
Azlan tengadah sambil memohon disertai linangan air mata.
" Abang mohon Dek, jangan minta Abang untuk melepaskan Adek, setidaknya sampai Abang pertemukan Adek sama keluarga Abang di kampung." Mohonnya mengiba.
"Anggaplah ini permohonan Abang yang terakhir kalau memang sekiranya Adek benar-benar ingin lepas dari Abang!" Pintanya lagi.
Dara terenyuh melihat Azlan memohon sambil berlinangan air mata, ada kesungguhan disana sekaligus putus asa. Dadanya tiba-tiba turun naik, sebetulnya dia tidak sanggup melihat cowok hitam manis itu duduk bersimpuh memohon padanya.
"Permohonan terakhir apa?" Akhirnya Dara bersuara namun ada sedikit getaran disana.
"Abang ingin mengajak Adek ke kampung halaman Abang, Abang ingin pertemukan Adek sama keluarga Abang di kampung." Jelasnya
"Buat apa Bang?" Tanya Dara pelan.
__ADS_1
"Setidaknya setelah kita benar-benar berpisah, keluarga Abang tahu bahwa Abang pernah bersama dengan Adek orang yang paling Abang cintai." Ucap Azlan terisak. "Abang tidak pernah inginkan perpisahan, bahkan Abang berharap hubungan kita ini kekal selamanya. Tapi jika Adek inginkan semua ini, Abang bisa apa?" Ucap Azlan lagi pasrah.
Sesak, itu yang Dara rasakan seketika saat ucapan Azlan baru saja. Dara inginkan perpisahan, namun palung hatinya merasakan hampa, merasakan bahwa ucapan Azlan adalah keputus asaan. Kenapa tidak mengatakan keteguhannya untuk mempertahankan Dara? Tiba-tiba sudut matanya menitikkan air mata.
Permohonan terakhir?, apa ini artinya setelah permohonan itu dikabulkan akan terjadi perpisahan? Dara sejenak terhenyak. Mulai menyadari sebuah kegamangan didalam hati.
Perlahan Dara melepaskan genggaman tangan Azlan sambil berkata
"Baiklah, Dara kabulkan permohonan Abang. Tapi janji setelah Dara kabulkan permohonan Abang, maka Abang harus menerima semua keputusan Dara atau permintaan Dara!" Ucapan Dara melunak, namun seakan-akan meminta permohonan balik.
"Kesempatan ini akan Abang gunakan sebaik-baiknya Dek, untuk kembali meraih hatimu yang diliputi marah dan cemburu. Entah bagaimana nanti keputusanmu, semoga perlakuan keluarga Abang mengubah hatimu menjadi lunak dan menerima Abang." Guman Azlan dalam hati penuh harap.
"Kita lihat saja Bang gimana perlakuan keluarga Abang ke Dara setelah ketemu Dara nanti. Keputusan Dara tergantung sikap dari keluarga Abang." Guman Dara dalam hati.
__ADS_1
Untuk beberapa saat kebekuan masih melanda. Dara dan Azlan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kalau boleh Abang meminta, tetaplah Adek disisi Abang!" Akhirnya Azlan bersuara mencairkan kebekuan. Sebuah permintaan yang membuat hati Dara tiba-tiba ada perasaan lega. Entahlah. Sebetulnya apa yang Dara inginkan?
"Kapan Abang akan ajak Dara ke kampung?, lebih cepat lebih baik biar Dara bisa ambil keputusan dengan cepat juga!" Respon Dara.
Azlan terdiam sejenak seakan mencoba mencerna pertanyaan Dara. Sebegitu besarnya Dara ingin lepas darinya. Azlan bingung kapan bagusnya waktu yang tepat pulang ke kampungnya, memperkenalkan Dara pada keluarganya?
"Kalau dua minggu lagi gimana Dek, kebetulan long weekend, hari Sabtu kan tanggal merah. Kita bisa berangkat dari sini Jumat malam pakai pesawat." Tukas Azlan. "Tapi waktunya singkat banget Dek, Minggu malam kita sudah harus balik lagi kesini. Tadinya Abang pengen ngajak Adek pulang kampung saat lebaran nanti, biar waktunya lumayan panjang." Lanjut Azlan.
"Kelamaan Bang nunggu lebaran, lagipula lebaran Dara mau balik kampung juga." Sahut Dara datar.
"Ya udah minggu depanny lagi, apa Adek siap?".
__ADS_1
" Terserah Abang?" Jawab Dara datar.