
Setelah kesepakatan itu tercapai dan kedua belah pihak telah menandatangani diatas kertas bermaterai, akhirnya pembicaraan itu berakhir damai dan saling terucap kata maaf, namun Reno yang notebene pelaku utama tidak nampak batang hidungnya. Buat apa juga, lagipula Dara rasanya sudah muak melihat muka Reno yang menyebalkan itu. Dia tidak datang, artinya rasa malunya tinggi ketimbang gentelmen.
"Ok deh Lan, Gua sama Rivai balik dulu. Cepat sembuh ya dan cepat masuk pabrik lagi, *singgasana* mesin 2 menanti Elu!" Pamit Rian diselipi canda. "Gua, makasih banyak sama kalian sudah jenguk Gua." Balas Azlan sambil melambaikan tangan kanannya ke arah dua sohibnya.
Sejenak kebekuan tercipta, namun tidak lama dari itu Sofia berusaha mencairkan suasana.
"Kak, Aku tadi di bandara hampir tertinggal pesawat gara-gara tertinggal HP di wastafel kamar mandi, Mamak sampai mukanya merah saking kesalnya sama Sofi!" Celoteh Sofi membuat suasana berubah rame.
"Kau ini Sofi, Sofi, kebiasaan buruk! Calon Bidan kok pelupa," ejek Azlan sambil terkekeh, sekilas Azlan melihat Dara dengan ujung matanya. Nampak Dara tertawa meski dalam hatinya ada gundah gulana.
"Kak, kok bisa Kakak dikeroyok begini? Biasanya Kakak kan jago beladiri, masa iya sabuk hitam karate kalah sama preman?" Cibir Sofia.
"Kau ini Dek, Dek, namanya dikeroyok mana bisa menang, satu melawan rame-rame langsung KO." Tukasnya membela diri. Sofia mencebikkan bibirnya tanda mengejek.
"Oh ya Kak, terus ini gimana? Sofi balik dulu saja ke kontrakan Kak Azlan bareng Yuk Dara, Sofi gerah pengen mandi, sambil menyimpan barang bawaan oleh-oleh dari kampung," ucap Sofia. Dara menatap ke arah Azlan pas Azlan sedang menatapnya. Dara langsung membuang tatapannya, dia merasa malu menatap Azlan.
Baru kali ini Dara begitu menderita menatap Azlan, sampai dia tidak kuasa menatap mata itu. Tapi sampai kapan ini semua akan berakhir. Dirinya jadi serba salah, terlebih sekarang ada Mamak dan Sofia. Ingin mengakhiri perang dingin ini, tapi akan terasa sulit jika Mamak dan Sofia mengetahui bahwa Dara dan Azlan sedang diam-diaman. Rasanya malu jika diketahui Mamak dan Sofia.
"Kalau begitu Dara sama Sofia pamit dulu ya Mak, nanti sore Dara datang kesini lagi sambil bawa makanan sama baju ganti Bang Azlan," ucap Dara tanpa berani menatap lagi Azlan.
__ADS_1
Mamak tiba-tiba menghampiri Dara dan berbisik lembut, "temui dulu Azlan, Mamak tahu kalian sedang perang dingin, ayo!"
Dara sejenak mematung mencerna bisikan Mamak, Dara menyimpulkan bahwa Mamak sudah mengetahui keadaan perang dingin antara dia dan Azlan. Dara tersadar ketika Mama sudah tidak ada di ruang rawat Azlan. Perlahan Dara menghampiri Azlan dengan ragu.
"Dara... balik dulu ya Bang, nanti Dara kesini lagi tungguin Abang!" Ucap Dara lirih menatap ke arah Azlan.
"Tidak perlu, Adek tidak usah datang lagi. Kan ada Mamak yang tungguin Abang." Tolak Azlan membuat Dara sedih seketika.
"Kenapa Abang tidak mau ditungguin Dara?" Tanya Dara heran.
"Abang tidak ingin merepotkan Adek, lagipula Adek juga tidak pernah menganggap Abang suami yang bisa diajak curhat, Adek selalu tertutup tentang apapun sama Abang, jadi buat apa Abang merepotkan Adek cuma buat menunggu Abang di RS?" Ujarnya dingin.
Dara menarik nafasnya dalam, menahan sesak di dada atas ucapan Azlan barusan. Dara tidak menyahut, matanya kini mulai berkaca-kaca. Kini baru disadari bahwa cowok yang awalnya benar-benar tidak diinginkan ini, sampai hati membuat Dara bersedih dengan sikap dinginnya. Untuk menyembunyikan air mata yang hampir mau luruh, Dara segera berjingkat.
"Dara pulang!" Ucapnya lemah dan pelan.
"Sebegitu kecewanya Abang sama Dara, sampai Abang belum bisa memaafkan Dara!" Gumannya dalam hati sedih.
Sementara Azlan, menatap sedih kepergian Dara. Ada rasa sesal dalam dada setelah ucapannya barusan. "Sayang... maafkan Abang!" Bisiknya penuh sesal.
"Mak, Dara pulang dulu ya. Nanti sore Dara kembali membawa makanan sama baju Bang Azlan. Kalau Mamak mau mandi, Mamak ke kamar mandi pasien saja, bisa kok!" Sebelum meninggalkan ruang tunggu, Dara berpesan dulu sama Mamak.
"Iya Neng, nanti Mamak mandi jika sudah gerah. *Baleklah*, hati-hati di jalan. Oh iya, naik apa dari sini Neng? Angkot atau Grab online?"
__ADS_1
"Angkot saja Mak. Sebab angkot, rutenya melewati kontrakan kami!" Ucap Dara sambil berpamitan. Sedangkan Mamak masuk ke dalam kamar rawat Azlan.
Dara pingak pinguk mencari Sofia yang tadi berada di ruang tunggu.
"Aduhh... kemana nih Sofia, kok hilang? Tadi di sini, tapi sekarang enggak ada?" Gerutunya pelan. Dara mencoba mencari ke taman belakang bangsal, namun Sofia tidak berada di sana.
"Duhhh... Sofia....!"
Dara bermaksud mencari Sofia ke ruang rawat Azlan, siapa tahu Sofia malah mencari Dara ke sana. Dara mendekati kamar Azlan, dan sebelum dia tiba, Dara mendengar Mamak sedang berbicara dengan Azlan.
"Lan... jangan biarkan Neng Dara bersedih lama-lama akan sikap Kau, Mamak kasihan lihatnya. Kau jangan terlalu kejam padanya. Mungkin dia bersikap seperti itu karena takut Kau akan bertindak kekerasan, Mamak tahu sifat Kau, Lan. Jadi tindakan Neng Dara untuk tidak cerita, ada baiknya untuk kebaikan Kau. Coba bayangkan jika Kau melakukan kekerasan pada anak itu, maka Mamak yakin dengan mudah Kau akan dijebloskan ke penjara, sementara anak itu kerabat seorang aparat. Sedangkan kita, mau minta perlindungan pada siapa selain sama Yang Maha Kuasa walau kita berdalih membela diri." Ujar Mamak panjang lebar.
"Jika menyangkut harga diri, Lan akan kejar orang yang melecehkan keluarga Lan, walau penjara resikonya. Masuk penjara tidak apa Mak buat Azlan kalau mengangkut harga diri orang yang Azlan cintai, Azlan akan tenang seumpama Lan matipun. Karena Dara orang yang paling berharga dalam hidup Lan, Mak. Tolong Mamak mengerti. Mengenai sikap Azlan yang dingin seperti ini, biarlah menunggu suasana hati Azlan baik. Mamak tahu kan gimana Azlan." Ucap Azlan berapi-api, membuat Dara seketika menitikkan air mata haru. Betapa besar cinta Azlan, sampai dia rela jika masuk penjarapun demi kehormatan Dara.
Dara berlalu dari ruangan itu dengan tidak mengganggu keberadaan Mamak dan Azlan yang tengah berbincang.
"Ya ampun Sofi... dari mana saja? Dara sejak tadi mencarimu Sof?" Dara heran dan kaget melihat Sofia yang tiba-tiba muncul.
"Aduh maaf Yuk, Sofi tadi kebelet BAB. Jadi tadi langsung nyungseb dan ngeden lama di sana. Sekarang plong banget Yuk." Terang Sofia sambil mengusap-usap perutnya yang tadi katanya plong.
"Oh pantes dicari ke liang Semut pun *dak katek*, oh rupanya nyungseb di lubang WC, hahahaa....!" Ucap Dara diakhiri tawa.
__ADS_1
"Ayo balik!" Ajak Dara sambil menggandeng adik iparnya yang kadang ngeselin.
"Ayuk ruponyo lah pandai yo ngomong Palembang," Ucap Sofia sambil mengikuti Dara.