
POV Dara
Pagi ini sepulang bekerja, Aku mampir sebentar bersama Nela ke Warung Mpo Sari, membeli jajanan buat sarapan pagi. Nela membeli makanan agak banyak, sampai aku merasa heran.
"Banyak banget Nel beli makannya, buat siapa sih?"
"Calon adik ipar mau main ke kontrakan Dar, Gua mau kasih sesajen biar dia ngadu ke Abangnya yang baik-baik!" alasan Nela sambil cekikikan.
"Husss... sesajen, emangnya calon adik ipar Lu Mbah Jambrong?" koreksiku.
"Hahaha... bukan Mbah Jambrong, tapi Nyi Kunti!" canda Nela diawali dan diakhiri tawa.
"Jadi, kalau Elu udah sah secara agama dan negara, enak dong Dar! Secara, Lu bisa hanimun tiap waktu sudah gak takut digerebeg lagi!" celetuk Nela lempeng mengalihkan obrolan.
"Duhh... ngomongnya itu jaga Nela, digerebeg! Emangnya Gua saat digerebeg tempo hari, Gua yang nakal dan sengaja mondok sama cowok gitu?" koreksiku geram.
"Sorry..., mana tahu saat itu Elu emang lagi nakal sama Bang Azlan, lalu mengelak karena terciduk warga, wakwakwak....!"
"Ihhh... sembarangan!" cebikku kesal.
"Ehhh...lihat tuh, bukannya itu Abang Lu? Lagi dikelilingi cewek-cewek keren!" seru Nela sambil menunjuk ke arah Kang Sayur. Aku sedikit kaget dan dengan cepat memutar tubuhku ke arah yang ditunjuk Nela. Mataku mengedar mencari sosok Bang Azlan.
Benar juga kata Nela, di dekat Kang Sayur ada seorang cowok berpakaian seragam Teknisi tengah sibuk memilih sayur. Rupanya Bang Azlan. Cewek-cewek keren yang dibilang Nela rupanya para Mahmud dan Emak-Emak berdaster yang selain milih sayur, juga ngobrol heboh sambil cekikikan. Sesekali ada juga yang dekat-dekat Bang Azlan, sambil menyoraki dan lain-lain. Bang Azlan juga nampaknya tidak kesal dan risih saat ada Mahmud yang mencoba akrab dengannya, bikin gendok aja ini hati.
"Jadi betah belanja di Kang Sayur kalau ada yang ganteng begini!" celetuk salah satu Emak-emak yang diamini yang lain.
Tiba-tiba saja hatiku terasa panas dibuatnya, sampai Nela yang ku tinggal pergi, ngibrit dari belakang menyusulku setengah berlari.
"Dar, Dara..., kenapa sih Lu? Tunggu kenapa?" protesnya dongkol.
"Cepat Nel!"
"Kenapa sih Dar, buru-buru amat? Hahhh...Gua tahu, elu pasti cemburu lihat Abang lu dikerubungi mahmud dan emak-emak?" tuding Nela.
__ADS_1
"Makanya, elu cepat bangun dari tidur, jangan mimpi melulu. Pengennya Oppa Korea, tapi malah dapat Oppa lokal. Terus bilangnya gak cinta, giliran Oppa lokalnya dikerubungi mahmud Elu cemburu!" sindir Nela tanpa dosa.
"Apa sih Nel, nyerocos melulu? Gua cuma pengen cepat-cepat sampai rumah biar bisa leyeh-leyeh," ujarku memberi alasan. Padahal hatiku jujur mengatakan, bahwa aku sedikit kepanasan lihat Bang Azlan ketawa-ketawa akrab sama perempuan lain.
"Kurang apa lagi Abang Elu, selain tampan mirip Jerry Yan versi Indonesia, Abang Lu juga multi talenan, bisa masak, nyuci, beres-beres, juga belanja. Cuma ngerayu Elu yang belum sukses. Pasti sampai sekarang elu masih belum dijebol, ya kan? Secara, Elu keburu BT karena dimusuhi Kakak sepupu Lu. A Wisnu yang tampan kayak Dewa Wisnu, hahahhaha....!" cerocos Nela tanpa rem.
"Udah Nela, sok tahu banget Lu!" cebikku kesal.
"Emang, Abang Lu gak pernah ngajak anu gitu, secara hubungan Elu yang notebene karena jebakan, ehh rupanya sah dimata agama sejak awal, kalau gak pernah minta, soleh amat Abang Lu. Kuat menahan hasrat!" tambah Nela lagi makin tidak karuan.
"Dosa Lu Dar nolak permintaan laki Lu yang udah sah di mata agama dan negara, dilaknat malaikat Lu dari malam sampai pagi, kata Ustadzah Nandhini!" sambar Nela lagi serius.
"Siapa Ustadzah Nandhini?" tanyaku heran.
"Itu tuh Ustadzah NovelOnline yang selalu setia mendukung penulis-penulis Online, supaya rajin up nya!"
"Ohh itu, Gua juga kenal dong Nela!" tegasku.
"Nanti malam kebetulan malam munggu, kalian happy-happy ke pasar malam, borong tuh jersey horor biar Lu sama Abang Lu bisa memulai main bola dengan mulus!" ucap Nela memberi saran gila. Aku cemberut tanda tak suka.
POV end
****
Tak berapa lama, Azlan tiba di kontrakan dengan membawa berbagai keresek belanjaan. Ada kue dan bahan sayuran. Benar kata Nela, Azlan memang multi talen, urusan apa-apa bisa, belanja saja tidak gengsi walau dikerubungi emak-emak. Cowok jaman sekarang jarang yang begitu, ada sih tapi sedikit.
"Adek baru pulang juga? Abang sudah belanja sayuran dan kue untuk sarapan. Sarapan dulu yuk!" ajaknya tanpa menunggu jawaban dari Dara. Azlan lantas ke dapur mengambil piring buat wadah kue.
"Dara juga beli kue di warung Mpo Sari!" balas Dara sambil memperlihatkan jajanannya.
"Ya udah, kita sarapan sama-sama sambil saling cicip!" ucap Azlan bersepakat.
Azlan dan Dara sarapan kue di pagi itu, keduanya nampak akur lagi. Dara walau hatinya masih galau karena memikirkan Wisnu yang belum mau membuka komunikasi dengannya, kini sedikit ceria. Seperti nyawa yang perlahan-lahan mulai hidup kembali.
__ADS_1
****
"Dek, nanti ke pasar malam yuk!" ajak Azlan disela sarapan paginya.
"Mungpung banyak waktu, besok hari Minggu. Kita Satnight di pasar malam aja. Pasar malam masih buka, sayang banget kalau kita tidak kesana. Siapa tahu Adek mau ada yang dibeli!" sambung Azlan.
"Jam berapa?" tanya Dara seolah memberi persetujuan.
"Habis Ashar saja biar santai, pulangnya Magrib!"
Dara diam seakan ragu.
"Kalau habis Isya saja gimana?" tawar Dara.
"Habis Isya takut kecapean dan keburu ngantuk!"
"Tapi Dara mau cuci baju, kalau habis Ashar takutnya baju saat ditinggal kena hujan!" alasan. Dara.
"Cuci bajunya sekarang, diangkatnya Zuhur sudah kering, Abang yang akan nyuci!"
"Biar Dara yang nyuci, Abang masak!" putus Dara.
"Baiklah... Abang setuju." Akhirnya mereka sepakat.
"Nanti habis makan malam, boleh tidak Abang meminta hak Abang memberi Adek nafkah batin?" tiba-tiba jantung Dara langsung degdegan mendapat pertanyaan yang mengagetkan itu. Dara nampak menarik nafas dalam sebelum menjawab. Ada ragu terlukis di wajah cantik Dara di pagi menjelang siang ini.
"Adek jangan takut, kita mulai dengan santai, Abang juga masih baru!" ucap Azlan menghibur Dara yang nampak pias.
Dara tersipu, makin membenamkan wajahnya seakan ketahuan apa yang dipikirkan di kepalanya oleh Azlan.
"Untuk permintaan Abang yang satu ini, dan untuk kali ini. Abang mohon lupakan sejenak sikap A Wisnu yang menjadi pikiran Adek. Tolong, Abang suami Adek, Abang pengen Adek mengerti perasaan Abang!" ucap Azlan memohon.
Dara perlahan mendongakkan wajah menatap Azlan, disana nampak gurat kesedihan.
__ADS_1
Azlan jadi merasa gak enak, Azlan berpikir permintaannya kali ini telah memaksa Dara dan menyakiti Dara, sehingga Dara sesedih itu.
"Ya sudah kalau Adek keberatan, Abang tidak akan memaksa!" ucap Azlan sambil berlalu ke dapur.