
Dara menghampiri Sofia yang tengah terisak. Disentuhnya bahu bergetar itu lalu diusapnya memberi sebuah ketenangan. Kemudian Sofia bangun dan langsung memeluk Dara dan tangisnya kini makin menjadi.
Dara membiarkan Sofia menumpahkan segala kecewanya di bahunya, sampai 10 menit kemudian Sofia sedikit tenang.
"Sof... kalau masih ingin nangis, menangislah. Dara siap kok menampung segala kecewa kamu."
Sofia menatap Dara dalam, matanya sembab dan masih berembun air mata. "A Wisnu jahat, Yuk. Dia tidak ingat kalau dia pergi dengan Sofi, dia melupakan Sofi!" ungkap Sofia mengeluarkan unek-uneknya diiringi air mata yang kini turun lagi.
"Dara ikut kecewa atas sikap A Wisnu, biarlah nanti Dara peringatkan A Wisnu untuk meminta maaf sama kamu. Dia juga di Cijantung masih lama, biar Dara suruh kesini untuk meminta maaf sama kamu langsung," bujuk Dara mencoba meredakan kesedihan adik iparnya itu.
Sofia tidak menyahut, dia hanya menunduk seraya menyusut air matanya yang berjatuhan.
Sejak kejadian itu baik Sofia maupun Wisnu belum bertemu lagi. Dan Sofiapun tidak mengirimkan WA lagi, apalagi Wisnu sama sekali tidak ada permintaan maaf lagi via WA. Hanya sekali saja saat pulang dari barak, itupun karena Sofia terlihat kesal dan marah.
......................
Sementara itu di tempat lain, di barak tepatnya. Saat jam istirahat Wisnu menyibukkan diri dengan membaca koran, namun fokusnya terpecah saat ada telpon WA masuk. Dan rupanya itu dari Dara, Wisnu nampak senang lalu segera mengangkat telepon itu.
"Assalamu'alaikum...! Halo, De!" ada apa?"
"Wa'alaikumussalam...! Aa lagi apa? Aa masih di Cijantung, kan? Kenapa tidak ke kontrakan Dara lagi? Sebentar lagi Sofia juga mau pulang Prabumulih, apa Aa tidak mau meminta maaf langsung atas sikap Aa dulu saat di barak?" Dara memberondong Wisnu dengan banyak pertanyaan, Wisnu geleng-geleng kepala. Dia berpikir kenapa Dara bisa-bisanya membahas orang lain bukan bahas saja tentang dirinya.
"Halo A, Aa masih hidup, kan?" gertak Dara membuat Wisnu tersentak.
"Iya, Aa masih mendengarkan kamu ngomong De. Nanti deh Aa mampir lagi ke sana ya, sekarang Aa masih sibuk," alasannya.
"Awas ya jangan bohong, kalau bohong biar nanti Dara tidak pertemukan lagi Aa sama Sofia, Sofia akan Dara jodohkan sama Kak Rivai teman satu pabriknya Bang Azlan," ucap Dara mengancam. Sebetulnya ancaman Dara tidak berpengaruh buat Wisnu, namun saat mendengar Sofia mau dijodohkan dengan teman sepabriknya Azlan, sontak Wisnu sedikit terkejut.
__ADS_1
Dipikir-pikir dalam minggu ini nama Sofia selalu berputar di otaknya Wisnu, entah kenapa. Padahal dalam hatinya tidak ada nama Sofia sama sekali. Tiba-tiba dalam otaknya sekejap saja muncul ide licik, ingin membalaskan perlakuan Azlan yang dulu memperlakukan Dara dengan cara licik, menjebaknya lalu dinikahkan karena ketahuan warga. Kini Wisnu tengah memutar otak, bagaimana caranya dia menjadikan Sofia sebagai obyek balas dendamnya.
"Baiklah Sofi, aku akan datang dan menghadirkan cinta. Namun cinta itu hanya pura-pura. Akan kubuat kamu menderita, supaya Abangmu itu juga menderita," tekadnya betapa jahatnya. Wisnu menyeringai puas dengan ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Di kontrakan Dara, saat ini Sofia tengah leyeh-leyeh sambil buka HP. Sambil menunggu Dara pulang kerja yang kira-kira sebentar lagi akan tiba, karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 menit. Itu artinya 15 menit lagi Dara pulang, belum lagi mampir-mampir. Bisa jadi pulangnya lebih dari jam segitu. Tiba-tiba....
"Assalamu'alaikum....!" ucap seorang pria bersuara jenis bariton membuat Sofia sejenak terhenyak. "*Ihhh... siapa tuh... pasti Kak Vai*?" sangka Sofia sambil berdiri dan berteriak nyaring dan girang.
" Kak Vaiiii....!" lengkingnya. Entahlah, Sofia sudah merasa tidak canggung lagi dengan Rivai. Keakraban keduanyapun terlihat begitu dekat. Saat Sofia di muka pintu, dia mengurungkan langkahnya tertahan di bibir pintu. "A Wisnu....!" ucapnya pelan.
"Ini minumnya A, maaf Sofia tidak tahu minuman kesukaan Aa. Sofia cuma ada kopi Guday Mukacina kesukaan Kak Vai!" ucapnya tidak segan-segan, seraya menyodorkan secangkir kopi Guday Mukacina. Wisnu mendelik mendapat perlakuan datar Sofia seperti itu. "Aku tidak suka minum kopi, apalagi Guday Mukacina!" tampik Wasnu kesal. "Ohhh... begitu, aduh Sofia minta maaf ya A, Sofia kan tidak tahu," sesalnya seraya meraih kembali secangkir kopi Guday Mukacina ke dalam.
Tiba-tiba suara mesin motor bebek berhenti di depan kontrakan Dara, dengan gaya yang cooleuheu alias keren Rivai turun dari bebeknya. Seraya melihat dengan jelas di depan kontrakan Dara teronggok seorang pemuda atletis yang lebih tampan darinya maupun dari Lee Min Ho idola para Emak-emak galau.
"Maaf....!" sapa Rivai sopan kepada Wisnu. Wisnu membalas dengan senyuman walaupun dia merasa heran dengan sosok cowok yang baru saja sampai itu. Cowok itu kelihatan rapi dan wangi, walaupun parfum yang dia pakai tidak semahal parfum yang Wisnu pakai.
__ADS_1
"Sofia... Assalamu'alaikum....!" suara tenornya membuat telinga Wisnu seketika bonge alias budeg. "Astaghfirullah....!" spontan Wisnu ngucap seraya menutup kupingnya.
"Ahaa... Kak Vai... wihhh... sudah keren dan wangi. Emang mau ajak Sofia kemana nih?" sambut Sofia girang. Wisnu yang mendengar ucapan sambutan dari Sofia, baru sadar bahwa cowok yang di depan itu bernama Vai. Dia seakan mengingat-ingat sesuatu, sesuatu yang pernah diucapkan Dara.
"Silahkan Kak Vai, berbagi duduk dengan A Wisnu di pembatas kontrakan, ini kopinya," Sofia menyambut hangat Rivai lalu menyuguhkan kopi Guday Mukacina yang tadi dia suguhkan buat Wisnu. Wisnu dan Rivai mengarahkan matanya pada cangkir yang disodorkan Sofia.
"Lho... kopinya sudah disodorkan saja, jangan-jangan Dek Sofi sudah sejak tadi menyiapkan penyambutan ini, tenan toh? Terharu aku," herannya dengan logat jawanya yang medok.
"Iyo tenan tuh Mas'e, tadi itu Sofi buatkan banyu kopi Guday Mukacina kanggo A Wisnu, berhubung A Wisnu tidak suka kopi, yo akhirnya kopinya ta kasih kanggo Kak Vai," terang Sofia dengan meniru logat Jawa yang Rivai ucapkan. Rivai manggut-manggut sambil menyeruput kopi Guday Mukacina persembahan Sofia.
"Mari Mas, minum!" sapa Rivai kepada Wisnu. Wisnu diam, raut mukanya mendadak suram.
"Assalamu'alaikum....!" tiba-tiba Dara pulang dan mengucap salam, Dara sontak terkejut melihat ketiga orang yang dia kenal sudah ngumpul di depan kontrakannya seperti arisan.
"Wa'alaikumussalam... eh... Ayuk sudah balik. Kebetulan Sofi mau pergi nih bareng Kak Vai. Ini dari tadi ada tamu buat Ayuk, A Wisnu sudah nunggu Ayu sejak setengah jam yang lalu," seru Sofia seraya menyampirkan tas sandingnya di bahu.
"Ayuk... A Wisnu... Sofia sama Kak Vai cabut dulu ya, Assalamu'alaikum....!" Sofia dan Rivai pamit saat sepeda motornya bergerak maju.
Wisnu dan Dara menatap terlongo.
"Wa'alaikumussalam... hati-hati Sof....!"
__ADS_1