Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Maling...!!!


__ADS_3

"Ehemm....!" Tiba-tiba Mamak datang mengejutkan Dara.


"Mamak....!" pekik Dara terkejut. "Adegan tadi ketahuan Mamak gak ya?" Batin Dara risau.


"Sudah sampai rupanya mantu Mamak, Sofia tidak ikut?"


"Tidak Mak, katanya tadi ada temannya yang akan nelpon, jadi Sofi tidak ikut!" Mamak manggut-manggut.


"Abangmu besok boleh pulang, tapi seminggu sekali dia harus kontrol dan terapi. Terus dari pihak pelaku pengeroyokan akan menghadirkan Terapis ke rumah sampai Azlan sembuh total. Semoga Azlan bisa cepat pulih dan sembuh seperti semula," ungkap Mamak seraya tatapannya menerawang jauh, matanya nampak berkaca-kaca.



"Iya Mak, semoga Bang Azlan cepat pulih dan sembuh seperti semula," harap Dara lalu meraih bahu Mamak.



"Sebaiknya Neng Dara segera pulang mungpung belum Maghrib, Mamak takut Neng Dara kemalaman di jalan. Biarlah Mamak tunggu Abangmu disini sampai besok," ucap Mamak seakan mengusir. Dara mengangguk lalu menatap wajah Azlan. Azlan secepat kilat melengos menghindari tatapan wanita tercintanya itu.



"*Abang tega, selalu menghindari Dara, padahal* *Dara kangen akan sikap perhatian Abang*." Hati Dara berkata-kata, dia merajuk. Begini rasanya patah hati saat kita menatap pasangan yang dirindukan, namun dia malah menghindar. Dara menarik nafas dalam.



"Kalau begitu Dara pulang ya Mak."


"Pulanglah, Mamak khawatir Neng Dara kemalaman di jalan, juga khawatir sama Sofia yang sendirian di rumah," ucap Mamak.


Sejenak Dara menatap Azlan memberi tahu bahwa dia akan pulang.


"Dara pulang!" pamitnya pelan seraya mencium tangan Azlan. Tidak peduli Azlan membalas perhatiannya atau tidak. Namun Dara berharap Azlan membalas perhatiannya. Bilang iya atau "hati-hati sayang" seperti yang selalu dia ucapkan tiap saat. Tapi kini hatinya bagaikan hampa tidak ada semangat karena Azlan masih dingin.



Dara berjalan di koridor Rumah Sakit, sesekali dia melihat jam di tangannya. Masih jam 5 sore. Sejenak Dara berhenti lalu merogoh HPnya dari dalam tas sandingnya.


__ADS_1


"Dara harap Abang cepat sembuh, Dara merindukan semua kebersamaan kita. ILU, IMU, INU 4Ever." Pesan WA terkirim pada Azlan. 30 detik kemudian pesan itu berubah jadi centang biru. Azlan telah membacanya. Dara berharap Azlan membalasnya. Namun ditunggu sampai 5 menit belum juga datang balasan. Dara kecewa. Dara mengirimkan kembali pesan WA pada Azlan.


"😭😭😭...." Emot menangis 3 kali terkirim.


Dara kembali melanjutkan perjalanannya setelah tadi sejenak mengirimkan pesan WA pada Azlan yang sama sekali tidak dibalas. Dara kecewa, ingin rasanya menangis sepanjang jalan ini. Beruntung angkot yang dia maksud sudah ngetem di depan RS, tanpa menunggu lama Dara masuk angkot lalu angkotpun berjalan perlahan sesekali berhenti lagi menaikan penumpang yang mencegat di jalan.



Lima belas menit kemudian Dara tiba di kontrakan, jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Dara melihat pintu kontrakan terbuka lebar, Dara berpikir Sofia sengaja membuka pintu lebar-lebar supaya hembusan angin dapat masuk ke dalam.



"Assalamu'alaikum... Sof, Sofi....!" teriak Dara sedikit kencang sebab tidak menjumpai Sofia di ruang tengah.


"Kontrang... gebrug..." Suara wajan dan spatula dan entah apalagi yang jatuh dari arah dapur, mengejutkan Dara yang tengah mencari Sofia. Segera Dara ke dapur, Dara harap tidak terjadi apa-apa dengan Sofia di dapur, pikirnya.


"Sof, Sofia....!" Namun bukan Sofia yang Dara temui, melainkan si Kucing Garong yang tengah asik menggarong Pempek dan ikan pesmol di atas wajan.


"Haduhhhh... Sofi, Sofia....!" teriaknya sambil mengusir Kucing yang berhasil mengacak-acak oleh-oleh yang dibawa Mamak dari kampung.


"Meong..., meong...gubrak....!" Akhirnya ketiga Kucing itu pergi berhamburan karena takut saat Dara memperlihatkan sapu lidi yang tidak digebukin, Dara hanya bermaksud menakut-nakuti dan rupanya berhasil.



"Ya ampun... jadi berantakan begini," guman Dara menyesal. Bersamaan dengan itu Sofia yang rupanya sedang tidur pulas di kamar saat tadi Dara datang, kini terbangun karena mendengar bunyi gaduh di dapur.



"Ehh... Ayuk! Kok bisa masuk?" Sofia nampak bingung. "Tadi kan pintu sudah Sofi tutup." Akunya heran.


"Aduhhh... Sofi, lihat dapur kita diberantakin maling," lapor Dara lemas.


"Maling? Maling apaan?" Sofia kaget sambil pingak pinguk sambil menuju dapur.


"Kok... dapurnya berantakan. Ada apa sebenarnya ini Yuk?" Sofia balik bertanya benar-benar tidak paham.


"Kamu benar-benar gak ingat Sof? Tadi saat Dara baru sampai, pintu kontrakan ini terbuka lebar-lebar, Dara pikir kamu yang sengaja buka pintu supaya ada angin masuk. Namun setelah mengucap salam dan salam Dara tidak ada yang menyahut, tiba-tiba dari arah dapur ada bunyi wajan jatuh dan keranjang bambu tumpah, Dara pikir itu kamu di dapur. Ehhh rupanya Kucing garong maling makanan. Habislah tuh Pempek dan ikan pesmol buat makan malam kita," beber Dara panjang lebar penuh penyesalan.

__ADS_1



"Aduh, kok bisa? Padahal tadi Sofi merasa sudah menutup pintu. Tadi Sofi ngantuk banget Yuk. Setelah teman Sofi nelpon, Sofi langsung masuk kamar dan tidur," ceritanya dengan ekspresi yang masih bingung.



"Kamu lupa kali Sof belum nutup pintu saat mau tidur," sangka Dara.


"Iya kali, Yuk!" serunya lupa-lupa ingat.


"Ya sudahlah Sof, sekarang giliran beresin semua yang diberantakin maling. Kasih saja sekalian sisa Pempek dan ikan pesmolnya ke maling, tuh mereka masih nunggu di depan," ucap Dara akhirnya mengalah pada si maling. Padahal Dara masih mau Pempeknya bawa Mamak dari kampung, ehhh malah keburu di maling Kucing. Ini juga gara-gara Sofi lupa nutup pintu. Rutuk Dara dalam hati.


Kejadian Kucing maling Pempek dan ikan pesmol barusan, mengingatkan Dara pada kejadian 6 bulan yang lalu. Dirinya sama persis mengalami kejadian yang dialami Sofia, lupa menutup pintu saat tidur. Ketika itu dia baru pulang kerja, habis dipasangin tabung gas melon oleh Azlan, Dara kelupaan nutup pintu saking ngantuknya dan tidur sampai pulas. Akhirnya kejadian maling masuk menimpa dirinya.



Azlan masuk dan kedapatan sudah tidur di samping Dara. Azlan berhasil mengobrak abrik hatinya, dari mulai kecewa, marah, benci, muak, cemburu, lalu... kini cinta. Tapi sekarang maling itu kini mengobrak abrik hatinya kembali, perasaan cinta yang telah tertanam pada diri Dara kini sedang diuji oleh kemarahan Azlan. Tiba-tiba Dara meneteskan air mata, sedih banget saat hati ini cinta, namun orang yang dicintanya masih marah.



Dara juga sadar, Azlan begitu karena dirinya yang tidak pernah terbuka masalah apapun, terlebih masalah pelecehan yang menimpa dirinya. Dara menarik nafas dalam, menahan tetes air mata yang ingin jatuh lagi.



"Ayuk... kok nangis? Maafin Sofi ya, gara-gara Sofi lupa ngunci pintu Pempeknya habis dimakan Kucing," sesal Sofi yang memergoki Dara menangis. Dara langsung melihat Sofia dan menyusut air matanya.



"Dara bukan nangis karena itu, tapi Dara sedih karena ingat suatu hal," sangkal Dara.


"Ya sudah deh lupakan Pempek, sekarang kita siap-siap sholat Isya. Setelah itu kita makan diluar, kita cari baso yang enak di depan sana."


"Benar Yuk? Asikkk... kita makan di luar!" Sofia kegirangan dan langsung menyerobot kamar mandi.


Sementara Dara meraih HPnya dan mengetik pesan WA pada Azlan. Dara menyeringai puas setelah pesan WA itu terkirim. Apa sebenarnya pesan WA yang dikirim Dara, sehingga Dara menyeringai puas????


Ikuti kelanjutannya besokkk....

__ADS_1


__ADS_2