
Dara tiba di gerbang pabrik bersama Nela, sengaja tadi ia menolak keinginan Azlan untuk mengantar, sebab sudah janjian dengan Nela akan berangkat bareng.
"Langsung ke mesin sajalah Nel, gak perlu nunggu di sini, lagian sepuluh menit lagi kita masuk." Nela menganggukan kepala.
"Hai Del...!" sapa Dara pada Delia.
"Eh... Dara, udah sampai saja nih!"
"Gimana, mesin OK?" tanya Dara.
"Oklah... cuma tadi siang saja ada problem. Sekarang sudah OK berkat Teknisi kita," sahut Delia.
"Aku sambil bikin laporan ya Dar...!" Dara mengangguk seraya ngeloyor ke depan komputer, melihat hasil target yang didapat Delia.
"Aku balik ya Dar, udah jam 11. Selamat bekerja!" pamit Delia sambil melambaikan tangan. Dara membalas dengan senyuman.
Tiba-tiba, Reno sudah berada dekat meja Dara dan berdiri di depannya, membuat Dara terkejut.
"*Ya ampun ni orang makin kesini makin tambah* *bikin gedek, bisanya mengagetkan saja*!" dumel Dara dalam hati dongkol sedongkol-dongkolnya.
Dara mencoba tidak peduli dan tetap fokus pada laporannya. Dia bertekad harus kuat menghadapi cowok angkuh di depannya, walau suasananya tidak nyaman. Tiba-tiba mesin berbunyi, alarm "merah" menyala.
"Tet, tet, tet...!" Dara segera berjingkat menuju layar komputer dan melihat apa problemnya. Rupanya partnya habis, terpaksa dia harus pergi ke store untuk meminta barang yang habis.
"Ra, aku ke store dulu ya, ada part yang habis. Titip sebentar!" intruksi Dara sebelum beranjak ke store. Ira mengangkat tangannya tanda oke.
Reno menatap setiap langkah dan gerak gerik Dara dengan angkuh, dia tidak suka dicuekkan Dara.
Tidak berapa lama, Dara muncul dan membawa part yang tadi habis. Dara kembali ke meja dan menulis di kertas report, mencatat barang yang tadi habis dan barang yang masuk, lalu setelah itu harus dikonfirmasi terlebih dahulu sebelum dipasang di Feeder, pada pihak yang kompeten. Bisa QC, Leader bahkan Teknisi. Kalau saja Kak Vita ada di dekat mesinnya, tidak perlu repot-repot harus minta konfirmasi pada Teknisi angkuh di depan matanya.
"Tolong di tanda tangan Bang!" sodor Dara ke hadapan Reno. Reno meraih kertas report Dara dan part yang akan dikonfirmasi. Lama Reno menatap report tersebut tanpa membubuhkan tanda tangan. Dara merasa kesal, padahal dia sudah siap dengan feeder yang akan dipasang roll komponen tersebut.
"Bang...!" tegur Dara. Reno menatap Dara sambil senyum menyeringai. Dara merasa dipermainkan, sementara waktu makin berjalan. Tiap jam dia harus mencapai target, namun ini jeda waktu terbuang hampir 10 menit gara-gara Reno enggan membubuhkan tanda tangan.
__ADS_1
"Maaf ada apa sih Bang, Dara rasa Abang tinggal menyamakan barang dengan Feeding List. Jika sama, tinggal Abang konfirmasi dan tanda tangan. Dara mau pasang di Feeder nih!" protes Dara sedikit kesal.
"Kamu maunya buru-buru, nanti salah pula. Aku harus hati-hati ngecek barang sebelum kasih tanda tangan. Enak saja mau cepat, kalau terjadi *wrong value* kamu mau tanggung jawab?" respon Reno santai dan seakan sengaja menunda-nunda.
Rasa kesal Dara sudah di ubun-ubun sebenarnya. Namun dia harus bersabar sampai dimana cowok ini masih bisa dihadapi dengan sabar.
"Maaf Bang, biasanya kalau sekedar mengonfirmasi barang tidak sampai hampir 10 menit, ini sudah menyita waktu lho!" protes Dara lagi kesal.
"Biasanya paling lama satu menit, bukankah barang sudah sesuai dengan Feeding List?" yakin Dara.
"Bawel banget kamu, kalau ada kesalahan aku pula yang kebawa-bawa!" ujar Reno makin ngawur. Udah jelas barang sudah sesuai dengan Feeding List, lagipula orang store tidak mungkin salah memberi barang, sebab barang sudah sesuai dengan roll yang diberikan.
"Ya sudah Bang, jika Abang takut dan tidak mau tanda tangan, biar Dara konfirmasi ke Teknisi lain!" Dara bermaksud mengambil kertas reportnya, namun segera direbut Reno.
"Srettt....!" Bunyi sobekan kertas report terdengar. Dara ternganga tak percaya, rasanya kesal sampai ingin menangis. Mungkin kini matanya berkaca-kata, namun berusaha ditahan jangan sampai bulirnya jatuh. Dara mendongak menatap tajam ke arah Reno.
"Jangan campur adukan masalah perasaan dengan urusan kerja. Tolong profesional sedikit, jangan jadi pengecut dan cemen gara-gara urusan hati. Dan jangan lampiaskan kemarahan pada orang lain yang tidak tahu apa-apa, karena efeknya bisa fatal!" tandas Dara geram sambil merebut kertas report miliknya yang telah sobek, kemudian dipintalnya, lalu dilemparnya ke hadapan Reno.
Dara segera mengganti reportnya dengan kertas yang baru, lalu menulis laporannya sesuai dengan yang tadi. Kemudian dia berlari melewati Reno, mencari Teknisi mesin sebelah untuk konfirmasi dan minta tanda tangan. Tidak berapa lama Dara sudah berlari menuju mejanya, lalu memasang part di Feeder. Setelah terpasang dengan benar, barulah dipasang ke dalam mesin. Mesin kembali berjalan seperti biasanya. Dara mulai lega, meski di dekatnya ada Reno menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Tidak sopan kamu, Teknisi mesin sendiri kamu lewati untuk mencari Teknisi lain!" Reno melotot menyalahkan Dara.
"Bukannya Abang yang sengaja menunda-nunda dan enggan menandatangani report Dara. Kenapa sekarang menyalahkan Dara? Dara peringatkan ya, jika nanti Dara kena tegur Leader, maka Dara akan tunjuk Abang sebagai orang yang bertanggungjawab atas laporan di report Dara. Ingat itu!" tegas Dara dengan perasaan marah.
Reno menatap Dara dengan perasaan marah juga. Suasana horor antara keduanya berlanjut, sampai tiba waktunya pulang. Saat Dara membereskan semua peralatan kerja seraya menunggu pergantian shift, Dara dikejutkan oleh seseorang yang tercium wangi.
"Uhhh wanginya.... " dengusnya seakan mencari dari mana arah wangi itu.
"Bang Jabar...!" jeritnya pelan. Dara nampak kegirangan bertemu dengan Teknisi yang satu ini.
__ADS_1
"Mana nih, oleh-olehnya?" todong Jabar tanpa ragu.
"Ada..., nih....!" sodor Dara, menyodorkan sebuah keresek hitam.
"Pasti Pempek!" tebakan Jabar tepat.
"Tepat banget, nanti setelah sampai rumah sebelum digoreng, harus dicuci dulu lalu direbus selama 10 menitan di air mendidih. Setelah dingin, baru digoreng!" intruksi Dara sambil tersenyum.
"Ganjen...!" tiba- tiba Reno ngeloyor sambil meraih report miliknya dan mengejek Dara.
Jabar menatap Reno lalu menyapanya.
"Bro, apa kabar? Mesin semalam Ok?" terdengar Jabar berbasa-basi dengan Reno.
Dara berjingkat, tanpa bermaksud mendengarkan percakapan antara kedua Teknisi itu.
Saat bertemu Kak Vita, Dara segera menyerahkan laporannya tadi malam beserta sebuah keresek yang dalamnya sama dengan Jabar.
"Sedikit oleh-oleh Kak!" sodor Dara. Kak Vita nampak senang.
"Makasih ya Dar...!" ucap Kak Vita.
"Abang, Dara balik ya!" pamit Dara pada Jabar. Jabar menoleh dengan muka sedikit kecewa.
"Temani Abanglah, biar semangat...!"
"Kan ada operator yang lain, Santi!" Dara mencoba mengalihkan perhatian Jabar.
"Oke deh sayang... kalau tidak mau temani Abang, cepatlah pulang, tidur cantik. Jangan lupa mimpiin Abang!" selorohnya sambil tersenyum.
"Dasar genit..." umpat Dara.
"Tapi suka kan...?" tanya Jabar menggoda.
"Tidakkkk....!" pekik Dara pelan.
"Ehemmmm...!" tiba-tiba Reno berdehem mengacaukan suasana canda tawa Jabar dan Dara.
__ADS_1
"Abang, pulang ya!" pamit Dara segera ngeloyor meninggalkan kebisingan mesin yang masih menyala. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menghindari Reno.
"Makasih ya Neng...!" ucap Jabar sesaat setelah Dara baru dua langkah beranjak dari mesin.