
Sepulang dari mengantar Dara, Azlan masih mendapati kedua sohibnya didepan kontrakannya.
Azlan langsung memasukkan motornya kedalam, lalu ia kembali bergabung bersama kedua sohibnya.
"Kusut amat yang habis antar bidadari," ledek Rian sambil menghisap rokoknya.
Azlan tidak menyahut, dia langsung merebut gitar yang dipegang Rian, lantas digonjrengnya gitar itu. Azlan gelisah seolah belum menemukan lagu yang pas dihatinya untuk digonjreng.
"Alah..., ganti-ganti mulu. Sini Gua yang gonjreng Elu yang nyanyi. Mau lagu apa?" Rian merebut gitarnya kesal.
"Lagu Ariel Noah kayaknya cocok buat si Azlan." saran Rivai. " Yang mana?" tanya Rian bingung.
"Dara" , biar sama kayak nama bininya. Rekam sekalian tuh, kirim-kirim sekalian ke Dara sebagai ungkapan isi hati Elu." Ujar Rivai diakhiri ketawa mengejek.
"Palingan, Dara tutup kuping dengar suara Elu," ejek Rivai lagi tanpa perasaan.
Azlan melotot kesal dengan ejekan Rivai. Namun dengan niat iseng dia mengikuti saran Rivai yaitu merekam nyanyiannya. HPpun dinyalakan mode rekaman. Setelah keduanya siap, Rian dengan lihai memainkan gitarnya dengan syahdu, sementara Azlan menyanyikan lirik lagu "Dara" dengan penuh penghayatan.
Dara jangan Kau bersedih
Ku tahu Kau lelah
Tepiskan keruh dunia
Biarkan mereka.... Biarkan mereka....
Tenangkan hati disana
tertidur Kau lelap
Mimpi yang menenangkan
Biarkan semua.... Biarkan semua....
Kurangi beban itu tetap lihat kedepan
Tak terasingkan dunia dua jiwa yang perih
__ADS_1
Masih ada disana untuk kita berdua
Dalam hati yang menyatu tempat kita berdua
Dara jangan Engkau bersedih ku tahu kau lelah
Tepiskan keruh dunia
Dara by Ariel Noah Band.
Begitulah petikan lirik lagu Ariel Noah yang berhasil Rian mainkan dan Azlan nyanyikan. Bersamaan dengan itu Azlan mengakhiri rekamannya lalu menyimpannya.
"Klik.... " Rekaman suara berhasil disimpan.
"Keren Lan, Elu nyanyi dengan penghayatan yang luar biasa!" Azlan berdecih tak percaya dengan ucapan Rivai, baginya Rivai hanya mengejek.
"Ah...,sudahlah. Gua ngantuk, Gua masuk dulu," pamit Azlan seraya bangkit.
"Kalian berdua kalau mau bergadang silahkan saja, sampai pagi sekalian." Oceh Azlan sebelum tubuhnya masuk kedalam kontrakannya.
"Huh...., dasar Lu, kampret...!" Seru Rian dan Rivai bersamaan. Akhirnya Rian dan Rivaipun beranjak dari kontrakan Azlan menuju kontrakan masing-masing.
Azlan membuang nafas kasar, pikirannya tidak menentu. Padahal sebentar lagi rencana kepulangan ke kampungnya akan segera tiba, tiket sudah dibuking, namun sikap Dara membuat Azlan menjadi gamang. Apakah Dara akan berhasil dia ajak pulang dan diperkenalkan kepada keluarganya atau tidak?
Tiba-tiba Azlan ingat dengan rekaman nyanyiannya tadi bersama Rian. Dibukanya HP, lalu dicari rekaman tadi. Dan mengalirlah sebuah lagu Ariel Noah yang berhasil digonjreng Rian dan dinyanyikan Azlan. Azlan menyadari suaranya tidak seamburadul biasanya, malah disini seakan penuh penghayatan seperti apa yang dikatakan Rivai tadi. Azlan senyum-senyum sendiri.
Dengan cepat Azlan membuka aplikasi WA dan membuka kontak WA Dara. Dengan niat hati yang tulus, Azlan mengirimkan rekaman suaranya pada Dara. Dibawahnya juga ia kirim pesan emot sedih dan tangan terkatup sebagai tanda maaf. Azlan benar-benar mengikuti ejekan Rivai tadi. Merekam lalu mengirimkannya ke Dara.
Beberapa menit menunggu berharap pesan WA tersebut dibaca Dara, namun belum dibaca sama sekali. Semua masih warna abu dan contreng dua. Kayaknya Dara lagi sibuk, pikir Azlan. Akhirnya Azlan terlelap dalam kegundahan hatinya.
Besoknya, saat Azlan membuka WA rupanya ada balasan dari Dara. Azlan membuka balasan itu dengan senang. Namun setelah dibaca, hanya emot menangis😭 yang dikirim Dara. Entah apa maksudnya, membuat Azlan semakin tidak enak hati.
Azlan siap berangkat kerja, sebelum pergi dia selalu memasak nasi dulu di mejikom. Lauknya biarlah nanti Dara yang buat, pikirnya.
*
*
__ADS_1
Sepulangnya dari tempat kerja, Dara langsung menyimpan barang belanjaannya di dapur, kebetulan tadi saat pulang kerja, dia mampir ke tukang sayur dan membeli sayur. Bingung mau masak apa hari ini untuk dia dan Azlan, akhirnya Dara memutuskan membuat sayur asam sama balado telur.
Walau Dara kesal sama Azlan, namun Dara masih punya hati untuk menyiapkan makanan buat Azlan. Toh makanan yang ia siapkan bukan untuk Azlan saja, melainkan untuk berdua. Dara bisa saja egois, membeli masakan jadi di warung Mpo Sari untuk dirinya sendiri, tapi setelah dipikir-pikir boros juga dan bakal menguras isi dompetnya.
Beberapa menit Dara memperhatikan seisi ruangan yang hanya 4x4 meter itu, rapi dan resik. Azlan tidak meninggalkan kotoran sebijipun. Dapur rapi, nasi sudah siap dan matang di Mejikom. Di kamar mandi wangi, pakaian kotor sudah tidak ada yang bergelantungan lagi di kastop. Dara berdecak kagum sekaligus tersentuh. Kagum dengan sifat Azlan yang selalu pengen bersih dan rapi. Tersentuh dengan semua perjuangannya.
Demi meraih hatinya Azlan rela merendahkan dirinya, mencuci, memasak bahkan membersihkan rumah, walau faktanya kegiatan itu bukanlah hal yang memalukan. Semua itu Azlan lakukan dengan keinginan hatinya. Dara tidak bisa mencegahnya.
Dan sebagai rasa simpatiknya atas perlakuan baiknya selama ini, Dara tidak masalah berbagi tugas, walau pada kenyataannya memasak memang hal yang tidak tabu lagi buatnya, sebab selama dia hidup sendiri, memasak sudah menjadi hal yang biasa.
Dara merebahkan tubuh dikasur lipatnya, masak memasak akan dia eksekusi setelah Dzuhur nanti, Dara rebahan sambil menikmati kue yang tadi dibeli di warung Mpo Sari sebagai sarapannya.
Sambil rebahan, Dara membuka HPnya dan..., ya ampun pesan WA dari Kak Wisnu kakak tercintanya, baru Dara sadari dan langsung Dara buka.
[Halo..., Assalamu'alaikum, cantik! lagi apa nih adiknya Aa? Tidak nakal kan, disana? Jaga diri ya, jangan terbawa arus yang tidak-tidak, sholatnya dijaga."] Pesan WA dari Kak Wisnu lebih kepada sebuah nasehat.
Kakak tercintanya ini memang satu-satunya orang yang menolak keras Dara bekerja jauh ke Cikarang ini, alasannya dia takut Dara tidak bisa jaga diri. Apalagi tanpa pengawasan orang tua. Namun karena Dara keukeuh dan meyakinkan bahwa Dara bisa jaga diri meski tidak ada pengawasan orang tua. Akhirnya Kakaknya melepaskan kepergian Dara ke Cikarang dengan berat hati.
Dara mengetik balasan buat kak Wisnu.
["Waalaikum salam A, Dara lagi rebahan baru pulang kerja. Dara baik-baik saja Aaku sayang, jangan khawatir Dara pasti ingat pesan Aa. Love you."]
Ting..., pesan terkirim. Beberapa saat kemudian baru ada balasan.
["Baru pulang kerja De? Pasti lelah ya? Aa kangen sama Ade, kapan bisa jumpa lagi? Nanti Aa mampir saja deh ke sana, Aa kan lagi di Cijantung nih."] Balasnya.
Untuk beberapa saat Dara tak berkutik dengan balasan chat dari Kakaknya itu. Dara berpikir sebelum mengetik. A Wisnu di Cijantung, kok bisa? Mau mampir lagi! duhh... jangan sampai! harus cari alasan supaya A Wisnu tidak usah mampir kesini, pikirnya keras.
["Iya nih A, lelah banget. Kayaknya Aa gak usah mampir-mampir dulu untuk jenguk Dara sekarang. Nanti saja, Dara kan lebaran pulang."] Jawab Dara.
[Padahal Aa kangen banget sama kamu De, lebaran masih lama. Nanti kalau pulang, Aa kenalkan sama teman Aa."] Balasnya lagi.
[Sabar ya A, lebaran tinggal beberapa bulan lagi kok. Dara juga kangen sama Aa dan keluarga disana. Salam buat Ibu dan Bapak ya, A."] Balas Dara disertai emot cium. Rupanya alasan akan pulang lebaran nanti, berhasil mengurungkan niat kakaknya Dara untuk berkunjung.
["Waalaikumsalam cantik, Ok deh cantik kalau begitu. Aa tunggu kepulangannya nanti ya. Salamnya nanti Aa sampaikan."]
Dara sedikit bernafas lega mengakhiri chat WA dengan Kakak laki-lakinya itu, kakak yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Maafin Dara ya A, untuk saat ini Dara tidak siap menerima kedatangan Aa kesinj," batin Dara sedih.
Ikuti kelanjutannya ya guys, part selanjutnya persiapan ke kampungnya Azlan. Disini banyak hal terjadi yang tidak terduga. Apa coba? Pantengin terus karya Author, supaya guys semua tidak ketinggalan cerita seru Dara-Azlan...