
Wisnu dengan percaya diri memperkenalkan Sofia sebagai calon istri yang akan dia nikahi, di depan teman-teman senior maupun yuniornya.
"Selamat ya Bang, akhirnya mendapatkan tambatan hati, ayu tenan lagi." Joni yunior paling kalem di barak memberikan selamat.
"Pandai kali Abang kita nih, sekali bawa gandengan, cantiknya puol....!" Sirait menimpali dengan bentuk bibir yang mengerucut. Begitupun dengan yang lain, bergantian mengucapkan selamat pada Wisnu. Kali ini ledekan mereka berakhir pujian, sebab mereka bilang gandengan yang dibawa Wisnu cantiknya puol seperti yang Sirait bilang.
Setelah kurang lebih satu jam berada di barak dan memperkenalkan Sofia pada yunior maupun seniornya, Wisnu berpamitan dan segera beranjak sebelum dia menjadi bulan-bulanan warga barak. Sebab seperti sudah menjadi kebiasaan, setiap kawan-kawan yang sebentar lagi akan menikah, maka mereka ditodong untuk mentraktir warga barak, minimal nasi bungkus per orang. Ingat akan hal itu, Wisnu mempercepat langkahnya, alangkah baiknya dia segera cabut.
"Gua balik dulu, tunggu undangan dari Gua!"
"Woyyyy... Bang, mana traktirannya!" teriak Hehanusa seakan baru menyadari kebiasaan nodong warga barak, jika ada yang mau menikah ditodong traktiran minimal nasi bungkus. Sebelum berakhir ricuh, Wisnu secepatnya mengajak Sofia segera pergi. Dan Jeep yang dikendarai Wisnu mulai berjalan perlahan meninggalkan barak dengan sejuta kehebohannya.
"Bang... Bang... wah kabur dia....!" Sirait berteriak memanggil Wisnu namun Wisnu tidak menggubrisnya. Jeep terus berjalan meninggalkan barak dan berhasil keluar dengan mulus dari komplek Kopassus. Wisnu merasa lega telah lolos dari todongan teman-temannya. Bukan apa-apa, dia malas saja harus mentraktir teman-temannya, apalagi bejubel, sebarak juga kurang lebih 30 orang, tanggung dikatain pelit, ya sudahlah....
Sofia duduk diam dengan perasaan yang tidak menentu. Jeep yang dijalankan Wisnu entah mau kemana, dia tidak berani bertanya. Hanya ada satu yang ingin Sofia tanyakan, yaitu benarkah yang dikatakan Wisnu pada teman-temannya itu serius? Kalau benar serius, artinya hanya tinggal nunggu minggu saja dirinya akan dilamar dan menikah dengan Wisnu. Dan tiba-tiba bayangan pernikahan ada di depan mata.
Sofia dan Wisnu bersanding di pelaminan beradatkan pengantin Palembang. Sofia nampak sangat cantik dengan bermahkota bersusun 7. Tidak terbayangkan alangkah pegal dan sakit kepala Sofia menahan beban mahkota yang nampak berat. Namun hasil yang sangat cantik dipadukan dengan songket berwarna merah keemasan, ditambah terate atau gelang-gelang sebagai aksesoris menambah pesona kecantikan Sofia berkali-kali lipat.
Disandingkan dengan seorang Wisnu yang memang sudah tampan tanpa oplas, tubuh atletis, perawakan tinggi, kulit kuning langsat bersih, berhidung mancung dan bibir yang tipis tapi bervolume. Nampak semakin tampan dan berkharisma. Ketampanan yang semakin paripurna, Wisnu mengenakan pakaian adat pengantin Palembang. Sangat gagah dan semakin berkharisma. Semua mata menuju pada Wisnu. Memang dialah Pangerannya kini diantara orang-orang yang berdatangan silih berganti mengalaminya. Sungguh pasangan yang serasi.
__ADS_1
Saat kedua mempelai didapuk untuk saling berciuman, Sofia merasa sangat gugup dan berdebar. Belum lagi suara riuh orang-orang yang bersahutan mendukung mereka untuk segera berciuman. Padahal saat teman-temannya menikah, tidak ada tuh adegan ciuman di depan tamu undangan. Kini giliran dia, malah diminta ciuman dan ini sangat membuat Sofia grogi.
Saat kedua bibir mempelai akan bertemu, setengah senti lagi, tiba-tiba Sofia malah dikejutkan suara Wisnu.
"Sofia... Sofia... ! Kamu berkhayal....?"
"Iya A, setengah senti lagi....!"
"Sofi... apa-apaan sih, apa yang setengah senti lagi?" Wisnu menepuk bahu Sofia sedikit keras sehingga Sofia terperanjat.
"Ada apa A....?" Sofia sangat kaget, padahal tadi sedikit lagi mau berciuman dengan Wisnu, ehhh sekarang Wisnu malah ada di sampingnya mengagetkan khayalan Sofia.
"Kamu sedang berkhayal ya? Emang apa khayalan kamu? Pasti mengkhayalkan saya sedang mencium kamu?" Pertanyaan Wisnu barusan sontak membuat Sofia merah merona.
"Nggak A, Sofia tidak sedang berkhayal. Tapi, Sofia sedang melamun," jawab Sofia sekenanya.
"Jangan terlalu dikhayalkan, nanti juga kamu akan merasakan ciuman dari saya dan merasakan yang lebih dari sekedar ciuman." Jawaban Wisnu yang frontal seketika membuat jantung Sofia berdebar cepat. Ia tidak sangka Wisnu akan seekstrim itu jawabannya.
"Terimakasih, A!" ucap Sofia masih malu-malu. Mereka berduapun berjalan menuju pintu masuk Rumah Makan layaknya pasangan muda yang baru menikah.
"Duduklah, dan pesanlah apa yang mau kamu makan!"
Melihat menu yang banyak, Sofia jadi merasa bingung terlebih kejadian tadi saat Sofia dikagetkan Wisnu ketika berkhayal sedang akan berciuman, kini malah menari-nari di kepala. Yang lebih malu, rupanya Wisnu mampu menebak apa yang Sofia khayalkan.
"Sofia... saya lihat dari tadi kamu melamun terus. Kamu sepertinya nggak fokus. Saya sejak tadi dekat kamu lho, tapi pikiran kamu kemana-mana. Jangan katakan kalau kamu sedang memikirkan teman kamu yang Dokter itu!" ujarnya mewanti-wanti.
__ADS_1
Ini lagi, Wisnu malah salah paham. Siapa bilang Sofia sedang memikirkan Dokter Herman, yang jelas sejak tadi dia hanya memikirkan Wisnu.
"Sofi tidak memikirkan Dokter Herman, Sofia hanya memikirkan A Wisnu." Kata-kata Sofia mengalir begitu saja tanpa disadarinya.
"Saya tahu, kamu memang sedang memikirkan saya. Ya sudah, cepatlah pilih makanan yang akan kamu pesan!"
" Eh... apa A?" Sofia terperanjat, rupanya Sofia gagal fokus lagi, gagal fokus lagi.
"Kamu sejak tadi mikirin saya, kan? Jadi tidak fokus apapun, sekarang kamu mau makan apa?"
"Emmm... apa ya? Terserah saja, samakan saja dengan pesanan Aa," ucap Sofia bingung namun kemudian pasrah dengan pilihan Wisnu.
Pesananpun datang, seorang pelayan laki-laki dengan sigap meletakkan pesanan Sofia dan Wisnu, kumplit dengan es campur yang tersaji di gelas berkaki. Penampakannya sangat menggiurkan. Rasanya menu yang dipilih Wisnu semuanya mengena di hati Sofia
"Bagaimana, kamu suka?"
"Suka A, Sofia suka sop iganya dan sambel cuminya, apalagi es campur, Sofia suka banget. Kayanya segar banget."
" Ya sudah, jangan dikagumi doang dong. Cepat makan. Kita harus kembali ke Cikarang secepatnya sebelum hujan turun," titah Wisnu.
Sofiapun patuh, terlebih saat ini dia memang sedang lapar.
"*Sofia, kamu cantik juga rupanya. Terlebih* *kamu juga mengenakan jilbab. Sebelas dua belas* *dengan Dara, adik cantikku yang manja. Ohhh*... *betapa aku merindukan sikap manjamu, De*." Pikiran Wisnu melayang-layang saat sesuap demi sesuap makanan di piringnya disantapnya.
__ADS_1
"*A Wisnu, bukan hanya tampan. Tapi ternyata Aa perhatian, walaupun Aa sama sekali tidak romantis dan tidak ada lembut-lembutnya, tapi dasarnya Aa memang baik dan perhatian." Disela-sela makannya, Sofia juga sedang kemana-mana pikirannya. Memikirkan Wisnu yang memang sejak tadi dia pikirkan sehingga tidak bisa fokus apapun*.
Notes: Author minta maaf, sebab tidak bisa menceritakan detailnya pernak-pernik baju pengantin adat Palembang, yang Author tahu, mahkota pengantin wanita Palembang sepertinya berat saat dipakai pengantin wanita, namun itu tidak mengurangi kecantikan pengantin wanita. Author tahu, sebab dulu saat adik ipar Author menikah, karena dia asli orang Palembang. Dia memakai mahkota. Katanya sih berat dan bikin pusing kepala karena menahan beban berat di kepala. Rupanya, setiap daerah memiliki adat dan keunikan tersendiri ya. Indonesia berapa kayanya....