
Sudah dua bulan sejak tidak minum pil KB, Dara belum menampakkan tanda-tanda hamil. Azlan uring-uringan. Tapi Dara santai saja, toh dia memang tidak terlalu ngebet pengen hamil cepat-cepat.
"Abang, Dara pergi dulu ya?" pamit Dara saat dirinya siap berangkat kerja malam.
"Adek... santailah, kan Abang yang antar. Pamitnya nanti saja di gerbang pabrik. Lagipula Abang mau janjian sama Rivai dan Rian, ketemu di warung tenda depan pabrik saat jam istirahat,"
"Ohhh....!"
"Kenapa sih semangat banget kerjanya, tapi kalau ngomongin hamil saja loyo kayak kurang semangat!" ujar Azlan sembari mencubit kecil hidung bangir Dara.
"Ya tidak apa-apa dong Abang, sebelum Dara hamil kan harus semangat kerja," alasan Dara.
"Tapi kapan dong kamu hamil, Dek. Abang sudah tidak sabar ingin punya anak. Biar bisa kayak yang lain, pulang kerja ada yang sambut. Bukan hanya istri yang sambut tapi juga anak," tutur Azlan.
"Sabarlah, nanti juga Dara hamil. Emang Abang sudah bosan ya hidup cuma berdua sama Dara?" tuding Dara.
"Abang tidak akan pernah bosan sama kamu, Dek, Abang hanya ingin rumah kita ini rame dengan celotehan anak kecil."
"Ya... kalau belum hamil juga lantas mau gimana? Nikmati saja dulu keadaan kita sekarang ini. Kalau hamil syukur, kalau belum ya santailah Bang," ucap Dara.
"Harusnya Adek itu resign sekarang, jangan nunggu hamil dulu baru resign," sela Azlan.
"Dara belum mau resign, Abang! Tolong dong ngertiin Dara, lagipula Dara belum hamil. Nanti saat Dara benar-benar hamil, Dara janji akan langsung resign dari pekerjaan," ujarnya sungguh-sungguh.
"Benar ya, janji. Padahal maksud Abang menyuruh kamu resign dari sekarang, supaya kamu bisa istirahat di rumah dan cepat hamil," ucap Azlan. Dara tidak menjawab lagi, dia lantas berdiri dan bersiap menaiki motor yang telah Azlan siapkan.
"Ya Allah hamba ini benar-benar ingin Dara cepat hamil, beri kami keturunan," batin Azlan berdoa.
Satu Bulan Kemudian
Dara mendengar Nela telah hamil, alangkah bahagianya. Nela telah resign dari pekerjaan satu tahun yang lalu, dan setelah satu tahun berlalu Nela baru hamil. Nela tidak KB apa-apa dan jarak dari pernikahan ke hamil lumayan lama.
"Selamat ya Nel, akhirnya Elu hamil," ucap Dara saat Nela sengaja main ke rumah Dara.
"Elu, kapan Dar mau hamil? Emang belum ada tanda-tanda hamil?"
"Belum Nel, Gua santai saja. Dikasih sekarang syukur, dan jika belum ya tidak apa-apa."
"Elu kayaknya pasrah gitu sih Dar, orang lain biasanya sedih kek atau gimana, Elu santuy... jangan-jangan Elu emang belum siap hamil kayak dulu."
"Gua bukan nggak siap, tapi Gua santuy,"
"Iya deh yang santuy, 10 tahun lagi baru hamil masih santuy."
"Isss...Nela, gitu amat sih ngomongnya, Elu doain Gue nggak hamil-hamil ya, kalau 10 tahun baru hamil lagi, kelamaan tahu." Dara cemberut, tidak suka dengan omongan Nela.
"Gua nggak do'ain, Gua cuma berandai-andai, makanya jangan bilang santuy dong Neng, mukanya juga datar, Gua ngerasanya Elu kayak belum siap hamil."
"Sudah ah, lebih baik kita rujakan lagi. Tambah nih rujaknya. Siapa tahu habis ini Elu hamil beneran," ucap Nela yang diamini Dara dalam hati.
__ADS_1
...****************...
Satu tahun kemudian, Dara dan Azlan habis pulang dari acara aqeqahan anaknya Nela. Nela sudah melahirkan dan memiliki seorang anak cowok yang tampan sekali. Saat itu hujan sangat lebat. Jarak Tambun ke Cikarang masih jauh, terpaksa Azlan menghentikan motornya di emperan Toserba AlfaMei.
"Kita berteduh dulu, Dek. Hujan kayaknya lebat banget, jas hujan tidak cukup menahan hawa dinginnya hujan. Lagipula hujan kali ini akan mengakibatkan banjir," saran Azlan sembari menepikan motornya di pelataran parkir depan Toserba.
Azlan dan Dara berdiri di emperan Toserba menunggu hujan sedikit reda. Sementara Dara hatinya berkecamuk, melihat baby boy milik Nela tadi ada perasaan terenyuh. Dia seakan merindukan suasana yang dirasakan Nela. Merindukan hamil dan perut membesar.
"Baru kali ini merasakan rindunya memiliki anak, setelah melihat betapa lucunya anak Nela tadi. Nela dan Bang Ilham juga begitu bahagia. Mungkin perasaan inilah yang dirasakan Azlan saat dirinya meminta Dara supaya cepat-cepat hamil. Azlan merindukan seorang anak, dan kini Dara juga merindukan keadaan dia yang pernah hamil dulu.
Dara kelihatan sangat kedinginan dengan tubuh yang bergetar. Azlan dengan cekatan membuka jaketnya lalu dibalutkan ke tubuh Dara, tangannya juga Azlan pakai untuk menghangatkan tubuh Dara, melilit di pinggang Dara.
"Semoga tidak ada yang menuding kami mesum," harap Azlan.
"Coba saat hujan ini kita sudah ada di rumah, suasana yang sangat mendukung," bisik Azlan tepat di telinga Dara. Dara menjauh kegelian.
"Abang jangan bisik-bisik di telinga, ini tempat umum. Nanti dikiranya kita pasangan mesum yang belum ada ikatan sah," cegah Dara.
Azlan menjauhkan kepalanya, kini posisinya hanya memeluk pinggang Dara saja. Ditatapnya air hujan yang mulai masuk lewat drainase, lalu keluar lagi, itu tandanya got sudah tidak muat lagi oleh air hujan yang masuk. Pantas saja, gotnya memang disesaki sampah plastik.
"Hujannya kayak masih lama, duhh... pegal lagi. Dara jadi mual, masuk angin kayaknya," keluh Dara yang merasakan perutnya sedikit mual. Dia memang begitu, kalau kena hujan sekaligus angin langsung kena masuk angin.
"Abang, Dara mual banget nih, coba jongkok dipojokan sana yuk, Dara tidak kuat berdiri," ajak Dara seraya menepi menuju pojokan Toserba. Dara langsung pucat dan murung, mungkin efek menahan rasa mual.
Kejadian ini persis dia alami saat diantar Reno dan Riki pulang dari kawinan Nela dua tahun yang lalu. Tubuh Dara memang cepat bereaksi kalau terkena hujan dan angin sekaligus.
"Sebentar, Abang belikan Minyak Kayu Kencana, " Azlan meninggalkan Dara sejenak untuk membeli Minyak Kayu Kencana. Tidak lama dari itu Azlan kembali dan segera berjongkok membantu mengoleskan Minyak Kayu Kencana yang tadi sudah dibuka.
Hujan mulai reda, menyisakan air bah disepanjang jalan. Azlan belum berani membawa motor, terlebih melihat kondisi Dara yang masih belum reda dari rasa mual. Cukup lama menunggu, dua jam waktu yang mereka pergunakan untuk berteduh. Akhirnya hujan benar-benar reda, menyisakan gerimis yang tidak seberapa. Azlan dan Dara meninggalkan pelataran Toserba dan berharap hujan benar-benar reda.
Satu jam kemudian, Azlan dan Dara tiba di rumah. Dara nampak lemas dan pucat. Azlan dengan sigap membuka jas hujan yang melekat di tubuh Dara, kemudian Dara di papahnya menuju kamar dan dibaringkan.
__ADS_1
"Sebentar, Abang mandi dulu membuang keringat basah dan kotor dulu. Adek, tidak usah mandi. Nanti Abang bikinkan Teh Jahe Hangat. Jangan banyak gerak ya!" peringat Azlan seraya bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama, Azlan telah siap mandi dan berpakaian. Teh Jahe hangatpun sudah siap disajikan untuk Dara.
Hampir lima tahun usia pernikahan Azlan dan Dara, namun Azlan tidak pernah berhenti memberi perhatiannya untuk Dara, terlebih saat Dara mengalami keguguran, Azlan selalu menahan egonya dan lebih banyak mengalah. Demi keutuhan cinta yang dia perjuangkan dulu yang diwarnai drama tidak biasa, penggrebegan yang berakhir menikah paksa. Itupun tidak lepas dari skenario Azlan.
"Sayang... ini Teh Jahe hangatnya diminum dulu, setelah ini Abang balur sekujur tubuh Adek pakai Minyak Kayu Kencana biar anginnya keluar." Dara langsung meminum Tah Jahe yang Azlan buat.
"Makasih Abang, Abang selalu perhatian sama Dara. Tapi... Dara belum bisa kasih kebahagiaan buat Abang," ucapnya diiringi air mata yang tiba-tiba jatuh. Azlan terkejut seketika.
"Adek kenapa nangis, Adek sudah cukup memberi Abang kebahagiaan. Sudah jangan melow dulu, Adek harus dibalur dulu sekujur badannya biar hangat," bujuk Azlan seraya mengusap air mata Dara yang jatuh.
"Dara belum bisa kasih anak....!" Tangis Dara kini pecah. Azlan memeluk Dara dan menusap-usap bahunya.
"Sudah sini baringlah, Abang tidak mau Adek sedih sekaligus sakit, Adek belum Abang balur." Azlan segera membaringkan tubuh Dara dan perlahan membuka satu persatu baju Dara yang sedikit basah karena hujan tadi.
"Abang... jangan semua dibuka, kalau dibuka awas saja!" Dara memberi peringatan supaya Azlan tidak membuka pelindung si kembar kesukaan Azlan. Azlan tersenyum nakal seraya berpura-pura akan membuka pelindung si kembar.
"Awas ya!" ancam Dara.
"Kenapa sih malu, Abang cuma mau balurkan minyak. Lagipula ini semua milik paten Abang."
"Pokoknya nggak....!"
Kali ini Azlan patuh, lagipula Dara memang sedikit kurang vit. "Abang... pijitan Abang asli enak... banget. Abang benaran sayang dan cinta sama Dara?" tanya Dara seraya merem melek menikmati pijatan Azlan yang sentuhannya enak.
"Abang kan pijatannya dari hati, pakai resep cinta dan sayang yang tulus," ucap Azlan sambil mengusap bagian perut Dara.
"Semoga kamu cepat hadir di perut Mama ya, Dek. Papa sudah kangen pengen peluk Adek." Ucapan Azlan langsung kena ke hati Dara. Dara langsung terharu dan seakan merasa bersalah atas sikapnya dulu yang sempat belum siap hamil.
"Maafkan Dara, Abang."
"Nah... sudah Abang baluri semua, sekarang... bagaimana kalau kita buat anak?" bisik Azlan tidak kira-kira, baru saja Dara mendingan dari mual sudah mau digarap.
"Abang... baru saja Dara reda dari mual masa mau dipakai. Abang tega....!" pekik Dara kesal. Azlan tertawa terbahak-bahak melihat Dara kesal dan merengut begitu.
"Ya sudah, nggak deh. Sekarang kita tidur saja yuk, tapi Abang peluk deh biar mualnya benar-benar sirna." Akhirnya Azlan mengalah seraya melabuhkan tubuhnya di samping Dara dan melilitkan tangannya di perut Dara yang rata. Tapi sebelum Dara menyadari, Azlan dengan cepat melabuhkan ciuman lembutnya di bibir Dara. Dara terkejut namun Azlan terus membungkamnya. Malah kini Dara membalasnya, karena rasa panas sudah menyerang sekujur tubuhnya.
Tidak ada yang bisa menjamin dua orang sah ini cuma tidur sambil berpelukan begitu saja. Setelah berpagutan yang begitu lama dan dalam, yang terjadi selanjutnya seakan mengalir begitu saja seiring hujan yang kembali turun begitu deras seperti tadi.
__ADS_1
"Semoga yang kali ini, bisa menghadirkan kehidupan di rahim Adek," harapnya sambil mengecup kening Dara.