
"Assalamu'alaikum..., Sofia....!" Ucap Dara berirama.
"Waalaikumsalam salam... Kakak ipar....!" Jawab Sofia dibalas dengan berirama juga. Persis dalam sebuah lakon drama yang dialognya berirama.
Azlan tersenyum merasa terhibur dengan kekompakan adik dan istrinya itu.
"Sof, Dara bawa oleh-oleh nih. Rujak bumbu kacang. Kamu suka nggak?"
"Sukalah Yuk, apa sih yang tidak disukai Sofia kecuali patah hati wakwakwak....!" Ucap Sofia disertai guyonan.
"Siapa juga yang ingin patah hati Sof....?"
"Wah... mantap rujaknya. Oh iya, Sofi sudah masak nasi di mejikom. Tapi lauknya belum. Sofi nggak tahu Yuk Dara mau makannya apa."
"Nanti siang saja deh masaknya, sekarang kan lagi makan rujak. Ada kue juga, tadi Bang Azlan sekalian beli di warung Mpo Sari." Ucap Dara.
"Ya sudah, kita sikat saja."
Saat lagi asik sarapan pagi, tiba-tiba Rivai datang dan mengucap salam.
"Assalamu'alaikum...!" Ucapnya.
"Waalaikumsalam....!" Jawab mereka bertiga kompak.
"Ehh... Vai, ngapain Lu kemari? Pagi-pagi pula. Orang mah baru nyampe dan sarapan, Elu sudah bertamu." Azlan sedikit heran.
"Gua bosan Lan di kontrakan sendiri, lagipula Gua sudah lama tidak kemari. Sekalian Gua mau kenalan sama perawan." Kata Rivai sambil cengengesan.
"Alah... modus Lu rupanya. Datang kesini bukan sengaja cariin Gua tapi mau ganggu adek Gua."
"Ya elah Lan, tibang ngobrol doang dan kenalan masa kagak boleh. Lagipula ada yang bening begini masa Gua menghindar."
"Awas Lu ya, jangan macam-macam!" Peringat Azlan.
"Ehhhh... Kak Rivai. Kapan datang Kak....?" Seru Sofia seolah sudah akrab.
"Baru saja Dek,"
"Tunggu bentar ya, Sofi bikin kopi Guday Mukacina dulu buat Kak Vai, spesial buatan Sofi... hehehe....," Ujar Sofi diakhiri tawa.
Azlan dan Dara saling pandang, heran dengan Sofia yang tiba-tiba sudah akrab dengan Rivai.
__ADS_1
"Silahkan Kak Vai, Guday Mukacinanya siap....!"
"Terimakasih Adik manis...."
"Husss... manis, manis, modus Lu! Sejak kapan kalian kenal seakrab begini. Jangan bilang kalian pacaran ya. Gua tidak iklas kalau Gua punya adik ipar kayak Lu!"
"Ya elah, cuma temanan saja Lu udah kebakaran jenggot. Pacaran juga nggak apa-apa kali, orang kita masih singel." Sergah Rivai cuek.
"Wah... Kak Vai macarin Sofia ya? Sejak kapan Kak, kok nggak bilang-bilang? Tahu-tahu sudah dekat aja. Kita jadi iparan dong." Seloroh Dara tiba-tiba.
"Hehe... tidaklah Neng. Kita cuma berteman. Kita kan saudara seAdam seHawa. Kak Vai Adamnya, Sofia Hawanya. Hahahhaha.....!"
"Hussss.... Kak Vai, apaan sih. Kita temanan Yuk, masa tidak boleh." Tepis Sofia.
"Ya sudah kalau mau temenan atau pacaran, silahkan saja, hahaha..., justru Dara senang kok."
"Isss... apaan sih Dek, lagian mana cocok Rivai sama Sofia!" Timbrung Azlan tidak suka.
"Ahhh... Elu ini, macam Elu cocok gitu dengan Neng Dara. Kalau tidak dijebak....!"
"Dijebak apa Kak...?" potong Sofia.
"Itu, Kakakmu Dek, dijebak jebakan betmen."
"Ihhh Kak Azlan ini kode-kode, jadi curiga Sofi."
"Hahaha... makanya Lan, jangan sok sok an bilang Gua nggak cocok sama Sofia. Cuma berteman saja takut amat."
"Iya tuh Bang Azlan, punya rasa takut. Takut adiknya tidak dikasih makan sama Kak Vai jika nanti jadian."
"Ayukk... Sofia nggak pacaran sama Kak Vai. Sofia cuma berteman." Akunya merengut.
"Ya sudahlah Sof, tidak usah merengut begitu. Kalau tidak juga tidak apa-apa, kalau iyapun itu terserah kalian." Ucap Dara meredakan kekesalan Sofia.
"Kebetulan sekali ada Kak Vai, Dara mau cerita nih. Di tempat kerja Dara ada Teknisi baru." Berita Dara.
"Emang kenapa dengan Teknisi baru?" Azlan heran.
"Teknisinya pasti lebih buluk daripada Azlan?" Tebak Rivai asal.
"Alah Elu ini sok tahu. Gua bukan buluk, tapi Gua hitam manis, gini-gini juga Gua duplikatnya Jerry Yan, Lu tahu tidak Jerry Yan pemeran To Ming Se aktor Taiwan? Nah, kayak gitu muka Gua. Cuma Gua versi asli Indonesia." Ujar Azlan bangga.
__ADS_1
"Sudah, sudah...ini bukan masalah aktor Korea atau Taiwan, tapi ini tentang Teknisi di mesin 10 Dara. Dara ada yang janggal dengan dia. Sebab senyum sama sorot matanya mirip seseorang." Terang Dara sambil menghela nafas sejenak.
"Mirip siapa sih Dek, bikin tegang saja?"
"Mirip Bang Re-no." Ejanya supaya jelas.
"Hah....!" Azlan dan Rivai kaget dan saling pandang.
"Iya mirip banget saat tersenyum dan sorot matanya," ungakap Dara.
"Serius Dek?" Azlan mencoba meyakinkan.
"Iya, serius." Yakin Dara.
"Abang tahu tidak cowok yang tadi pagi ngerem mendadak? Dia itu Teknisi baru yang Dara sebutkan tadi."
Azlan mengerutkan keningnya heran.
"Benarkah?" Azlan semakin penasaran.
"Bisa jadi mirip, Dek? "
"Abang nggak tahu saja gimana sikap dia di pabrik. Sudah mirip kayak yang punya Pabrik." Cetus Dara tidak suka.
"Terus yang ngerem mendadak tadi, itu siapa?" Tanya Azlan meyakinkan.
"Kan sudah Dara bilang, dia itu Teknisi yang baru itu."
"Benar-benar aneh. Ini patut dicurigai kayaknya Lan." Timpal Rivai.
"Gua juga heran, kok tiba-tiba ada motor yang ngerem mendadak padahal depan belakang tidak ada kendaraan lain. Malah setelahnya dia sempat melihat kita dengan tatapan aneh." Ungkap Azlan, kini wajahnya diliputi rasa khawatir
"Hati-hati sajalah Neng, siapa tahu benar dia ada hubungannya dengan Reno." Peringat Rivai.
"Gua jadi khawatir I melepas Dara bekerja." Ungkap Azlan berubah sedih.
"Tidak usah terlalu dipikirkan Neng, siapa tahu dia memang saudaranya si Reno, tapi belum tentu juga dia mau membalaskan sakit hati si Reno. Kita lihat saja sampai dimana dia bersikap dan bertindak. Tapi tetap harus hati-hati."
"Iya juga ya I, Gua akan coba cari tahu siapa dia sebenarnya. Kebetulan mirip atau memang ada hubungannya sama si Reno?" Pungkas Azlan berapi-api.
"Pembicaraan merekapun diakhiri. Rivai pamit. Dara, Azlan dan Sofia masih asik dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Kira-kira Riki itu siapa ya?. Dan sebenarnya dia jahat atau tidak?