Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Selamat Malam


__ADS_3

Saat pulang kerja, Dara dikejutkan dengan keberadaan Mamak dan Azlan. Hati Dara bahagia bisa melihat lagi Azlan di rumah sepetak ini, namun rasa bahagia itu menjadi sedikit pudar mengingat sikap Azlan yang masih dingin padanya. Bingung, bagaimana Dara harus bersikap? Cuek atau dia harus berusaha hangat dengan resiko dicuekkan Azlan.



"Assalamu'alaikum....!" ucapnya.


"Wa'alaikumsalam....!" jawab Mamak, Azlan dan Sofia kompak.


"Mamak... sudah balik Mak?" serunya dengan binar bahagia, seraya mencium punggung tangan Mamak takzim. Kini giliran Dara menyapa Azlan. Namun tiba-tiba dadanya bergejolak dan berdegup kencang. Dara menjadi ragu untuk menyalami Azlan. Mengingat sikap Azlan yang dingin padanya. Tapi, di samping ada Mamak dan Sofia, pasti saat ini mereka menantikan momen Dara yang akan menyapa Azlan.



Dengan degupan jantung yang semakin berdebar, Dara memaksa langkah kakinya menghampiri Azlan yang kini berbaring di ruang tengah.


"Abang....!" Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Dara seraya meraih tangan kanan Azlan dan diciumnya. Lalu Dara perlahan kembali bangkit dengan tatapan mata yang tidak berani menatap Azlan. Percuma menyodorkan diri seperti kemarin, toh Azlan pasti akan bersikap seperti kemarin, dingin. Pikir Dara dalam hati.


Azlan menatap Dara dengan ujung matanya saat Dara mulai bangkit kembali, ada rasa berat hati melepas Dara, namun egonya terlampau tinggi. Padahal Azlan ingin merangkul Dara. Tapi tidak mungkin, sebab disebelah ada Mamak dan Sofia. Duhh... benar- benar situasi yang tidak menguntungkan bagi Azlan. Kenapa juga dia begitu ego, saat kemarin Dara berusaha mencuri perhatiannya, namun Azlan sama sekali tidak meresponnya. Azlan merasa sangat menyesal dan kecewa.



"Mak, Dara tadi beli Es Boba di depan Pabrik, ini Dara belikan buat Mamak dan Sofi," ucap Dara sambil meletakkan tiga buah cup besar Es Boba termasuk untuk dirinya.



"Asikkk... Sofi mau Yuk," serobot Sofi tanpa malu-malu.


"Tapi... kok Kak Azlan tidak dibelikan? Pasti Ayuk maunya satu cup berdua bareng Kak Azlan ya?" tebak Sofi yang 100% salah. Dara jadi bingung dengan pertanyaan Sofi barusan. Lebih baik Dara diamkan saja Sofi tanpa menghiraukan ocehannya.


"Wah... pasti enak *yo rasonyo* ES Boba, Mamak belum pernah cubo," seru Mamak seraya meraih cup Es Boba yang masih tersisa dua cup lagi.


"Cobalah Mak, enak kenyal-kenyal."


"Sruput... ahh...!" suara Sofia menyeruput Es Boba dengan penuh perasaan.


"Wah... enak ya, kenyal-kenyal gitu," seru Sofia sambil melirik ke arah Azlan.


"Kak Azlan mau...?" tawar Sofia.

__ADS_1


"Bang Azlan tidak suka Es Boba, Sofi!" sergah Dara.


"Oh... pantesan Yuk Dara tidak membelikan buat Kak Azlan."


"Gimana Mak, enak tidak Es Bobanya?" tanya Dara.


"Lumayan Neng, untuk menghilangkan dahaga sore yang panas ini."


Dara melirik sekilas ke arah Azlan, dalam hatinya ada rasa tidak nyaman dengan situasi yang saling mendiamkan seperti ini. Rasanya mencekam, dekat namun jauh.


...****************...


Malampun menjelang, jam menunjukkan pukul 9 malam, Mamak sudah terlihat sangat ngantuk dan lelah. Beliau masih memaksakan matanya melek dengan melihat acara di salah satu stasion TV swasta, tubuhnya kadang bergoyang-goyang pertanda rasa kantuk sudah tidak tertahan. Saat ini situasi benar-benar membuat Dara serba salah. Dara bingung harus tidur di mana. Sementara Mamak sudah sangat lelah.


"Mak, ayo pindah Mak ke dalam. Dara sudah bereskan kamar. Mamak tidurnya berbagi dengan Sofi." Akhirnya Dara mengambil keputusan yang menurutnya tepat. Masa iya dia yang tidur di kamar bersama Sofia, sementara Mamak menemani Azlan dan menunggunya jika Azlan ada perlu? Sangat tidak etis jika saat ini Dara meninggikan lagi egonya. Mungkin untuk kali ini dia mengalah demi Mamak.



Dara meraih bahu Mamak yang kurus, diangkatnya lalu ditarik lembut menuju kamar. Menghampiri Sofia yang sedang telponan dengan temannya.




Dara kembali ke ruang tengah setelah mengantar Mamak ke kamar. Disini situasi canggung dimulai. Dara berharap Azlan menyapanya atau meminta sesuatu atau apa. Namun dari sejak dia pulang kerja tadi, Azlan tak satupun menyapa atau mengajak ngobrol dengannya.



"Hufff... hahhhh....!" Dara menarik nafasnya dalam, kini dia sedang menyiapkan kata untuk berbicara sedikit banyak pada Azlan. Dara akan mengalah atau bagaimana? Lalu...



Dara membenahi ambal yang akan dia pakai berbaring saat ini di samping Azlan, dia lipat dua sehingga menjadi lebih tinggi. Azlan rupanya mengawasi Dara yang sejak tadi serba salah. Namun Dara tidak menyadarinya.


"A-abang mau minum?" tanya Dara sedikit tersendat, habisnya Dara sangat bingung kata apa yang pantas terucap pada Azlan.


Dara mencoba membantu Azlan duduk. "Kenapa Bang Azlan ini begitu egois, dulu dia begitu hangat walau sejutek apapun Dara. Mungkin ini balasan Azlan untuk Dara,"

__ADS_1


"Ini... Abang minum dulu," sodor Dara sambil menikmati suasana yang benar-bebar canggung.


"Dek...!" Tiba-tiba Dara dikejutkan oleh suara Azlan.


Dara dengan cepat menoleh ke arah Azlan dan saat itu juga tatapannya saling bertemu.


"Tidurlah... disini, Adek sudah nampak lelah!" ajaknya sambil menunjuk ke arah samping Azlan.


Dara terhenyak, sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Azlan berbicara padanya. Hatinya kembali bersinar.


Dara menatap Azlan lalu dia berkedip karena tidak tahan dengan tatapan Azlan yang lekat.


"Matikan lampunya, dan Adek tidur di samping Abang. Tidurlah, Adek nampak sangat lelah," ulangnya yang segera Dara laksanakan. Dara berdiri, lalu mematikan saklar lampu. Dan ruangan berubah remang-remang memunculkan suasana romantisme.



Dara masih terpaku. Dia belum berani membaringkan tubuhnya di samping Azlan. Namun tanpa Dara sadari secepat kilat, tangan kanan Azlan meraih pinggang Dara, sontak tubuh Dara jatuh menimpa Azlan. Dara terkejut, rasanya kejadian ini sangat memalukan


Dia jatuh tepat di dada Azlan, dan tatapannya langsung menatap Azlan.


Alamak.... mata sendu itu.


"Adek, Abang kangen sama Adek....!" Tiba-tiba ungkapan yang tidak disangka Dara keluar dari mulut Azlan. Jantung Dara seketika berdegup makin kencang. Saat Dara mencoba melepaskan rangkulan Azlan, dengan cepat Azlan mengangkat kepalanya sedikit, dan apa yang dilakukan Azlan?


Keduanya kini saling berpaut menyatukan sebuah kerinduan. Ciuman yang tidak disangka-sangka itu terjadi saat keduanya mengalami pergolakan batin dan ego yang sama-sama tinggi. Padahal rasa rindu pada ke-dua begitu membuncah.



Azlan melepaskan tautan bibirnya setelah tengkuknya mulai lelah.


"Tidurlah, Adek sangat lelah," ucapnya memberi isyarat supaya Dara berbaring di samping.


Tanpa lama, Dara patuh dan membenahi dirinya di samping Azlan. Lalu tangan kirinya memeluk tubuh Azlan dengan posisi tubuh menyamping.


Sekian hari Dara menantikan kehangatan Azlan, dan kini dia merasakannya kembali. "Abang kangen, tapi... malam ini kita tidak bisa," bisiknya memberi kode. Dara langsung mencubit hidung Azlan.


__ADS_1


"Abang harus tahu diri dan situasi," peringat nya sambil membungkam dengan ciuman singkat di bibir Azlan.


Selamat malam.


__ADS_2