
Seminggu kemudian, acara syukuran pindahan rumah akan digelar. Dara dan Azlan hanya mengundang teman dekat saja. Dua hari sebelum acara syukuran diadakan, orang tua Dara Pak Malik dan Bu Endah sudah datang, disusul besoknya Mamak dan Sofia. Pak Amar seperti biasa tidak bisa ikut, disebabkan kesibukan di lahan sawitnya.
Waktu semakin menanjak, acarapun akan segera dimulai. Tamu yang hadir sudah mulai berdatangan, termasuk Nela dan Rivai. Nela hanya sendiri tidak bersama suaminya. Sedangkan Jabar dan Kak Vita tidak bisa hadir disebabkan satu dan hal lain. Kebanyakan para tamu adalah tetangga perumahan serta teman nongkrong Azlan. Pak Haji Mamanpun tidak luput jadi tamu undangan.
Acara syukuranpun dimulai dengan khidmat, doa dipimpin langsung oleh Pak Haji Maman selaku yang paling dituakan dan disegani di lingkungan itu. Setelah semua rangkaian acara selesai, para tamu undangan dijamu makan dan menikmati hidangan yang ada. Lalu setelah itu satu per satu para tamu pulang ke rumah masing-masing sambil menenteng kantong berkat, kecuali Nela dan Rivai masih setia berbincang-bincang di teras depan bersama Azlan dan Dara. Sofia juga ikut bergabung.
"Alhamdulillah... sekarang sudah punya rumah sendiri, kalian tinggal menambah anggota keluarga baru. Lagipula Bapak sama Ibu sudah rindu ingin menimang cucu," tukas Pak Malik tersenyum sambil menoleh ke arah Bu Endah. BU Endah tersenyum setuju dengan harapan suaminya.
"Saya juga sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu dari Neng Dara. Semoga cepat diberi momongan, Mamakmu ini sudah rindu *budak kecik*," timpal Mamak penuh harap. Semua yang ada disana tertawa bahagia dengan segunung harapan.
"Ok deh Lan, Gua balik dulu ya. Lagian ini sudah mulai sore." Rivai pamit seraya menghidupkan motor bebeknya. "Besok main lagi kesini ya Kak....!" teriak Sofia. "Insya Allah...." balas Rivai sambil berlalu.
Nelapun menyusul setelah suaminya datang menjemput.
"Nel... Bang Ilhamnya suruh masuk dulu. Minum dulu kek," ujar Dara.
"Tidak perlu Dar, Gua dan Bang Ilham mau ke Cibarusah dulu, ada perlu," tolak Nela.
"Ya udah deh, Kami pamit ya. Bang Azlan, Sofia, Kami pamit ya... salam buat ibu dan bapak." Nela pamit kemudian menaiki motor yang sudah dinyalakan suaminya.
Setelah para tamu pulang dan tidak bersisa, Dara, Azlan dan Sofia beriringan masuk ke dalam. Lalu ikut bergabung dengan para orang tua yang entah sedang membicarakan apa, mereka terlihat tertawa bahagia.
__ADS_1
"Nah... yang kita bicarakan akhirnya masuk ke dalam. Kami sedang membicarakan anggota keluarga baru, kalau anggota keluarga baru itu sudah ada diantara kita, alangkah ramainya kita," celoteh Pak Malik sambil menatap ke arah mereka bertiga.
Dara heran tidak paham, dia ikut tersenyum karena belum konek dengan yang dibicarakan oleh Pak Malik.
"Kalian harus cepat memberi kami cucu, biar kami bertiga ini tidak kesepian. Coba kalah sudah ada cucu di tengah-tengah kita, suasana di rumah ini selain ramai pasti akan sangat menggemaskan karena tingkah lucu cucu kami," celoteh Mamak sambil tertawa penuh harap.
"Iya betul, kami sudah ingin menimang cucu. Segeralah beri kami cucu, Neng," ucap Bu Endah sambil menatap Dara penuh harap. Dara yang baru menyadari pembicaraan orang tuanya dan Mamak, langsung termangu tidak bersuara. Dalam hatinya berkata dia belum siap untuk hamil, usianya juga baru 22 tahun.
"Iya Neng, cepatlah beri kami cucu, supaya kami bisa gendong cucu kalau kami jalan-jalan keluar rumah," timpal Mamak lagi membuat kepala Dara sedikit pusing.
"Kalau Sofia punya keponakan, akan Sofia ajak jalan-jalan keliling Sungai Musi, kita ajak juga ke Pulau Kemaro, foto-foto di Jembatan Ampera, atau ke Benteng Kuto Besak. Ahh... senangnya punya ponakan. Ihhh... jadi gemes...." oceh Sofia membuat Dara makin pusing. Tiba-tiba Dara merasa mual, lalu pamit ke kamar mandi.
Azlan yang menyadari sikap Dara, lantas mengikuti Dara ke kamar mandi. Terdengar di dalam kamar mandi suara Dara yang sedang "owek, owek, seolah memuntahkan sesuatu yang susah dikekuarkan dari dalam perutnya. Azlan termenung memikirkan ada apa dengan Dara.
" Adek... kenapa? Apa yang terjadi?" Azlan merasa khawatir.
"Dara tidak tahu, tapi rasanya kepala Dara pusing dan perut mual. Abang... boleh minta tolong, nggak? Tolong buatkan Dara Teh Jahe hangat, kayaknya Dara masuk angin," pinta Dara memelas.
" Ihhh... kamu lucu deh, sampai segitunya minta tolong, biasa aja kali. Abang juga tidak tega melihat Adek bikin minuman sendiri sementara Adek lagi tidak enak badan," ujar Azlan sambil menuju dapur. Dara tersenyum manis dengan perlakuan Azlan.
Sementara Azlan yang kini sedang membuat Teh Jahe buat Dara, berpikir keras dengan kondisi Dara barusan. Azlan malah berpikir kalau Dara kini sedang hamil, pasalnya sejak pulang dari Korea mereka melakukan hubungan suami istri hampir setiap hari dan tanpa Pil KB. Azlan menghajar terus Dara tanpa ampun. Jangan-jangan senjatanya langsung tokcer, sekali tembak langsung tekdung.
__ADS_1
Azlan menghampiri Dara sambil tersenyum bahagia, membayangkan sebentar lagi Dara hamil dan mereka akan punya anak. "Ini sayang Teh Jahenya," sodor Azlan menyodorkan cangkir di dekat Dara. Dara langsung mengambil Teh Jahe yang tadi sudah diseduh Azlan.
"Makasih Abang...." ucap Dara manis. Azlan bahagia dengan sikap Dara yang manis ini, rasanya dia ingin memeluk Dara dan membawanya ke dalam kamar lalu memadu kasih. Pikiran Azlan melayang-layang di udara.
Azlan dan Dara kembali bergabung dengan keluarganya di ruang tengah.
"Kenapa dengan Neng Dara?" Bu Endah terlihat panik.
"Dara kayaknya masuk angin Bu, kepala Dara pusing dan mual. Tapi sekarang sudah agak mendingan, tadi Bang Azlan sudah bikinkan Dara Teh Jahe hangat," jelas Dara.
"Oalah... masuk angin rupanya," ujar Mamak was-was. "Balur badannya sama Minyak Kayu Kencana, Lan. Biar enakan dan mualnya sembuh," saran Mamak.
"Kirain Yuk Dara bukan masuk angin, coba masuk angin yang lain, alangkah senangnya Sofi," celetuk Sofia sambil melirik ke arah Dara.
"Maksud kamu, Kakakmu hamil, Sof?" Mamak bertanya dengan penasaran. "Bisa jadi iya bisa jadi nggak Mak, Yuk Dara kan cuma masuk angin," seloroh Sofia.
"Ruponyo cumo masuk angin," desah Mamak sedikit kecewa.
"Nak Sofia sudah tidak sabar rupanya ingin segera punya ponakan, ngomong-ngomong Nak Sofia kapan akan menikah? Biar bisa kasih Mamaknya cucu juga," celoteh Bu Endah yang diaminin Pak Malik. Sofia tersenyum malu-malu saat dirinya ikut disinggung oleh Ibunya Dara.
"Sofia belum punya calon Bu Endah, dia sekarang sedang fokus dengan skripsinya," ucap Mamak memberi jawaban.
"Sedang skripsi rupanya," sela Bu Endah sembari tersenyum dan menatap lama ke arah Sofia. Entah kenapa melihat Sofia, Bu Endah seakan timbul rasa sayang. Bahkan dalam hatinya saat di Lembang dulu pernah berangan-angan ingin menjadikan Sofia menantu. Kalau dilihat dari perangainya Sofia itu baik, sopan dan kelihatannya penyayang. Itulah yang menjadikan Bu Endah suka sama Sofia.
"Kalau boleh saya berandai-andai atau katakanlah berharap, bagaimana kalau Nak Sofia kita jodohkan saja sama anak bujang kita, Wisnu. Kayaknya cocok, kan, Pak?" seru Bu Endah seraya melirik Pak Malik. Mamak tersenyum penuh binar bahagia mendengar ucapan Bu Endah, sementara Azlan tiba-tiba terbatuk seakan tersedak.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk, uhuk....!" Semua yang ada di ruangan itu menatap ke arah Azlan kaget.