
Dua jam kemudian pesan WA Wisnu baru ada balasan.
"Waalaikumsalam, A. Iya, Sofia masih ingat. Kabar Sofia baik A. Bagaimana kabar ibu dan bapak?"
Entah kenapa Wisnu begitu bahagia mendapat balasan WA dari Sofia.
"Kapan kita bisa ketemu?" [Wisnu]
"Ketemu?" [Sofia]
"Iya, ketemu?" [Wisnu]
"Ketemu untuk apa ya, A?" [Sofia]
"Saya ingin berbicara dengan kamu." [Wisnu]
"Bicaralah, apa yang mau Aa bicarakan?" [Sofia]
"Saya ingin melamar kamu." [Wisnu]
"Apa.....?????" [Sofia sangat kaget dengan apa yang di bicarakan Wisnu.
"Bagaimana, apakah kamu bersedia?" [Wisnu]
Setelah itu tidak ada balasan dari Sofia, padahal Wisnu sangat menantikan balasan dari Sofia.
Wisnu uring-uringan, dia tidak biasa diabaikan. Tapi kali ini Sofia yang belum membalas satu jam WAnya, Wisnu merasa diabaikan. "Sofia, ayo dong balas," ujarnya dalam hati.
Gelagat ini diketahui orang tua Wisnu, mereka berdua merasa aneh dengan tingkah Wisnu. Pak Malik geleng-geleng kepala dengan tingkah anak semata wayangnya itu yang sampai kini masih membujang. Usianya kini sudah 31 tahun. Usia yang cukup matang untuk membina hubungan rumah tangga, namun entah mengapa sampai sekarang Wisnu belum menunjukkan akan ke pelaminan dengan perempuan manapun.
"A, kapan Aa mau mengajak calon Aa ke rumah dan memperkenalkan pada Ibu dan Bapak?" Wisnu mendongak malas jika kedua orang tuanya sudah membahas tentang calon. Tentunya calon istri.
__ADS_1
"Aa itu ganteng dan soleh, tapi kenapa Aa belum sekalipun membawa gandengan ke rumah? Aa normal, bukan?" Pertanyaan seperti inilah yang paling memuakkan buat Wisnu, selalu dipertanyakan kenormalannya menyukai lawan jenis, hanya karena dia belum sama sekali membawa gandengan ke rumah.
"Ibu hoyong enggal gaduh incu ti Aa, ti si Eneng mah sakedap deui tereh gubrag ka alam dunya. Ayeuna Aa atuh geura ngemutan jodo." (Ibu ingin segera punya cucu dari Aa, dari si Eneng sebentar lagi lahiran. Sekali Aa harus segera memikirkan jodoh,") Sebuah permintaan dari seorang Ibu yang hampir bosan Wisnu mendengarkannya.
"Yang jelas Wisnu masih normal Bu, Pak. Mengenai Wisnu tidak pernah membawa perempuan ke rumah, wajar saja sebab Wisnu hanya akan membawa perempuan yang akan Wisnu nikahi saat itu juga," tandas Wisnu seraya masuk ke dalam kamarnya.
Wisnu termenung memikirkan pembicaraan orang tuanya barusan. Dia bukan tidak memikirkan tentang jodoh, namun sudah pernah berusaha membuka hati pada perempuan lain, namun perempuan itu malah pergi meninggalkan dirinya karena dijodohkan. Pernah juga Wisnu sempat naksir seorang mahasiswi yang saat itu sedang KKN di kampungnya, namun rupanya mahasiswi tersebut terlibat cinta terlarang bersama Dosennya.
Wisnu tersenyum kecut melihat kenyataan pahit yang menimpa kisah cintanya yang baru saja ingin dibangun. Dan kenyataannya hatinya kembali lagi pada cinta pertamanya, cintanya pada Dara masih terpatri sampai kini.
Saat itu Wisnu diperintahkan sang Komandan mengantar anak bungsunya ke kampus. Wisnu dengan sigap melaksanakan tugas Komandan walaupun itu tugas diluar kedinasan. Jeny nama anak bungsu Sang Komandan. Pak Akbar, papanya Jeny selalu mempercayakan Jeny diantar kemana-mana olehnya. Wisnu tidak bisa menolak, ia tetap patuh pada perintah Komandan.
"Pa, Jeny berangkat sendiri saja, tidak usah diantar dia," tunjuk Jeny ke muka Wisnu.
"Kamu jangan membantah ya, Papa percayakan kamu sama pengawal Papa. Jadi kamu harus pergi diantar dia, kalau tidak mau, lebih baik Papa kurung kamu dalam kamar." Ancaman seperti itulah akhirnya yang membuat gadis yang berkuliah di semester akhir itu patuh.
"Tugas kampus apa lagi yang akan kamu antar ke Dosen, ini kan belum masa skripsi?"
"Papa itu klasik ya, kalau tidak tahu menahu tentang perkuliahan sudahlah diam saja, sudah untung jadi seorang Komandan di kesatuan, mana tahu ada tugas ini itu dari kampus," ledek Jeny menyepelekan, padahal Pak Akbar lulusan terbaik di Universitas Langlangbuana, entah tahun berapa.
"Wisnu, bawa pergi anak saya ke kampus, dan jemput kembali dari kampus tepat waktu!" perintah Pak Akbar tegas.
__ADS_1
Dengan wajah masam Jeny mematuhi Papanya dan masuk ke Jeep yang ditumpangi Wisnu. Dia duduk dengan muka masam di samping Wisnu. Wisnu tidak peduli dia hanya melaksanakan tugas Sang Komandan yang harus dia laksanakan tanpa bantahan.
"Apa Lu lihat-lihat, jangan mentang-mentang Elu ajudan Papa, atau Pengawal Papa atau Kacung Papa atau apalah itu namanya, Elu jangan merasa besar kepala. Elu hanya melaksanakan perintah Papa, tapi tidak mencampuri urusan hidup atau privaci Gue, paham," tegasnya dengan wajah yang berubah sangar. Kecantikannya berubah menakutkan, Wisnu jadi merinding dibuatnya.
"Silahkan, saya tidak bermaksud memcampuri urusan kamu, De. Saya hanya melaksanakan perintah Papa kamu sebagai atasan dan Komandan saya," balas Wisnu enteng.
"Arghhh... antar Gue ke kampus!" sentak Jeny murka dan gusar.
Jeep tiba di kampus yang dituju. Jeny turun dengan muka masih masam, lalu membuka pintu Jeep dengan kasar. Dan menutupnya kembali. dengan keras.
"Bruggg....!" suara pintu terhempas cukup keras membuat Wisnu geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Jam berapa pulang, De?" Wisnu setengah berteriak.
"Semau Gue, tunggu Gue WA, Elu baru nyamperin Gue!" tegasnya seraya memasuki gerbang kampus. Wisnu geleng-geleng kepala melihat perilaku aneh Jeny. Dia sosok perempuan yang tidak mau dikekang, hidupnya ingin bebas dan ogah dilarang.
"Suka-suka kamulah, De!"
Disaat menunggu seperti inilah, demi membunuh rasa bosan, Wisnu memutar Jeepnya berkeliling kota Bandung. Suasana kota Bandung yang masih banyak pepohonan membuat Wisnu merasa nyaman melajukan Jeepnya dengan pelan .
Wisnu menghentikan Jeepnya di depan RSHS. Dia turun dan berdiri di samping Kang gorengan. Wisnu membeli beberapa gorengan, lalu dimakannya di sana di sebelah Kang gorengan yang menyediakan bangku panjang untuk duduk.
"Kang, sabaraha? (Kang, berapa?)
" Sapuluh rebu, A!" (Sepuluh rebu, A!"). Wisnu mengeluarkan uang selembar warna hijau pada si Akang gorengan, saat si Akang gorengan mau memberikan kembalian, Wisnu menolaknya.
"Tidak usah Kang, ambil saja!" seru Wisnu seraya berlalu dan memasuki Jeepnya. Perlahan Jeep kembali berjalan dengar perlahan mengitari jalanan komplek perumahan sekitar RSHS. Wisnu berniat mengarahkan kembali Jeepnya ke kampus Universitas Langlangbuana, namun saat Jeep berbelok ke arah kiri, tiba-tiba Wisnu dikejutkan dengan sebuah penampakan.
Jeny dan seorang lelaki berumur, sedang melenggang santai memasuki area hotel berbintang 3. Tangan keduanya saling bertautan mesra, Jeny bergelayut manja sambil sesekali tertawa. Kesempatan ini tidak disia-siakan Wisnu. Wisnu menepikan Jeepnya, lalu turun dan merekam adegan itu dari balik pohon besar. Wisnu tahu sebenarnya siapa Jeny, bukan dari laporan temannya saja, sekarang dia baru membuktikan siapa Jeny sebenar.
__ADS_1