Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Cemburu Dara


__ADS_3

"Adek... !" Dara menoleh dan melihat Azlan yang sudah berada di dekatnya. "Kalian saling kenal ya?" Kak Ranti menatap Dara dan Azlan penasaran. "Kenal banget Ran," ujar Azlan jujur. "Oh ya sudah, aku duluan deh. Dara, kamu harus ke pabrik kamu dulu kan gesek punch card? Ya sudah, Aku duluan. Sampai jumpa besok," pamit Kak Ranti berlalu.



"Adek... kok ada di pabrik ini? Kenapa tidak kasih tahu Abang? Pulangnya kita bareng ya!" ucap Azlan penasaran. "Nggak, Dara mau sendiri aja," tolaknya ketus.


"Lho kok begitu, kita kan satu arah sayang....!" Azlan heran.


"Satu arah, tapi Dara tidak mau pulang sama Abang. Pulang masing-masing saja," pungkas Dara sambil berlalu dan berlari kecil meninggalkan Azlan yang tercengang.


"Ck... kayanya Dara cemburu melihat aku tadi berjalan beriringan dengan Mira," bisiknya pelan, seraya memukulkan tangannya ke udara tanda kesal.


"Hahaha... bininya cemburu tuh, nasib-nasib... , sudah bucin ehhh... malah dibikin cemburu," goda Rivai tiba-tiba. Kayaknya Rivai sudah mengetahui keberadaan Azlan dan Dara sejak tadi.


"Ngomong-ngomong bini Lu kok tiba-tiba ada disini sih? melihat Elu pula sama QC Mira berjalan bersamaan, wah gawat tuh Lan!" ucap Rivai penasaran.


"Ah, Elu ini Vai, malah makin manasin lagi. Gua saja baru tahu saat tadi melihat dia keluar dari ruangan Repairer."


"Mungkin saja Dara diutus untuk memeriksa PCB Kenwiid SAA yang proses Jumpernya banyak yanga missing. Kenwiid SAA kan proses bondingnya disana," duga Rivai.


"Bisa jadi sih I. Ya Ok deh, Gua mau susul Dara. Gawat kalau sampai dia merajuk, bisa-bisa Gua tidak dikasih jatah semalaman," ujar Azlan sambil berlari ke muka pintu lalu keluar menuju parkiran.


"Dek..., ayo naik!" ajak Azlan seraya meraih tangan Dara. Sontak para karyawan pabrik yang kebetulan baru bubaran kerja ada beberapa yang melihat penasaran ke arah mereka, tidak ketinggalan Jabar juga yang sudah keluar pabrik.



"Lan... tidak cacat sedikitpun kan Operator Gua?" oceh Jabar tiba-tiba. Azlan sontak melihat ke arah Jabar dan tertawa kecil.


"Tidaklah Bang, ini masih segar bugar. Ya sudah, Gua cabut dulu ya!" pamit Azlan seraya meraih lengan Dara mengarahkan supaya naik motornya.


"Ok... jangan diapa-apain ya, Operator Gua!" peringat Jabar sambil tertawa.

__ADS_1


"Apaan sih Lu, Bang....!" balas Azlan sambil tertawa kecil. Akhirnya Dara terpaksa ikut naik motor Azlan, padahal tadinya dia akan pulang sendiri. Disaat itu juga, Mira terlongo melihat Azlan membonceng Dara. Dia memang sudah tahu Azlan telah menikah, namun belum pernah tahu siapa istrinya Azlan.



"Bro... Gua duluan....!" teriak Azlan pada kedua sohibnya Rivai dan Rian. "Weuyyy... awas lecet bini kedua Gua....!" teriak Rian seraya tertawa keras.


"Gila Lu....!" sahut Azlan sambil mengangkat jari tengahnya ke muka Rian. Rian bukan sakit hati, dia malah cengengesan melihat reaksi Azlan.


Rian yang sempat menyimpan rasa pada Dara walau kini sudah menikah, kadang tidak ada takut-takutnya masih saja keganjenan pada Dara. Walau demikian dia tidak seagresif Reno memperlihatkan rasa sukanya sampai melakukan kekerasan, dia tipe orang yang mengalah dan tidak mau pertemanan yang dibinanya dengan Azlan berubah jadi permusuhan, apalagi Azlan sering membantunya saat dulu susah. Jadi mengalah demi Azlan apa salahnya. Tapi sampai kini, karena Dara belum pernah ditaklukan sifat playboynya, kadang-kadang rasa penasaran dan *sir* dihatinya masih ada.



Dara hanya duduk diam tidak bersuara di belakang Azlan, berpegangan saja tidak. Membuat Azlan serba salah, namun tidak menyurutkan perhatiannya. Sesampainya di kontrakan Azlan pergi kembali, entah kemana. Dara segera masuk dan ke kamar mandi membersihkan diri, lalu menjalankan kewajibannya.



Sudah setengah jam, namun Azlan belum muncul-muncul, pamit juga tidak. Membuat Dara semakin kesal. Mungkinkah Dara cemburu melihat Azlan berjalan berdekatan dengan Mira?


"Assalamu'alaikum....!" ucap Azlan seraya melihat keseluruh ruangan, namun Dara tidak ada. Azlan yakin Dara sudah berada di kamar. Wangi sabun dan sampo yang menyeruak kini tercium sudah.


"Rupanya sudah mandi dia, harum banget. Sayangnya dia lagi ngambek, duh... gimana caranya meluluhkan sikapnya yang sedang cemburu begini, atmosfernya juga menyeramkan, jutek lagi kayak dulu."


"Dek... !" seru Azlan seraya mendongakkan kepalanya di balik lemari plastik. Dara tidak menyahut, namun wajahnya ditekuk tanpa ekspresi.



"Makan dulu, Abang sudah beli makanan. Ayo sayang...! Adek marah ya karena melihat Abang jalan berdekatan dengan QC Mira tadi di pabrik?" tanya Azlan, langsung pada inti permasalahan. Dara diam, rupanya Azlan sudah bisa menebak apa yang dirasakannya.



"Abang mandi dulu deh ya, kalau mau makan dulu makan saja, Abang beli lauk nasi. Ada ayam kecap sama sayur asam Bu Marni kesukaan Adek." Tanpa menunggu jawaban Dara, Azlan ke kamar mandi membersihkan diri, berwudhu dan sholat Isya.

__ADS_1



Azlan kini duduk disamping Dara yang tengah terbaring, dia mengusap punggung wanitanya itu penuh kasih sayang.


"Adek... makan yuk? Ayolah... jangan menghukum diri sendiri karena cemburu yang tidak mendasar. Abang tahu Adek cemburu melihat tadi Abang jalan berdekatan dengan QC Mira. Abang minta maaf, Abang tidak bermaksud membuat Adek cemburu. Tapi tadi itu kita sama-sama habis keluar dari ruangan yang sama, sehingga otomatis kita berjalan berdekatan. Tapi Abang tidak pernah ada perasaan apapun sama Mira, atau hubungan apapun dengan dia. Percayalah Dek, cinta Abang kini dan nanti hanya ingin bersama Adek," ungkap Azlan sungguh-sungguh.


Lalu tanpa menunggu persetujuan Dara, Azlan memeluk tubuh Dara dari belakang. Dia tidak mau wanitanya hilang kepercayaan. Azlan sangat mencintai Dara melihat Dara cemburu dan merengut seperti itu, Azlan takut Dara yang pergi. Sungguh ini suatu hal yang tidak dia inginkan.



Azlan membalik tubuh Dara sekuat tenaga, lalu dia membawa tubuhnya bangkit. Azlan terkejut, rupanya Dara menangis. Matanya sudah memerah dan dipenuhi air mata. Tanpa basa-basi, Azlan memeluk tubuh Dara membiarkan tangisnya makin pecah.



Tubuh Dara bergetar menumpahkan tangis seakan lama dipendam.


"Dara tidak ingin kehilangan Abang, Dara sudah nyaman hidup bersama Abang," ungkapnya disertai isak tangis. Rasanya penampakan Azlan dan Mira yang berjalan berdekatan tadi, sangat membuat dirinya goyah. Dara takut kehilangan Azlan. Yang selama ini selalu sabar dan perhatian walaupun sejutek apapun dirinya.


"Abang tidak akan tinggalkan Adek atau khianati Adek sampai kapanpun. Abang sayang dan cinta sama Adek, Abang janji," ucap Azlan bersungguh-sungguh.



"Ayo... kita makan yuk... Adek udah nangis lama gara-gara mikirin Abang yang tidak-tidak, pastinya lapar, kan?" ucapnya seraya mencolek hidung Dara yang bangir dan menyusut sisa air mata di pipi Dara. "Senyum dong... biar tambah cantik," rayu Azlan seraya mencuri ciuman di bibir Dara namun hanya sekilas.



"Ihh... Abang... ganjen....!" sungut Dara kesal digodain Azlan. Azlan tertawa seraya berjingkat bermaksud menyiapkan makan malam untuk berdua.


"Abang senang Adek bisa bicara lagi, daripada tadi cemberut terus bikin Abang takut saja. Sekarang kita makan, kita kumpulkan tenaga supaya nanti pertempuran kita tidak kelelahan."


"Ihhh... dasar mesum." Teriak Dara....

__ADS_1


__ADS_2