Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Gamang


__ADS_3

"Dar......!", sapa Nela dari balik mesinnya. Dara menoleh sambil tersenyum menyembunyikan kegalauannya. Rupanya mesin Nelapun sedang tukar model, pantesan dari sejak masuk suaranya senyap, biasanya dia selalu berceloteh riang menyapa duluan dan basa-basi. Ah..... ingin rasanya segera bersandar di bahu Nela, menceritakan semua yang terjadi baru saja.


Tiba-tiba mesin Dara menyala merah dan bunyi sangat nyaring. "Error nih"., gumannya segera menghampiri mesin.


"Ya ampun..... PCB terbalik....!" Kaget Dara, seraya menekan tombol off untuk mematikan alarm merah.


Dara segera memungut PCB tersebut dari dalam mesin, kalau dilihat-lihat ngeri juga tuh mesin. Seumpama tidak paham menjalankannya, bisa-bisa nyawa kita jadi ancaman. Didalamnya seperti kaki-kaki robot yang dengan cepat memasang komponen ke PCB.


"Kemana ya Bang Reno, selalu saja keluyuran. Saat dibutuhkan tidak ada ditempat!" Gerutu Dara kesal.


Dara mencari ke ruang Teknisi, ehhh rupanya dia lagi bermain HP bersama dua orang Teknisi yang lain. Dara tersenyum sejenak pada kedua Teknisi itu lalu Dara memberanikan diri memanggil Reno.


"Bang Reno, itu tolong mesin error!" seru Dara.


Reno menatap Dara dingin. Reno bangkit, dengan malas mengikuti Dara.


"Masih ada perlu sama aku, panggil saja Teknisi pabrik sebelah!" sindirnya.


Kalau saja bukan urgent dan masih bisa diatasi sendiri, nggak bakal deh Dara manggil Teknisi nyebelin kayak gini. Cerca Dara dalam hati.


Duhhh, rasanya pengen segera pulang dan tidur saja deh daripada harus selalu bertatap muka tegang dengan Teknisi satu ini. Harap Dara kesal.


"Makasih Bang....!", ucap Dara saat mesin berjalan normal kembali. Yang diberi ucapan hanya diam tak menyahut. Rasanya sedih banget, urusan perasaan dicampur adukan dengan pekerjaan. Memang dasar tidak professional. Dara hanya bisa mengecam dalam hati.


*


*


Besoknya saat jam pulang tiba, Dara berpapasan dengan Jabar. Mereka bertegur sapa melepas kangen.


"Dua minggu ya kita tidak akan jumpa!" Celoteh Bang Jabar sambil mencolek jail pinggang Dara.


Dara tersenyum simpul.


"Suami kamu masuk pagi juga ya Neng? Barusan Abang ketemu!" Dara mengangguk.


"Ok deh Bang, Dara balik dulu ya!" Pamit Dara disusul Nela dan Ira serta yang lainnya. Jabar mengacungkan jempolnya dan menjauh.


"Nel...... Elu ke kontrakan Gua dulu, Gua mau cerita!" Ucap Dara sambil menarik tangan Nela. Nela cuma nurut saja.


Tiba di kontrakan, Dara menghempaskan tubuhnya dilantai. Nela heran lantas dia menyusul.


"Kenapa sih Dar, heran deh Gua. Tadi diseret sampai kontrakan buluk ini, sekarang Gua dicuekin!" Protes Nela sebal.

__ADS_1


"Kasih sarapan dulu kek, apa kek...., Gua lapar nih, pulang kerja pagi harus cepat terisi makanan. Lagian tadi Gua mau mampir ke warung Mpo Sari, Elu narik-narik Gua mulu." Repet Nela seraya mencebikkan bibirnya.


Dara perlahan bangkit, wajahnya sudah dibanjiri air mata, lalu dengan cepat memeluk Nela. Dara menangis sesenggukan di bahu Nela. Nela terkaget-kaget, namun ia membiarkan Dara menangis sampai rasa kesalnya hilang.


Sepuluh menit kemudian Dara bersuara diiringi isak. "Gua lelah Nel...., semua seakan menghampiri setelah Gua dipaksa keadaan harus hidup bersama Bang Azlan." Dara menjeda curahannya sejenak.


"Pertama Meta, tiba-tiba datang dan mengancam. Dia memberi peringatan supaya Gua menjauhi Bang Azlan. Kalau tidak, dia mengancam akan membuat sesuatu yang bikin gua menyesal." Nela masih mencerna curahan Dara sambil mengusap-usap sohibnya itu.


"Kemarin pagi dia datang kesini, ke kontrakan. Entah dari mana dia tahu kontrakan Gua. Mungkin saat mencegat kita pulang malam itu, dia berhasil mengikuti Gua. Itu makanya dia tahu kontrakan ini." Terang Dara masih terisak. Nela tersentak, lalu melepas pelukan Dara.


"Meta mengancam lagi? Betul-betul nekad perempuan satu itu!" Geram Nela.


"Sebelum Gua buka pintu, Gua sudah antisipasi merekam kedatangan dia!" Ucap Dara lagi.


"Bagus...., cerdas Elu Dar....!" Puji Nela sembari menadahkan tangan dengan maksud meminta HP Dara.


Nela membuka galeri foto, dan langsung membuka vidio rekaman. Disana terlihat rekaman disaat Meta baru sampai dan pergi lagi.


"Gila..... bela-belain mampir dulu sebelum berangkat kerja, demi mengancam Elu!" Nela. geleng-geleng kepala. "Hati-hati nih, ancamannya kayaknya serius!" Ucap Nela lagi.


"Iya..... Guapun berpikir demikian. Apalagi setelah Bang Azlan bilang bahwa dulu Meta sempat akan jadi tersangka karena kasus fitnah!" Dara membenarkan.


"Nah itu yang Gua maksud, Gua rasa dia tidak main-main dengan ancamannya. Sebab pernah ada rekam jejak. Tapi Elu nggak usah takut Dar, sebab Elu udah antisipasi punya bukti omongan dia yang bernada ancaman. Awas nih, rekaman ini jangan sampai hilang atau terhapus. Hapus sebagian vidio-vidio Elu yang tak bermanfaat, kalau tidak bisa-bisa vidio si Meta bisa kelelep dan hilang." Peringat Nela panjang. Dara mengangguk menyetujui semua omongan Nela.


"Kalau dia tidak memaksa hadir dalam hidup Gua, Meta nggak akan datang dan ujug-ujug mengancam. Dan tadi malam Gua benar-benar sakit hati Nel.... ini juga berhubungan lagi dengan Bang Azlan." Ucap Dara kembali terisak.


"Tadi malam kenapa....?" Nela penasaran.


"Elu gak tahu, tadi malam Bang Reno seolah menumpahkan kekecewaannya pada Gua. Dia kecewa karena Gua lebih memilih Bang Azlan daripada dia." Ungkap Dara sedih.


"Hiks.... hiks.....!" Nela merangkul Dara yang kini mulai menangis lagi.


"Dari mana Bang Reno tahu Elu udah nikah sama Bang Azlan?" Heran Nela. "Gua gak tahu Nel....!" "Yang jelas semua masalah ini hadir setelah Gua dipaksa keadaan harus hidup bersama Bang Azlan. Bang Reno terang-terangan bilang kecewa sama Gua, kenapa Gua harus milih Teknisi di pabrik lain. Lalu dia bilang dengan angkuh bahwa dia masih lebih ganteng dibanding Bang Azlan yang legam itu." Jelas Dara masih terisak.


"Wakwakwak....!" Tiba-tiba Nela ketawa tertahan. "Hufff.... " Nela langsung menyadari kehilafannya saat melihat Dara mendilak kesal.


"Elu ketawa pasti sepakat dengan ucapan Bang Reno, iya kan?" Rajuk Dara kesal.


"Tidaklah Dar....., sorry!, Gua ketawa cuma karena ngetawain eskpresi muka Elu saat cerita, Elu sedih tapi lucu saat meragain omongan Bang Reno saat bilang Si Legam!" Jelas Nela sambil mengatupkan kedua tangannya. Dara diam kesedihannya masih kentara.


"Gua rasanya ingin menyerah saja Nel......!" Dara menghela nafas seakan putus asa. "Putus asa gimana?" Nela Heran.


"Gua ingin lepas dari Bang Azlan.....!" Ucap Dara.

__ADS_1


"Bukannya Elu pernah memintanya, tapi Bang Azlan meminta sebuah permohonan. Dan Elu mengabulkan permohonannya itu, sebagai permohonan terakhir Bang Azlan kan?" Yakin Nela.


"Iya..... dan dia memohon sama Gua, Gua kasih kesempatan karena Gua gak tega Nel, dia bilang anggap saja sebagai permohonan terakhir!" Terang Dara.


"Kasihan.....,? tandanya cinta tuh!" Goda Nela. "Kalau Elu benar-benar ingin lepas dari Bang Azlan, harusnya Elu tidak perlu ada kata kasihan." Tekan Nela.


"Elu ingin lepas dari Bang Azlan karena legamnya seperti apa yang dikatakan Bang Reno yang mengejek itu, atau karena ancaman Meta yang bertubi-tubi?" Selidik Nela.


"Bukan, bukan karena legamnya, tapi lebih tepatnya Gua tidak ingin karena hubungan ini Gua jadi dapat masalah. Meta ngancam Gua, Bang Reno yang seolah-olah memusuhi Gua." tepis Dara seraya menggeleng. "Bukankah hidup dalam ancaman dan dimusuhi itu tidak enak, dan Gua merasakan hal seperti itu sekarang Nel!"


"Lantas.....?" Tanya Nela lagi.


"Dari awal hubungan kita sudah salah, dia yang jebak Gua. Gua gak terima hubungan ini....!"


"Tapi udah mau dua bulan Dar.....!" potong Nela.


"Itu karena dia yang memohon Nel, Gua kasih kesempatan karena nggak tega!" alasan Dara.


"Lagi-lagi nggak tega. Ya sudah kalau nggak tega, itu artinya Elu mulai membuka hati perlahan-lahan. Ikuti saja permohonannya sebagaimana yang telah kalian sepakati. Tanggung Dar, jika Elu menyerah sekarang. Lagipula Elu sama Bang Azlan sudah terlanjur merencanakan pulang kampung untuk mengenalkan Elu ke keluarganya. Kalau sekarang Elu bilang menyerah, kasihan Bang Azlan!" Terang Nela. Dara hanya terdiam.


"Jangan karena sikap Bang Reno atau gertakan Si Meta, Elu langsung menyerah. Mereka itu cuma halangan sementara buat kalian, kalau kalian tangguh menghadapinya kaya Marcopolo, Gua yakin kalian sanggup mengarunginya." Ujar Nela sambil bawa-bawa Marcopolo segala.


"Terus Gua harus apa Nel.....?"


"Elu harus bertahan....., Bang Azlan itu orang baik. Minusnya cara dia yang dapatin Elu yang salah. Tapi Gua rasa dia patut Elu pertahankan. Coba Elu pikir, si Meta saja sampai ngejar-ngejar lagi dan ngancam Elu cuma karena lihat Elu diantar sekali sama Bang Azlan. Mira QC di tempat kerjanya juga suka sama Bang Azlan. Menurut Si Reno, Bang Azlan hitam legam dan kalah ganteng. Tapi pikir lebih jauh lagi. Kenapa si Meta atau Mira ingin mendapatkan Bang Azlan? Artinya hitam legam gak ada masalah buat mereka, mereka sadar Bang Azlan itu orang baik. Termasuk baik dalam hal duit tentunya." Ucap Nela panjang lebar. Dara berpikir beberapa jenak seakan disadarkan dari kegamangan.


"Sebentar..... Kok jadi Si Reno sih bukannya dari awal Elu bilang Bang Reno!" Ralat Dara.


"Issss dah, giliran yang ginian Elu jeli dan protes. Ya sudah Elu panggil saja Si Reno dengan sebutan Reno Sayang!" Ejek Nela mencebikkan bibirnya.


"Ihhhhh..... Elu ini bercanda. Dasar kampret!" Geram Dara.


"Gua jadi sebel sama dia gara-gara cerita Elu, makanya Gua panggil dia si Reno....., apakah sudah jelas Nona Dara??" Tekan Nela sambil melotot.


"Terserah Elu deh....!" Ucap Dara pasrah.


"Terus gimana kepergian Elu kesana ke kampung halaman Ibu mertua Elu, jadinya hari apa? Elu jadi ijin kan hari Jumat?"


"Nggak tahu, gamang Gua!" Sahut Dara.


"Ya.... salam...., jadi nggak ada gunanya Gua dari tadi bacot panjang lebar kalau ujungnya Elu masih gamang juga." Pekik Nela sembari menepuk keningnya tak habis pikir dengan pikiran Dara.


"Sudahlah..... lebih baik Elu siapkan sarapan yang enak buat Gua, sebagai imbalan Gua udah ngebacot tapi tidak dianggap." Teriak Nela kesal. Dara mencebik kesal, dengan malas dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat sohib koplaknya.

__ADS_1


__ADS_2