Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Nasihat Mamak


__ADS_3

BMamak keluar dari kamar Dara, meninggalkan Sofia dan Dara. Mamak menghampiri Azlan yang tengah termenung di teras.


"Lan... masuklah!" perintah Mamak. Azlan patuh dan segera masuk menghampiri Mamak dengan raut wajah yang muram.


Mamak memulai pembicaraannya setelah Azlan duduk di ruang tengah.


"Lan... Kau masih ingat tidak apa wejangan Bapak Kau dulu saat Kau datang ke kampung?" Sejenak Mamak menghela nafasnya.


"Kenyamaan. Apa Kau sudah berikan Neng Dara kenyamaan?" Mamak menatap tajam ke arah Azlan.


"Saat ini kenyamaan yang Kau berikan telah terusik dengan pertanyaan Kau yang menyudutkan. Neng Dara merasa tersudut oleh sikap Kau."



"Dulu Kau mendapatkan Dara seperti apa? Kau jebak dia dan permalukan dia di depan orang-orang, sehingga orang-orang menganggap Neng Dara negatif bahkan lebih parah dari itu, namun hadirnya cinta mampu membuat Neng Dara menjadi pemaaf, bahkan keluarganya menerima kehadiran Kau."



"Jangan terlalu egois Lan, pernikahan kalian terjadi karena atas dasar terpaksa, lalu sekarang Neng Dara Kau buat hamil tanpa persetujuan dia terlebih dulu, bukankah Neng Dara pernah bilang siap hamil jika usia pernikahan kalian sudah lima tahun. Harusnya Kau bicarakan, jangan sengaja membuat Neng Dara lupa. Kalau seperti ini Kau itu egois dan memaksakan kehendak istrimu. Jika begini, bisa jadi pernikahan kalian tidak akan lama. Sudah Mamak atau Bapakmu bilang, menghadapi Neng Dara harus dengan kesabaran tingkat tinggi," nasihat Mamak panjang lebar. Lama-lama Mamak geram dibuatnya.



Azlan masih diam menunduk, dia menyadari kesalahan-kesalahannya dan ingat akan nasihat Bapaknya dulu di kampung.



"Sekarang Kau tekan dia dengan tuduhan-tuduhan tidak benar, yang ada Neng Dara makin tertekan dan stress. Dan Kau tahu kalau sudah begitu, resiko pertama yang bisa terjadi adalah keguguran. Kau tahu itu, jika itu terjadi maka Kau sendirilah yang akan membunuh darah dagingmu," semprot Mamak sangat marah.



Azlan terhenyak mendengar ucapan marah Mamak barusan, rasa takut kehilangan dalam dirinya kini semakin besar. Azlan takut kehilangan janin yang dikandung Dara.



"Lan sadar Mak, Lan salah. Lan tidak sabar dan tidak mencoba memahami Dara. Maafkan Lan, Mak!" mohon Azlan penuh penyesalan.



"Sepertinya Kau belum benar-benar memahami sifat Neng Dara. Menghadapi Neng Dara harus dengan kelembutan dan kesabaran, bukan dengan tekanan," ucap Mamak seraya geleng-geleng kepala.



"Menikah bukan hanya sekedar hubungan suami istri, namun saling memahami dan mengerti itu yang penting," tandas Mamak seraya berdiri.

__ADS_1



"Mamak beberapa hari lagi disini, dan Mamak tidak tahu kedepannya hubungan kalian akan seperti apa. Mamak hanya berpesan, raih kembali hati Neng Dara sampai dia kembali bisa tersenyum bahagia dan menerima kehamilannya." Mamak berjingkat meninggalkan Azlan dengan perasaan marah yang berkecamuk.



Azlan menghela nafasnya dalam, dia sadar dia yang salah. Tadi emosinya tidak terkontrol akibat kekhawatirannya dengan janin yang Dara kandung. Sekarang tugas dia adalah membuat Dara kembali nyaman dan tersenyum kembali. Mampukah Azlan?



Sudah empat hari sejak kejadian itu, Dara belum mau disentuh atau didekati Azlan. Dia benar-benar marah dan moodnya selalu memburuk. Dara terlihat sedih terus. Azlan sangat khawatir melihat Dara begini.



Mamak dan Sofiapun menjadi bingung harus bagaimana, apalagi dua hari lagi mereka akan kembali ke kampung.


...----------------...


Siang ini Dara kedatangan tamu, dan rupanya tamu itu adalah Wisnu. Tidak hanya Dara yang bahagia namun Sofia. Dara yang awalnya murung dan sedih, saat melihat Wisnu begitu bahagia.


"Aa....!" teriaknya sambil menghambur ke arah Wisnu. Dengan sekali tangkap saja Wisnu bisa meraih Dara. Suasana mendadak ceria. Mamak dan Sofia yang melihat itu merasa bahagia.



Wisnu yang menyadari ada Mamak dan Sofia, perlahan mengurai pelukannya pada Dara. Dia menyalami Mamak dan Sofia. Sofia buru-buru ke dapur menyiapkan minuman. Secangkir teh hangat manis disajikan Sofia untuk Dara. Tentunya ditambah cinta.



"Terimakasih Mak, saya datang kemari sengaja menengok adik saya, selain kangen saya juga ingin menyampaikan selamat atas kehamilan Dara," balas Wisnu tersenyum penuh kharismatik.


"Pasti Nak Wisnu tahu dari Ibu ya Neng Dara hamil?" Wisnu mengangguk.


Suasana berubah ramai dan penuh tawa, Dara kini bisa tertawa. Mereka berempat larut dalam sukacita yang mampu dihadirkan Wisnu seketika.



"Ayo kita makan dulu," ajak Sofia di sore itu. Sofia dan Mamak memasak di dapur berdua demi menyuguhi Wisnu makan. Sofia terlihat bahagia hanya dengan mendapat senyuman ramah dan candaan renyah khas Wisnu.



Suasana makanpun tak luput dari obrolan yang membuat mereka berempat tertawa.


__ADS_1


"Aa, pulang dulu ya. Aa di Cijantung masih 6 hari lagi kok. Besok-besok Aa datang lagi," ucap Wisnu sebelum berpamitan.


"Dengan kehamilanmu ini Aa turut bahagia De, itu artinya kamu mampu dibahagiakan suamimu. Aa, bisa tenang sekarang merelakanmu," batin Wisnu.


Wisnupun pergi, tidak lupa pamit pada Mamak dan Sofia.


"Mamak, Sofia, saya pamit dulu. Titip adik saya!" pamit Wisnu seraya berlalu meninggalkan kediaman Dara. Dara melambaikan tangan pada Wisnu. Dara sejenak tercenung, tadi dia lupa menanyakan dari mana Wisnu tahu alamat rumah baru Dara.


Jam 7.15 malam Azlan pulang, suasana terlihat sepi. Hanya ada Mamak di ruang tengah. Azlan masuk seraya mengucap salam dan heran melihat Dara tidak ada disana.



"Assalamu'alaikum! Mak... kok *dewean* (sendiri) kemana Sofia dan Dara?"


"Mereka berdua sudah ngamar sekalian sholat Isya di kamar. Masuklah Lan, ini kesempatanmu dekati Neng Dara. Ajak dia bicara baik-baik, sentuh hatinya. Kebetulan suasana hati dia sedang baik. Tadi ada Abangnya datang, Neng Dara begitu bahagia dan ceria," lapor Mamak membuat Azlan berpikir. "Siapa? Wisnu?"


Azlan masuk perlahan ke dalam kamar. Dia melihat Dara tengah berbaring sambil memainkan HPnya.



"Dek....!" tegur Azlan. "Abang bawa rujak, Adek pasti mau buat menghilangkan mual," rayu Azlan.


Dara belum mau menyahut dia masih memainkan HPnya. Azlan meletakkan rujak di atas meja, lalu keluar dari kamar. Dara menatap punggung Azlan dengan ujung matanya. Ada rasa kangen menyelinap dalam dada diantara ribuan kesalnya pada Azlan.


Azlan keluar dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


"Lan, makanlah dulu. Setelah itu cepat masuk kamar, bicaralah sama Neng Dara, luluhkan hatinya. Kau harus bisa luluhkan hatinya. Ingat Lan, jangan libatkan emosi dalam menghadapinya," nasihat Mamak serius, Azlan mengangguk paham.


Pintu kamar dibuka perlahan, Azlan terhenyak senang melihat Dara kini merubah posisinya menjadi duduk berselonjor di kepala ranjang sembari makan rujak bawa Azlan.



Azlan menghampiri Dara dan menyapa Dara. Bagaimanapun dia harus bisa meluluhkan Dara dan kembali menjadi Dara yang ceria.



"Tadi A Wisnu datang kesini ya?" sapa Azlan seraya mendekati Dara lalu berbaring di samping Dara.


"Dek... masih marah sama Abang? Abang minta maaf ya. Abang akui Abang salah. Abang mohon maafkan Abang," ucap Azlan memohon.


Masih belum berhasil juga, Azlan tidak menyerah. Dia kembali merayu Dara, kini tangannya dia lingkarkan di pinggang Dara sambil mengusap perut rata Dara. Dara mencoba menepis namun Azlan menahan jemari Dara yang diremas balik oleh Azlan.


__ADS_1


"Abang kangen sama Adek dan bayi yang ada dalam perut Adek. Semoga Adek dan bayinya sehat," oceh Azlan. Saat Azlan masih ngoceh dan berusaha mengembalikan keceriaan Dara yang dulu, tiba-tiba mati lampu.


"Awwww....!" jerit Dara seraya memeluk Azlan.


__ADS_2