
"Ini amplop apa Dek....?" Azlan menimang-nimang amplop kecil warna biru itu dengan heran. Dara menggeleng seraya meraih amplop yang dipegang Azlan. "Ini... ini amplop pemberian Kak Riki. Tadi malam dia kasih ini katanya amanat dari seseorang. Saat Dara tanya dari siapa, dia tidak mau jawab," jawab Dara. Azlan nampak menggulir-gulirkan matanya seakan sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Riki...? Buat apa dia kasih ini, dan amanat dari siapa maksudnya? Jangan-jangan ini surat dari Reno?" tebaknya seraya meraih kembali amplop yang dipegang Dara. "Kita buka saja." Dara mengangguk tanda setuju.
"Srewekkkk....!" bunyi amplop disobek dengan gemas. Azlan memasang matanya dengan tajam mengamati kata demi kata untaian kalimat yang tersusun rapi di atas secarik kertas. Dadanya bergejolak seketika.
"Dara... aku masih mencintaimu sampai kapanpun. Dan aku seperti ini, itu karenamu. Aku mencintaimu walau kamu milik orang lain. Untuk itu, beri aku satu kesempatan berjumpa denganmu, aku mohon. Sekali saja! Ini permintaan aku terakhir, aku ingin memelukmu dan merasakan hangatnya tubuhmu. Jika kamu bersedia, aku tunggu di Kafe Indah, minggu depan jam 8 pagi setelah kamu pulang kerja. Tolonglah Dara, ini kesempatan aku untuk bertemu kamu. Setelah aku bertemu kamu sekali ini saja, maka aku tidak akan menggangumu sampai kapanpun."
Dari,
yang mencintaimu Reno.
"Kurang ajar... beraninya si Reno....!" geramnya seraya meremas secarik kertas dari Reno itu. Dara hening, dia merasakan surat dari Reno terdengar seakan menganggap dirinya gampangan. Dara maklum seandainya Azlan marah, sebab isi surat itu sungguh menginjak harga dirinya sebagai suami dari Dara. "Tidak ada cewek lain apa, mengajak bertemu dengan bini orang," gerutunya geram disertai amarah yang memuncak.
"Jadi menurut Adek, si Reno ini baiknya akan digimanain?" Azlan menatap Dara meminta pendapat, dimatanya masih tersimpan amarah. "Dara tidak akan menemui Bang Reno....!" jawab Dara menunduk. "Bang Reno lagi, Bang Reno lagi, apa sih Adek ini....!" sentak Azlan refleks merasa tidak senang dengan ucapan Dara. "Maaf....!" sahut Dara merasa bersalah.
__ADS_1
"Abang akan temui dia dan akan memberi pelajaran buat dia, seenaknya mulut berkata seperti itu, mengajak bini orang untuk berzinah. Abang tidak terima kata-katanya yang seolah menganggap Adek gampangan," tandasnya dengan nafas yang turun naik.
"Dara tidak setuju Abang menemui dia, biarlah jangan dihiraukan. Tolonglah Abang jangan cari ribut. Dia sengaja ingin memancing Abang keluar supaya terjadi keonaran. Dara mohon, tidak usah datang," pinta Dara risau. Dara menjadi menyesal kenapa tadi surat itu tidak dibaca dulu dan disembunyikannya untuk menghindari dari ketahuan Azlan. Diketahui atau tidaknya oleh Azlan surat itu, Dara pastikan tidak akan menemui Reno. Dara sudah terlanjur sakit hati atas penghinaan Reno tempo hari. Dan kini dia mengirimkan secarik surat untuk mengajaknya bertemu, alangkah gampangannya Dara dimata Reno, seakan Dara mudah diajak-ajak oleh lelaki lain.
"Kenapa... Adek takut atau kasihan sama dia?" Azlan menatap tajam mata Dara. "Dara takut Abang kenapa-kenapa, jadi Abang tidak usah temui dia," ucap Dara memohon. "Orang seperti Reno bajingan tidak akan kapok jika belum dikasih pelajaran. Maka dia akan Abang kasih pelajaran," tandasnya penuh tekanan. Dara ketar ketir, apa yang diucapkan Azlan kenyataan. Seandainya surat tadi disembunyikannya, maka Azlan tidak akan semarah ini.
Dara melihat Azlan semarah itu lantas dia masuk kamar dan mengurung diri. Semua gara-gara Riki. Kenapa dia mesti memberikan surat dari Reno pada dirinya. Dara merasa harus bicara dengan Riki.
Di Pabrik 🆚
"Kak Riki... Dara mau ngomong, ini penting perihal surat yang waktu itu Kak Riki kasih buat Dara." Riki terheran seraya mendekat.
"Tolong kasih tahu Bang Reno, minggu besok jangan sampai datang ke Kafe Indah, sebab Bang Azlan sudah tahu isi dari surat itu dan siapa pengirimnya, suami Dara ingin menjumpainya dan mau membuat perhitungan. Tolong bilang sama Bang Reno jangan datang, Dara mohon," ucap Dara sungguh-sungguh.
"Isi dari surat itu apa? Dan aku tidak tahu apa-apa Dara....!" respon Riki bingung. "Ini lihat....!" Dara memperlihatkan foto dari galeri fotonya, disana bukti secarik kertas dari Reno untuk Dara. Riki membaca dengan jelas lalu keningnya berkerut. "Sudah jelas, kan? Bang Reno hanya akan memperpanjang permusuhan diantara suami Dara, Dara saja merasa terhina dengan kata-katanya. Jadi Dara mohon cegah dia untuk datang ke Kafe Indah, sebab Bang Azlan akan menemuinya disana," jelas Dara risau.
__ADS_1
"Iya deh Dar, nanti aku usahain ngomong sama Bang Reno, aku coba kasih pengertian sama dia," respon Riki yang pada akhirnya bisa membuat Dara sedikit lega. "Tolong banget ya Bang....!" mohonnya sembari mengatupkan kedua tangan.
"Aku tidak janji ya Dar, tapi aku usahain dibilangin," ujar Riki lagi. Dara hanya diam tidak lagi merespon Riki, hatinya kini dilanda bimbang. Dara hanya berharap semoga saja Reno mau dinasehati Riki untuk tidak ke Kafe Indah yang dia sebutkan.
Hari yang di tentukan tiba, Dara saat ini baru pulang kerja malam. Dan Azlan yang harusnya kerja pagi, saat ini masih berada di kontrakan. Dara semakin was-was, sudah dipastikan Azlan akan nekad menjumpai Reno di Kafe Indah.
"Kenapa Abang masih belum berangkat kerja?" tanya Dara berusaha heran padahal alasannya sudah tahu. "Abang mau menemui Reno, Abang akan hadapi dia secara gentel. Kalau perlu duel, siapa yang menang atau kalah," ucapnya datar. "Dara mohon, Abang jangan pergi. Dara tidak mau terjadi keributan dan Abang terjadi apa-apa. Tolong Bang, jangan buat Dara was-was!" mohon Dara mengiba.
"Sudahlah tidak perlu takut, apa sih yang ditakutkan dari si bajingan Reno. Dia sudah berani melecehkan bini Abang, maka dia akan terima akibatnya," sungutnya sengit. Dara semakin dilanda takut akan ucapan Azlan. Sorot matanya saja sedikit memerah menahan marah. "Kenapa sih Abang selalu keras kepala jika Dara memberi saran, dan tidak pernah Abang dengar," Dara merengut sembari meninggalkan Azlan di muka pintu.
"Abang bukan tidak mau denger apa yang menjadi saran Adek, tapi kali ini Abang tidak terima bini Abang dihina dan dianggap gampangan oleh si bajingan itu. Jadi plisss... jangan rayu Abang untuk tidak menemui dia, Abang juga berkewajiban melindungi Adek dari sebuah rencana gila si Reno," pungkas Azlan seraya merapikan diri. Dara diam tidak menyahut.
__ADS_1
"Adek tenang saja, Abang bawa dekeng teman-teman nongkrong Abang, mereka sudah kenal dan solid. Jadi jika terjadi apa-apa dengan Abang, ada mereka yang bisa bantu," jawab Azlan mencoba menenangkan Dara.