
Rombongan mobil keluarga Azlan mulai meninggalkan halaman rumah orang tua Dara secara beriringan. Bu Endah dan Pak Malik nampak melambaikan tangan. Begitupun Azlan dan Dara yang masih menunggu GrabCar tujuan Leuwipanjang, lalu sambung bis Primajasa jurusan Bandung-Cikarang.
"A Wisnu mana Bu? Sejak malam sehabis makan malam tidak kelihatan?" tanya Dara seraya mencari-cari sosok Wisnu Kakak kesayangannya. "Wisnu pergi ke barak melihat temannya yang sakit, katanya."
"Wah... Grabnya sudah datang tuh!" tunjuk Dara menghentikan obrolan mereka. "Kami pamit dulu ya Bu, Pak!" pamit Azlan seraya menyalami kedua tangan Uwa mertuanya. Giliran dengan Dara, kedua orang tua itu seakan belum ikhlas kehilangan Dara. "Ibu sama Bapak masih kangen Neng, coba lebih lama lagi disini. Pasti Ibu sama Bapak tidak akan kesepian," desahnya menyimpan kesedihan seraya memeluk Dara.
"Dara bukan tidak kangen Bu, tapi lusa kami harus sudah masuk kerja lagi. Doakan kami supaya selamat dan lancar dalam perjalanannya ya!" pinta Dara sambil memeluk erat Ibu atau Uwanya itu, lalu menyalami Pan Malik. "Hati-hati ya Neng! Nak Azlan, titip Neng Dara ya!" ucap Ibu berpesan sebelum Dara benar-benar meninggalkan halaman rumah itu. Walau berat hati, kedua orang itu kemudian melambaikan tangannya sambil berkaca-kaca.
Perjalanan yang ditempuh kurang lebih lima jam itu, kini sudah tiba. Azlan dan Dara tiba di kontrakan idaman mereka. Tadinya setelah resepsi pernikahan, seperti yang pernah direncanakan Azlan beberapa bulan yang lalu yang merencanakan akan pindah jika sudah melaksanakan resepsi. Namun rencana tinggal rencana, Dara rupanya belum siap pindah ke perumahan itu dengan alasan penghuni perumahan masih sepi. Memang benar, Azlanpun merasa khawatir harus meninggalkan Dara saat kerja shift malam. Akhirnya sewa rumah itu diperpanjang oleh Pak Hendra satu tahun ke depan.
Sementara itu di tempat lain, saat rombongan mobil keluarga Azlan sudah berlalu dan jauh dari rumah keluarga Dara, Sofia tengah mengutak atik HPnya. Dia nampak gelisah. Insiden ditabraknya oleh Kakak sepupunya Dara, masih terbayang-bayang sampai kini. Kadang Sofia nampak senyum-senyum sendiri.
Kejadian kemarin benar-benar berkesan baginya, bertemu cowok ganteng nan cool tapi jutek, menurutnya cowok itu lebih ganteng dari Oppa Lee Min Ho, umurnya juga lebih muda, ototnya juga kekar, kelihatan sekali rajin berolahraga. Sofia baru kali ini merasa terkagum-kagum dengan seorang cowok, terlebih dirinya sedang tidak memiliki pacar.
Jika diputar kembali kejadian kemarin, Sofia merasa mendapatkan sebuah kebetulan, saat dia menyumpahi cowok tampan itu supaya dompetnya ketinggalan, dan rupanya benar-benar ketinggalan. Kemudian dia menemukannya. Benar-benar seolah doa yang langsung dikabul. Teringat juga dengan ucapan Dara yang saat akan makan malam keluarga tadi malam, memaksa Sofia untuk berkenalan dengan cowok cool dan jutek bernama Wisnu itu. Menyuruh tukaran nomer WA karena besok tidak akan ketemu lagi, kecuali jodoh. Kata-kata iparnya itu begitu terngiang-ngiang di telinga Sofi. Hati kecilnya bahkan mengaminkan ucapan Dara itu.
Namun Sofia masih merasa ada tembok antara dirinya dan cowok bernama Wisnu itu, cowok berperawakan atletis itu sama sekali tidak pernah memperlihatkan senyum padanya. Padahal Sofia berusaha ramah dan tersenyum, namun tidak sekalipun dibalasnya. "*Aduh... Sofia, ada apa sih* *dengan hatimu ini*?" Sofia bermonolog.
Kini Sofia sedang bingung, tadi saat akan pulang dia tidak menemukan sosok Wisnu. Niatnya ingin pamit dan melihat wajah gantengnya untuk yang terakhir kali kecuali jodoh, namun si tampan yang cool itu tidak muncul-muncul. Sehingga membuat Sofia sedikit kecewa dan sedih. Ingin rasanya menuliskan pesan WA, untuk sekedar mengucapkan kata pamit. Namun ragu.
__ADS_1
Ketak ketik ketak ketik... belum juga dikirimkan. Sofia masih menimbang-nimbang sebab akibatnya. Jika tidak dibalas, resiko kecewa akan dia tanggung. Kemarin Dara memberikan nomer WA Wisnu padanya. Dan sekarang dia seakan gemetar hanya sekedar melihat tulisan di WAnya.
"Assalamu'alaikum... A Wisnu, maaf mengganggu! Sofi hanya mau memberitahukan bahwa Sofi hari pamit, tadi tidak bertemu A Wisnu. Jadi pamitnya lewat WA." Pesan WA terkirim namun belum ada balasan.
Satu jam, dua jam, sampai mobil masuk Tol Cipularang, balasan WA dari Wisnu belum nampak belangnya. Sofia tambah kalut dan kecewa, namun apa boleh buat dia hanya bisa menunggu.
"Huhhh....!" desahnya kecewa. Mungkinkah Sofia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama pada cowok tampan nan cool itu, sehingga dia merasa kecewa hanya WAnya tidak dibalas. "Huhh... emang dasar cowok angkuh, sok kecakepan!" gerutunya sebal.
"Selamat jalan, semoga selamat sampai
tujuan," balasnya tanpa dibubuhi emot apapun.
"Dihhh... lempeng banget nih orang, coba basa-basi kek, apa kek, tanya kabar kek... dasar cowok angkuh, " rutuknya kesal.
__ADS_1
Sofia ingin membalas WA dari Wisnu, tapi apa selain ucapan "terimakasih", tiba-tiba dia ada ide sedikit gila sambil tersenyum Sofia menuliskan balasan WA.
" Terimakasih A... emmm boleh tahu tidak, Aa udah punya pacar atau belum?" langsung terkirim. Saat Sofia menyadari alangkah balasan WA itu terlalu frontal dan berani, Sofia segera memeriksa kembali WAnya bermaksud ingin menghapusnya. Namun alangkah kecewanya Sofi, rupanya balasan WAnya sudah dibaca sama Wisnu.
"Celaka... malu aku sudah nanya masalah privaci orang," umpatnya seraya memejamkan matanya karena kini dia benar-benar ngantuk.
"Ting....!" bunyi notif berdenting. Sofia langsung tersadar dan membuka WAnya. Disana cuma ada balasan tanda tanya yang banyak. "?????????," bikin Sofia bingung.
Baru saja Dara ingin membaringkan tubuhnya, tiba-tiba Azlan datang membaringkan tubuhnya juga di samping Dara, seraya memeluk Dara dan mencumbunya. "Ini malam pertama kita setelah resepsi," ucapnya disertai ciuman kecil di sekitar leher Dara. "Geli Abang."
"Ayo... Abang sudah sangat kangen....!" rayunya sayu. Dara sudah paham maksud Azlan. Kemudian keduanya larut dalam buaian asmara yang bergelora dalam hasrat yang sama.
"Abang, kemarin Dara mengenalkan Sofi sama A Wisnu, bahkan mereka sudah Dara paksa saling tukar nomer WA. Kalau kita jodohkan, gimana?" tiba-tiba Dara bicara disela-sela berakhirnya pertautan mereka. "Apa....?" Azlan sontak terkejut. Bukan apa-apa, dirinya tahu Wisnu masih mencinta Dara.
"Sudah... jangan terlalu memikirkan mereka, lebih baik kita memikirkan kita yang sedang happy ini," sergah Azlan seraya semakin erat memeluk tubuh Dara. "Tapi mereka kayaknya cocok,"
"Sudahlah... Adek jangan bahas yang lain. Sekarang alangkah baiknya kita tidur, Abang sangat ngantuk."
__ADS_1