Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Dara Jangan Kau Bersedih


__ADS_3

"Dar.... PCB ini tidak urgent tapi harus siap besok, target bisa tercapai per jam kan?" berita Kak Vita. "Insya Allah Kak, selama mesinnya OK!"


"Oh ya Kak, Dara sekalian mau minta ijin tidak masuk untuk hari Jumat, bisa nggak Kak?" Ucap Dara harap-harap cemas.


"Memang kamu mau kemana Dar?" Kak Vita sedikit heran.


"Dara ada kepentingan mendadak Kak!" Alasan Dara.


"Jumat ya...?" Kak Vita berpikir sejenak. Dara hanya menatap penuh harap.


"Bisalah Dar...., nanti Kakak urus. Kasih info ke Ira biar Ira siap handel di hari Jumat." Ujar Kak Vita.


"Siap Kak, terimakasih banyak Kak!" Ucap Dara senang.


"Dara.....!" Dara menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"Laporan kamu mana?" Reno meminta report Dara tiba-tiba. Dara menunjukan laporannya.


"Mesin saat ini Ok tidak ada problem, jadi aku harap kamu bisa handel masalah kecil seperti part habis atau solder habis. Aku mau ke Mushola dulu, ngantuk mau tidur." Ucapnya memberi aba-aba dengan entengnya. Dara hanya mengangguk menyanggupi.


"Dara sebenarnya kamu makin cantik saja, bikin aku makin greget!" Bisik Reno di telinga Dara sebelum berlalu disertai seringai sinis. Dara bergidik, bulu halusnya meremang.


Ada-ada saja, memangnya pabrik ini punya nenek moyangnya seenaknya tidur pada saat jam kerja. Gerutu Dara dalam hati.


"Ra...., hari Jumat aku ijin tidak masuk. Kamu tidak apa-apa ya sendiri dulu tanpa aku!" Dara menghampiri Ira dan memberi tahu maksudnya.


"Mau long weekend-an ya Dar.....! Cieee, kemana nih, sama siapa?" tanya Ira sambil menggoda.


"Ada kepentingan saja Ra....." jawab Dara sambil tersenyum.


"Siap deh, aku siap menjalankan tugas. Hehehe.....!" Ujar Ira penuh jenaka.


"Makasih banyak ya Ra....!" Ucap Dara sambil merangkul Ira. Setelah itu Dara kembali ke mejanya.


"Hai Dar, mesin Lu Ok ya?" Nela menghampiri Dara disela-sela kesibukannya.


"Alhamdulillah... !" Sahut Dara.


"Teknisi Lu mana?"


"Nggak tahu, nggak ngurus!" Cetus Dara seakan tidak peduli sambil menggedikkan bahunya.


"Nggak ngurus, giliran mesin error Elu sibuk nyari dia!" Goda Nela sambil sengeh-sengeh.


"Itu mah kewajiban dia Nel!" respon Dara.


"Terserah Elu dah.... !" Ucap Nela berlalu ke mesinnya sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Tepat jam 12 malam, leader kami Kak Vita tergesa menghampiri.


"Woyyyy.... jangan leha-leha!, Supervisor dan Manager datang!" Berita Kak Vita memperingatkan timnya supaya siap didekat mesin dan tidak dalam keadaan ngantuk.


"Teknisi mesinmu mana Dar?" Tanya Kak Vita heran.


"Bang Reno istirahat Kak....., ini kan jam istirahatnya." Ucap Dara memberi alasan.


Gawat jika Kak Vita tahu kalau Bang Reno pergi dari mesin saat jam kerja. Alangkah baiknya dia tidak memberi tahu yang sebenarnya.


Dara diam-diam menghubungi Reno via WA secara sembunyi-sembunyi, sementara Kak Vita memutar memberitahu operator yang lain bahwa akan ada sidak dari Supervisor dan Manager.


Telpon WA tidak diangkat-angkat, akhirnya Dara mengirim pesan WA.


[Abang, cepat datang ada Sidak dari Supervisor dan Manager!"] Pesan WA Dara terkirim. Pesan WA masih warna abu centang dua, artinya WA belum dibaca. Namun beberapa detik kemudian berubah menjadi centang biru.


[Tadi Dara bilang, Abang sedang istirahat karena ini jam istirahat Abang]. Dara mnegirimkan lagi pesan WA ke Reno.


Tak berapa lama Reno sudah berada tepat disamping Dara. Dara tersentak kaget.


"Astaghfirullah...!" Ucapnya kaget seraya memegangi dada.


Sekilas Dara melihat wajah cowok itu klimis, mungkin tadi langsung cuci muka, pikirnya.


"Dara.....,katanya ada sidak?" Tanya Reno meyakinkan.


" Supervisor sama Manager masih diruang office." Sahut Dara.


Beberapa menit Supervisor nampak berbicara pada Kak Vita dan Bang Reno, pembicaraan mereka pasti seputaran PCB dan komponennya. Sementara Sang Manager hanya melihat-lihat PCB saat sedang proses sampai keluar dari Oven.


"Selamat....!" Seru Dara pelan seraya mengusap dadanya.


Tak berapa lama Supervisor dan Manager meninggalkan ruangan produksi, Dara nampak senang. Hasil Sidak malam ini tidak ada kasus yang mendebarkan.


"Dar...... kenapa kamu tadi memberitahu aku bahwa ada Sidak?" Tanya Reno menghampiri Dara.


"Karena Kak Vita nanyain Abang." Jawab Dara.


"Terus kenapa kamu bilang aku sedang istirahat padahal aku lagi tidur di Mushola?" Tanyanya lagi.


"Apa untungnya buat Dara bilang seperti itu, toh Abang memang tidak ada di tempat saat jam istirahat?" Tegas Dara lagi.


"Begitu ya....?" Gumannya.


"Kenapa kamu tidak bilang saja sama Vita kalau aku tidak ada dimesin sejak jam 11?" Tanya Reno sambil mengekori Dara menuju mejanya. Dara mengangkat keningnya heran.


"Ohhh.... jadi Abang mau Dara bilang ke Kak Vita kalau Abang tidak ada di mesin saat masih jam kerja, terus disini terjadi keributan karena Teknisi mesin 10 hilang saat jam kerja, begitu?" Jawab Dara sedikit meninggi.

__ADS_1


"Mungkin kamu punya maksud lain?" Tuding Reno merasa tidak puas dengan jawaban Dara.


"Tidak ada maksud lain, Dara kan masih butuh Abang karena Abang partner kerja Dara satu mesin. Lagian mesin dalam keadaan OK. Kalaupun mesin tidak dalam keadaan OK, Dara tidak mungkin juga bilang yang sebenarnya. Sebab Dara bukan tipe partner yang suka menjatuhkan teman!" Tandas Dara membuat Reno terdiam sesaat.


"Jangan merasa telah menyelamatkan Abang, sikap kamu bisa berani seperti itu!" Dara terbelalak mendengar omongan Reno barusan, terlebih kata abang yang diucapkan Reno.


"Abang? Dara tidak sedang menyelamatkan Abang. Dara hanya berkata apa adanya. Jadi benar bukan kalau Abang tidak ada saat jam istirahat pada saat Kak Vita datang memberi tahu ada Sidak?, jadi Abang tidak usah salah paham deh!" Tepis Dara kesal penuh penekanan. Rasanya malas menghadapi cowok bawel didepannya ini. Masih saja belum paham.


"Dara tahu maksud Abang, jadi setelah kejadian ini Dara tidak berharap sikap Abang berubah baik sama Dara, sebab Abang memang tidak pernah bersikap baik pada Dara." Timpal Dara sambil melengos.


Merasa kalah omong, Reno hanya bisa menatap kesal gadis yang pernah jadi impiannya itu sambil mengepalkan tangan.


"Gimana Dar, Elu jadi minta ijin tidak masuk untuk hari Jum'at besok ke Kak Vita?" Tanya Nela disela-sela jam istirahat.


"Jadi Nel, mungkin besok surat ijinnya Gua terima." Sahut Dara.


"Asikkkkk..... yang mau ketemu camer...... !" Goda Nela sambil mengunyah bekalnya.


"Apaan sih Nela.....goda melulu." Tepis Dara sebal.


"Persiapkan diri Lu sebaik mungkin untuk menghadapi camer!" Goda Nela sambil tertawa jahil.


"Nggak perlu Gua persiapan apa-apa, paling orang tuanya Bang Azlan illfeel duluan ketemu Gua!" Ucapnya optimis.


"Elu itu ya, bukan optimis bisa diterima dengan baik oleh keluarganya Bang Azlan, ini malah optimis bakal ditolak. Heran deh. Kurang apa coba Abang Lu itu? Baik, perhatian, suka nyuciin baju Elu, bisa masak, bisa sabar, kalau Elu dapat yang lain belum tentu bisa seperti Bang Azlan." Cerocos Nela kesal.


"Aduh Nela, siapa juga yang suruh dia masak atau nyuciin baju Gua, dia sendiri yang mau kok. Gua juga sebetulnya ogah dicuciin. Tapi kan dia yang kadang tanpa sepengetahuan Gua nyuci baju Gua!"


"Terserah Elu deh....., Gua mah berharap saja keluarganya Bang Azlan bersikap baik, baikkkkk banget sama Elu, supaya Elu susah untuk nolak Bang Azlan saking baiknya." Harap Nela menggebu-gebu.


Dara mencebis kesal ucapan Nela yang menggebu-gebu barusan, dia malah asik membuka HPnya, lalu membuka WA yang sejak masuk kerja tadi tidak dibuka-bukanya.


Pesan WA masuk dari beberapa temannya dan ada juga pesan dari Kaka laki-lakinya, termasuk juga dari Azlan.


Pertama yang dia buka WA dari Azlan dulu, pesan suara masuk lalu dibukanya dan terdengarlah petikan gitar dan nyanyian "Dara" milik Ariel Noah, dengan suara khas Azlan.


"Suara siapa tuh Dar, lumayan enak....?" Nela mencuri dengar pesan suara yang Dara buka.


Dara langsung menutup WAnya dan keluar dari aplikasi tersebut.


"Kaya lagu "Dara" Ariel Noah ya, suaranya mirip-mirip Bang Azlan.........!", celoteh Nela sambil memiringkan telinganya di HP Dara.


"Bukanlah..... kepo banget.....!", tepis Dara.


" Ahhhh ngaku deh, suaranya mirip Abang Lu, lumayan enak juga. Jangan-jangan itu ungkapan isi hatinya kepada Elu!" Tebak Nela yakin.


"Sok tahu...!" Cebis Dara sambil memasukkan HPnya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


Jam istirahat habis, Dara dan Nela beranjak dan kembali ke ruang produksi. Saat menuju ruang produksi itulah pikirannya tidak fokus, Dara teringat pesan suara yang dikirimkan Azlan untuknya. Lalu setelah nitu Azlan mengirim pesan biasa, mengirim sebuah emot sedih dan sebuah tangan terkatup.


Kenapa dengan Azlan...? Jika penasaran yuk tetap dukung Author supaya semangat up nya.


__ADS_2