
"Ting tung ting tung....." Baru saja merebahkan tubuh di kasur, telpon WA Dara berbunyi. Nela memanggil. "Isss... ada apa nih orang?" Sungut Dara kesal.
" Halo Dar, Elu belum tidur...?" [Nela]
"Ada apa sih Nel, baru saja rebahan bunyi telpon Elu ganggu banget" [Dara]
"Gak usah banyak rese deh, Gua mau kepo nih." [Nela]
"Kepo apaan.....?" [Dara]
"Tadi Elu jadi telpon laki Lu gak?" [Nela penasaran]
"Gak....!" [Dara]
"Tahu gak sih, gak berapa lama Gua sampe kontrakan, si Meta juga tiba. Tapi mukanya BT banget." [Nela... ]
"Terus.....?" [Dara]
"Tebakan Gua, si Meta kayanya gak jadi ketemuan sama seseorang yang dia tunggu tuh, sebab muka dia BTnya minta ampun." [Nela]
"Haduhhh..... apa urusannya sama Gua?" [Dara]
"Isss..... Elu ini sok lempeng. Padahal hatinya gundah dengar lakinya ada yang naksir." [Nela]
"Ya udah kalau tebakan Elu yakin, sukurin aja." [Dara santai].
"Gua bersyukur kalau benar si Meta gak jadi ketemuan sama laki Lu". [Nela]
"Ketemu sih pasti Nel, mungkin gak jadi duduk berdua menikmati makan bekal bersama." [Dara]
"Kok Elu yakin banget sih Dar?" [Nela].
__ADS_1
"Sebab, Bang Azlan balik dulu dan makan di kontrakan sambil bawain Kue Putu buat Gua?" [Dara].
"Beneran Dar...!" [Nela]
"Gak percaya? Ya udah!" [Dara].
"Seneng banget deh kayanya, pasti Elu mulai cinta ya?" [Nela].
"Apa sih Nela....... biasa aja deh. Udah ah Gua mau bolam alias bobo malam!" [Dara]
"Sambil mimpiin Bebeb Azlan ya.....!" [Nela]
Bersamaan dengan bunyi "tuttt.... " panggilan Nela dipaksa berhenti oleh Dara.
"Gak ada akhlak banget, belum kelar Gua ngomong udah Elu matikan." Pesan WA dari Nela beberapa detik setelah perbincangan telpon terputus.
"Pokonya Dar, Gua ingatin. Jangan kasih kendor buat calon pelakor ngerebut laki Lu. Kalo gak, Elu bakal nyesel!" Peringat Nela wanti-wanti sebelum Dara sempat membalas.
"Ting.... " Satu pesan WA masuk lagi, tapi bukan dari Nela.
"Adek belum tidur, masih on WAnya?" [Azlan]
"Mau.. " [Dara].
"Cepat tidur, jangan terlalu larut. Selamat tidur. I Love you!" [ Azlan disertai emot cinta]
Dara tidak membalas pesan WA tersebut..
******
Besoknya jam 5 Subuh...weker berbunyi. Dara menggeliat-geliat meregangkan ototnya, sebetulnya bikin malas untuk bangkit. Pengennya masih meluk bantal. Tadi malam tidurnya terasa leluasa, sebab gak ada Azlan yang tidur disebelahnya. Tentunya dengan posisi tidur patunjang-tunjang alias posisi kepala berlawanan arah. Gak masalah sih tidur masih sekasur asal Azlan gak berani menyentuhnya. Sejauh ini Azlan memang masih menjaga Dara dengan sebaik-baiknya tidak melecehkan dalam arti sebenarnya, dan niat dia ingin menjaga Dara dibuktikan.
__ADS_1
Dara masih ngulet, tapi ingat kewajibannya dia segera beranjak ke ****** dan bersih-bersih, gosok gigi dan wudhu.
"Bingung pengen sarapan apa ya?" Guman Dara. "Nasi di Mejikom masih banyak, lebih baik bikin nasi goreng telor campur sayuran, enak kayanya." Gumannya lagi pelan sambil mikir. Dara berdiri, sebelum beranjak ke dapur, tiba-tiba iseng kepikiran pengen melihat-lihat lemari Azlan.
Dibukanya lemari itu, selain rapi langsung tercium wangi Foggy rasa Jeruk, segarrrr banget. Cowok ini memang rapi sih dan resik, Dara suka cowok yang rapi dan resik kaya gini.
Disusunan paling atas kayanya tidak dipakai untuk menyimpan pakaian, disana terdapat Celengan rumah yang digembok. Dara angkat lumayan berat. Cowok ini juga pandai nyisihin duit, nilai plus buat cowok sekelas perantau, pikir Dara.
Didinding lemari ada sebuah foto ditempel, foto dia dan Azlan sengaja disandingkan. Dara tersentak, foto kapan itu? Dara lihat benar-benar, ada sebuah tulisan "Masa depanku" di fotonya. Foto itu agaknya diambil secara tersembunyi. Berarti sejak pertama kenal dengannya, Azlan udah ada perasaan suka pada Dara. Pikir Dara.
Tiba-tiba Dara ingat kata-kata Nela yang mencoba menasehatinya sok bijak tadi malam "coba Dar rubah sikap Elu, jangan terlalu jutek atau cuek banget sama bang Azlan. Toh dia selama ini gak kurang ajar sama Elu. Apalagi Elu masih mau berbagi kasur sama dia walaupun kalian tidak saling ganggu, haha...., artinya peluang mencintai potensinya ada di diri Elu, nurut deh sama Gua. Kalau Lu gak pengen Bang Azlan direbut si Meta, wakwakwak....." Nasihatnya malam tadi diiringi tawa canda menggoda.
Mungkin nasehat Nela ada benarnya, Dara akan mencoba merubah sikap pada Azlan, gak jutek dan cuek lagi apalagi kasar. Toh Azlanpun tidak berbuat kurang ajar padanya selama seatap ini. Pikirnya.
Disamping foto dia dan Azlan yang sengaja disandingkan itu, nampak ada sebuah foto keluarga. Ada tulisan "keluargaku". Disana terdiri dari 5 orang, Ibu, Bapak, Azlan dan mungkin kedua adiknya.
Tiba pada sebuah tumpukan kertas, kayanya berkas-berkas penting dan lain sebagainya. Ada ijasah dan brosur perumahan dan lainnya yang tidak Dara paham. Hanya sekilas dilihatnya. Lalu ujung matanya melihat sebuah dompet, penasaran dibukanya. Ada ATM, KTP lama, kartu nama, Uang Korea berjejer lumayan banyak mungkin 10 lembar. Buka lagi dilipatan lain, ehhh nemu foto. Foto Dara yang pake kerudung, kayanya ini masih baru banget.
Dara merasa kesal bisa-bisanya dia kecolongan oleh Azlan yang curi fotonya sembunyi-sembunyi. Ada tulisannya juga "cantik bidadari surgaku". Ciehhh.... kok kaya lebay menurut Dara.
Ada lipatan lagi, Dara menemukan sebuah foto lagi. Ini bikin jantung Dara berdebar. Ada foto Azlan bersama seorang cewek yang Dara kenal. Ada tulisan " mantan" dan ada coretan tanda silang. Kayanya foto itu udah agak lama, terlihat dari seragam kerja Azlan yang masih mengenakan pakaian operator. Tiba-tiba dada Dara terasa sesak setelah melihat foto itu. Ingin menangis rasanya, tapi kenapa? Padahal jelas disana ditulis mantan, tapi kenapa masih disimpan? Padahal Dara katanya gak cinta Azlan, tapi kini dia merasa kecewa.
Sejenak Dara termenung, beberapa menit kemudian dia menyudahi menjelajah lemari Azlan. Lalu Dara membuka lemari plastiknya. Rapi juga padahal kemarin ada yang acak-acakan, pasti Azlan yang merapikannya. Dia berani menjamah area privasi Dara, walau sebetulnya gak ada barang yang menurutnya privasi.
Disingkapnya tumpukan baju paling atas, disana terdapat tumpukan uang kertas seratus ribuan 20 lembar dari Azlan tempo hari, yang katanya nafkah buatnya. Belum berkurang satupun, buat apa toh diapun punya duit gajian kemarin yang belum terpakai juga sejak dia menikah "paksa" dengan Azlan.
Dara bertekad uang itu tidak akan dia pakai. Akan Dara simpan disebuah celengan rumah yang mirip punya Azlan yang ada gemboknya. Kemudian suatu saat akan dia kembalikan pada Azlan, tekadnya.
45 menit rupanya cukup menyita waktu lama untuk "melihat-lihat" lemari Azlan dan dirinya. Kurang 15 menit lagi menuju jam 7 pagi, artinya sebentar lagi Azlan pulang. Rencana mau bikin Nasi goreng campur telur dan sayuran buat dirinya dan Azlan batal sudah, gara-gara foto mantan Azlan itu. Sesak didadanya kini makin menyeruak, rasa sedih melanda. Dara menangis dengan rasa yang berkecamuk, rasa benci, kecewa dan mungkin cinta berbaur menjadi satu. Cinta? Kenapa harus datang secepat itu, belum dua bulan?
"Assalamualaikum!" Azlan datang mengucap salam dengan wajah sedikit berbinar. Namun tidak ada sambutan dan balasan. Yang ada justru dia mendapati Dara tengah duduk termenung dengan mata yang sembab. Ada apa ini, bukankah semalam sikapnya mulai menghangat?
__ADS_1
Siapa sih mantan Azlan yang Dara kenal itu sehingga Dara menjadi sedih? Kenapa Dara begitu sedih, mungkinkah Dara mulai tumbuh benih cinta secepat itu? Pantengin yuk lanjutannya! Komen like dan dukungannya supaya Othor semangat ya Readers!