
Azlan masih mengusak rambutnya, perasaan sedih dan kecewa menjalar keseluruh tubuhnya. Bukan saja sakit perasaan yang kini dirasakannya, namun sakit kepala kini menyerangnya.
"Ya Allah ujian apa ini, rasanya hamba tidak sanggup." hatinya berkata-kata dengan deraian air mata. Dia sangat terpukul.
"Bro... jangan begini dong. Elu harus kuat, Dara lagi berjuang di dalam bertaruh nyawa, walaupun Elu kecewa dan sedih tapi Gua rasa Elu harus bisa menahan emosi. Tahan emosi Lu. Kalau bukan Elu, lantas siapa lagi yang akan menguatkan Dara saat keluar dari ruang operasi?" Jabar berusaha menguatkan Azlan yang kini benar-benar terpukul dan berderai air mata.
"Ok, tenangkan dulu pikiran Lu. Sekarang tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan, ulangi sampai rasa sesak di dalam dada Elu hilang atau reda." Jabar mengarahkan Azlan supaya menarik nafas untuk membuat Azlan tenang.
Azlan mengikuti saran Jabar, perlahan dia menarik nafasnya dan membuangnya secara berulang.
Benar saja, setelah beberapa kali dia melakukan itu, rasa sesak di dadanya yang tadi berat dan mendera sedikit berkurang, walaupun kesedihan masih tetap belum sepenuhnya hilang.
Dua puluh menit kemudian pintu operasi perlahan terbuka, dua orang Perawat mendorong brangkar menuju ruang rawat.
"Suaminya Nyonya Dara....!" panggilnya, membuat Azlan yang sejak tadi berdiri menghampiri seketika. Jabarpun ikut menghampiri.
"Nyonya Dara akan dipindahkan ke ruang perawatan. Untuk sementara dalam pengaruh anestesi. Dalam waktu kurang lebih 5 jam Nyonya Dara akan sadar dari pengaruh bius," terang Perawat seraya mendorong brangkar menuju ruang rawat. Azlan menyimak sembari mengikuti Perawat mendorong brangkar.
Tiba di ruang perawatan, dua Perawat itu meletakkan tubuh Dara yang terbujur ke bed pasien, dengan bagian kaki sedikit ditinggikan.
Kini Dara terbaring dan tidak bergerak, sebab Dokter membius Dara secara total. Azlan nampak sangat sedih, didalam hatinya berdoa semoga tidak ada hal parah lain yang menimpa dirinya setelah kejadian ini.
__ADS_1
"Lan, Gua balik dulu ya! Gua masih dalam jam kerja. Kapan-kapan kalau ada waktu, Insya Allah Gua jenguk Dara bareng bini Gua. Lu yang sabar ya! Saat bini Lu sadar, Lu kasih dia kekuatan. Jangan perlihatkan kesedihan walaupun Elu memang bersedih," ucap Jabar memberi Azlan kekuatan. Azlan yang sejak tadi dirundung sedih, baru ingat Jabar masih ada disitu, lantas dia menatap Jabar lalu merangkulnya sembari menangis.
"Terimakasih Bang, sudah antar Dara ke RS. Gua tidak akan lupakan kebaikan Lu, Bang," Azlan menangis terharu. Jabar melepaskan rangkulan Azlan, dia menatap tajam ke arah Azlan.
"Sama-sama. Gua harap Elu kuat. Dan ingat pesan Gua, jangan menangis saat Dara nanti terbangun. Berikan kekuatan buat dia," pesan Jabar sebelum melangkahkan kaki meninggalkan ruang rawat Dara.
"Gua balik ya....!" pamit Jabar sambil melangkah meninggalkan ruang rawat Dara. Kini Azlan sendiri, duduk terpekur menatap tubuh Dara yang terbaring kaku.
Azlan tidak bermaksud memberi tahu keluarganya di Prabumulih maupun di Lembang dahulu sebelum Dara benar-benar sadar dari pengaruh bius.
Enam jam kemudian bersamaan dengan kumandang adzan, Dara baru benar-benar sadar dari pengaruh anestesi. Dara bergerak-gerak, tangannya seolah ingin menggapai sesuatu. Azlan dengan cepat meraih jemari Dara kemudian diremasnya perlahan. Mata Dara bergulir menuju jemarinya yang terasa ada yang meremas. Rupanya Dara masih lemas, akibat pengaruh anestesi.
Tanpa Azlan panggil, tiba-tiba dua orang Perawat yang tadi, datang dan langsung memeriksa keadaan Dara.
"Sudah sadar rupanya." Perawat berguman namun masih didengar Azlan.
"Nyonya Dara masih belum stabil, kami sudah memberi obat. Untuk sementara Nyonya Dara belum boleh bergerak banyak, dia masih dalam pengaruh obat bius, jadi bawaannya ngantuk," jelas Perawat sebelum meninggalkan ruang rawat Dara.
Azlan menghela nafas dalam, dia menatap sedih tubuh kaku kekasih hatinya. Wajah Dara ditatapnya, sendu dan disana terpancar gurat kesedihan, meskipun Dara sedang dalam keadaan tertidur pengaruh anestesi.
Azlan berjingkat, dia berniat menunaikan sholat Maghrib yang sudah setengah jam terlewat. Alangkah baiknya dia segera menunaikan ibadah shalat Maghrib dahulu di Mesjid RS, saat Dara masih dalam keadaan tidur. Azlan berpesan dahulu pada Perawat yang berjaga di ruangan itu, menitipkan Dara untuk sementara.
__ADS_1
Azlan berdoa sambil mencucurkan air mata dengan mata yang terpejam. Seketika itu berkelebatan bayangan Dara saat Dara mengatakan belum siap hamil ketika Dara mengetahui pertama kalinya dirinya hamil. Azlan kecewa jika mengingat itu, jika dia hubungkan mungkin saja ini karena ketidaksiapan Dara menerima dirinya hamil, lalu Tuhan mengujinya dengan keguguran. Bisa jadi setelah Dara tahu bahwa dirinya keguguran, Dara justru malah senang. Namun Azlan buru-buru menepis prasangka buruk itu dengan beristighfar.
"Ini sudah takdir Allah, aku harus berusaha ikhlas dan tidak menyalahkan atau menekan Dara atas musibah ini. Aku harus menguatkan Dara. Ya Allah, kuatkan kami!" bisiknya meratap dan berusaha menguatkan diri. Azlan segera mengakhiri doanya, dia segera beranjak dari Mesjid RS menyudahi ibadahnya.
Azlan terburu-buru menuju ruang rawat Dara, dia takut Dara keburu sadar, sementara dia sedang tidak berada di ruangan. Saat sudah tiba di ruang rawat, Azlan dikagetkan dengan kehadiran dua orang.
"Nela....!" Seru Azlan, tidak lupa dia manggut pada orang yang didekat Nela yang rupanya suami Nela, Bang Ilham. "Bang....!" sapanya. Suami. Nela membalas sapaan. Azlan dengan sedikit membungkukan badan.
"Kamu datang Nel? Terimakasih sudah jenguk Dara, namun Dara belum sadar. Kata Perawat satu jam lagi sadar. Ini sudah 45 menit dari perkiraan Perawat."
"Sama-sama Bang, tadi aku juga kaget saat tubuh Dara dipangku Bang Jabar, Aku tidak tahu kejadian persisnya. Sebab saat itu kami semua dalam proses produksi, mesin semua dalam keadaan on. Ira yang berteriak saja tidak kami dengar, dan yang tahu persis kejadian hanyalah Ira," terang Nela sambil berkaca-kaca. Azlan terharu mendengar penuturan Nela, dia tampak. semakin sedih, namun kali ini dia harus menahan air matanya untuk tidak jatuh, sebab sebentar lagi Dara akan sadar.
Benar saja tidak lama dari itu, Dara bergerak-gerak. Semua sontak menatap ke arah Dara. Azlan dengan sigap duduk di samping bed pasien lalu meraih jemari Dara.
Dara nampak membuka pelan netranya dan mulai mengerjap-ngerjap mengatur cahaya lampu yang masuk ke dalam bola matanya. Saat itu Dara terlihat meringis menahan sakit, Azlan tidak tega. Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Dara.
"Adek... jangan banyak bergerak dulu," cegah Azlan seraya menahan tangan Dara yang mulai aktif meraba-raba.
__ADS_1
"A-bang....!" ucapnya terbata, dan seketika air mata merembes membasahi pipi Dara.
"A-bang... apa yang terjadi dengan perut Dara? Sa-at di pabrik ra-sanya sangat sakit....!" ucap Dara membayangkan kejadian saat dia di pabrik. Dara semakin deras mencucurkan air matanya saat mengingat kejadian di pabrik tadi siang. Azlan menatap Dara tidak kalah sedihnya.