tadi seolah menari lagi di ingatannya. Padahal tadi sebelum Azlan masuk kamar baby Zla, Sofia ingin bercerita masalah pembicaraan Wisnu yang ingin melamarnya.
Tiba-tiba, pesan WA Sofia berbunyi, dan Sofia langsung membukanya. Rupanya Wisnu yang mengirimkan pesan WA.
[Besok saya akan jemput kamu dan mengajak kamu jalan-jalan. Maka bersiap-siaplah. Jam 9 saya tiba]. Pesan WA itu seolah perintah atasan, bahasanya kaku dan tidak ada basa-basi. Ingin pendekatan, namun bahasanya tidak romantis dan tidak ada unsur merayu hanya memaksa.
Hati Sofia berdesir, cowok kaku itu seakan menyebalkan namun begitu bikin Sofia menjadi kangen. Apalagi sejak siang tadi dia mengungkapkan niat yang ingin melamarnya. Sontak Sofia merasa bahagia sekaligus bingung.
Besoknya, waktu yang dijanjikan Wisnu tiba. Sayangnya saat Wisnu datang, Azlan tidak ada karena bekerja, terpaksa Sofia hanya berpamitan pada Dara dan Bu Endah yang seakan kompak mendukung hubungan Sofia dan Wisnu.
__ADS_1
"Sofia pergi ya....!" pamitnya seraya mencium. tangan Bu Endah. Wisnu juga sama melakukan itu persis seperti Sofia. Merdeka berduapun pergi menggunakan Jeep warna hijau pekat khas tentara, diantar tatapan hangat dari Dara dan Bu Endah yang mendukung anaknya bisa berjodoh dengan Sofia.
Bersambung...