
"Ayo... pengantin siap-siap dirias lagi, sekarang ganti kostum untuk acara resepsi." Suara MUA menyentak keantengan dan gairah dua insan yang kini sudah berstatus suami istri.
Sofia berdiri dan membenahi keadaannya yang sempat acak-acakkan akibat ulah berdua. Wisnu juga berdiri, dan langsung menuju meja rias di kamar pengantin itu.
"Ehemm... kalian kayaknya sudah tidak sabar menantikan acara resepsi ini tiba. Tahan sedikit ya. Sebentar lagi juga kalian akan menikmati indahnya surga dunia," goda sang MUA sambil tersenyum. Wisnu dan Sofia tersipu malu, kemudian mereka berdua siap-siap untuk ganti kostum dan di touch up kembali.
Satu jam kemudian, kedua mempelai telah selesai di rias dan diarak menuju singgasana pelaminan yang kesannya mewah dan nampak bagai singgasana yang di rias sedemikian rupa. Wisnu dan Sofia benar-benar bagaikan Raja dan Ratu di singgasana.
Tiba saatnya kedua mempelai menyambut para tetamu yang datang silih berganti. Acara semakin siang semakin ramai. Sofia dan Wisnu duduk dulu saat para tamu dipersilahkan mencicipi hidangan yang ada.
Ada perasaan campur baur dalam benak Sofia. Membayangkan malam pertamanya nanti. Sofia telah siap memasrahkan jiwa dan raganya pada Wisnu, terlebih Wisnu memang orang yang sangat dia cintai.
"Sofia... wihhh... cantik banget adik iparku ini. Wahhh... sudah pasti pangeran disebelahnya juga sangat tampan. Ayo... Abang... kita fotoan dulu, mungpung para tamu lagi prasmanan." Tiba-tiba Dara menghampiri dengan kehebohan yang super nyata. Dia bahagia, sementara Wisnu diam-diam mencuri perhatian pada Dara tanpa sepengetahuan Dara atau Sofia.
"Alangkah bahagianya kamu, De... dengan begitu Aa akan tenang melepaskanmu." Wisnu berkata dalam hatinya. Melihat Dara begitu bahagia, Wisnu akan berusaha melupakan cinta yang pernah ada untuk Dara, kini dia harus berusaha belajar mencintai Sofia.
Dara menarik lengan Azlan yang sedang memangku baby Zla pelan menuju pengantin, lalu minta tolong Azman mengambilkan fotonya. Azman adik bungsu Azlan yang sedikit pendiam ini, nampak tampan dengan baju setelan batik hijau muda. Wajahnya yang sedikit mirip Azlan selalu dihiasi senyum malu-malu. Pemuda yang baru mau lulus SMK ini, menunjukkan pesonanya di hari pernikahan Kakak perempuan tercintanya.
"Man... sini, foto sama Ayuk....!" ajak Dara, namun Azman menolak, alasannya nanti saja pada saat sesi foto bersama keluarga besar. Dara tidak memaksa adik ipar laki-lakinya itu. Dara tahu Azman orangnya sedikit pemalu, namun ia perhatian. Baby Zla saja sudah sangat dekat dengannya padahal baru sehari mereka bertemu.
Jam 8 malam acara resepsi perlahan-lahan selesai seiring makin berkurangnya tamu-tamu. Wisnu dan Sofia segera di giring menuju kamar pengantin oleh MUA, guna membuka baju dan segala pernak-perniknya. Hampir 45 menit MUA membuka baju pengantin dengan segala pernak perniknya. Sofia dan Wisnu merasa lega. Kemudian mereka keluar kamar untuk membersihkan diri dari segala lelah yang mendera hari ini. Untuk ke kamar mandi pasti akan melewati ruang tengah yang sudah banyak orang.
Sofia ke kamar mandi duluan, rasanya dia sangat gerah. Disusul Wisnu yang membelokkan badannya ke arah ruang tengah, sengaja memberikan kesempatan untuk Sofia membersihkan diri duluan.
"A... makan malanlah dulu....!" ujar Pak Ammar menyambut menantunya yang baru keluar kamar setelah dibuka baju pengantin.
__ADS_1
"Nanti saja, Pak. Sofia dan saya belum melaksanakan sholat Isya," ujar Wisnu beralasan. Pak Ammar tersenyum senang dengan jawaban menantu barunya itu, sudah tampan rajin ibadah pula. Tidak rugi dirinya menyerahkan Sofia pada lelaki seperti Wisnu.
Saat Wisnu berbincang-bincang dengan Bapak Mertuanya, Sofia keluar dari kamar mandi. Kini giliran Wisnu ke kamar mandi. Membersihkan diri.
Di ruang tengah semakin ramai orang, diperkirakan mereka adalah kerabat dan tetangga dekat Pak Ammar dan Mamak. Ada juga yang masih datang untuk mengucapkan selamat.
Dua keluarga kini berbaur menjadi satu. Suasana bertambah ramai dengan suara celotehan baby Zla yang belum jelas apa maknanya. Tumben sekali jam 9 malam baby Zla belum tidur, biasanya saat di Cikarang baby Zla sudah tidur.
Semua orang di ruang tengah sana berkerumun mengerubungi baby Zla, ada yang menjawil, mencium, mencolek dan lain sebagainya. Saat itu Wisnu dan Sofiapun ikut bergabung. Sontak semua mata menuju pengantin yang sudah dah sejak siang tadi.
Suasana makan malam kali ini begitu seru dan hangat. Azlan yang walaupun menyimpan resah terhadap Wisnu akan cintanya pada Sofia, namun wajahnya tidak luput dari senyumnya. Yang jelas dalam hatinya terucap doa-doa untuk adik perempuan tersayangnya supaya diberi kebaikan dan dicintai Wisnu.
"*Aku tahu, kamu belum move on sepenuhnya* *dari Dara, namun aku percaya kamu bukan lelaki* *pengecut Wisnu. Semoga cintanya Sofia bisa* *merubah hatimu menjadi cinta pada Sofia." Azlan* berkata dalam hatinya penuh harap.
Acara makan malam keluarga besarpun selesai, kerabat dekat Pak Ammar satu per satu pulang ke rumahnya masing-masing. Kini tinggal keluarga inti dari kedua besan. Mereka berbincang-bincang dan saling mendekatkan diri. Dan nampaknya Pak Ammar maupun Pak Malik sudah sama-sama saling akrab dan berbincang diselingi tawa. Ada saja yang mereka obrolkan.
__ADS_1
Sementara baby Zla sudah nampak lelah. Dara pamit ingin menidurkan baby Zla. Jam 10.30 malam, baby Zla baru kelihatan sangat ngantuk.
"Dara tidurkan baby Zla ya... selamat malam Nenek, Kakek, Om dan Tante....!" pamit Dara mewakili baby Zla yang sudah tidak bersemangat lagi untuk tertawa.
Jam 11 malam tiba, semua orang disana mulai banyak yang menguap termasuk Sofia dan Wisnu. Mereka nampak sangat lelah.
"Kalian sepertinya sudah sangat ngantuk dan lelah, sebaiknya masuk kamar," perintah Mamak kepada Sofia dan WisnuWisnu pengertian.
"Kamar mana Mak?" Sofia bertanya dengan nada yang masih bingung.
"Ke kamar pengantin kalian. Sekarang kalian kan sudah suami istri, jadi boleh satu kamar," ujar Mamak diiringi senyum. Semua yang berada di sana termasuk Azlan saling melempar senyum, membuat pengantin baru tersipu malu.
Karena merasa digiring paksa oleh kedua orang tua, Sofia dan Azlan bergegas memasuki kamar pengantin yang kini sudah dihias dengan hiasan handuk yang menyerupai dua angsa saling berhadapan, dengan taburan bunga-bunga. Suasana ruangan itu menjadi sangat romantis dan syahdu. Debaran dalam dada Sofia semakin menjadi, terlebih saat Wisnu mulai mengunci pintu dan dan mematikan lampu diganti dengan lampu temaram yang sudah terpasang disana.
Sementara di luar sana, Bapak dan Ibu Wisnu, Pak Ammar dan Mamak, masih bercengkrama berbincang-bincang penuh suka cita.
Pengumuman;
Masih bersambung gays.... kisah Sofia dan Wisnu bakal ada kelanjutannya, namun tidak akan saya publish dalam waktu dekat. Kemungkinan dalam jarak dua bulan ke depan baru bisa publish. Tadinya mau sekalian bikin season dua dan tiga. Season dua tentang sedikit kehidupan Sofia dan Wisnu setelah pernikahan. Dan Season ketiga tentang anak-anaknya Dara-Azlan, Nela dan lain-lain. Namun urung, sebab masih ada Novel lain yang harus saya garap lebih cepat. Sedih sih sebetulnya berpisah dari Novel ini, sebab ini Novel pertama saya yang baru pertama kali dapat perhatian dari kalian Wahai Readers.
Pertimbangan lain kenapa saya tidak lanjut season dua disini, saya sangat menghargai waktu dan imajinasi kalian para Readers, yang kadang bosan dengan Bab yang panjang, maka dari itu kisah Azlan dan Dara saya cukupkan sekian. Menurut saya happy ending. Happy ending gak sihh menurut kalian? Pastinya karya pertama saya ini masih banyak kekurangan dan plus minus. Namun karena dukungan kalian, saya masih bertahan di tengah-tengah stuck ide yang melanda. Ternyata like, komen dari kalian Readers ataupun teman sesama Author memberi dampak positif buat karya saya yang sederhana ini. Yaitu semangat.
__ADS_1
Terimakasih saya buat para Readers yang sudah sudi memberi dukungannya, mohon maaf saya tidak bisa tuliskan satu persatu. Dan juga para Author yang sudi menekan likenya di karya saya, saya ucapkan terimakasih yang banyak, semoga kalian semua dan kita semua sukses dalam bidang tulis menulis ini. Kalian sungguh luar biasa.