
Jam menunjukkan pukul satu siang, Pak Amar dan Azlan tiba di rumah. Dara dan Sofia serta Mamak tengah asik ngumpul di tengah rumah. Mamak sesekali ke bawah menemani Bik Ima yang tengah kerepotan melayani pembeli.
Setiap hari Sabtu Mamak sedikit repot, entah kenapa para pembelinya terutama Emak-emak yang membeli baju suka membeli baju di hari itu. Baik kontan atau nyicil. Alasannya, waktu luang sedikit longgar di hari Sabtu, katanya.
Dara yang tengah asik bercengkrama dengan Sofia menoleh ke arah Azlan yang baru pulang.
Seketika tatapan keduanya bertemu. Ada rasa rindu yang bergelora di dada Azlan, Darapun demikian. Mereka secara bersamaan saling melemparkan senyum.
"Hayohh... Kak Azlan ketahuan, curi-curi pandang.... " Gertak Sofia memergoki Azlan yang melempar senyum pada Dara. Secara bersamaan keduanya merasa malu dan salah tingkah dibuatnya.
"Jangan berdiri terus lah Kak, kayak patung. Sana geh mandi pake banyu dingin, jernihkan otak dan pikiran mesum Kakak!" cetusnya seakan menyindir. Azlan dibuatnya kesal dengan adik perempuannya itu, pasalnya Sofia seolah mempermalukannya di depan Dara. Azlan buru-buru ke kamar mandi, bersih-bersih dan sholat Zuhur.
Setelah sholat Zuhur, Azlan ikut gabung bersama Dara dan Sofi. Azlan mencuri pandang ke arah Dara. Sofia yang menyadarinya cuma senyum-senyum menggoda.
Tiba-tiba Mamak menghampiri dan mengajak Dara dan Sofia untuk membantunya membuat Pempek.
"Banyak banget buatnya Mak, pesanan siapa?" tanya Sofi.
"Ini pesanan orang yang mau tahlilan nanti malam, " jawab Mamak.
"Alhamdulillah, banyak juga ya Mak.... "
"Sekalian buat banyak, nanti buat dibawa Ayukmu pulang, " ujar Mamak. Sofia paham siapa yang dimaksud Mamaknya sebagai "Ayuk" nya itu.
Azlan yang melihat Dara dibawa ke dapur merasa dongkol. Tadinya pengen ngajak Dara ngobrol atau membawanya ke danau sekedar jalan-jalan, tapi lagi-lagi Mamaknya seolah menjauhkan dirinya dari Dara.
"Huhhh... " Azlan menghempas nafas kasar. Namun Azlan tidak habis akal, dia mengikuti ke dapur dengan dalih mau membantu.
"Tidak usah Lan, Kau tuh bantu Bapak saja di toko," cegah Mamak.
"Udah sana, cowok jangan ikut nimbrung bikin Pempek, rewangi (bantu) Bapak geh di toko, " usir Sofia sambil tertawa. Azlan nampak kesal pada Sofia, namun akhirnya dia menuruti kata-kata adik perempuannya itu.
Hari mulai senja, Pempek yang dibuat ketiga perempuan beda generasi itu selesai juga. Dara mulai pandai bikin Pempek Lenjer dan juga Kapal Selam. Kalau masalah bahan-bahan dan takarannya, tinggal minta lagi ke Mamak atau lihat langsung ke aplikasi KuTub. Ah...tapi mending nanya langsung ke Mamak, sebab Pempek buatan Mamak enak tak ada duanya, apalagi kuah cukonya itu pedas mantap. Pikir Dara.
"Sekarang Neng Dara lah pacak (sudah bisa) buat Pempek, milin-milinnyo jugo pacak (juga bisa)," puji Mamak tulus. Dara jadi malu dibuatnya.
"Tidaklah Mak, Dara belum pandai betul. Masih perlu belajar," tepis Dara tersenyum malu.
"Iyo tuh Yuk Dara pacak buat Pempek. Jadilah biso buko (bisa buka) kedai Pempek di Cikarang," timpal Sofia diakhiri tawa.
"Ada-ada saja Sofi, Dara belum pacak betul bikinnya," tepis Dara lagi sambil tersengeh.
Sementara Azman yang selalu bertugas mengantar pesanan Pempek, telah siap untuk melaksanakan tugas dari Mamak. Azlan juga bersiap untuk mewakili Bapak membantu tetangga yang akan mengadakan tahlilan tersebut.
Malam mulai menyapa, ba'da Isya Bapak, Azlan, dan Azman pergi ke tempat orang yang mengadakan tahlilan.
Sementara Mamak tergopoh menghampiri kamar Sofia untuk mengajak keduanya makan malam. "Ayok anak-anak, kita makan malam dulu. Sofi, ajak sekalian Bik Ima. Toko suruh tutup saja sudah pukul tujuh lebih," ajak Mamak.
"Bik Ima tadi sudah bilang tidak akan makan disini Mak. Sebentar lagi toko tutup, Bik Ima akan langsung pulang," jawab Sofia.
__ADS_1
"Sofi nanti saja Mak, pulang dari rumah Ana. Sofi mau menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan Dosen!" sambung Sofia seraya memasukkan bukunya ke dalam tas gendongnya.
"Kenapa tidak dari sore saja Sof, mengerjakannya?" Mamak sedikit heran.
"Dosennya baru kasih info via WA tadi sore Mak. Ya udah, biar nanti tidak kemalaman pulangnya, Sofi pergi sekarang ya Mak," alasan Sofia sambil pamit menyalami tangan Mamak.
"Yuk Dara, Sofi pergi dulu ya!" pamit Sofi pada Dara sambil tersenyum. Dara balas senyum seraya melambaikan tangannya.
"Hati-hati Sof...!"
"Siap Yuk, gak lama kok. Lagian rumah Ana dekat cuma beda RT saja," ucap Sofia sambil berlalu.
"Ayok Neng, kita makan malam dulu, biarlah kita berdua," ajak Mamak sambil menggandeng lengan Dara. Dara merasa diperlakukan seperti seorang anak oleh Mamaknya Azlan. Tak segan-segan Mamak menunjukkan sikap sayang pada Dara, membuat Dara terharu.
"Biar nanti Mak, tunggu Bapak pulang dari tahlilan."
"Tidak... biar kita duluan, mereka pasti lama ngobrol-ngobrol dulu," ucap Mamak setengah memaksa. Karena Mamak memaksa, akhirnya Dara mengikuti ajakan Mamak. Kali ini mereka makan malam berdua disertai obrolan santai yang kadang diselingi tawa.
Makan malam selesai, Dara segera membereskan bekas makan mereka, lalu dicuci tanpa bisa dicegah.
Dara pamit ke kamar Sofia, sejenak dia membaringkan tubuhnya yang sedikit engap karena kekenyangan, juga tangannya yang sedikit pegal akibat tadi belajar bikin Pempek. Diraihnya HP yang sejak sore tidak dia sentuh. Lalu dilihatnya banyak pesan WA masuk. Dari Nela dan Azlan.
Pertama Dara membuka WA dari Nela dulu.
["Dara, Lu apa kabar? Gimana disana baik-baik kan? Keluarga Bang Azlan sikapnya baik apa garang? Elu nggak sampai cacat kan? Sudah bisa Gua tebak pasti baikkkkk banget, sampai Elu gak akan bisa menolak Bang Azlan? Iya Kan?"] repet Nela panjang lebar.
["Kepo....!"] Jawabnya disertai emot bibir mencebik. Biar saja Nela penasaran, kepo amat sih. Gerutu Dara dalam hati.
Kini giliran pesan WA dari Azlan dibuka.
["Adek... lagi apa, sudah makan belum?"]
WA Azlan masih baru, terlihat dari jam yang terkirim pukul 19.45 menit. Baru saja.
["Lagi tahlilan kok bisa kirim WA, pamali tahu doakan orang meninggal tapi tidak khusu ð ð ."]
[Abang kebagian di luar, Dek! Di dalam penuh sesak."] jawab Azlan.
["Alasan... ððð."] Dara.
["Gak alasan... ððð"] Azlan.
["Ih... amit-amit ðĪŪðĪŪðĪŪ."] Dara.
[" Adek, kangen ih... ððð."]
["ððð...."] Dara.
[" I love you, sayang ðĨ°ðĨ°ðĨ°ððð."]
__ADS_1
[" ðŽðŽðŽðĪŠðĪŠðĪŠ off!"] Dara langsung mematikan HPnya, entah kenapa tiba-tiba kesal.
Dara tersadar, saat pintu kamar terdengar diketuk padahal pintu tidak tertutup, hanya sedikit menyisakan celah. Dara bangkit dari baringnya, lalu duduk di atas dipan. Mamak langsung masuk tanpa nunggu dipersilahkan.
"Kenapa bangun, kalau sudah ngantuk tidur lagi saja!" ucap Mamak merasa gak enak.
"Tidak kok Mak, tadi Dara cuma baringan doang sambil lihat HP, Dara belum ngantuk kok," alasan Dara.
"Kalau begitu, boleh Mamak ngobrol serius sama Neng Dara barang sebentar saja!" ucap Mamak disertai gerakan memohon. Hati Dara bertanya-tanya, ada apa gerangan yang mau diobrolin Mamaknya Bang Azlan, sampai bilang serius segala. Jantung Dara tiba-tiba berpacu lebih cepat.
"Boleh Mak, memangnya obrolan serius apa Mak?" tanya Dara heran sekaligus penasaran.
"Pertama-tama Mamak mau minta maaf." ucapannya sendu.
"Minta maaf kenapa, Mak?
" Minta maaf atas nama anak Mamak, Azlan!"
"Mamak harap Neng Dara mau berbesar hati memaafkan kesalahan Azlan, Mamak tahu itu sulit, dan Neng Dara pasti kecewa dengan cara Azlan yang seakan merendahkan harga diri Neng Dara didepan orang-orang. Belum lagi reaksi orang tua Neng Dara yang pastinya akan sama marah dan kecewanya seperti yang dirasakan Neng Dara. Mamak tidak bisa bayangkan semarah apa mereka jika tahu kelakuan Azlan yang sehina itu," ucap Mamak panjang disertai isak lalu disusutnya air mata yang memaksa untuk turun. Sejenak Mamak mengatur nafasnya dalam-dalam seakan ada hantaman yang begitu berat.
Dara tak kuasa menahan haru, sebegitu beratnya beban derita yang dirasakan Mamak akibat ulah anaknya. Rasa bersalah nampak jelas diwajahnya. Dara merangkum wajah Mamak, dia menatap lekat wajah wanita paruh baya itu yang masih diliputi sendu.
"Mak, tatap mata Dara... disini di mata ini, Mamak bisa melihat apa saja yang Dara rasakan. Kesedihan, kekalutan, kekecewaan, bahkan kebahagiaan atau kebohongan sekalipun, bisa Mamak lihat. Sekarang di hadapan Mamak, Dara katakan bahwa Dara sudah memaafkan. Memang awalnya begitu sulit, namun ketika melihat perlakuan Mamak dan keluarga disini begitu baik dan menerima Dara dengan baik, Dara perlahan mulai kesampingkan ego Dara. Dara tahu manusia pasti selalu ada khilaf, namun saat kita sadar bahwa betapa rendah serendah-rendahnya kita di hadapan Yang Maha Kuasa, maka tidak ada yang lebih baik selain memaafkan dan mengikhlaskan. Bukankah Tuhan saja Yang Maha Segalanya, masih mau memaafkan umatnya yang bersalah, kita cuma manusia biasa kenapa tidak bisa? Mungkin semua ini sudah jalannya dari Allah. Dara harus melewati semua ini dengan lapang dada. Jadi, sekali lagi mulai saat ini Mamak tidak perlu khawatir akan perasaan Dara. Dara sudah ikhlas Mak. Lagipula alangkah bahagianya Dara bisa mendapatkan kasih sayang Mamak yang mengingatkan Dara pada Ibu di kampung. Rindu Dara jadi sedikit terobati oleh kasih sayang Mamak." Dara diam sejenak menjeda kata-katanya yang panjang lebar dan mendadak bijaksana. Dara menarik nafasnya dalam serta menyusut air mata yang mulai turun.
"Jadi, Dara mohon, mulai detik ini Mamak tidak usah sedih lagi. Dara sudah tidak apa-apa Mak," ujar Dara tulus. Mamak menatap dalam mata Dara seakan mencari kebenaran atas ucapan Dara barusan.
"Gadis ini nampak tulus dan baik, alangkah bahagianya apabila dia juga mau menjadi menantuku, mau menerima Azlan dengan tulus," guman wanita paruh baya itu dalam hati.
"Mamak bahagia mendengarnya, Neng Dara mau berbesar hati memaafkan kesalahan Azlan.
Alangkah bahagianya juga apabila Neng Dara benar-benar mau menerima Azlan." Mamak menjeda ucapannya.
"Ini...Mamak punya sesuatu buat Neng Dara...." Mamak tiba-tiba menyodorkan sebuah benda ke hadapan Dara.
"Ini apa Mak?"
"Bukalah....!" perintah Mamak. Dara mengikuti perintah Mamak.
Setelah dibuka, rupanya sebuah kalung emas. Dara tidak tahu apa yang dimaksud oleh Mamak.
"Kalung ini sudah turun temurun berada di keluarga kami, dan rasanya Neng Dara pantas menerimanya, karena Neng Dara sudah Mamak anggap seperti anak sendiri,"
"Kenapa Dara Mak, Dara tidak pantas menerima kalung turun temurun ini?" Dara menolak dengan halus.
"Neng Dara pantas menerimanya, ambillah," Mamak meletakkan kotak perhiasan itu di pangkuan Dara, seolah memaksa Dara untuk menerimanya. Dengan ragu Dara mengambil kotak perhiasan yang berisi kalung itu.
"Tidak usah ragu Nak, terlepas Neng Dara menerima atau tidaknya Azlan, Neng Dara tetap pantas menerima ini sebab Neng Dara orang yang benar-benar tulus dan baik hati." Mendengar penuturan Mamak seperti itu Dara nampak malu dan terharu.
"Simpanlah, pakailah saat Neng Dara mau memakainya." ucap Mamak lembut. Kini perlahan-lahan wajah sendunya mulai berganti dengan senyuman. Dara dengan berat hati menerima kalung turun temurun itu, sebab dirinya merasa tidak pantas.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Sofia pulang. Lalu Bapak, Azlan dan Azmanpun menyusul. Mereka pulang disaat yang tepat, disaat dimana Dara dan Mamak sudah saling menumpahkan semua perasaan dalam hatinya masing-masing.