Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sofia Pulang, Azlan Senang


__ADS_3

Sebulan kemudian, akhirnya masa liburan semester Sofia berakhir. Dara merasa menyesal liburan Sofia kali ini di Pulau Jawa untuk pertama kalinya, tidak puas mengajak Sofia jalan-jalan. Hanya dengan Shela temannya, Sofia bisa jalan-jalan keliling Jakarta. Kebetulan Shela memang asli anak Jakarta.



"Sof, Dara minta maaf ya tidak bisa ajak kamu jalan-jalan. Jangankan keliling Jakarta, keliling Cikarang saja Dara tidak sempat," ucap Dara meminta maaf, serentak air mata Dara jatuh bercucuran. Mengingat Sofia sebagai adik ipar begitu baik dan selalu mendukungnya.



"Tidak apa-apa Yuk, Sofia paham. Yang penting Ayuk sama Kak Azlan disini sehat, tidak boleh berantem lagi. Terus kalau ada masalah, kalian harus terbuka satu sama lain. Dan yang terpenting, kalian harus cepat-cepat kasih Sofi keponakan." Tandas Sofi penuh harap.



"Terimakasih Sof, Dara sayang Sofi....!" ucap Dara lagi masih memeluk Sofia.


"Ayo, Dek... Grabcarnya sudah sampai!" Azlan memberitahu.


"Oh iya Kak, sebentar. Sofi mau ngecek barang dulu, takut ada yang tertinggal."


"KTP dan tiket pesawat, letak di tempat yang mudah dijangkau." Peringat Dara.


"Sudah Yuk, beres dan aman semua," sahut Sofia merasa lega.


"Ayo, Sof... Grabcarnya menunggu!"


"Iya... Sofi siap nih. Sofi pamit ya Yuk!" Pamit Sofia sambil melambaikan tangan.


"Oh ya Kak, sampaikan salam Sofi buat Kak Vai." Ucap Sofia sebelum menaiki Grabcar.


Sofia melambaikan tangan pada Azlan dan Dara, begitupun sebaliknya.


Suasana kembali nampak sepi sepeninggal Sofia, namun ada hati yang bersorak, yakni Azlan. Sejak tadi dia tersenyum-senyum bahagia sambil melirik-lirik Dara. Dara bukan tidak paham dengan kode itu, tapi ini masih siang takut Rivai tiba-tiba datang. Sohib Azlan yang satu itu kan kadang kaya Jalangkung, tiba-tiba datang dan pergi setelah diberi sesajen Guday Mukacina.



Dara juga sebenarnya sangat rindu dengan Azlan, sebab hampir sebulan dia bak seorang *jablay (jarang dibelai*), sejak Sofia berada disini.

__ADS_1


"I, tolong hari ini sampai malam nanti, Elu jangan kayak Jalangkung ya, Gua mau ada projek sama bini Gua. Awas kalau Lu masih nekad. Gua pecat Elu jadi sohib!" Ancam Azlan lewat pesan WA. "Elehhh... Gua lagi di Tambun dodol. Takut amat. Lagipula siang bolong gini mesum, dasar kampret!" Ejek Rivai dongkol.


"Ayo sayang...!" Ajak Azlan sayu. "Aduh Abang


... ini masih jam 10 pagi. Dara takut ada orang yang cari kita," tolak Dara was-was.


"Tidak usah takut, Rivai sudah Abang WA dan dikasih peringatan. Dia sekarang lagi di Tambun. Jadi aman." Balas Azlan santai.


"Nanti saja ya habis Lohor, kalau dimulai sekarang Dara malas mandi lagi saat mau sholat Lohor," tawar Dara berharap Azlan mengerti. Azlan sejenak berpikir, namun kemudian dia menyahut.


"Ok deh, tapi awas jangan ada alasan lagi!" Tegas Azlan bernada ancaman. Sepertinya cowok satu ini sudah tidak kuat menahan hasratnya.


Tepat setelah sholat Lohor, Azlan meminta Dara memakai Jersey horor pemberiannya dulu, jersey hijau toska yang dipilih Azlan sendiri saat di Pasar Malam tempo hari.


Azlanpun demikian, membenahi dirinya sebelum menggempur Dara. Sikat gigi dan memakai parfum kampak yang banyak di pasaran itu, wangi maskulin yang selalu Dara suka.


"Srot... srot....!" Parfum telah disemprot ke tubuh Azlan yang kekar. Aromanya menyeruak ke seluruh ruangan petak itu.


Sementara Dara, tengah berkutat dengan jersey horornya itu pemberian Azlan tempo hari. Dia suka banget warna hijau toska dibanding pink. Perlahan dia pakai penuh hati-hati. Saat semua sempurna melekat di badannya, Dara sejenak melihat dirinya sendiri dari bawah ke atas.


"Hihi... lucu juga kalau posisinya begini." Guman Dara sambil berdiri dengan kaki diangkat sebelah. Persis sedang menggoda dengan pakaian yang menerawang.


Secepat kilat Dara ada ide panas dalam benaknya, dia akan sengaja menggoda Azlan. Dia akan peragakan gaya seorang foto model yang sedang di kolam renang. Seperti apa ya?


Pokoknya kali ini dia akan berubah jadi penggoda buat Azlan. Entah kenapa sejak kejadian pengeroyokan terhadap Azlan itu, desiran rasa cinta Dara kepada Azlan berubah takarannya, yakni desirannya lebih besar. Bahkan dia merasakan bucin yang tingkat tinggi di saat ini. Mungkin kesabaran Azlan merubah Dara menjadi bucin, walaupun dia memang masih tetap mengagumi cowok-cowok putih klimis kayak Oppa Korea itu.



"Sayang... sudah belum?" Seru Azlan tidak sabar.


"Sudah. Tapi matikan dulu lampunya," suruh Dara.


"Lampunya kan sudah mati sejak tadi, ini kan siang sayang."


"Oh... ya sudah Abang masuk saja, jangan lupa berdoa ya."

__ADS_1


Langkah kaki Azlan perlahan menuju kamar sepetak itu, cahaya walau masih nampak terang karena siang bolong, namun sedikit temaram sebab jendela dan semua lubang sudah tertutup gorden.



Azlan terbelalak seketika melihat pemandangan di depan mata yang sangat menggoda, persis seorang bintang film yang lagi hot. Wakwakwak....


Tidak menyangka Dara akan berubah sehot itu, tatapan matanya menantang dan seakan siap diterkam. Kakinya dibuka lebar seraya perlahan merangkul Azlan lalu membusung-busungkan dadanya yang masih sangat bagus. Maklum belum tersentuh banyak oleh Azlan. Ukurannya itu lumayan menelan ludah bagi Azlan.


"Ya ampun, Daraku berubah menggoda. Alamak ini yang aku mau. Super hot, aku harus membuatnya sangat puas dan meminta lagi." Pikiran Azlanpun sama-sama gesrek juga.


Kali ini Dara bergerilya, memulai, meremas, mencium dan membuat Azlan melayang.


Semua terpampang nyata setelah semua terlucut, sempurna seperti masih ori. Lekuk badan Dara yang belum banyak berubah masih kelihatan anak perawan. Apalagi gunung kembarnya, masih bergantung tidak jatuh seperti pepaya. Semua milik Azlan dan Azlan yang berhak menikmatinya.



"Ayo Abang... Dara sudah tidak tahan!" Bisiknya sendu. Azlan bersemangat... kemudian tanpa babibu karena keduanya sudah sama-sama siap, akhirnya pertautan panas itu terjadi diawali kelembutan yang semakin lama semakin panas dan garang. Satu jam sudah, keduanya saling melepaskan pertautan melelahkan sekaligus membuat keduanya senang.



Azlan menatap sayu wajah wanita yang kini tersenyum malu padanya.


"Adek, garang banget hari ini. Tapi, Abang sangat suka dan menikmatinya. Sepertinya Abang pengen lagi. Tapi tidak hari ini, sekarang Abang merasa ngantuk." Dara tersenyum puas mendengar pernyataan Azlan.


"Abang juga garang, Dara suka kalau Abang garang." Ungkap Dara jujur sambil tersenyum. Azlan tidak sanggup lagi untuk tidak mencium bibir Dara yang menggoda. Mereka berciuman lama, seakan masih memendam hasrat yang sama.



"Dara juga ngantuk, Dara mau tidur dulu." Ucapnya seraya memakai kaos longgar yang tadi sempat dibuka saat akan mengganti dengan jersey horor. Azlan juga sama, segera berkaos dan celana pendek. Keduanya kini berbaring kembali dan berpelukan, beberapa saat kemudian deru nafas teratur keduanya mulai terdengar. Azlan dan Dara tertidur saking cape dan nikmatnya setelah pertautan hebat itu.



Jam menunjukkan pukul 15.00 siang. Rupanya Alzan dan Dara sudah menghabiskan waktu dua jam tidur siang. Bersamaan dengan itu, terdengar suara pintu diketuk sehingga mengejutkan keduanya dalam tidur yang indah.


__ADS_1


Siapakah yang datang mengetuk pintu, saat Azlan dan Dara melepas lelah? Simak kelanjutannya di bab berikutnya....


__ADS_2