
Sofia meringis merasakan sakit didahinya akibat benturan pada dashboard mobil. Wisnu bereaksi apalagi dahi Sofia ada sedikit goresan dan mengeluarkan darah.
"Haduhhh....!" guman Wisnu sembari memukul setir mobil.
"Tunggu disini, aku ke warung dulu belikan kamu perekat luka," ucapnya lalu turun dan menepi pada sebuah warung yang ada di pinggir jalan.
Sofia meringis, ini benar-benar sakit sekaligus menyakiti hatinya. Teganya cowok tampan itu bersikap kasar padanya. Kenapa juga tadi dia tidak menolak saat Dara menyuruhnya untuk
pergi jalan-jalan dengan Wisnu. Sofia tahu maksud Kakak iparnya itu, tidak lain ingin mendekatkan dirinya dengan Wisnu, namun baru saja pergi berdua untuk pertama kalinya, tidak ada tuh jiwa pelindung dalam diri seorang Wisnu yang notebene seorang aparatur negara. Harusnya dia melindungi bukan menyakiti.
Tidak berapa lama Wisnu masuk kembali ke dalam mobil sambil membawa sekantong kresek jajanan. "Sini aku pasangin Hasnaplusnya!" ajunya seraya menoleh ke arah Sofia. Sofia bingung harus gimana, apakah dia harus menyodorkan mukanya atau bagaimana. Sofia masih diam, terlebih saat dahinya kejedot dashboard gara-gara rem dadakan Wisnu, dirinya tidak lagi seceria tadi.
Wisnu membuka perekat luka itu lalu meraih bahu Sofia mendekat ke arahnya, lalu diputarnya bahu Sofia sehingga menghadap padanya. Sofia nampak kaku dan masih diam.
Perlahan Wisnu menempelkan perekat itu pelan, lalu ditekan-tekan sedikit kuat. Wajah Wisnu dan Sofia kini begitu dekat, sontak wangi maskulin dari tubuh cowok tampan itu terendus oleh hidung Sofia. Helaan nafasnya menerpa wajah Sofia, ingin rasanya Sofia dalam keadaan begini lebih lama lagi supaya dia bisa merasakan wanginya tubuh Wisnu.
"Awwww....!" jeritnya merasakan sakit di dahi yang ditekan kuat oleh Wisnu. "Sorry....!" sesalnya. "Kalau Aa tidak ikhlas, tidak usah diobatin luka Sofi biarkan saja kayak tadi," respon Sofi. "Aku bukan tidak ikhlas, tapi ini memang harus ditekan supaya perekatnya kuat. Ini minum, supaya kamu tidak haus," ucapnya menyodorkan sebotol air mineral. Sofi tidak menyahut, dia masih kesal atas sikap Wisnu tadi.
"Ok... sebagai permintaan maaf aku, sekarang aku ajak kamu jalan-jalan ke Monas," ucapnya seraya melajukan kembali Jeepnya. Sofi diam tanpa menyahut atau menoleh ke arah Wisnu.
Satu jam kemudian, Jeep yang ditumpangi Wisnu dan Sofia tiba di Monas. Wisnu segera memarkirkan Jeepnya. Lalu turun dan beralih ke pintu Jeep sebelah Sofi, Wisnu membuka pintu Jeep. Seketika Sofia merasakan suasana seakan menjadi romantis. Seperti serial di TV adegan sang lelaki yang membukakan pintu mobil buat si perempuan, so sweet banget.
__ADS_1
"Turunlah... jangan GR, aku bukakan pintu karena takut kamu berat menahan bobotnya, badan dan tangan kamu kan kecil seperti tiang listrik," ledeknya datar. Sontak Sofia menoleh ke arah tubuh dan tangannya, dia sedikit merutuk atas ledekan Wisnu barusan. "*Mana ada tubuh* *dan tanganku kurus kayak tiang listrik. Dasar* *picek*!"
"Ayo....!" ajak Wisnu melambaikan tangannya mengajak Sofia lebih dekat dengan Monas. Sofia nampak terkaget-kaget melihat Monas pertama kali, kesan pertama baginya sangat indah dan menjulang tinggi. Persis kesan dia ke Wisnu pertama kali, sangat tampan dan menawan namun sombongnya tingkat tinggi. Sejenak Sofia tersenyum-senyum sembari mengeluarkan ponselnya untuk memotret Monas.
"Certek... cetrek....!" sudah beberapa banyak foto yang dia ambil tentang Monas, sampai dia tidak kepikiran untuk memotret dirinya sendiri.
"Sini... mau aku fotokan, tidak?" Wisnu menawarkan bantuan. Sofia sontak terkejut dan mendadak jantungnya berdebar. "Bergaya dong, kamunya sambil senyum jangan manyun kayak perawan yang gagal kawin," celetuk Wisnu membuat Sofia tergelak.
"Hahaha....!" Sofia tertawa, sementara Wisnu memperhatikan cewek ceria cenderung agresif ini seksama. "*Manis juga*!" gumannya memuji. Sayang banget pujian Wisnu cukup di level manis bukan cantik, padahal Sofia cantik mirip artis Dinda Kirana kalau dilihat lebih dekat.
"Jangan...." cegah Wisnu sambil memegang lengan Sofia. Sofia menghentikan langkahnya lalu menatap heran ke arah Wisnu. "Kita fotoan saja begini sambil membelakangi Monas, nanti Monasnya juga kelihatan kok," ucapnya sambil membetulkan posisinya yang nyaman untuk berfoto narsis bareng Sofia. "Ok... begini...!"
Kecanggunganpun akhirnya mencair, Sofia ceria kembali dan berhasil berfoto dekatan sama Wisnu. Sementara Wisnu melihat Sofia tidak bad mood lagi seperti tadi.
__ADS_1
"Sofi, udahan yuk keliling Monasnya. Aku tiba-tiba ditelpon Seniorku. Aku harus kesana. Ayo.... kita lanjutkan perjalanan kita ke Cijantung!" ucap Wisnu sambil berjalan menuju parkiran mobil. Sofia melongo sejenak, padahal di Monas dia cuma baru fotoan dan belum keliling. Daripada ditinggalkan Wisnu, Sofia mengekori Wisnu menuju parkiran.
"Makan dulu saja yuk... kayaknya kamu sudah lapar," ajak Wisnu tahu saja apa yang Sofia rasakan. Akhirnya Jeep warna hujau tua itu berhenti di sebuah rumah makan khas Minang. Merekapun turun, dan Wisnu kembali membukakan pintu buat Sofia. Sofi merasa terharu, rasa kesal saat kejedot di dashboard mobil tadi kini hilang seketika.
Pesanan telah datang, tanpa menunggu lama Sofia dan Wisnu makan dengan lahap tanpa jaim.
"Ayok....!" ajak Wisnu saat mereka berdua menyudahi makannya. Sofia mengekori Wisnu, kini perutnya benar-benar kenyang.
Satu jam lebih Jeep yang ditumpangi Wisnu dan Sofia sampai di Markas Kopasus, Wisnu mengarahkan Jeepnya menuju barak. "Kamu mau turun nggak?" Wisnu menoleh ke arah Sofia. "Aa lama nggak bertemu sama Seniornya?" Sofia menatap Wisnu menunggu kepastian. "Tunggu saja, atau kalau kamu bosan di dalam, sebaiknya kamu tunggu di taman sebelah barak. Disana ada tempat duduknya kalau kamu penat," ucap Wisnu seraya membukakan pintu Jeep sebelah kiri.
Sofia turun diawasi para mata genit penghuni barak, maklum di barak jarang menemukan makhluk langka bernama perempuna. Siulan dan jeritan bunyi lainnya dari mulut-mulut usil mengiringi langkah Sofia menuju taman.
"Siapa tuh Bang, bawa cewek tumben banget. Biasanya kan jomblo sejati," tukas salah seorang berkepala plontos, berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, padahal semuanya memang plontos sih.
"Jangan ganggu ya, anak orang!" peringat Wisnu sambil membidik kedua mata temannya dengan dua jari. "Sialan, posesif Lu Bang, kirain penyuka pelangi!" ejek yang lain sambil meniru gaya melambai. "Awas ya, jangan ganggu. Gua mau bertemu senior!"
"Baru dapat cewek, posesifnya minta ampun. Sekalinya dapat, wowww... bening... cantiknya," yang lain menimpali dengan kata pujian. Sofia tersenyum sedikit merasa bangga mendengar ocehan-ocehan para Kacang Hijau berkepala plontos.
__ADS_1
"Awww....!" ringisnya