Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Perjalanan Menegangkan


__ADS_3

Waktu yang dinantikan tiba, Azlan pulang lebih awal jam 5 sore. Dara sedikit terkesiap dengan kedatangan Azlan, pasalnya sikap dia sebelumnya masih kaku dan dingin, terlebih saat kejadian malam itu saat Azlan menciumnya dan Dara berpura-pura tertidur pulas.


"Mungkin ini saatnya aku harus bersikap baik, mana tahu ini benar-benar permohonan terakhir Bang Azlan", pikir Dara dalam hati.


" Adek, ayo siap-siap berkemas! Sudah mandi belum?" tanya Azlan tergesa.


"Dara sudah mandi tadi saat akan sholat Ashar," sahutnya. Azlan langsung bergegas buru-buru ke kamar mandi, lalu segera membersihkan diri.


Suasananya seperti tergesa-gesa, Azlan nampak kalang kabut.


Dara berinisiatif ingin membantunya, melihat Azlan tergesa-gesa seperti itu.


"Abang, apa yang perlu Dara persiapkan? Apa yang mau Abang bawa?" tanya Dara.


"Tolong masukkan baju Abang dua setel sama **********. Baju Adek juga masukkan dalam satu koper biar tidak banyak bawaan," perintah Azlan masih seperti tergesa-gesa.


"Adek, gak usah pakai baju ini, ganti!" Perintah Azlan lagi membuat Dara terbelalak tak percaya. Padahal dia sudah siap-siap dengan celana jins dan atasan tunik, simpel namun masih terkesan girly.


"Lantas Dara pakai baju yang mana?" tanyanya tanpa mau membantah, baginya ini saatnya mengabulkan semua keinginan Azlan. Siapa tahu ini benar-benar permohonan terakhir.


"Yang Abang belikan tempo hari, setelan rok yang warna Hijau Toska," ucapnya.


Tanpa bantahan, Dara segera mengganti pakaiannya dengan baju yang Azlan belikan waktu itu. Dara tampak sangat cantik dan elegan dengan rok terusan Hijau Toska, dibaur dengan kerudung warna Hijau wardah yang Azlan belikan waktu itu juga. Hijau Toska dan Hijau wardah apa tidak norak jatuhnya? Dara tidak peduli yang penting saat ini adalah waktunya mengabulkan semua keinginan Azlan.


"Abang, kenapa sih kayaknya tergesa-gesa amat. Take offnya juga jam 9 malam?" tanya Dara memberanikan diri sambil keheranan.


"Abang takut tidak keburu, belum lagi naik GrabCar dari Cikarang ke Soekarno-Hatta, perlu waktu 1 jam 45 menit, belum lagi kalau macet, " terangnya risau.

__ADS_1


Iya juga sih, kalau macet bisa-bisa tidak keburu. Dara segera mengecek apa-apa yang harus dibawa, semuanya telah siap termasuk tas selempaknya yang tersampir dipundaknya.


"Dara sudah siap!" ucap Dara lega.


Azlan mengalihkan tatapannya pada Dara yang seakan benar-benar siap melakukan perjalanan udara ini.


Dara menunduk saat bersitatap dengan mata Azlan, ada semu malu terlukis disana. Azlan kemudian mendekat lalu tanpa bisa dicegah memeluk erat Dara. Dara terhenyak, namun tak mampu memberontak, ada getar risau yang dirasakan Dara pada diri cowok hitam manis itu.


"Abang takut ini adalah kebersamaan kita yang terakhir," ucap Azlan tersedu. Benar saja yang dirasakan Dara, ada risau yang dirasakan cowok yang memeluknya kini.


Azlan kemudian melonggarkan rangkulannya, lalu dengan tajam menatap kedalam mata Dara.


"Abang benar-benar takut kehilangan kamu, Dek. Apalagi hari ini Adek beda dari yang kemarin. Kemarin masih dingin dan kaku, sekarang Adek terlihat lebih hangat. Apa sebenarnya yang Adek rasakan?" Tanya Azlan dalam hati yang rasanya tidak sanggup dia ungkapkan.


"Abang harap ini bukan kebersamaan kita yang terakhir, untuk selanjutnya Abang ingin sikap Adek hangat seperti ini!" Ucapnya penuh harap, lalu Azlan mendaratkan kecupan di kening Dara beberapa detik sebelum melepaskan rangkulannya.


Jam ditangan menunjukan pukul 6 sore, Azlan meraih HPnya lalu segera memesan GrabCar tujuan Bandara Soekarno-Hatta. Sepuluh menit lagi GrabCarnya datang, Azlan mengecek kembali bawaanya takut ada yang tertinggal sebelum Grab datang.


"Dara sudah siap semua Bang, yang Abang gimana? tiket pesawat dan KTP jangan lupa!"


"Sudah semua, ada di tas," sahut Azlan sambil menunjuk tas yang sudah tersampir di lehernya.


Dara menatap Azlan dengan seksama saat Azlan menatap jam di tangannya. Dara terpesona melihat cowok hitam manis itu, begitu tampan dan wangi. Memang sih cowok di hadapannya ini tidak jelek, namun standar cowok yang diidolakan Dara adalah cowok-cowok Oppa Korea yang tinggi putih dan wangi, jadi Azlan jelas kalah saing.


Namun walaupun kulit Azlan lebih gelap dari Oppa-Oppa Korea, Dara mengakui cowok dihadapannya ini selalu berpenampilan bersih, rapi, dan wangi. Hanya waktulah yang akan menjawab kapan Dara akan melabuhkan hatinya sepenuhnya pada Azlan.


Azlan menyadari sedang diperhatikan Dara, dia tersenyum membuat Dara tersadar. Rasanya Dara malu.

__ADS_1


Akhirnya GrabCar yang ditunggu tiba, Azlan meminta Dara segera keluar sementara dia mengunci dan menggembok pintu terlebih dahulu.


"Ya Allah, semoga perjalanan ini lancar dan selamat. Dan semoga kebersamaan kami ini tidak berhenti sampai di sini, jadikan kami bersama selamanya dunia akhirat sampai ke Jannah," doa Azlan dalam hati bersungguh-sungguh, sebelum kakinya masuk ke dalam Grabcar.


Perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta lancar tanpa hambatan, Azlan dan Dara segera mengikuti serangkaian pemeriksaan di bandara tersebut, boarding pass dan lain sebagainya, waktu tunggu masih sekitar satu jam Dara dan Azlan bergantian ke Mushola Bandara untuk melaksanakan kewajibannya yang sempat tertinggal.


Akhirnya pesawat take off, inilah pengalaman pertama Dara naik pesawat yang baginya sangat mendebarkan. Ia lebih suka perjalanan darat yang lama dan panjang hanya karena bisa menikmati pemandangan alamnya sepanjang jalan. Sangat disayangnya dalam perjalanan ini, Dara tidak bisa menikmati keadaan pemandangan daratan, sebab yang terlihat hanya gelap, namun saat melintasi lautan, dibawahnya Dara melihat kelap kelip lampu yang ditimbulkan dari keberadaan kapal-kapal besar yang berlayar.


Sepanjang perjalanan pesawat Azlan tak lepas menautkan jemarinya pada gadis cantik disampingnya seolah tidak mau kehilangan. Sambil sesekali tanpa sengaja mereka bersitatap, lalu timbul desiran aneh antara keduanya. Malu-malu namun hasrat begitu menggebu.


Pesawat sebentar lagi akan tiba di tujuan, suara pramugari terdengar dari balik pengeras suara memberitahukan. Saat melintasi awan-awan yang nampak hitam, pesawat seakan berjalan dibebatuan dan menimbulkan bunyi gradak gruduk persis seperti mobil yang melewati jalan berbatu, seperti itulah yang Dara rasakan, kelihatannya norak sebab ini perjalanan dia yang pertama naik pesawat. Dara tersentak kaget, dadanya turun naik seakan mau copot. Azlan sigap memegang tangan Dara.


Akhirnya pesawat segera landing, ketika landing itu Dara merasakan jantungnya turun naik seakan mau copot, begitu terhenyak mengerikan. Azlan segera menyadari keadaan Dara, dia sejenak merangkul Dara untuk menenangkannya. Wajah Dara nampak pucat.


Akhirnya pesawat benar-benar landing, perjalanan yang ditempuh hanya 1 jam 5 menit itu cukup membuat Dara sport jantung, maklum pertama kali. Azlan menuntun Dara keluar dari pesawat. Dara yang masih nampak pucat tidak berkata-kata sedikitpun. Azlan berusaha menenangkan sang gadis dengan memapah Dara menuju ruangan tunggu di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang.


Selamat datang di kota Pempek, ini kali pertama Dara menginjakkan kaki disini, di kota kelahiran wong kito galo.


"Udah sampai Dek, kita istirahat di ruang tunggu dulu sambil menunggu Grabcar," Ucap Azlan membuka keheningan. Dara masih diam dia hanya mampu mengikuti ucapan Azlan.


"Tunggu ya sebentar, " ucap Azlan. Azlan berjingkat menuju minimarket yang tak jauh dari tempat mereka duduk lalu membeli beberapa minuman dan roti. Setelahnya Azlan segera kembali menemui Dara yang sedang menunggu.


Azlan begitu telaten memberikan perhatian pada Dara, terlebih Dara saat ini sedang merasakan shock akibat perjalanan udaranya. Dara meminun minuman yang disodorkan Azlan, beberapa saat kemudian keadaan Dara sudah nampak kembali ceria dan pulih dari shocknya.


Jam di tangan menunjukkan pukul 10 lebih 15 menit malam. Perjalanan ke Prabumulih masih kurang lebih 2 jam lagi, kasihan juga sebenarnya Dara dia nampak lelah dan mengantuk.


Sebetulnya Azlan punya banyak saudara di kota Palembang ini, Mamang dan Bibi dari Bapaknya tinggal disini, sementara Bapak dan Mamaknya Azlan pindah dari Palembang ke Prabumulih sejak usia Azlan masih 5 tahun. Bapaknya Azlanq memboyong keluarga kecilnya ke Prabumulih sebab punya lahan karet dan sawit yang sayang jika terbengkalai tidak terurus, akhirnya mereka pindah dan tinggal disana sampai kini.

__ADS_1


Tiba-tiba HP Azlan berbunyi sebuah panggilan masuk.


"Assalamu'alaikum Mak, iya Mak ini baru sampai. Sebentar lagi kami naik GrabCar. OK, Mak ditunggu ya. Assalamu'alaikum!" Azlan mengakhiri telepon dari Mamaknya itu. Tak berapa lama GrabCar tujuan Prabumulih yang ditunggunya datang. Azlan dan Dara masih harus melakukan perjalanan lagi kurang lebih dua jam untuk sampai Prabumulih. Lelah, akhirnya membuat Dara tertidur pulas dalam sandaran bahu Azlan.


__ADS_2