
"Nel, datang ke kontrakan Gua, sekarang!" Dara mengirim pesan WA kepada Nela.
"Duhhh..., Dara pagi-pagi buta Elu udah sewot maen perintah. Gua lagi sarapan tahu." balas Nela kesal.
"Pagi-pagi buta Lu bilang, eh Non ini udah mau jam delapan!" gertak Dara.
"Ya udah, Gua sarapan dulu!"
*
"Tok... tok... tok....!" suara pintu diketuk.
"Pasti Nela kucluk datang!" batin Dara yakin.
"Assalamualaikum! Spadaaa....!"
"Si Nela ini gak sabaran banget!" gerutu Dara seraya membuka pintu.
"Wuahhhh...sobatku... akhirnya kembali juga...!" Nela menghambur ke dalam kontrakan Dara sambil melihat-lihat seisi ruangan.
"Apaan sih Nel, lihat apaan? Bukannya peluk Gua, malah lihat-lihat kamar Gua. Iri ya?" cebik Dara kesal.
"Gua mencium aroma kehilangan!"
"Kehilangan apaan, apa sih maksudnya?"
"Kehilangan...," Nela melanjutkan kata-katanya lewat telinga Dara. Dara terbelalak seketika.
"Gila Lu... kucluk, belum sejauh itu, dodol! Lagian kenapa sih kepo amat? Makanya buruan nikah biar bisa ngerasain langsung gimana rasanya, dan gak perlu tanya-tanya Gua," sungut Dara kesal.
"Hahaha... gitu aja marah! Yakin nih belum dibobol?" Nela makin jadi meledeknya.
"Aduh Nela, kalau Elu masih berisik juga, Gua gak akan jadi kasih Elu Pempek buatan Gua!" ancam Dara.
"Elu mah emang dasarnya pelit, gitu aja pake ngancam!" rajuk Nela.
"Eh, bay de wey bas wey, benaran nih Elu yang bikin Pempek?" Nela merasa tidak yakin.
"Benarlah, Pempek hasil kolab sama Mamak Bang Azlan dan Sofia adiknya," yakin Dara.
"Ya udah, Gua mau coba Dar! Kita goreng yuk!" rengek Nela penasaran.
"Panasin dulu wajannya Nel..., "
"Cetrek...!" bunyi pemutar kompor terdengar.
"Mana Pempeknya Dar, Gua mau yang paket komplit. Lenjer, Kapal Selam, Adaan, sama Kulit." Nela mengabsen satu per satu Pempek yang diinginkannya.
__ADS_1
"Ambillah...!" seru Dara.
Bunyi wajan dan susuk (spatula stainless) saling beradu. Nela dengan semangat 2022 menggoreng Pempek untuk disantapnya di pagi ini.
"Tralala...Pempek buatan Neng Dara dan Konco siap dihidangkan!" seru Nela sembari membawa sepiring Pempek yang sudah digorengnya. Tidak lupa kuah cuko dituangnya di mangkok.
"Gua coba nih...kalau enak itu artinya Elu udah cocok banget jadi menantunya Mamak Bang Azlan,"
"Sok tahu... tibang makan doang banyak nying nyong," protes Dara.
"Wihhh... enak rupanya...!" puji Nela sembari merem melek bikin ngakak.
"Apaan sih Nela, pake merem melek segala!"
"Kalau kaya gini, Gua yakin Elu bakal lulus uji dari tes kemenantuan!"
"Alahhh... gak perlu tes, Gua udah keterima kok,"
"Benaran Dar... asikkk dong. Apa Gua bilang, pasti Mamaknya Bang Azlan itu bakal perlakuin Elu baikkkk banget," ucap Nela antusias.
"Terus Elu dikasih apa sih sama Mamak Bang Azlan?"
"Terus, terus...Terusan Suez kali....!" cebik Dara.
"Gua serius Dara, kan bisa jadi ada sebuah benda sebagai tanda pengikat mungkin," Nela firasatnya mengena banget, kayak punya indera ke enam. Pikir Dara dalam hati.
Haduh... si Nela ini benaran kaya paranormal saja.
Tapi untungnya Nela terus mengorek, membuat Dara ingat akan sesuatu hal berharga pemberian Mamak.
"Tunggu sebentar, kebawelan Elu membawa berkah... " seru Dara seraya beranjak menuju kamarnya. Kasur yang terbentang di balik lemari plastik maksudnya, hehehe....
Dara membuka koper yang kemarin dipakai pulang pergi ke udara. Lalu membuka sleting koper itu dan....
"Srettt...!" bunyi sleting begitu halus dan Dara meraih sebuah kotak perhiasan dari dalam situ.
"Gua dapat ini, Mamak memberi ini. Mungkin yang Elu maksud tanda, ya berupa pemberian ini." Dara mencoba memperlihatkan sebuah kotak perhiasaan.
"Mamaknya Bang Azlan memberikan ini, katanya ini kalung turun temurun," cerita Dara seraya membuka kotak perhiasan itu.
"Wahhh..... kalung emas...! Pasti ini emas dua puluh empat karat, Gua paling suka emas sono, soalnya warnanya kuning mencolok," celoteh Nela takjub.
"Ini kira-kira berapa suku ya, kalo Gua perkirakan ada lah 10 gram. Dara...Elu bisa kaya Dar...!" jerit Nela makin antusias menggebu-gebu.
"Kaya apaan...? Bukan untuk dijual, dodol," cebik Dara kesal.
"Lantas?" Nela mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Ini tuh kalung penanda, diberikan ke Gua sama Mamak, katanya sih Mamak udah anggap Gua anak sendiri, dan katanya lagi Gua itu orangnya tulus. Makanya diberikan Gua, karena ketulusan Gua. Kalau tulus sih iya banget!" Dara membusungkan Dadanya bangga.
"Wekkk.... " ledek Nela menjulurkan lidah.
"Sebelum balik, Mamak berbisik ke telinga Gua, kasih penanda dengan kalung ini kalau Gua benar-benar udah nerima Bang Azlan."
Nela menautkan kedua keningnya tanda tak paham.
"Jika kalung ini dipakai sehari setelah kepulangan Gua dari Prabumulih, itu artinya Gua benar-benar menerima Bang Azlan," Dara berhenti sejenak menghela nafasnya pelan.
"Jadi, keputusan Elu apa?" Nela nampak penasaran banget.
"Gua masih bingung...!" jawab Dara sambil menerawang jauh.
"Aduh Dara, Elu tuh gak perlu bingung-bingung lagi, udah pakai saja dan tunjukan ke Mamak mertua Elu, kalau Elu itu benar-benar menerima Bang Azlan," saran Nela dengan nada berapi-api.
"Bodoh banget kalau Elu sampai nolak. Lihat cincin ini, juga kalung ini. Mereka kasih buat Elu ikhlas, kapan lagi Dara punya mertua dermawan kaya gini. Jangan-jangan besok-besok tanah dan ladang!"
"Nela... Elu materi saja yang dipikirkan," sergah Dara.
"Ya udah, sebaiknya Elu pakai sekarang kalung turun temurun itu, lalu segera beritahu Mamak mertua Elu!?"
"Tapi... Gua masih mikir!" Dara nampak bingung.
"Aduh Dara, udah merasakan hembusan nafasnya Bang Azlan yang begitu dekat dan hangat juga, masih bingung," gertak Nela membuat Dara malu. Lama-lama Nela ini benar-benar seperti paranormal, tahu saja apa yang dilakukan Dara.
"Gua masih bingung dengan hati Gua, tapi Mamaknya Bang Azlan baik banget. Gua merasa mendapatkan kasih sayang ibu Gua saat Mamak Bang Azlan memberi perhatiannya ke Gua.... "
"Tuh... kurang apa lagi? Sekarang pakai kalung itu, dan perlihatkan sama Mamak mertuamu!" paksa Nela menggebu-gebu.
Dara akhirnya dengan dibantu Nela menyematkan kalung turun temurun itu di lehernya. Sungguh manis sekali menggantung di leher Dara. Nela berdecak kagum dibuatnya.
"Manis banget... mirip dodol Garut!" kelakar Nela.
"Ihhh... manis tapi mirip dodol, apaan? Ledek melulu!" rutuk Dara kesal.
"Nah sekarang, Elu fotoin deh dan kirim langsung ke WA Mamak mertua Elu," Nela memberi aba-aba.
"Sudah diam, Gua juga paham!" Dara merebut HPnya yang tadi akan dijepret Nela untuk memotret Dara.
"Jepret, jepret..." Dara mengambil dua kali jepret an fotonya. Tanpa pikir panjang, dia mengirim foto tersebut ke Mamaknya Azlan.
Foto terkirim, disertai emot tersenyum manis.
Beberapa menit kemudian ada balasan dari Mamak Azlan, yang isinya.
"Mamak bahagia, Neng Dara mau jadi mantu Mamak." disertai emot tangan terangkat sebagai rasa syukur.
__ADS_1