
Kabar keguguran Dara telah sampai di telinga keluarga besar, termasuk Wisnu. Wisnu yang menyayangi Dara sebagai adik maupun sebagai seorang wanita, ikut merasa terpukul. Wisnu justru menyalahkan Azlan yang tidak bisa menjaga Dara. Saat Sofia tahu kabar duka ini, dia begitu sedih dan berduka karena disaat Dara mendapat kedukaan, dia tidak bisa datang menemani Dara yang sedang berduka.
Azlan yang disalahkan hanya bisa diam, dia tidak bisa menyela atau membela diri. Dirinya sekarang pasrah dan berserah diri sama Yang Maha Kuasa, serta berdoa supaya bisa melewati semua ini dengan ikhlas dan tabah.
Seminggu kemudian jatah istirahat Dara dari Dokter telah habis. Kini Dara sedang bersiap akan pergi bekerja seperti biasa. Walaupun dari semalam Dara dibujuk Azlan jangan dulu bekerja, namun Dara berkeras. Sebetulnya Azlan meminta Dara untuk berhenti bekerja saja, karena khawatir dengan kesehatan Dara. Lagi-lagi Dara menolak permintaan Azlan
"Tolong, untuk kali ini Abang jangan recoki atau bujuk Dara lagi. Dara masih ingin bekerja dan membunuh rasa bosan dan sedih karena kehilangan," mohon Dara dengan muka sedih. Azlan tidak tega melihat Dara sedih, dengan terpaksa dia menerima keputusan Dara walau berat hati.
"Terus sampai kapan Adek mau berhenti bekerja dan hanya fokus buat Abang?" Dara tidak langsung menjawab, untuk beberapa menit dia hanya termenung seolah sedang berpikir. Dara sebetulnya malas membahas ini, terlebih sejak kejadian keguguran itu, dirinya masih dirundung sedih dan bawaannya diam dan sensi.
"Dua tahun lagi Dara akan berhenti bekerja, itupun jika Dara benar-benar sudah hamil," putusnya sembari keluar pintu dan menunggu Azlan yang sedang mengeluarkan motor. Merekapun pergi bekerja sama-sama.
Tiba di Pabrik, Dara bertemu di muka pintu gerbang dengan Nela dan Jabar. Mereka masuk ke dalam ruang produksi sama-sama.
"Gimana Neng, sudah sehat betul?" Jabar mengawali percakapan diantara mereka bertiga.
"Lumayan Bang, walaupun masih terasa keram."
"Semoga tambah sehat deh... nggak jadi deh Abang punya keponakan," sesalnya sembari terus berjalan.
__ADS_1
"Tenang saja... dua tahun lagi Dara sudah bisa hamil lagi kok," timpal Nela.
"Buset... lama amat....!" Jabar keheranan.
"Iyalah, Dara kan habis dikuret. Dia keguguran bukan karena kecapean atau stress karena banyak beban hidup, tapi keguguran karena perutnya terbentur benda keras. Jadi proses penyembuhan rahimnya butuh waktu yang agak lama." Nela menjelaskan mirip seorang yang ahli di bidangnya. Jabar manggut-manggut.
"Oh... begitu ya. Jadi Selama belum dua tahun Dara tidak boleh hamil?"
"Bukan tidak boleh, tapi disarankan sih begitu biar rahim yang dalam proses penyembuhan benar-benar normal kembali dan kuat."
"Ngomong-ngomong kenapa sih Abang tanya-tanya? Apakah Abang sudah merencanakan program hamil bersama Mbak Fina?" heran Nela.
"Belumlah, lagian Fina hamilnya ditunda. Lima tahun lagi baru mau hamil," sahut Jabar.
"Ihhh... lama amat sih nunda." Nela mencibir tanda kurang suka, Dara merasa tersindir oleh cibiran Nela, sebab diapun sama, yaitu awalnya sengaja ingin menunda kehamilan.
"Kalau Gua sudah hamil, Gua mau langsung resign dari pekerjaan," celetuk Nela setelah Jabar berbelok dan menuju ruang Teknisi.
"Iyalah... suami Gua sudah meminta Gua out dari pekerjaan. Gua disuruh jaga tokonya yang banyak itu. Gua disuruhnya cuma duduk manis dan terima duit," ucap Nela membanggakan diri.
"Iyalah... Abang Lu kan juragan toko. Dimana-mana toko dia ada. Hampir bosan Gua menjumpainya," balas Dara
"Elu juga Dar, kalau hamil resign saja. Jangan kecapean, entar Elu nyesel kalau keguguran lagi,"
"Kalau Gua di rumah mau ngapain juga sih Nel, kan bosan di rumah terus?"
"Buka usaha kek, jualan Pempek resep mertua Elu, contohnya. Di perumahan sekitar Elu, belum ada tuh yang jual Pempek. Nanti laku keras lho Dar, lama-lama Elu bisa jadi bos Pempek deh," saran Nela antusias. Dara diam seakan berpikir.
"Boleh juga Nel sarannya, akan Gua pikirkan jika Gua nanti hamil dan resign."
Dua Tahun Kemudian
"Dek... ini sudah dua tahun sejak dikuret, jadi tidak usah lagi minum pil KB lagi ya!" Azlan mengingatkan seraya menatap lekat wajah Dara yang sedang serius baca Novel karya salah satu penulis favoritnya.
__ADS_1
Mereka kini sedang berada di ruang tengah sambil bermalas-malasan. Sementara waktu menunjukkan jam 8 malam.
"Tapi... Dara masih belum siap," jawab Dara ragu.
"Belum siap lagi! Kapan siapnya dong? Usia Abang sudah 28 tahun masa belum punya anak. Lihat Rian, dia sudah ada anak satu. Masa, Adek mau menunda lagi?" ucap Azlan sedikit meninggi.
Dara diam sejenak.
"Dara... bukan mau menunda, tapi... apakah setelah Dara hamil, Dara masih boleh punya kegiatan?" tanya Dara.
"Kalau Adek hamil Adek harus resign dari pekerjaan, Adek sudah janji, bukan?"
"Maksud Dara, kalau Dara hamil dan resign dari pekerjaan, Dara boleh punya kegiatan di rumah, tidak? Seperti jualan Pempek resep Mamak." Azlan diam sejenak sembari menyunggingkan senyum.
"Boleh, asal tidak membuat Adek kecapean dan menggangu kehamilannya," ucap Azlan menyepakati permintaan Dara. Perlahan Azlan mendekati Dara lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dara.
"Bagaimana kalau sekarang kita mulai bikinnya?" bisik Azlan manja sambil tersenyum menggoda menatap wajah Dara. Dara tidak menjawab, dia merengut setelah merasa terganggu bacaan Novel onlinenya oleh Azlan.
"Abang... nantilah dulu, Dara sedang membaca," cegah Dara, namun Azlan tidak peduli dia kini menarik pinggang Dara menuju kamar.
Pintu terbuka lebar, dengan cepat Azlan menutup dan menguncinya lalu mematikan lampu. Dara dipapahnya menuju kasur dan dibaringkan.
"Awas, besok jangan diminum pil KBnya. Kalau tidak patuh, Adek dosa!" peringat Azlan serius. Dara cuma bisa pasrah saat tubuhnya kini dalam penguasaan Azlan.
Bersambung...
__ADS_1