
🆚 Industry
"Nel... apaan nih?" Dara heran saat Nela memberikan sebuah kartu. "Buka aja... Gua muter dulu ya, kasih ini ke yang lain juga," seru Nela sambil ngeloyor meninggalkan Dara yang bingung.
"Ya ampun... Nela, sudah mau jadi penganten saja," ucap Dara senang saat dia berhasil membuka segel kartu berwarna bening.
" Abang juga dapat Neng, kita barengan saja datangnya ya!" tiba-tiba Jabar nyelonong mengagetkan Dara sambil mencolek pinggang Dara, sungguh kebiasaan Jabar yang tidak pernah usai. "Ya ampun Abang... Dara kaget tahu....!" sentak Dara kaget.
"Maaf....!"
"Tidak terasa Nela sudah mau nikah saja, dua minggu lagi malah," gumannya.
"Gimana, mau perginya dengan siapa? Kan Abang kamu tidak ada?"
__ADS_1
"Sama siapa saja boleh, sama Kak Vai mungkin. Dara kan bisa sambil nebeng motor bebeknya," ucap Dara. "Ya sudah, sama Abang juga boleh. Kebetulan bini Abang tidak bisa datang sebab dia lembur."
"Kita lihat saja nanti deh Bang, siapa yang lebih cepat datang, berarti Dara bareng orang itu," putus Dara.
"Coba... dulu Abang tidak terikat perjodohan, mungkin saat ini kamu sudah jadi bini sah Abang," ujar Jabar sambil matanya jauh menerawang. Dara diam sejenak, mencerna apa yang Jabar ucapkan barusan. "Abang ngomong apa sih?" Dara mencoba menyadarkan Jabar yang nampak jauh menerawang.
"Eh... apaan?" Jabar tersentak. "Tuh kan pikirannya lagi tidak disini. Tadi Abang ngomong apa sih? Emangnya pernikahan Abang sama Mbak Fina itu karena perjodohan?" Dara menatap dalam.
"Tahu dari mana? Tidak....!" sangkal Jabar gugup.
"Jangan salah paham dulu, maksud Abang kan bisa saja kalau dulu Abang tidak keburu menikah sama Fina, Abang pasti sudah lamar kamu. Kamu kan tipe cewek Abang," ungkap Jabar membuat Dara terbelalak. "Ihh Abang... gombal!" ucap Dara seraya memukul kecil lengan Jabar.
"Bukan gombal, tapi Abang serius!" sejurus kemudian Dara diam dan menatap Jabar. "Abang tidak sedang merayu Dara, kan?"
__ADS_1
"Buat apa merayu, itu hanya sebuah ungkapan isi hati Abang. Tapi... kita sudah tidak mungkin. Kamu punya Azlan, dan Abang punya Fina. Tapi kalau kamu mau jadi selingkuhan Abang, Abang senang hati."
"Pletuk....!"
"Awww... sakit Neng..., persis preman saja. Masa jidat Abang kamu pukul sama pulpen, awas nih yah Abang kutuk nanti jadi bini kedua!" Jabar meringis sambil meraba jidatnya yang kena timpuk Dara.
"Ihh... ogah... habisnya bicaranya tidak dikontrol. Abang nyebelin....!" ucap Dara seraya berjingkat. Jabar senyum-senyum cengengesan melihat Dara marah. "Marah ya....?" Jabar mengikuti seraya mencolek pinggang Dara.
"Tidak sangka saja Abang bicaranya kayak gitu, ngajakin Dara selingkuh segala!" rajuknya tidak senang. "Ihhh... kamu ini sensitif sih Neng, Abang kan bercanda. Kalau benar juga tidak apa, hehe....!" ucap Jabar menggoda. Dara melengos lalu meraih PCB yang akan masuk oven.
"Ya sudah... jangan manyun begitu dong, nanti cantiknya hilang, Abang minta maaf deh!" bujuk Jabar seakan menyesali perbuatannya yang membuat Dara suram.
Sementara pikiran Dara terus terngiang dengan ucapan Jabar tadi, entah bercanda atau tidak. Yang jelas ucapan Jabar tadi seakan sebuah isi hati yang baru diungkap sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak boleh baper atas ungkapan Bang Jabar tadi, yang jelas aku harus menganggap bahwa ungkapan Bang Jabar tadi hanya candaan," batin Dara.