
Azlan masuk ke dalam kamar, sekilas dia masih melihat Dara yang termenung, dan sisa tangis tadi kini masih terdengar sedu sedannya. Gadis cantik pujaannya seakan sedih dan terpuruk, Azlan meyakini di sini Dara tidak bersalah atas kejadian tadi. Azlan melihat kejujuran di mata sendu gadis itu. Rasa iba menjalar di dada, tidak tega rasanya melihat gadisnya sesedih itu.
Azlan segera beranjak ke kamar mandi untuk menuntaskan segala rasa di tubuhnya. Lengket, bau mesin dan sebagainya dibilas dengan guyuran air dingin namun terasa hangat efek suhu udara yang begitu panas hari ini.
"Segar...!" gumannya.
Rupanya mandi tidak cukup menyapu rasa gerahnya, lalu Azlan menghidupkan kipas angin yang ada di ruangan itu.
Setelah melaksanakan kewajibannya dan berbenah diri, Azlan perlahan masuk ke kamar yang hanya disekat dua buah lemari plastik.
"Kenapa belum tidur, ini masih jam 9 malam, masih ada waktu untuk Adek istirahat." Dara tidak menyahut dia masih tenggelam dengan kesedihannya.
"Sudahlah Dek, tidak usah dipikirkan tentang hal tadi. Abang percaya sama Adek. Jadi, tolong tidak perlu sedih lagi," Azlan berusaha meyakinkan.
Perlahan tubuh Dara bergerak dan berputar kemana arah Azlan berada. Dara memeluk erat Azlan secara tiba-tiba. Tangis gadis itu kini pecah kembali, seakan menumpahkan segala kesedihan yang masih bersisa.
"Abang percaya sama Adek. Sudah, sekarang tidurlah dulu. Nanti malam Adek kerja, kan?" Dara tidak menyahut, dia masih menenggelamkan kepalanya di dada Azlan. Azlan mengusap-usap kepala Dara penuh sayang. Sebegitunya Dara takut tidak dipercaya oleh Azlan akan penjelasannya tadi, ini sebuah bukti buat Azlan bahwa Dara memang benar punya cinta untuknya.
Senyum Azlan kini berkembang, akhirnya Daranya yang dulu diperjuangkan penuh liku dan malu itu, kini hatinya mulai terbuka untuknya.
"Dara takut Abang tidak percaya sama Dara!" ucapnya pelan diiringi isak yang masih tersisa.
Dara mendongak lalu menatap Azlan dengan intens.
__ADS_1
"Dara takut untuk bekerja, di sana ada Bang Reno," ucapnya.
"Kalau Abang punya saran, mau tidak Adek mendengar atau menerima?" tanya Azlan ragu-ragu.
"Pasti Abang akan bilang untuk berhenti bekerja kan?" tebakan Dara tepat banget, Azlan menatap Dara was-was.
"Tidak, Dara tidak akan berhenti kerja cuma gara-gara cowok angkuh itu. Dara tidak akan lemah, akan Dara lawan keangkuhannya," ucap Dara lantang, menjawab pertanyaannya sendiri. Kesedihan yang tadi ada, kini sirna.
"Adek yakin dengan apa yang Adek katakan barusan?" tanya Azlan meyakinkan.
"Dara tidak mau dibilang pengecut sama Bang Reno, makanya harus Dara lawan," ucapnya lagi bertekad.
"Abang hanya takut Reno berbuat yang tidak-tidak seperti tadi!"
"Tapi Reno tampan, masa iya Adek tidak klepek-klepek sama dia, bukankah selama ini yang Adek sukai adalah tipe-tipe cowok kaya Reno?"
"Bang Reno hanyalah seorang cowok tampan yang angkuh dan PD tingkat dewa, Dara tidak suka," cebiknya kesal.
"Serius gak nih?" Azlan meyakinkan.
"Serius dong... kalau Abang tanya kenapa Dara tadi nangis, jawabannya, karena takut Abang tidak mempercayai Dara. Takutnya Abang kebawa omongan Bang Reno, padahal Dara jujur sejujur-jujurnya," tekan Dara mencoba meyakinkan.
"Abang percaya Dek, melihat kesungguhan Adek. Tapi, apakah bisa Adek bertahan di tempat kerja yang mana di sana ada Reno yang selalu mengganggu Adek? Yang Abang takutkan hanyalah dia berbuat jahat sama Adek, sedangkan Abang di sini cuma khawatir dan tidak bisa membela Adek secara langsung. Abang malah terlihat seperti seorang pengecut di mata Reno," Azlan menghela nafasnya dalam.
__ADS_1
"Seumpama Adek kenapa-kenapapun, Abang tidak bisa apa-apa. Adek ada masalah sama Reno saja, tahu dari dia karena dia datang sengaja kesini, kalau boleh tahu, sejak kapan Reno ada perasaan sama Adek?"
"Abang tidak usah khawatir, yang Dara perlu dari Abang adalah kepercayaan dan dukungan. Tolong percaya Dara ya! Untuk saat ini, jikapun Dara ada masalah sama orang dalam lingkungan kerja Dara, contohnya seperti kemarin, maka Dara tidak akan sampai keluar kerja cuma gara-gara gertakannya. Pliss... pahami Dara," ucap Dara sungguh-sungguh, penuh permohonan.
"Tentang sejak kapan Bang Reno ada perasaan sama Dara, dia ngakunya sejak Dara sebulan kerja di sana," terang Dara.
"Abang tetap khawatir Dek, belum lagi ancaman dari Meta waktu itu, sampai kini Abang merasa Meta akan melakukan sesuatu. Abang dapat firasat gak baik, Abang takut Dek!" ungkap Azlan khawatir. Dara diam beberapa saat seolah diingatkan akan kejadian saat Meta datang dan mengancamnya.
"Dara gak tahu Bang kalau apa yang diomongkan Kak Meta serius atau cuma gertakan, semoga saja cuma gertak sambal doang!" ucap Dara penuh harap.
"Ya udah, sekarang sebaiknya Adek tidur. Sebentar lagi Abang bangunkan untuk kerja." Dara mengangguk manja.
"Tapi, Adek yakin akan masuk kerja?"
"Dara yakin Abang... gak lihat gitu Dara begini semangatnya."
"Iya deh Abang percaya, kalau Reno macam-macam Adek harus lawan ya!" peringat Azlan sambil mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah sejenak sambil Abang peluk!" ucap Azlan seraya memeluk tubuh Dara lalu dicium-ciumnya pucuk kepala Dara.
"Betapa Aku sayang sama gadis ini, semoga Allah selalu menjaga kebersamaan kami dan menjaganya dari segala marabahaya, aamiin....!" doa Azlan penuh harap.
__ADS_1