
"Huek... huek....!"
Pagi ini Dara merasa sangat mual, setelah bangun tidur tadi kepalanya sedikit pusing dan mual mendera. Alhasil Azlan begitu khawatir, dengan sigap dia segera ke dapur dan menyiapkan susu ibu hamil.
"Hari ini jangan kerja dululah, Dek. Kondisi tubuh Adek sedang kurang baik. Apalagi sekarang Adek mual-mual, Abang sangat khawatir." Dara hanya menatap Azlan tanpa menyahut. Baginya Azlan kini begitu cerewet dan overprotektif, bisa jadi rasa takut karena pengalaman dulu menghantui Azlan sehingga dia overprotektif.
"Dara masih sanggup kok, ini cuma morning sickness. Ini biasa buat orang hamil di trimester pertama, nanti juga biasa lagi kalau sudah siangan." Dara memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Dulu janjinya mau langsung resign kalau Adek benar-benar hamil. Tapi sekarang, alasan lagi." Azlan merajuk dan meletakkan begitu saja gelas yang sudah diseduh susu ibu hamil itu di hadapan Dara.
__ADS_1
Melihat Azlan begitu Dara menjadi merasa sedih, lalu dengan cepat Dara meminum susu itu. Dengan segera Dara berjingkat dan pergi duluan tanpa menunggu Azlan. Dara terhenyak, tidak sangka wanitanya akan merajuk seperti itu.
Tiba di pabrik, Dara langsung menerima sebuah surat formal dari bagian HRD. Tidak salah lagi itu merupakan surat keputusan bahwa permintaan Dara untuk resign dikabulkan. Semakin siang, kini tiba waktunya Dara untuk berpamitan. Satu persatu Dara jumpai untuk berpamitan. Tiba saatnya Dara pamit sama Jabar. Teknisi yang saat ini sedang patah hati ini menatapnya sedih, namun dia nampak berusaha tegar di hadapan Dara.
"Selamat jalan ya Neng, semoga di luar sana kamu semakin sukses, juga kehamilannya sehat sampai lahiran," harap Jabar seraya memegangi jemari Dara. Inginnya memeluk Dara, namun ini di dalam ruangan produksi yang kebetulan ada Kak. Vita disitu.
"Abang juga ya, semoga hubungan rumah tangganya bersama Mbak Fina bisa diperbaiki," harap Dara tulus. Setelah dirasa semuanya dipamiti, Dara berjalan perlahan menuju pintu keluar ruang produksi.
"Doakan Abang, jika kelak sudah tidak berjodoh lagi bersama Fina, Abang bisa mendapatkan gadis yang mirip seperti kamu." Begitu isi pesan WA Jabar pada Data. Dara hanya bisa mengulum senyum membaca pesan WA tersebut.
__ADS_1
Seminggu kemudian saat tiba waktunya bekerja, Azlan masih melihat Dara belum siap pakai baju kerja. Kini Azlan tidak begitu khawatir dengan keadaan Dara yang sedang hamil, pasalnya kehamilan Dara benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda yang parah atau mengkhawatirkan.
"Dek, kenapa masih belum pakai baju? Ini sudah hampir jam 7 pagi lho." Azlan merasa heran dengan Dara yang masih santai.
"Dara sudah malas kerja Abang!"
Azlan masih keheranan dan belum paham! maksud Dara. Tiba-tiba Dara memberikan sebuah amplop yang kemarin dia terima dari HRD. Azlan meraihnya. Setelah dibuka dan dibaca, Azlan tiba-tiba terhenyak dan menatap Dara dengan gembira serta menciumi Dara dengan bertubi-tubi ciuman bahagia.
__ADS_1
"Akhirnya Adek patuh juga sama Abang." Azlan menatap lekat ke arah Dara. "Sekarang jaga baik-baik kandungannya. Adek di rumah kalau merasa bosan boleh kok undang Nela ke rumah. "
"Benaran?" Azlan mengagguk bahagia, begitupun juga Dara.