
Sepeninggal Dara dan Azlan, rumah Bu Endah nampak sepi. Bu Endah dan Pak Malik masuk ke dalam rumah dan mendapati Wisnu anak semata wayangnya tengah duduk terpekur di ruang tamu.
"Wisnu..., sejak kapan kamu di sini? Kemana saja, si Eneng mencari? Dia tadi sangat sedih ingin pamit dan bertemu kamu!" ucap Pak Malik seraya duduk di kursinya. Wisnu masih diam tak bergeming.
"Ada surat dari si Eneng!" ucap Bu Endah seraya menyodorkankan secarik kertas. Wisnu meraih kertas itu.
"Jangan siksa perasaanmu dan perasaan si Eneng, bagaimanapun kalian berdua saudara. Ibu dan Bapak sangat menyayanginya seperti anak sendiri," kata Bu Endah lagi lembut.
"Ibu dan Bapak kenapa selalu halang-halangi perasaan Wisnu, gara-gara Ibu dan Bapak Dara pergi. Tidak bisa tegas menahan dia pergi!" sentak Wisnu meninggi.
"Itu sudah berlalu Nak, Ibu dan Bapak tidak bisa mencegahnya karena itu tekadnya si Eneng yang ingin berusaha mandiri," tepis Bu Entah.
"Jangan menyakiti perasaan diri sendiri, kita do'akan dan lihat saja apakah si Eneng bahagia, kalau tidak bahagia kamu berhak merebutnya!" pungkas Pak Malik mengakhiri obrolannya. Pak Malik pergi meninggalkan anak dan istrinya di ruang tamu.
"Kalian sama sekali tidak mendukung Wisnu!" sentak Wisnu seraya beranjak meninggalkan Bu Endah dan masuk ke dalam kamarnya. Pak Malik yang mendengar perkataan Wisnu hanya bisa menatap sendu ke arah istrinya. Dia tahu seperti apa perasaan anaknya, namun tidak bisa berbuat banyak.
Wisnu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ditatapnya langit-langit rumah di kamarnya ini. Kenangan beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih boleh tidur bersama dengan Dara, jelas terkenang.
"Aa, keukeupan Dara. Dara tiris!" (Aa, peluk Dara. Dara dingin) rengek Dara waktu itu. Wisnu memeluknya sampai Dara tertidur.
Saat Wisnu usia 12 tahun dan menginjakkan kaki di SMP, Bu Endah sudah tidak mengijinkan Wisnu dan Dara tidur bersama. Wisnu dibikinkan kamar khusus disebelah dapur yang ruangannya masih luas. Kadang dari situ muncul candaan antara keduanya.
"Ihhh... Aa bobo caket pawon, bari ngarencangan Beurit nya?" (Ihhh...Aa tidur dekat dapur, sambil nemenin tikus ya?) ejek Dara sambil ketawa renyah. Wisnu hanya tertawa membalas ledekan adik sepupunya itu.
Kamar inilah yang menjadi kamar Dara, kamar yang nuansanya masih ada nuansa pink yang sedikit demi sedikit di rubah Wisnu sejak Dara kerja ke Cikarang. Wisnu menempati kamar ini kalau dia sedang tidak di Mess.
Perlahan Wisnu membuka secarik kertas dari Dara.
__ADS_1
Kapayuneun A Wisnu
Assalamu'alaikum A!
A, Dara nyungkeun dihapunten margi Dara tos teu ngagugu ka Aa. Nanging ieu pilihan Dara. Aa tong ambek nya. Dara nyaah ka Aa, tapi naha Aa alim pisan nepangan Dara tisaprak Dara nagbudalkeun pamaksadan Dara. Perkawis Bang Azlan, Aa tong hariwang Dara yakin eta pameget nyaah ka Dara, sanaos carana licik kango ngengengkeun Dara.
Dara ngartos Aa teu nampi nu janten rayi dihinakeun. Tapi Insya Allah Dara tos iklas margi Bang Azlan tos nembongkeun kanyaahna sareng kasariusanna. Dara terang kanyaah Aa moal aya nu ngelehkeun. Tapi sakali deui, tong baeudan Dara, Dara nalangsa ku Aa dibaeudan. Dara oge nyaah ka Aa. Sakieu ti Dara. Dara ngantos waleranna kana WA. Salam baktos sareng sono salalawasna!
Dara Virginia...
Kehadapan A Wisnu
Assalamu'alaikum A!
A, Dara minta maaf, sebab Dara sudah tidak menurut pada Aa. Namun ini pilihan Dara. Aa jangan marah ya. Dara sayang sama Aa, tapi kenapa Aa tidak mau menemui Dara sama sekali sejak Dara mengatakan maksud Dara. Masalah Bang Azlan, Aa jangan khawatir lelaki itu sayang sama Dara, walaupun caranya licik untuk mendapatkan Dara.
Salam bakti dan rindu selamanya!
Dara Virginia.
*
Secarik surat dari Dara dibaca Wisnu sambil bercucuran air mata, entah kenapa dia begitu kehilangan adik sepupu yang selama ini dia sayangi. Terlebih ketika Dara didapatkan oleh lelaki bernama Azlan itu dengan cara yang licik, Wisnu marah. Seandainya caranya baik-baik,
mungkin relung hatinya yang paling dalam tidak merasakan sesakit ini, mungkin akan iklhas walau harus terpaksa merelakan.
"Daraaa....tega ninggalin Aa!" jeritnya!
__ADS_1
*
*
Perjalanan arus balik kali ini tidak padat merayap seperti perjalanan mudik kemarin, pasalnya hari ini bukan puncak arus balik. Bis ataupun kendaraan kecil melenggang dengan lancar di jalanan tanpa hambatan.
Tidak terasa, perjalanan Azlan dan Dara tiba di Cikarang, kontrakan yang ditinggalkan selama 5 hari ini nampak masih sepi, yang terlihat hanya lalu lalang orang-orang warga kampung setempat.
Azlan membuka kunci pintu dan segera kedalam. Kamar yang berukuran 4x4 meter itu nampak masih rapi, namun debu yang ngeres terasa ditelapak kaki. Sudut ruanganpun nampak berdebu. Azlan dengan sigap mengambil sapu dan menyapu ruangan itu. Sementara Dara langsung ke kamar merebahkan tubuhnya yang lelah.
"Sayang... sebelum rebahan alangkah baiknya kasurnya disapu pakai lidi dulu, sini biar Abang yang bersihkan," ucap Azlan lembut. Dara menatap Azlan sejenak, ada rasa tidak enak di wajah lelahnya. Apalagi sejak dalam perjalanan Dara tidak sedikitpun berbicara dengan Azlan, dia terlalu larut dalam kesedihan akan sikap Wisnu.
"Sini sapu lidi dan ijuknya, biar Dara yang nyapu dan bersih-bersih. Abang masak saja, biar saat lelah nanti nasi sudah ada. Lauknya tinggal beli saja," ucap Dara membuat Azlan sedikit ternganga tak percaya, pasalnya sejak dari Lembang tadi, Dara sama sekali tak mau berbicara padanya. Ternyata sikap lembutnya tidak sia-sia.
Azlan segera beranjak ke dapur untuk masak nasi. Lalu mengeluarkan motornya yang sejak tadi masih di dalam. Dan suara motor terdengar, entah kemana Azlan perginya.
Tidak butuh waktu lama, Dara selesai juga menyapu dan bersih-bersih ruangan. Gerah seketika terasa di tubuhnya, kipas anginpun dinyalakan. Aahh terasa segar angin yang menerpa tubuh. Rasa ngantukpun datang.
Sudah tidak peduli badan belum disentuh air, Dara menuju kasur dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Tak berapa lama Dara tertidur begitu pulas.
Azlan tiba di depan kontrakan dengan menjinjing beberapa keresek belanjaan bertuliskan AlfaMei. Azlan sedikit heran, pintu nampak tertutup sementara jendela sedikit terbuka. Dan tidak terlihat pergerakan Dara.
Azlan segera masuk ke dalam, ruangan nampak sudah bersih tidak berdebu lagi, terlihat dari lantai yang kesat tidak ngeres lagi seperti tadi pertama masuk. Azlan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, rupanya gadisnya tengah tertidur pulas. Terdengar suara deru nafas yang teratur dari arah kamar. Dilihatnya sebentar Dara, nampak sangat pulas. Mungkin perjalanan tadi bikin lelah, terlebih lelah pikiran memikirkan kesedihannya tentang sikap kakaknya Wisnu.
Azlan keluar dari kamar, sebelum bersih-bersih dia berencana memasak dulu, kebetulan tadi sepulang dari AlfaMei mampir ke warung yang kebetulan buka, dan masih menjual bahan sayuran. Sayur asem dan bahan sambal menjadi pilihan Azlan, serta dengan bumbu raciknya yang sudah tersedia.
Azlan berharap saat Dara terbangun nanti bisa dimanjakan dengan masakan hasil olahannya, dan segera melupakan kesedihannya tentang Kakaknya Wisnu. Bagaimanapun Azlan harus berusaha membuat Dara kembali ceria dan hangat lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1